Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 147 (Firasat Buruk)


__ADS_3

“Kamu jarang WA an sama Susi?” tanya Naufal.


“Enggak, tiap hari aku WA an sama dia,” jawabku.


“Kayak orang pacaran aja kamu sama dia Sayang,” canda


Naufal.


“Biarin, bahkan kita lebih dari orang pacaran, weeekk,”


kataku.


“Waw menakutkan dong Sayang,” ejek Naufal terus-menerus yang sangat suka membuatku kesal.


“Abay ngapain ya Mas sekarang?” ucapku sambil membuka kolom WA dari ponselku.


“Coba kamu WA,” perintah Naufal.


“Kan kalo jam segini, Abay udah nggak megang handphone


Mas,” ucapku.


“Iya aku lupa Sayang, palingan juga nonton film sama Pak Rusdi,” kata Naufal.


“Sok tau kamu Mas Mas,” kataku.


.


.


.


.


.


Kami pun tiba di Rumah tepat pukul setengah 8 malam.


***(Di Rumah)


Gerbang di buka oleh Pak Joko, dan mobil langsung melaju


masuk ke dalam garasi.


“Itu mobil kamu udah sekalian di masukin Pak Bastian disini,”


kataku.


“Iya lah Sayang Bastian gitu, pengertian banget anaknya,”


sanggah Naufal.


Mesin mobil mati dan mobil berhenti tepat di sebelah mobil


putih milik Naufal.


“Aku turun duluan Sayang, mau cek Abay,” ucap Naufal yang


segera turun dari mobil.


Aku turun dari mobil dan membangunkan Bi Sarah.


“Bi, Bibi,” ucapku sambil mengelus lengannya.


Bi Sarah tak kunjung bangun, mungkin karena badannya terasa lebih enak.


“Bibi……Bibi bangun,” kataku.


Bi Sarah membuka kedua matanya.


“Uugghhh…..Astagfirullah, kok saya disini Mbak??” tanya Bi


Sarah yang nyawanya belum terkumpul semua. Heheh.


“Kan Bibi abis ke salon Mama sama Gia sama Mas Naufal,”


jawabku.


“Ya Allah Gusti……maafkan Bibi Mbak, Bibi ketiduran,” jawab


Bi Sarah yang langsung meloncat dari dalam mobil.


“Hehehem, nggak papa Bi, memang itu reaksi kalo habis di


Spa, pengennya tidur mulu, hehehe,” candaku mengerjai Bi Sarah.


“Wah berarti bukan hanya obat ya Mbak yang bisa kasih efek


kantuk, tapi Spa juga, atau memang lulur yang di pijatkan di badan kita punya efek kantuk ya Mbak,” ucap Bi Sarah dengan polos.


“Ya Allah Bibi…..Bibi, hehehe Gia bercanda Bi, enggak kok,


nggak ada efek kantuknya,” ujarku.


“Hehehm, maklum Mbak, Bibi nggak pernah ke tempat begituan,” jawab Bi Sarah.


“Sudah sudah, lebih baik kita masuk ya Bi, Bibi nanti istirahat


di kamar, biar makin enak, dari pada di mobil kan kurang nyaman Bi,” tuturku.


“Hehem, enggeh Mbak,” jawab Bi Sarah.


Kami melangkah memasuki Ruang Tamu, aku melihat Naufal, Pak Rusdi, dan Abay yang sedang menonton film di Ruang Keluarga yang ada di sebelah Ruang Tamu.


“Assalamu’alaikum,” ucapku.


“Wa’alaikumsalam,” jawab mereka.


“Abay belum tidur Nak?” tanyaku.


“Belum Ma, nungguin Mama sama Papa,” jawab Abay.


Ku lanjutkan menaiki anak tangga menuju kamar.


***(Di Kamar)


Aku berjalan langsung masuk ke ruang ganti baju.


Ku lepas jam tanganku dan ku simpan kembali di laci yang


lumayan besar khusus untuk jam tanganku dan jam tangan milik Naufal.


Ku simpan juga tasku dalam almari kaca, lalu aku bergegas


masuk ke kamar mandi.


.


.


.


.


.


Setelah mandi, aku menyusul Naufal dan Abay ke bawah sambil


membawa dua toples cemilan kesukaanku.


***(Di Ruang Keluarga)


Aku duduk di sebelah NAufal.


“Iron Man lagi Nak?” tanyaku pada Abay.


“Iya Ma,” jawab Abay.


Naufal sibuk memainkan ponselnya.


“Mas, kalo lagi sama Abay jangan main handphone mulu,”


tuturku.


“Iya ini bales WA dari Dokter Anton Sayang,” jawab Naufal.


“Huuum, Pak Rusdi kemana tadi?” tanyaku pada Naufal.


“Ke belakang Sayang, biasanya jam segini kan ke pos,” jawab Naufal.


Ku ambil satu toples cemilan yang ku bawa.


“Aku juga mau lah Sayang,” kata Naufal.


“Ini ada isi selai nanasnya loh,” kataku.


“Nggak papa, aku suka,” jawab Naufal.


“Tapi kamu suapin ya, kan aku mau fokus nonton film sama


Abay, biar nanti kalo Abay nanya ke aku, akunya jadi paham Sayang,” bisik Naufal.


“Heeeemmm, iya,” jawabku.


Tak lama kemudian, ponsel Naufal bergetar.


“Mas, ada telfon masuk tuh,” kataku.


Naufal meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja.


“Dokter Anton Sayang, bentar ya,” jawabnya.


“Iya,” kataku.


Naufal menerima telepon dari Dokter Anton sedikit menjauh


dari kami karena suara keras film yang kami tonton.


“Papa kemana lagi Ma?” tanya Abay.


“Papa lagi telfonan sama temennya di rumah sakit,” jawabku.


“Soalnya kan Papa kamu besok mulai shift malam,” kataku.


“Jadi Mama tidur sendiri dong,” kata Abay.


“Enggak lah Nak, tidur sama Abay dong,” kataku sambil


menggeser posisi dudukku agar lebih dekat dengan Abay.


Sangat lama Naufal telepon dengan Dokter Anton,


sampai-sampai film Abay sudah the end.


“Udah malem, Abay langsung tidur ya,” tuturku sambil


mengelus kepala Abay.


“Papa mana Ma?? Kok nggak balik-balik,” tanya Abay.


“Mungkin yang di bahas banyak Nak, kan telfonan sama Dokter Anton, berarti telfon penting itu Nak,” jawabku.


“Uughhhmmm, ya udah Abay ke atas ya Ma,” ucap Abay.


Aku hanya menganggukan kepalaku dan tersenyum padanya.


“Good night Nak,” kataku.


“Night too Ma,” jawab Abay yang sudah berada di atas anak


tangga.


“Mas Naufal lama banget?” tanyaku dalam hati.


Aku berjalan menghampiri Naufal yang tampaknya masih


menempelkan ponsel di telinganya.


“Mas, masih lama ya?” tanyaku tanpa suara.


Naufal langsung mengakhiri telepon mereka.


“Kok dimatiin Mas?” tanyaku.


“Udah selesai yang di bahas Sayang, ya di tutup, mau ngapain


lagi, mau nanyain Dokter Anton udah makan belum? Gitu? Hehehee,” canda Naufal.


“Ya kali aja kalo kamu emang mau,” jawabku.


“Abay mana?? Udah selesai film nya?” tanya Naufal.


“Udah barusan selesai, Abay aku suruh tidur,” jawabku.


“Berarti sekarang, giliran kita yang tidur,” kata Naufal


sambil merangkul pundakku dan kamu berjalan berdua menuju kamar.


***(Di Kamar)


“Sholat dulu Mas,” tuturku.


“Iya Sayang, nggak lupa kok aku,” ucap Naufal.


Naufal menarik pundakku untuk tetap ikut bersamanya.

__ADS_1


Di tengah-tengah pintu kamar mandi, aku menahan agar Naufal tak dapat menarikku.


“Mas, kok narik-narik aku,” kataku.


“Kamu mau wudhu kan?” tanyaku.


“Iya,” jawab Naufal.


“Terus ini?? Maksudnya apa??” ucapku sambil melihat tangan


Naufal yang masih berada di pundakku.


“Hehehe, kelupaan Sayang, terlanjur nyaman tangannya meluk kamu,” kata Naufal sambil tersenyum menyeringai padaku.


“Alasan aja kamu Mas….Mas,” kataku sambil melepas tangan


Naufal dari pundakku.


“Udah sana wudhu, aku mau langsung tidur, ngantuk soalnya


besok shift pagi,” kataku.


Saat Naufal sedang sholat, aku mencoba mengintipnya dari


dalam selimut, terlihat hidung dan bulu mata lentiknya dari samping.


Membuat jantungku berdegup sekencang-kencangnya.


Tepat Naufal akan salam, aku langsung menutup selimutku


kembali.


Deg deg…..deg deg……


“Padahal udah lama sama Naufal, tapi kenapa ya aku masih


seperti ABG yang baru aja jatuh cinta, hehem,” gumamku dalam hati.


“Apa mungkin, sebelum-sebelumnya aku belum merasakan detakan hebat dari pria lain selain Naufal ya,” dalam hatiku terus bertanya-tanya.


Aku tidak sadar bahwa Naufal sedang ada di sampingku.


“Sayang…..” rengeknya di sampingku.


Aku langsung berpura-pura sudah tidur, namun Naufal membuka selimutku.


“Sayang jangan tidur dulu, aku nggak bisa tidur loh, kamu


temenin aku,” kata Naufal.


Aku merasa kasihan padanya, ku buka kedua mataku kembali.


“Nggak bisa tidur kenapa?? Kamu habis minum kopi?? Kamu


mikirin apa??” tanyaku bertubi-tubi.


“Enggak, aku nggak ada minum kopi, kan aku nggak begitu suka sama kopi,” jawabnya.


“Terus?? Ada yang kamu pikirin?” tanyaku.


“Iya,” jawabnya.


“Mikiran apa?? Presentasi kamu?? Mau ada operasi besar??”


tanyaku lagi.


“Enggak,” jawab Naufal.


“Apa dong Mas kalo nggak semua,” kataku.


“Aku kepikiran shift malam Sayang,” ucapnya.


“Astagfirullah Mas, kenapa kamu mikirin itu?? Kan udah biasa


aku shift pagi, kamu shift malam, kamu shift pagi, aku shift malam, udah biasa kan Mas,” kataku.


“Iya Sayang emang udah biasa, tapi nggak tau kenapa aku


pengen banget terus sama kamu, seakan-akan kamu sedih gitu Sayang,” keluhnya sambil menarik badanku agar lebih dekat dengannya.


“Mas, sedih gimana?? Aku kan bahagia-bahagia terus sama kamu,” ucapku.


“Nggak tau Gi, intinya aku pengen sama kamu terus,” kata


Naufal.


“Nggak bisa lah Mas, kita harus jalanin hidup, kita nggak


boleh egois sama diri kita sendiri, kamu harus kerja, begitu juga aku” tuturku.


“Huuumm, tau ah Sayang,” ucap Naufal.


Naufal memeluk ku erat.


Ku elus-elus kening Naufal agar dia segera tidur.


“Kamu enak Mas besok shift malam, aku besok shift pagi,


hooaaam,” ucapku.


“Ya udah sekarang kamu tidur aja nggak papa,” tutur Naufal.


“Tapi kamu sendirian,” kataku.


“Aku juga tidur Sayang, aku paksa mataku biar mau tidur,” ucap Naufal.


Kami pun terlelap dalam tidur.


.


.


.


.


.


Adzan shubuh berkumandang…


Tubuhku merasa sangat berat.


“Kok berat banget ya?”gumamku dalam hati dengan mata yang


masih tertutup rapat karena sebenarnya aku masih mengantuk.


Ku coba mengangkat tubuhku dan menggerakkan tanganku, tapi aku tak kuasa karena ini memang benar-benar berat.


“Aduh ini apa sih sebenarnya berat banget,” keluhku.


Ku buka kedua mataku.


yang menimpaku.


“Assshh Ya Allah Mas….Mas,” kataku.


Ku coba mengangkat tangan Naufal, rupannya dia menahannya.


“Mas, udah shubuh, kamu sholat gih,” tuturku.


“Jangan dulu Sayang, 5 menit lagi ya,” ucapku dengan kedua


mata yang masih tetap terpejam.


“Aku nggak bisa nafas loh Mas,” bujukku.


“Enggak, kamu bohong, tanganku menimpa lambung kamu, bukan paru-paru dan jantung kamu, jadi aku sama sekali tidak mengannggu sistem pernafasan dalam tubuh kamu, bukan begitu Sayang?” kata Naufal.


“Hehehem, memang susah ya kalo yang di bohongin seorang


Dokter kek kamu,” gumamku dalam hati.


“Udah kamu diem aja,aku cuman butuh waktu 5 menit aja kok


Sayang,” rengeknya.


Aku pun menuruti keinginan Naufal sambilmelihat jarum jam


yang terpajang di samping dinging ranjangku.


“tiga….dua…. satu,” ucapku menghitung jarum jam.


“Mas, bangun, udah lima menit,” kataku.


“Beneran udah?” tanya Naufal.


“Iya, beneran ayo bangun Mas,” tuturku.


Naufal membuka kedua matanya dan mengangkat tangan dan


kakinya dariku.


“Huufftt…akhirnya,” ucapku dalam hati.


“Uuughhh, walaupun cuman 5 menit tapi begitu berarti buat


aku,” kata Naufal.


“Huum gombal, udah ah aku duluan ke kamar mandi,” kataku


lalu turun dari ranjang.


.


.


.


Tak lama kemudian, aku keluar dari kamar mandi dan mengambil kerudungku.


“Aku masak dulu ya,” kataku.


“He’em,” jawab Naufal.


Aku turun ke bawah untuk ke dapur.


***(Di Dapur)


“Hai Bi,” sapaku.


“Bi seminggu ke depan kita masaknya lebih banyak ya,”


kataku.


“Enggeh Mbak, tapi kalo boleh tau bakal ada tamu yang menginap seminggu disini ya Mbak?” tanya Bi Sarah.


“Nggak ada Bi, cuman kan Mas Naufal shift malam, jadi nanti


pasti Mas Naufal amkan siangnya di rumah,” jawabku.


“Oh begitu Mbak,” kata Bi Sarah.


“Jangan lupa beras merah buat Mas Naufal ya Bi,” kataku.


“Enggeh Mbak,” jawab Bi Sarah yang mengambil tiga gelas


beras merah yang akan di cuci olehnya.


.


.


.


.


.


Setelah selesai memasak, aku kembali ke kamar.


Naufal tampaknya hilang dari kamar.


“Mas,” panggilku.


“Iya?” jawabnya.


Aku mencari Mas Naufal yang ternyata ada di pojok balkon.


“Kirain hilang,” kataku.


“Hilang kemana coba Sayang, jauh dari kamu aja aku nggak


bisa, eh ngilang lagi, ya nggak bisa lah,” ucapnya yang menikmati udara segar dan embun yang ada di balkon.


“Preett,” jawabku langsung pergi meninggalkannya untuk


mandi.


“Hehem, dasar gia, lucu banget kalo pas gitu tadi,” kata Naufal yang tersenyum-senyum sendiri di balkon.


.


.


.

__ADS_1


.


Beberapa menit selesai aku mandi, Naufal tidak ada lagi di


dalam kamar.


“Kemana lagi Naufal,” gumamku sambil memaikai mengoleskan maskara pada bulu mataku.


“Kerjaannya ngilang mulu, katanya nggak bisa jauh-jauh dari


aku, hem dasar,” kataku.


Tak lama setelah aku bergumam sendiri tentang Naufal,


Naufal pun datang dengan membawa segelas susu.


“Sayang,” ucapnya.


“Dari gym?” tanyaku.


“Enggak,aku ambil ini,” jawabnya sambil menyodorkan segelas


susu padaku.


“Tumben kamu nggak dari gym?” tanyaku.


“Kan habis nganterin kamu, sayang loh aku udah mandi, udah


rapi, udah wangi kayak gini mau gym, ya keringetan lagi dong Sayang,” ucapnya.


“Oh kamu udah mandi?” tanyaku sambil mengoleskan lipstick


pada bibir bawahku.


“Nih kalo nggak percaya bau ketek aku,” kata Naufal sambil sedikit membuka kaos hitam polosnya.


“Hehehe, iya iya, jarak 5 meter aja orang pasti juga cium bau parfum kamu kali Mas,” kataku.


“Kayak kamu enggak aja sayang,” timpal anufal.


Naufal duduk lalu meneguk segelas susunya.


“Abay udah mandi?” tanya Naufal.


“Ya pasti udah lah Mas, diakan rajin bangun pagi terus


mandi,” kataku.


“Iya lah Sayang, Papa nya siapa dulu??” ucap Naufal dengan


PD.


“Arrghhhh,”


.


.


.


Selesai aku bersiap-siap, kami bertiga turun ke bawah untuk sarapan.


***(Di Ruang Makan)


“Pagi semua,” sapa Naufal.


“Pagi Pak, Mas,” jawab mereka.


“Bapak kok belum rapi?” tanya Pak Joko pada anufal.


“Saya shift malam Pak,” jawab Naufal.


Aku duduk bersebelahan dengan Abay dan anufal.


“Ini Mas monggo nasinya,” kata Bi Sarah sambil memberikan


semangkuk beras merah pada Naufal.


“Makasih ya Bi,” ucap Naufal.


Bi sarah tersenyum pada Naufal.


Kami pun segera menyantap menu sarapan pagi yang sangat enak dan nikmat.


.


.


.


Selesai sarapan, Naufal mengantarku dengan abay.


“Papa nanti juga yang jemput Mama sama Abay?” tanya Abay.


“Iya lah Abay,” jawab Naufal.


“Papa nanti nggak capek? Papa pasti capek nanti,” kata Abay


yang sangat perhatian pada Naufal.


“Enggak Abay, nggak akan capek kalo Papa nglakuinnya buat


Abay sama Mama,” jawab Naufal.


Aku tersenyum saat mendengar perkataan Naufal tadi.


.


.


.


Sampai di depan gerbang sekolah Abay.


“Assalamu’alaikum Ma, Pa,” kata Abay sambil menyalami tangan kami.


“Wa’alaikumsalam, yang rajin ya,” jawab Naufal.


Abay turun dari mobil, Naufal kembali menancap gas mobilnya.


“Pelan-pelan aja Mas,” tuturku.


“Mumpung jalannya sepi Sayang,” jawab Naufal.


“Kamu kenapa sih Mas dari tadi kayaknya kelihatan murung?”


tanyaku.


“Soal semalem Sayang,” jawabnya singkat.


“Aku nggak sedih Mas, orang aku seneng ginikok,” jawabku.


“Iya aku tau, tapi kamu tuh kayak sedih gitu loh Sayang,”


tebak Naufal.


“Tapi beneran loh Mas, aku nggak sedih atau lagi ada


masalah, kan kalo ada apa-apa pasti aku cerita ke kamu,” kataku.


“Ya juga sih Sayang, nggak tau lah, ngerasa nggak enak aja


sih aku Sayang,” ucap Naufal.


“Istighfar Mas,” tuturku.


.


.


.


Sampa di depan Rumah Sakit, Naufal mengantarku di depan


Lobi.


***(Di Rumah Sakit)


“Sayang, kamu baik-baik ya,” tutur Naufal sambil mengelus


pundakku.


“Apa sih Mas?? Iya iya aku bakalan baik-baik aja,” jawabku.


“Aku kerja ya Mas, Assalamu’alaikum,” ucapku sambil


menyalami Naufal.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Naufal.


Aku turun dari mobil, mobil Naufal langsung melaju keluar


dari kawasan rumah Sakit.


Aku berjalan masuk ke Lobi dan bertemu Dokter Irene.


Dokter Irene langsung berjalan di sebelahku.


“Di antar siapa tadi Dok?” tanya dokter Irene.


“Mas Naufal Dok,” jawabku.


“Loh, Dokter Naufal cuti??” tanyanya.


“Enggak Dok, Mas Naufal shift malam,” jawabku.


“Ooww, enaknya di antar suami,” ucap Dokter Irene yang


sepertinya ingin di perlakukan sama sepertiku oleh suaminya.


“Dokter Irene gimana sama suaminya?” tanyaku memberanikan diri.


“Sebenarnya aku ingin cerita sama kamu lagi Gi, tapi aku


belum siap, aku belum kuat,” jawab Dokter Irene.


“Nggak papa Dok, sesiapnya aja Dokter Irene cerita ke saya,” tuturku.


“Maaf ya Dok jika saya mengingatkan masalah Dokter sama


suaminya,”ucapku.


“Oh enggak kok Gi, nggak, tenang aja,” ujar Dokter Irene


yang terlihat sok tegar di depanku.


“Saya senang jika ada orang yang memperdulikan saya, karena selama saya selalu dan selalu mencari perhatian pada orang di sekitar saya, dengan saya menjadi jahat, saya berharap orang-orang memperdulikan saya, tapi all hasil…..malah sebaliknya,orang-orang malah menjauhi saya, tapi beda dengan kamu Gi,” ucap Dokter Irene.


“Hehehem, enggak Dok, saya sama saja,” kataku.


“Tidak Gi, aku berbicara fakta, bahkan aku cuman berteman


sama kamu disini, yang lain?? Mana bisa Gi mau berteman dengan saya yang katanya saya ini selalu mengusik kehidupan mereka, padahal semua aku lakuin buat dapetin rasa respect, udah itu aja, mereka semua menganggap aku suka cari


perhatian, tapi kamu enggak Gi, malahan kamu datang untuk menjadi pendengar baik,” kata Dokter Irene.


Aku hanya tersenyum pada Dokter Irene.


“Apa lagi saat dulu aku deketin Naufal, mereka semua mengira aku genit sama Naufal, tapi bagiku Naufal itu orang baik meskipun dia sangat cuek dengan wanita, tapi aku mendekati dia bukan karena aku ingin mendapatkannya Gi, tapi memang cuman dia yang bisa peduli dengan semua orang, nggak beda-bedain Gi, aku bicara serius ini sama kamu, jadi kamu jangan anggap aku pernah berniat buat ngejar-ngejar Naufal, enggak, aku cuman pengen ada orang yang care, yang respect sama aku, meskipun itu teman,” ucapnya.


“Iya Dok, hehem, saya mengerti,” kataku.


Sedangkan Naufal yang sedari tadi mempunyai firasat buruk


padaku, menyetir mobil dengan kondisi yang tidak tenang.


“Astagfirullah, kenapa ya?? Firasatku nggak enak sama Gia,


seakan-akan dia akan mendapat kesedihan yang begitu berat,” gumam dalam hati Naufal.


“Tapia pa coba??” tanya Naufal dalam hatinya.


“Dia juga bahagia-bahagia aja, nggaka da sedihnya,” ucap


naufal dalam mobil.


“Apa dia nggak cerita sama aku ya, dia nutup-nutupin dari


aku,” tebak Naufal.


“Aduh Naufal, plisss jangan suudzon, Gia nggak seburuk itu,”


kata Naufal sambil menyangga kepalanya.


“Ya Allah semoga tidak ada apa-apa sama Gia, aku khawatir


banget Ya Allah, aku mohon tenangin hati aku,” ucap Naufal.


Naufal meraih ponselnya lalu mengirim pesan padaku.


Bersambung…….


Jangan lupa like, komen, dan vote nya yaa…


Makasih banyak untuk semua yang sudah setia dan selalu support

__ADS_1


author.


See you di next episode……hehe


__ADS_2