
Kami turun ke bawah untuk sarapan.
***(di Ruang Makan)
"Mari makan," ucap Naufal.
Kami semua segera menyantap sarapan pagi.
"Pak, nanti jadi ketemu sama satpam baru?" tanya Pak Joko.
"Iya, sore ya, nanti malam ada tamu juga soalnya," jawab Naufal.
"Iya Pak," kata Pak Joko.
Selesai menyantap habis menu sarapan pagi, kami berpamitan untuk pergi bekerja.
"Bi, kami berangkat dulu ya," pamitku.
"Iya Mbak, monggo," jawab Bi Sarah.
"Assalamu'alaikum," salamku dan Naufal.
Kami segera berjalan ke garasi dan langsung masuk dalam mobil Naufal.
Setelah seatbelt terpasang, Naufal melajukan mobilnya keluar halaman Rumah.
Di perjalanan ponsel Naufal berdering, dan ia segera menerima video call dari Mama Feni.
"Assalamu'alaikum Nak," salam Mama Feni.
"Wa'alaikumsalam Ma, wah Mama gendong siapa itu?" tanya Naufal.
"Ini tadi Mama jalan-jalan pagi, eh ada anak gemes lucu Fal, Mama bawa pulang, hehehe ternyata ini anak tetangga baru Mama," jawab Mama Feni.
"Kamu berangkat kerja Nak?" tanyanya.
"Iya Ma, ini sama Gia," jawab Naufal sambil mengarahkan kamera ponselnya padaku.
"Gia sehat Nak??" tanya Mama Feni.
"Alhamdulillah sehat Ma, Mama juga sehat?" tanyaku ganti.
"Alhamdulillah, Gia, lucu ya," kata Mama Feni yang sedang menggendong bayi laki-laki yang sepertinya masih 8 bulan itu.
"Iya Ma, hehehe, anaknya siapa Ma?" tanyaku.
"Anaknya tetangga baru Mama, bentar lagi pasti Mama nya kesini, sepi Gi di rumah, jadi Mama bawa pulang anak ini, hehehe," jawab Mama Feni.
Sepertinya Mama Feni sangat senang dengan bayi itu, berkali-kali Mama Feni terus menciuminya.
"Kapan-kapan main ke rumah Mama Nak kalo nggak sibuk, ajakin kesini Fal," sahut Mama Feni.
"Iya Mas, kita pulangnya kadang siang kadang sore, jadi harus libur sehari biar bisa ke rumah Mama," ucap Naufal.
"Aduuuh lucunya," kata Naufal sambil tersenyum-senyum pada bayi itu.
"Ya udah Nak, kalian hati-hati ya, jangan lupa ke rumah Mama," kata Mama Feni.
"Iya Ma, ya kan Gi," ucap Naufal.
Aku hanya tersenyum pada layar ponsel yang penuh dengan wajah Mama Feni dan bayi itu.
"Assalamu'alaikum," salam Mama Feni.
"Wa'alaikumsalam," jawabku dan Naufal.
Naufal meletakkan ponselnya di holder mobil.
"Hehehem Mama suka banget kayaknya tadi," kata Naufal.
"Iya Mas, dari tadi aja bayinya di cium-cium terus sama Mama," ucapku.
"Lagian bayinya juga lucu banget tadi Sayang, uuuuh gemes aku," kata Naufal dengan penuh ekspresif.
"Hehee, iya Mas, matanya bulat, bantat tadi Mas kayaknya dia tuh," kataku.
"Wahahaha, bantat apa sih Sayang, kamu pikir dia adonan kue, bisa-bisanya kamu ini," ucap Naufal sambil menertawakanku.
"Kayak berisi gitu Mas, ya kan, kamu lihat kan tadi, jadi makin lucu," kataku.
"Hahahhaa, iya sih, lucu ya, huuuuumm," ucap Naufal dengan menghembuskan nafas beratnya.
"Kamu seneng banget kayaknya," tebakku sambil meliriknya.
"Aku kasih kode keras kamu loh ini Sayang," ucap Naufal.
Krik krik krik krik,
Deg...deg...deg
"Addduuuhh, maksudnya Naufal apa sih," gumamku dalam hati.
"Ooowww, heheemm," senyumku pada Naufal.
Naufal meraih tanganku dan menggenggamnya erat.
"Kamu kenapa??? Maaf ya kalo aku belum juga...," kataku terpotong oleh Naufal.
"Hust hust, gak papa Sayang, Allah itu ngasihnya kalo kita udah bener-bener siap, kalo belum ya belum, udah gak papa," tutur Naufal.
"Tapi keluargamu dan keluargaku juga pasti akan mengharapkan itu dari pernikahan kita Mas," kataku sambil mengernyitkan kedua alisku.
"Iya Sayang itu pasti, tapi kan mereka juga sabar, mereka lebih berpengalaman dan lebih tau lah Sayang, ada yang dikasihnya cepet, ada yang lumayan lama, ada yang lama banget, sesiap kitanya aja, pasti Allah segera kasih," tuturnya lagi dan lagi.
"Rasanya tadi ngelihat Mama kamu seneng banget gendong bayi, rasanya gimana gitu Mas, mungkin dia lebih bahagia jika bayi yang di gendongnya tadi adalah anakmu," kataku sambil menyenderkan kepalaku di kursi mobil sambil ku tarik tanganku dari genggaman tangan Naufal
"Sayang, udah kamu jangan gitu, rejekinya orang kan beda-beda, kamu nggak usah berkecil hati, kita sabar aja, ya," rayu Naufal sambil meraih tanganku lalu menciumnya.
Aku langsung memeluknya.
"Huuummm, sabar ya," kataku.
Naufal hanya mengangguk dan tersenyum padaku.
Aku merasa sedikit sedih.
Tak lama kemudian kami sampai di Rumah Sakit.
***(di Rumah Sakit)
Mobil terparkir rapi.
Aku dan Naufal segera turun dari mobil.
Saat kami akan berjalan.
"Fal,"
Kami menoleh ke belakang, ternyata Pak Bastian yang memanggil Naufal.
Pak Bastian berjalan ke arah kami.
"Mas, aku duluan ya, kamu sama Pak Bastian, gak enak nanti barangkali ada yang mau di omongin penting," kataku.
"Oh iya Sayang, bye," kata Naufal sambil mengelus lenganku.
Aku berjalan sendirian menyusuri lorong menuju ruanganku.
__ADS_1
"Kenapa Gia???? Murung banget mukanya, tengkar lagi sama Lo?" tanya Pak Bastian.
Naufal tersenyum sambil menyimpan kunci mobil dalam sakunya
"Enggak, tadi kan Mama video call, terus Mama lagi gendong bayi, kata Gia gini, Mama seneng banget ya kayaknya sama bayinya, terus Gue juga gitu, emang kan Gue suka anak kecil kan, terus kan selama ini Lo juga tau Gia belum hamil, jadi ya gitu mukanya di tekuk gara-gara cuman lihat Gue sama Mama kesenengan lihat bayi tadi," jawab Naufal sambil menaikkan kedua pundaknya.
"Wahaahhahaah, lucu-lucu, sumpah Lo, betah banget sama sama cewek gituan, bukan Lo ni bro, kok tipe Lo jadi berubah gini sih, suka banget sama cewek yang moody," ejek Pak Bastian.
"Dia itu nggak moody Bas, cuman mungkin kan hatinya gimana gitu, Lo tau sendiri kan, dari pernikahan apa yang segera diinginkan, keturunan," kata Naufal.
"Iya sih bener juga, tapi kan cewek beda-beda Fal," kata Pak Bastian.
"Udah Lo, ghibah mulu pagi-pagi," ucap Naufal sambil menepuk pundak Pak Bastian.
Mereka berjalan beriringan.
"Bas, nanti malem ke rumah Gue," ucap Naufal.
"Nggapain?? Tumben banget Lo," jawab Pak Bastian.
"Lo mau nggak?" tanya Naufal.
"Ngapain dulu, kalo cuman jadi obat nyamuk Lo sama Gia, ogah banget Gue," ucap Pak Bastian.
"Katanya Lo mau kenal sama Susi, dasar ya, suudzon mulu," ejek Naufal.
"Serius Lo???!!" tanya Pak Bastian dengan membulatkan kedua matanya.
"Ya iyalah, tanya ke Gia kalo gak percaya," ujar Naufal.
"Grogi Gue, ahhahaha," ucap Pak Bastian.
"Heleh, kayak baru kenal cewek pertama kali aja Lo," ejek Naufal.
"Yaelah kali ini kan beda Fal pastinya, pasti adem adem gimana gitu, kayak Lo pas lihatin Gia, pasti sikapnya hampir mirip nih kayak Gia," tebak Pak Bastian.
"Lo apa-apa an sih dari tadi malah ngomongin Gia, Susi tuh katanya Gia anaknya santun, sopan banget, nggak neko-neko, baik banget, jadi Lo harus dapetin beneran nih, kapan lagi," tutur Naufal.
"Pas banget, Gue sukanya yang begituan Fal sebenarnya," kata Pak Bastian.
"Ya udah awas Lo nanti telat, gerbang Gue kunci, Pak Joko gak akan bukain gerbang buat Lo," ancam Naufal.
"Eh eh eh, ya nggak lah, gak mungkin telat kalo masalah ginian," ucap Pak Bastian.
"Dasar, ahhahaah," kata Naufal.
Sedangkan aku, sudah sibuk bergelut dengan pekerjaanku.
Tapi aku juga masih kepikiran sih.
"Selama ini baik dari keluargaku sendiri ataupun keluarga Naufal sama sekali tidak pernah membahas tentang itu," gumamku dalam hati sambil berjalan menuju ruang ICU.
"Huuummmm, semoga saja disegerakan," kataku dalam hati.
Dari belakang sepertinya ada yang mengikutiku.
"Dokter Gia,"
Aku menoleh ke belakang.
"Iya, kenapa Dok?" tanyaku pada Dokter Irene.
"Mau kemana Dok?" tanyanya.
"ICU Dok," jawabku singkat.
"Tadi berangkat sama Dokter Naufal?" tanyanya lagi.
"Iya Dok, ada apa?" tanyaku balik.
"Oh, di titipin ke saya aja nggak papa Dok, nanti pasti saya segera kasihkan sama beliau," kataku.
Dokter Irene mengeluarkan flashdisk dari sakunya lalu memberikannya padaku.
"Makasih," ucapnya singkat.
"Sama-sama," jawabku sambil tersenyum padanya.
Dokter Irene berjalan berbalik meninggalkan ku.
.
.
.
.
.
Beberapa jam kemudian keluar dari Ruang ICU.
Ada pekerjaan yang telah menungguku kembali, operasi dan operasi.
"Dokter," panggil seorang perawat yang menghampiriku, padahal aku baru saja membuka pintu Ruang ICU.
"Operasi ya?" tanyaku pada perawat itu.
"Hehem, iya Dok," jawabnya.
Aku segera berjalan dengan sangat cepat menuju Ruang Operasi.
Memang aku sangat senang dengan pekerjaanku ini, rasanya selain tuntutan pekerjaan kita juga bisa menolong pasien dan mengabdi padanya, bisa membantu jadi perantara buat mereka sembuh itu saja sudah lega banget, apalagi bisa menyelamatkan satu jiwa.
.
.
.
.
.
Beberapa jam kemudian, operasi selesai, ku buka pintu Ruang Operasi.
Tak sengaja aku menabrak Naufal.
"Aaawww," kataku.
"Sayang," ucapnya.
"Hati-hati dong, kamu nglamun ya pasti," tebak Naufal.
"Enggak kok," kataku.
"Kamu lagi ada operasi?" tanya Naufal.
"Iya, kamu dari mana?" tanyaku balik.
"Ketemu Pak Anton tadi, buat ngusulin program ini apa sih, penanganan balita yang kena infeksi saluran nafas bawah Sayang," jawabnya.
"Oh iya, ini tadi ada yang nitipin barang kamu ke aku," kataku sambil mengeluarkan flashdisk dari saku jasku lalu ku berikan pada Naufal.
"Dari Irene?" tanyanya.
"He'em," Jawabku sambil menganggukkan kepalaku.
__ADS_1
"Tadi katanya nyariin ke ruangan kamu tapi nggak ada, terus aku suruh nitipin ke aku aja," kataku.
"Oh gitu, tadi ngobrol lama di jalan sama Bastian, aku bilangin nanti malem ke rumah ketemu Susi," kata Naufal.
"Terus gimana? Pak Bastian bisa?" tanyaku.
"Bisa lah Sayang, bisa," jawab Naufal.
"Ya udah aku jalan dulu, udah di tungguin Sayang," ucap Naufal sambil melihat jam tangannya.
"Iya Mas," jawabku.
Naufal berjalan yang berbeda arah denganku demi tugas kami masing-masing.
.
.
.
.
.
.
.
.
Matahari hampir bergeser ke barat.
***(di Ruanganku)
"Alhamdulillah, selesai," kataku sambil menumpuk lalu menyimpan dokumen-dokumen ke almari.
Ku lihat jam di layar ponselku.
"Udah jam 3, gak berasa," kataku sendirian.
Gleekkkk....
"Sayang.....," panggil Naufal yang masuk ke ruanganku.
"Astagfirullah, iiiih kamu ngagetin aja Mas, selalu nggak ketuk pintu dulu," kataku.
"Kan ini ruangan istri sendiri Sayang, nanti kalo aku ketuk-ketuk dulu pintunya, keburu cowoknya kamu sembunyiin," ucap Naufal.
"Apa-apaan sih kamu, amit-amit Mas, gak mungkin lah aku kayak gitu, ngaco banget, takutnya nanti kalo kamu nggak ngetuk pintu dulu, terus disini aku lagi ngobrol penting gimana," ucapku.
"Huuuuummm, udah Sayang ayo pulang, keburu ada tamu di rumah," ajak Naufal.
Segera ku membereskan mejaku dan mengambil tasku untuk pulang.
.
.
.
.
Di parkiran, setelah aku dan Naufal sudah berada dalam mobil, Naufal menancap gas mobilnya dengan kencang.
Aku melamun ke arah samping jendela kaca mobil.
"Kenapa Sayang?" tanya Naufal.
"Masih kepikiran sama yang tadi," jawabku tanpa menoleh pada Naufal.
"Yang tadi?? Tadi pagi maksud kamu??" tanya Naufal lagi.
Aku hanya mengangguk-angguk.
"Ya Allah Sayang, kan tadi aku udah bilang sama kamu, kapanpun sedikasihnya Sayang," tutur Naufal.
"Iya Mas, kamu bilang gitu, tapi kan Mama Papa kamu sama Mama Papa aku pasti berharap itu dari kita," bantahku.
"Sayang Sayang.......Mereka pasti ngerti, ya?" rayunya.
"Tetep aja Mas kepikiran, udah 7 bulan kita nikah loh," keluhku.
"Udahlah Sayang, nanti kalo kamu mikirin itu terus, terus kamu stress, kondisi imun kamu gak baik, ya sama aja Sayang, udah lah positif aja," tutur Naufal.
"Aku tau sebenarnya kamu juga menginginkan itu Fal, seperti keluargaku dan juga keluargamu, huuuummm," gumamku dalam hati.
***(di Rumah)
Akhirnya kami pun sampai di Rumah.
Mobil diparkir di halaman Rumah.
Pintu Rumah terbuka.
"Tamu kamu udah datang Mas kayaknya," tebakku.
"Iya Sayang," jawab Naufal sambil meraih tanganku untuk digandengnya dan kami berjalan berdua.
"Assalamu'alaikum," salam kami.
"Wa'alaikumsalam," jawab mereka.
***(di Ruang Tamu)
Ada dua tamu laki-laki, dan ada Bi Sarah dan juga Pak Joko sedang duduk menemuinya disana.
"Monggo Mas, duduk sini," ucap Bi Sarah mempersilahkan kami duduk.
Naufal menyalami kedua tamu itu begitu juga dengan aku.
"Mas, aku ke atas dulu ya," pamitku lirih agak sedikit berbisik.
"Iya Sayang, aku interview dikit mereka ini," ucap Naufal.
"Eehmmm maaf saya ke atas dulu ya," pamitku.
"Silahkan Mbak," ucap Bi Sarah.
Aku berjalan menaiki anak tangga menuju kamarku, sedangkan Naufal tetap tinggal di Ruang Tamu karena harus menemui tamu yang akan dijadikan pekerja disini.
***(di Kamar)
Aku berjalan ke balkon.
"Huuuumm, selama ini aku belum memikirkan hal itu, karena aku tau, Allah akan kasih kita jika memang sudah waktunya, tapi jika belum?? Apalah daya kita yang hanya sebagai HambaNYA, ngeliat ekspresi Naufal sama Mama tadi aku jadi kasihan sama mereka, pasti Mama Papaku juga ingin sebenarnya," kataku dalam hati sambil menikmati hembusan angin sore dengan sedikit mendung.
"Semoga saja, Allah segera memberiku," kataku.
"Naufal pasti seneng banget, apalagi dia sangat suka sama anak kecil, hehehem, lucu mungkin jika dalam rumah ini, ditambah satu anggota lagi, hehem, pasti Naufal bakalan segera pengen pulang kerja," kataku sendiri.
Aku kembali masuk ke kamar, dan aku bergegas untuk pergi mandi.
Beraambungg......
Jangan lupa mampir ke novel satunya ya, judulnya Bianglala yang covernya warna biru ya
Terima kasih semuaaa🖤😁🙏😊
__ADS_1