
Aku meninggalkan Mama Feni sendiri untuk menyusul Mas Naufal
di kamarnya.
***(Kamar Mas Naufal)
Glekkkk….ku buka pintu kamarnya
Mas Naufal yang tengah berdiri mondar mandir langsung
menengok padaku sambil mengelus bibir bawahnya.
Aku hanya diam saja melihatnya dan langsung meletakkan tasku
di meja putih mengkilap seperti marmer itu.
Ku lepas kerudungku dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi
untuk bersih-bersih terlebih dahulu.
.
.
.
Tak lama kemudian, aku keluar dari kamar mandi dan masih
memakai baju gamisku.
Saat ku buka pintu kamar mandi, baju tidur berwarna merah
cerah dan pendek itu terpampang nyata di depan kedua mataku.
Mas Naufal menurunkan baju yang tengah dibawanya itu.
“Kamu pake ini ya,” ucapnya.
Aku hanya mengangguk dan mengambil baju itu dari tangannya
lalu berjalan melewatinya.
“Gia kenapa?? Marah sama aku??” dalam hatinya berkata.
Mas Naufal masuk ke dalam kamar mandi dan menghiraukanku.
Selang beberapa menit, Mas Naufal keluar dengan baju tidur
hitamnya.
Aku sudah terbujur tertutupi oleh selimut tebal miliknya.
Mas Naufal semakin bingung dan heran atas sikapku yang
tiba-tiba dingin padanya.
Dengan pelan, Ia pun duduk di sampingku.
“Gi,” panggilnya lirih.
“Hm?”
“Nggak boleh munggungin suaminya,” tuturnya.
Dan aku menurutinya, menghadap dirinya. Namun aku tetap cuek
padanya.
“Kamu kenapa lagi sih Sayang?” tanyanya.
“BIsa-bisanya Mas Naufal nanya aku kenapa?? Jelas-jelas
pasti dia tau kenapa aku kayak gini,” gumamku dalam hati.
“Udah ah Mas, ngantuk, besok aja berantemnya,” jawabku.
“Loh kok gitu, Mas kan nggak ngajakin kamu berantem, Mas
salah lagi? Salah apa lagi Mas ke kamu??” tanyanya lagi dengan mengernyitkan
kedua alisnya.
“Mass…..udah ya,” kataku.
“Mama lagi sakit, ini di rumah Mama, nggak pantes buat kita
berantem,” sambungku lalu memejamkan mataku.
“Kamu kenapa sih Sayang? Selalu gini sama Mas, Mas nggak tau
salah Mas apa,” ucapnya.
“Kamu ngomong sama Mas, masalahnya harus selesai malam ini juga,”
__ADS_1
Akhirnya, aku pun memutuskan untuk membicarakan hal ini
dengan Mas Naufal.
Dengan kedua tanganku yang kulipat karena dinginnya udara
yang dihembuskan oleh AC.
“Aku nanya deh sama Mas,”
“Mas kenapa bohong sama aku??” kataku dengan lembut.
“Bohong? Bohong apa? Mas bohong apa??” tanyanya kaget.
“Mas udah tau kan kalo misalnya Pak Kevin itu adiknya Mas Raka,”
jawbaku.
“Tapi Mas sembunyiin semua dari aku, Mas pura-pura nggak tau
di depan aku,”
“Kamu ngomong apa sih Sayang??” tanyanya membela diri.
“Aku ngomong apa adanya sama Mas, Mas kenapa lakuin ini sama
aku sih,” kataku dengan kernyitan alisku.
“Sayang….hey dengerin Mas,”
“Mas nggak tau apa-apa beneran, Mas juga nggak tau kalo si
Kevin itu adiknya Raka, Mas baru tau tadi, beneran Mas nggak bohong sama kamu,”
jawabnya.
Aku masih saja tetap tidak percaya dengan Mas Naufal.
“Mas udah ngomong jujur apa adanya loh sama kamu Sayang,”
kata Mas Naufal.
“Mas kan temennya Mas Raka lama, nggak mungkin nggak tau,
apalagi Pak Kevin dulu sering control ke Mas, pasti tau dong,” aku tetap ngeyel
dan menuduh Mas Naufal.
“Mas berani sumpah sama kamu Sayang, Mas ini nggak tau
apa-apa,”
“Apa Mas Naufal beneran nggak tau apa-apa ya??” tanyaku
dalam hati.
“Percaya deh sama Mas, Mas nggak bohong sama kamu istriku,”
jawabnya yang mencoba merayuku.
“Udah lah jangan bertengkar karena hal kayak gini Sayang,
apalagi tentang Kevin, ya,” tuturnya sambil mengelus rambutku.
Aku masih memasang wajah murung padanya.
“Sayanggg….percaya sama Mas,” rayunya lagi.
“Apa yang dikatakan Mas Naufal memang benar ya?? Mas Naufal
juga udah ngomong kayak gini sama aku,” gumamku dalam hati.
Dan tiba-tiba suara Mama Feni keluar dari arah pintu kamar
Mas Naufal.
“Gia…”
“Naufall..kalian kenapa?” tanya Mama Feni dari arah luar
pintu.
“Mama??” ucap dalam hati Mas Naufal.
“Eehhmm…..nggak papa kok Ma, ini cuman berunding aja,” jawab
Mas Naufal.
“Yakin ya? Kalian nggak berantem kan??” teriak Mama Feni
lagi.
Mas Naufal turun dari ranjang dan membuka pintunya.
__ADS_1
“Ehehehehemm….enggak kok Ma, kita nggak lagi berantem, biasa
debut dikit-dikit Ma, kan katanya Mama mau cucu lagi, ehehehehe,” jawabnya.
“Oooooww ya sudah kalau gitu, Mama seneng dengernya,” kata
Mama Feni sambil tersenyum.
“Lah Mama, kaki Mama kan lagi sakit, kok dibuat jalan? Nanti
bengkak loh Ma,” ucap Mas NAufal.
“Iya tadi Mama nguping kalian hehehe,” kata Mama Feni.
“Yaelah Mama……udah sini Naufal antar ke kamar,” kata Mas
Naufal.
Mas Naufal pun mengantarkan Mama Feni ke kamarnya.
.
.
.
Dan dia pun kembali ke kamarnya.
“Tuh Sayang, udah ya jangan ribut,”
“Mama sampek nguping loh,” tuturnya sambil duduk
disampingku.
“Mas yang ngaja ribut, udah aku bilang kan besok aja, huh,”
ucapku sewot.
“Udah jangan sewot-sewot gitu,”
“Mama mintanya cucu, bukan ribut kayak gini Sayang, ehehehe,”
goda Mas Naufal.
“Mama sampe bela-belain kasih kamu baju itu loh Sayang, niat
banget kan Mama,” sambungnya.
“Jadi ini punya Mama?” tanyaku.
“Bukan Sayang, ini masih baru, bukan punya Mama,” jawab Mas Naufal.
“Udah nggak marah lagi kan sama Mas?? Udah percaya kan sama
Mas??” tanyanya lagi sambil menggodaku.
“Kata siapa?” jawabku yang ganti menggodanya.
“Aaarrrggghhh Sayangggg…….ayolah, jangan ribut gini, Mas nggak
suka,”
“Jangan ngambek-ngambekan, nggak enak tau,” sambungnya
sambil menjatuhkan kepalanya di pundakku seperti anak kecil yang sedang
merengek.
“Mas tuh, mincing-mancing buat ribut,” ucapku.
“Ribut nggak mau, tapi mincing-mancing mulu, dasar suami nya
siapa tuh kayak gitu,” ejekku sambil tersenyum tipis padanya.
Mas Naufal bangun kembali dan tersenyum di depanku, dengan
dua lesung pipinya yang indah, bulu mata lentiknya yang selalu membiusku dalam
rayuannya.
“Kenapa senyum-senyum git….” Kataku diputus olehnya.
“Huuustttt…”
“Udah lah Sayang,” ucapnya sambil membungkam bibirku dengan
jari telunjuknya.
Bersambung........
jangan lupa like dan komennya yaaa
terimakasih banyak buat semuanyaaa
__ADS_1