
Akhirnya, tibalah aku di tempat yang dirahasiakan oleh Mas Naufal setiap aku bertanya. Tempat yang tidak pernah ku kunjungi selama aku ada di kota ini.
Dari luar terlihat begitu elite. Seperti hotel, namun bukan hotel, seperti Rumah Makan, namun juga buka Rumah Makan, mulai dari dinding dan penyangga gedung ini, terbuat dari kayu, awal masuk, gerbang besar tertutup rapat yang menyambut kami.
"Mass....ini tempat apa??" tanyaku.
"Ini itu, Rumah temennya Mas Sayang," jawabnya.
Rumahnya sangat terpencil, jauh dari keramaian dan lalu lalang kendaraan.
Namun disana gedungnya begitu estetik. Meskipun dari kayu namun tetap saja membawa unsur modern nya, seperti bangunan gedung di luar negeri.
Banyak mobil-mobil yang terparkir disana.
"Sebenarnya ini acara apa Mas??" tanyaku yang resah berada di dalam mobil.
"Ini ituuu, acara nya temen aku karena baru boyong di rumahnya ini, nanti di dalam ada mini party nya kayak gitu-gitu Sayang,"
"Masuk dulu aja, kamu juga bakalan suka kok Sayang," ucapnya.
Akhirnya, Mas Naufal mengajakku turun dari mobil.
Rumahnya sangat bagus dan begitu besar seperti sekolahan, hehehe.
Lagi-lagi, Mas Naufal menggandeng tanganku dan kami berdua berjalan masuk ke Rumah itu.
Saat masuk kesana, semua pasang mata melihatku dan Mas Naufal.
Deg.deg......deg.degg....
Berasa seperti tengah sidang skripsi, hehehe....
Tampak luarnya saja yang terlihat sepi, namun dalamnya begitu megah dan full musik, di dalam sana banyak berpasangan orang, mungkin mereka seperti kita, pasangan suami istri.
Satu orang laki-laki menyambut kami.
"Wiiih akhirnya datang juga," kata Pria itu yang sama sekali aku tidak pernah melihat wajahnya.
Ini temannya Mas Naufal yang mana lagi.
"Pasti lah," jawab Mas Naufal.
"Yuk Fal, sini duduk," kata Pria itu.
Akhirnya, Pria itu mengajak kami duduk di sofanya yang sudah tertata banyak hidangan disana.
"Ini istri kamu???" tanya pria itu.
"Iya, siapa lagi??" jawab Mas Naufal.
Rupanya pria itu tengah berbisik pada Mas Naufal, namun aku tidak bisa mendengarnya sama sekali.
"Istri kamu mana??" tanya Mas Naufal.
"Masih disana, nyiapin apa tadi aku nggak tau, bentar lagi dia bakalan kesini kok," jawab Pria itu.
Mas Naufal dan temannya tengah asik ngobrol berdua. Aku hanya mendengarkan mereka berdua saja sambil melihat desain-desain di dalam Rumah.
Sangat apik, dan aku juga nyaman berada disini.
Benar kata Mas Naufal, meskipun disini tengah banyak orang-orang, namun aku tetap nyaman.
Saat temennya Mas Naufal meninggalkan kami hanya berdua, aku bertanya-tanya padanya tentang pemilik rumah ini.
"Mas, ini temen Mas yang mana lagi?? Aku kok nggak pernah tau," tanyaku.
"Ini Abid temennya Mas waktu SMA, dia arsitektur Sayang, istrinya juga seperti kamu, disini dia tinggal bersama Adik dan istrinya saja," jawab Mas Naufal.
"Ooooo, pantesan rumahnya unik gini Mas, kok temennya Mas ini nggak pernah main ke rumahnya Mas??" tanyaku.
"Dia sibuk Sayang, tapi kadang dia chatingan sama Mas," jawab Mas Naufal.
Sambil menikmati live musik disini.
Beberapa menit kemudian, seorang MC disana memberikan game kepada semua tamu yang hadir disini. Tiba-tiba perutku sangat sakit menusuk-nusuk.
"Mas, aku ke belakang dulu ya," kataku.
"Iya Sayang, tau tempatnya??" tanya Mas Naufal.
"Tau kok Mas, lagian rumah ini kan unik, itu ada tulisannya, hehe," kataku.
"Mau Mas antar??" tanyaku.
"Nggak usah Mas, bentar ya," ucapku lalu beranjak pergi ke toilet.
Aku berjalan ke toilet sendiri. Dari dalam sana masih terdengar teriakan seorang MC yang menyiarkan peraturan game nya.
"Okey, buat kalian semua yang hadir disini, di acara Mas Yuan yang baru saja berpindah disini, disini kami akan mengadakan sebuah game....."
Jadi dari dalam kamar mandi, aku mendengar, intinya game ini adalah game "Free" jadi, setiap pria harus mengungkapkan semua rasa cinta dan sayangnya pada pasangannya, begitu juga sebaliknya, semua rasa yang belum pernah diungkapkan selama bersama. Apapun itu, dan semuanyaaa......
Aku terburu-buru, karena aku juga ingin mengikuti game itu dengan Mas Naufal. Namun perutku ini sangat sakit, apalagi aku tengah haid seperti ini.
Saat MC tengah memulai game nya dengan hitungan mundur dari angka 5, di hitungan angka 1.
Lalu game pun sudah dimulai, MC sudah memberi aba-aba agar pria disini membawa pasangannya sendiri-sendiri di depan panggung.
Dan MC itu menyalakan alunan musik romantis. Kemudian menyuruh semua pria disana mulai mengungkapkan rasa cinta kepada belahan jiwanya yang sekarang ada di depannya.
Aku ingin segera keluar dari toilet ini untuk menemui Mas Naufal, karena nanti kasihan Mas Naufal dengan siapa?? Aku juga tidak ingin ketinggalan dengan game yang menurutku asik ini.
__ADS_1
Setelah selesai aku bersih-bersih di toilet ini. Aku keluar dari sini. Namun semuanya gelap gulita.
"Kok gelap???" gumamku dalam hati.
Tapi alunan musik tetap terdengar keras.
"Tapi musiknya masih menyala?? Apa ini mungkin bagian dari permainan ini ya??" ucap batinku.
Sebenarnya aku takut, namun aku mencoba berjalan mengendap-endap untuk menemukan Maa Naufal yang menungguku di sofa tadi.
Tapi aku tetap saja takut, akhirnya ku nyalakan flash di ponselku. Ku arahkan ponselku ke sekelilingku, rupanya semua orang sudah berkumpul di dekat panggung, hanya tertinggal aku dan Mas Naufal saja.
Lalu aku berjalan mendekat ke tempat semula tadi saat aku dan Mas Naufal sedang berdua.
Dengan nyala flash ponselku, aku tidak menemukan Mas Naufal tengah duduk disana.
"Mas Naufal kemana ini???" gumamku dalam hati.
"Jangan......jangan Mas Naufal di tempat rame itu," ucapku dalam hati.
Lalu aku memutuskan mencarinya disana, disana sangatlah ramai, hanya alunan musik romantis yang terdengar, ada yang sedang berdansa, ada juga yang berpelukan dengan istrinya, terlihat sekilas di nyala flash ponselku.
Aku terus mencari-cari Mas Naufal, jika dia tidak ada di tempat itu, pasti dia bergabung di kerumunan banyak pasangan ini, tapia anehnya?? Kenapa Mas Naufal perginya tanpa aku?? Kan aku pasangannya.
Mereka semua menghiraukanku disana, karena mereka sibuk mengungkapkan isi hatinya kepada istri atau pasangannya, karena sekarang mereka tengah berhadap-hadapan, di tempat yang gulita ini.
Aku masuk di sela-sela mereka demi menemukan Mas Naufal, tak peduli kunyalakan flash di ponselku seorang diri.
Dan akhirnya, saat aku tengah berada di tengah-tengah mereka, flash ponselku menerangi kemeja berwarna milo milik Mas Naufal, namunnn......kenapa Mas Naufal sedang berhadapan dengan siapa ini?
Ku perjelas lagi pandangaku, ternyata benar, yang sedang membelakangiku sekarang ini adalah Mas Naufal.
"Mas Naufal dengan siapa ini???" gumamku dalam hati.
Seorang wanita berjilbab berdiri sangat dekat dengannya.
Aku diam saja disana, karena ingin melihat dan membuktikan apakah ini benar suamiku?? Lantas jika benar, apakah begini kelakuan suamiku??
Mas Naufal asik berdansa dengan wanita itu di depan mataku. Hatiku masih tidak percaya jika Mas Naufal seperti ini.
"Bukan, ini pasti bukan Mas Naufal!!!" Ucap tegasku dalam hati.
Kemudian, MC berteriak, dalam hitungan ketiga, lampu akan dinyalakan. Aku tetap saja berdiri disana, dibelakang Mas Naufal.
"Tiga......Dua......Satu..."
Daammmnnnnn......Semua lampu pun menyala.
Semua bertepuk tangan gembira disana....
Namun aku, aku melihat jelas wajah wanita yang tengah berada di depan Mas Naufal bahkan dia berdansa dengan Mas Naufal.
Deeggg.......hatiku serasa tersayat-sayat pada saat itu, sudah tak kuasa menahan perihnya sakit hati ini, aku langsung memanggil Mas Naufal.
"Gia......loh," ucap Mas Naufal.
Mas Naufal langsung kaget menengok padaku, dia bengong saat melihatku dan melihat wanita yang ada di depanku.
Wanita itu juga bengong melihatku.
Ini maksudnya apa???
Mataku sudah berkaca-kaca saat itu, aku tidak mungkin jika harus menangis di depan orang sebanyak ini.
Jadi, untuk ini Mas Naufal mengajakku pergi.
Untuk memperkenalkan adanya wanita ini padaku.
Aku langsung berlari saat itu tanpa berpamitan pada Tuan Rumahnya. Aku berlari ke menuju ke dalam mobil. Mas Naufal sepertinya mengejarku.
Aku menangis di dalam mobil. Tak lama setelah aku masuk ke mobil, Mas Naufal menyusulku.
Braakkk........suara pintu mobil yang ditutup oleh Mas Naufal.
"Sayang...mmm Mas nggak tau Sayang kalo tadi,"
"Kalo tadi itu bukan kamu, sumpah Mas nggak tau Sayang, Mas kira tadi kamu," ucap Mas Naufal dengan gugup.
"Mas bohong, sudah jelas aku berpamitan sama Mas ke toilet," ucapku sambil menangis.
"Sumpah Sayang Mas nggak tau kalo tadi itu bukan kamu, Mas kira itu kamu baru keluar dari toilet, soalnya tadi lampunya dimatiin Sayang, terus Adiknya Abid ke meja nya Mas, langsung Mas tarik aja tangannya Sayang,"
"Dia juga diam aja, Mas bener-bener nggak tau, demi Allah Mas nggak bohong sama kamu Sayang," ucapnya sambil menghadapku.
"Mas tadi juga sempet mikir, kok tumben kamu diam aja, terus tadi kamu kok kaku banget, Mas mikir gitu Sayang, beneran........"
"Ya Mas kira kamu menikmati suasananya Sayang, tapi ternyata???? Dia bukan kamu, kamu tau sendiri kan Sayang, Adiknya Abid tadi persis banget sama kamu, dia juga pake gamis, pake kerudung," sambung Mas Naufal.
Aku hanya diam dan menunduk saja sambil mendengarkan penjelasan Mas Naufal.
"Tapi kan Mas bisa rasain....ughh uggh....saat megang tangan wanita tadi," ucapnya gagap karena isak tangisku.
"Sumpah Sayang, Mas nggak mikir sampe situ, Mas cuman mikir, kalo itu kamu, terus Mas ungkapin semuanya dan...."
"Memangnya Mas ungkapin apa aja??" tanyaku sambil mengangguk-angguk terseduh-seduh karena menangis.
"Ya...........ya semuanya Sayang, apa yang sebelumnya belum Mas ungkapin ke kamu, Mas ungkapin itu tadi," kata Mas Naufal.
"Berarti dia lebih tau dari pada aku Mas sekarang??" tanyaku.
Mas Naufal langsung meraih kedua tanganku.
__ADS_1
"Bukan gitu Sayangggg, bukan gitu," ujar Mas Naufal sambil mengernyitkan kedua alis tebalnya.
"Sudahlah Mas, lebih baik sekarang pulang saja, diselesaikan di rumah aja, jangan disini, disini bukan tempat kita," tepisku sambil membuang pandanganku ke depan.
Mas Naufal hanya diam dan memilih mengalah.
Dinyalakan mesin mobil dan kami pun pulang.
Selama di perjalanan, aku dan Mas Naufal sama-sama diam, tidak ada percakapan sama sekali selama perjalanan pulang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sampai di Rumah, mobil langsung masuk ke Garasi.
Setelah mesin mobil mati, ku hapus dulu air mataku.
Mas Naufal tidak mendahuluiku keluar dari mobil, dia tetap setia menungguku.
Kami keluar dari mobil sama-sama.
"Assalamu'alaikum," ucap salam kami.
Tidak ada yang menjawab salam kami, sepertinya Bi Sarah sudah tidur di kamarnya.
Mas Naufal mengikuti langkahku menaiki anak tangga hingga sampai di kamar.
Gleekkkkk.....
***(Di Kamar)
Ku letakkan tasku di sofa dan aku duduk, Mas Naufal juga duduk di sampingku.
"Eemmm.......Sa.....yang, Mas mau," kata Mas Naufal.
"Mas cerita aja sama aku nggak papa, jelasin,"
"Katanya Mas aku harus terbuka, nggak boleh suka mendem, jadi silahkan Mas cerita aja," kataku sambil menunduk dan tak meliriknyas sedikitpun.
Mas Naufal menceritakan semuanya padaku, mulai dari saat Adiknya Abid datang, hingga mereka berdua di tengah-tengah kerumunan orang banyak di depan panggung, dan bahkan Mas Naufal juga menceritakan dia memegang tangan dan melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu.
Memang, Mas Naufal sungguh-sungguh meminta maaf padaku, karena Mas Naufal benar-benar tidak tau, jika wanita itu bukan aku.
Dan saat aku berlari keluar dan mengunci diriku di dalam mobil. Aku menunggu Mas Naufal yang sedang meminta maaf dengan Abid dan Adiknya, karena Mas Naufal benar-benar tidak tau. Lalu dia langsung menyusulku di dalam mobil tadi.
"Tapi, kenapa wanita itu tetep mau digandeng dan dibawa sama Mas??" tanyaku.
"Mas nggak tau Sayang kalo masalah itu, tadi dia juga minta maaf sama Mas," jawab Mas Naufal.
Air mataku tetap saja menetes dikedua pipiku.
"Apa sebelumnya Mas sudah pernah kenal dengan Adiknya Abid??" tanyaku namun tetap tidak melihatnya.
"Ya Allah Sayanggg, Mas cuman pernah ketemu dan hanya tau, Mas aja tidak tau dia namanya siapa, cuman dulu tau karena sering ikut Abid kemana-mana," kata Mas Naufal.
"Maafin Mas ya, Mas buat kamu nangis lagi,"
"Mas buat kamus sedih lagi, buat hati kamu terluka lagi, maafin Mas," sambungnya yang terus-menerus meminta maaf padaku.
"Mas yakin, Mas nggak bohong??" tanyaku lagi.
"Sumpah Sayang, Mas nggak bohong,"
"Kamu lihat Mas dong, dari tadi kamu nggak mau lihatin Mas, lihat matanya Mas, Mas sumpah nggak bohong sama kamu," jawab Mas Naufal dengan serius.
"Aku cemburu Mas," ucapku.
"Apalagi Mas selalu romantis sama aku, sedangkan tadi.....Mas romantis-romantisan sama wanita lain di depan aku, nggak mungkin begitu saja Mas nggak ngerasain ada yang bedas saat itu, nggak mungkin Mas abaikan begitu saja,"
"Mas nggak begitu, Mas orangnya jelih, tapi kenapa?? Sekarang malah seperti ini," ucapku dengan amarahku.
Moodku sedang rusak, apalagi ditambah aku sedang datang bulan, sudah perut sangat sakit, rasanya hanya ingin marah.
Dan parahnya, terkena masalah berat seperti ini.
"Ini yang dibilang Mas kalo aku bakalan seneng disana?? Ini Mas??" tanyaku.
"Aaarrghhhh......Sayangggg......Mas nggak tau kalo kejadiannya bakalan kayak gini,"
"Maafin Mas," ujar Mas Naufal.
"Sekarang gini Mas, nggak mungkin Mas tiba-tiba lanjutin semuanya kalo emang dari awal Mas udah ngerasa ada yang berbeda,"
"Apalagi Mas udah pegang tangannya, udah......iiisshhh, tau ah Mas, pusing aku," ucapku sambil menangis.
Mas Naufal terus merasa bersalah padaku dengan ketidaksengajaan yang tadi dilakukan.
__ADS_1
Bersambung.......