
"Itu dulu ya Gi, Riana suka banget tuh sama Si Naufal, ya kan," kata Pak Bastian.
"Ehehem, iya Pak," jawabku.
"Ya kan bener aku, terus ya Gi, kalo lagi di ruangan Naufal, dia aku bilang gini, Fal ada fans loh Fal, dia cuman gini jawabnya, apaan itu murid koas Bas inget, masih kecil mereka, gitu jawabnya Gi, eh nyatanya juga sama kamu, ke makan omongan sendiri kan Lo, huuuu," ejek Pak Bastian sambil menertawakan Naufal.
"Dulu kan kalo di belakang layar seisi ruangan pada ngomongin kamu kan Gi, eeeh dia sok sok an cuek, padahal jelas-jelas dulu dia udah dijodohin sama kamu loh, hahahaha, duuuh geram Gue sama Lo, sok sok an cuek," kata Pak Bastian membuka semua kartu Naufal.
"Bas, apaan sih Lo, kok Lo buka semua sih," kata Naufal.
"Hahahaha, apaan, emang bener kok, Lo nggak mau ngaku, dasar," ucapnya.
"Kayak Lo nggak gitu aja Bas, dulu waktu sama Susi Lo kan," ucapan Naufal terpotong oleh Pak Bastian.
"Lo apa apa sih Fal, jangan di bongkar dong, Gue malu," rengek Pak Bastian.
"Hahahaha," Naufal menertawakan Pak Bastian yang tengah malu-malu.
Lama kami berbincang-bincang, akhirnya aku dan Naufal berpamitan untuk pulang.
"Gue pulang dulu Bas," pamit Naufal.
"Yoi, kapan-kapan sini lagi," kata Pak Bastian.
"Insya'Allah, gantian dong Lo yang ke rumah Gue," ucap Naufal.
"Hehehe, ya ya ya," jawabnya.
"Pulang ya Si, Assalamu'alaikum," ucapku.
"Iya Gi, hati-hati, Wa'alaikumsalam," jawab mereka.
Aku dan Naufal masuk ke dalam mobil.
Tin....tin..sesekali Naufal menyalakan klakson mobilnya, mobil pun melaju untuk pulang.
.
.
.
.
.
.
.
***(Di Rumah)
Sampai nya di rumah, Naufal melajukan mobilnya masuk ke dalam garasi.
Aku dan Naufal berjalan masuk ke rumah.
Kami langsung menapaki anak tangga untuk ke kamar.
***(Di Kamar)
"Sayang, kamu lihat Abay dulu, dia udah tidur belum," tutur Naufal.
Segera aku menuju ke kamar Abay.
Gleeekkk.
Ku buka pintu kamarnya, tampak disana, aku kembali lagi untuk menemui Naufal.
"Udah Sayang?" tanyanya.
"Belum," jawabku.
"Jam segini Abay belum tidur," kata Naufal.
"Belum masuk kamarnya maksudnya Mas, aku nggak berani, gelap," ucapku.
"Ya Allah Sayang, hehehem, ya udah biar aku lihat," ucapnya.
Naufal langsung berjalan untuk melihat Abay sudah tertidur atau belum.
Tak lama kemudian, Naufal kembali lagi ke kamar.
"Anaknya udah tidur Sayang," ucapnya.
"Lagian Mas nggak mungkin jam segini Abay belum tidur," kataku.
.
.
.
.
.
Setelah sholat, ku rebahkan tubuhku di atas ranjang.
Naufal sudah terlebih dahulu merebahkan tubuhnya.
Buuukkk....
Aku terjatuh dan kepalaku terbentur oleh sisi ranjang.
"Aawww," keluhku.
"Sayangggggg hati-hati," kata Naufal.
"Aawww sakit sumpah, ranjang kamu keras banget," kataku sambil memgang sisi kepalaku yang terbentur.
"Dari dulu ranjang ya keras Sayang, hati-hati dong, sakit kan," kata Naufal sambil meraih kepalaku.
"Sakit Mas," jawabku.
Naufal meraba kepalaku yang terbentur sisi ranjang.
"Jangan di pegang, malah sakit," keluhku.
"Ya udah sini sini, kasihan istri ini," candanya sambil mencium keningku.
"Pusing tau, puyeng tiba-tiba," keluhku lagi.
Kami pun terlelap dalam tidur.
.
.
.
.
Adzan shubuh berkumandang, aku terbangun dari tidurku karena semalam tidurku sama sekali tidak nyaman.
"Uughhhmmm,"
Ku rabah kepalaku yang terbentur keras semalam, ada benjolan kecil di kepalaku.
"Aduuh, padahal cuman kebentur gini tapi kok kalo ditekan masih sakit ya," gerutuku.
Aku segera turun dari ranjang untuk membangunkan Abay terlebih dahulu.
Tok....tok...tok
__ADS_1
"Abay....," panggilku sambil terus mengetuk pintu kamarnya.
Tak lama kemudian, Abay menjawabku dari dalam kamarnya.
"Iya Ma, Abay bangun," ucapnya.
"Sholat shubuh gih di kamar Mama," ajakku.
Abay berjalan dekat pintu, lalu membuka pintunya untukku.
"Ayo Ma," ajaknya sambil mengucek kedua matanya.
Aku membawanya berjalan ke kamarku.
Kami pun sholat shubuh bersama.
Setelah sholat, Abay kembali tidur di kamarnya, aku berjalan ke dapur untuk membantu Bi Sarah memasak.
***(Di Dapur)
"Bibi," sapaku.
"Eh Mbak Gia, Bibi baru saja dari depan Mbak," ucap Bi Sarah.
"Dari depan?? Bibi habis ngapain di depan?" tanyaku.
"Biasa Mbak, Bibi buang sampah," jawabnya.
"Ooww, Bibi mau masak apa?" tanyaku.
"Belum tau Mbak, Bibi bingung mau masak apa, hehehe," ucap Bi Sarah sambil tersenyum menyeringai padaku.
"Emmm Mbak Gia pengen masak apa?" tanyanya.
"Gia sih ngikut aja Bi, cap cai aja, lama banget kan Bi kita nggak masak cap cai, oh iya Bi, nanti sepulang Gia dari kerja, Gia minta tolong ya bantuin Gia masak, soalnya nanti Mama Mas Naufal mau kesini Bi," kataku.
"Oh enggeh Mbak enggeh, siap nanti dengan senang hati Bibi bantu," ucap Bi Sarah sambil tersenyum padaku.
Ku mulai skill memasakku untuk membantu Bi Sarah membuat sarapan pagi kami.
Aku melihat Naufal yang berjalan menuruni anak tangga sambil tengah menelepon seseorang dengan satu tangannya di simpan dalam saku celananya.
Tak lama kemudian, dia menghampiriku di dapur.
"Pagi Bi," sapa Naufal.
"Waah, masak apa nih?" tanya Naufal.
"Ini Mas cap cai," jawab Bi Sarah sambil mencuci sayur-mayurnya.
"Heeemmmm pasti enak nih Bi, apalagi kalo dibantu istriku," kata Naufal sambil melirikku.
"Masss," desisku di sebelahnya.
"Hehehe, Mas Naufal benar saja, Mbak Gia sangat pandai memasak sekarang, Bibi jadi kalah Mas," gurau Bi Sarah.
"Ah enggak Bi, masakan Bibi tetap yang paling enak setelah Mama," kataku.
"Heheheh," Bi Sarah tertawa pelan sambil membawa sayurnya padaku.
"Kamu tadi telfon siapa Mas?" tanyaku.
"Oh tadi, Mama Sayang," jawabnya.
"Biasa, kalo mau kesini kan konfirmasi dulu, Mama emang gitu," kata Naufal.
"Aku ke belakang ya," ucapnya yang akan melakukan rutinitas olahraganya sendiri di rumah.
"Iya, awas loh nanti kelewat jamnya kayak kemaren kemaren," ucapku.
"Iya iya Sayang, enggak," jawabnya sambil mencubit daguku dengan gemas lalu pergi meninggalkan dapur.
"Ehehehemm," Bi Sarah tersenyum-senyum sendiri.
"Ehehehem, Mbak Gia tau aja, Bibi tuh seneng Mbak lihat Mbak Gia sama Mas Naufal tetep harmonis, tetep manis, nggak berubah dari dulu meskipun udah punya anak, biasa kan Mbak pengalaman pribadi Bibi, kalo sudah punya anak pasti udah berbeda Mbak, tapi Mas Naufal aduuuh romantis sekali Mbak," puji Bi Sarah.
"Aaaahh Bibi, Gia jadi malu, ya gitu Bi Mas Naufal, Gia aja heran Bi, hmmm Mas Naufal sangat perhatian sekali sama Gia sama Abay, sifatnya sama sekali tidak pernah berubah meskipun sekarang Mas Naufal harus membagi waktunya kadang bersama Gia, kadang sama Abay, tapi Mas Naufal selalu bisa membuat kami selalu ingin bersamanya Bi," ceplosku yang mengalir untuk menceritakan pada Bi Sarah.
"Kan Gia jadi curhat Bi," ucapku.
"Ehehhe, nggak papa Mbak, Bibi lama.......sekali tidak mendengar curhatan Mbak Gia, yaaaa meskipun Mbak Gia sangat susah untuk bercerita pada orang lain," kata Bi Sarah.
"Hehehe, Gia hanya tidak ingin membuat orang di sekitar Gia jadi cemas Bi," ucapku.
.
.
.
.
Selesai memasak aku berpamitan pada Bi Sarah untuk ke atas.
"Bi, Gia ke atas ya mau mandi," kataku.
"Iya Mbak, monggo," jawabnya.
Saat aku berjalan keluar dari dapur, aku teringat dengan Mas Naufal.
"Oh iya Bi, Mas Naufal kayaknya belum ke atas tadi ya Bi," kataku.
"Belum Mbak, Bibi belum lihat," jawabnya.
"Nah kan Bi, Mas Naufal selalu gini Bi, lupa waktu kalo olahraga, padahal udah di pasang jam loh disana," kataku.
Aku segera menghampiri Naufal.
***(Mini Gym)
Gleeekkkk....ku buka pintu Minu Gym Naufal.
Aku melihat Naufal yang sedang asik di atas Treadmill dengan mendengarkan musik yang memenuhi ruang mini gym miliknya.
Aku berjalan mendekati Naufal.
"Mas Mas," panggilku.
Naufal mematikan Treadmill yang dipakainya.
"Jamnya," ucapku.
"Astagfirullahalladzim, aku lupa Sayang, hehehe maaf maaf, terlanjur keasyikan," kata Naufal.
"Udah ayo, kamu telat aku tinggal," kataku.
"Iya iya Sayang, sadis banget sama suaminya," ejeknya.
Naufal merayuku di sepanjang kami berjalan menuju kamar.
"Padahal udah ada jam loh Mas disana, kamu kalo gak ada aku gimana, telat nanti kamu Mas," tuturku.
"Nggak ada kamu?? Emang kamu mau kemana?'" tanyanya.
"Yaa...nggak kemana mana Mas, cuman kan seumpama, kalo aku lagi di luar kota, atau dimana, terus kamu di rumah sendiri, siapa hayo yang ngingetin," kataku.
"Nggak lah Sayang, kamu kalo kemana-mana harus sama aku, aku nggak mungkin izinin kamu pergi tanpa aku, weeeekkk," kata Naufal.
***(Di Kamar)
"Mas kamu mandi dulu ya, aku siapin baju buat kamu," ucapku.
"Ya Bu Dokter," ejeknya.
__ADS_1
Naufal berjalan masuk ke kamar mandi. Aku menyiapkan kemeja untuknya.
"Hehehem, dasar sehari nggak buat aku senyum-senyum sendiri nggak lega kayaknya kamu Mas," gumamku dalam hati.
Setelah selesai mneyiapkan kemeja untuk Naufal, tak lupa aku menghampiri Abay.
***(Di Kamar Abay)
Glleeekkkk....ku buka pintu kamarnya.
Aku tidak melihat Abay disana.
"Kamar mandinya ketutup, berarti Abay mandi," kataku dalam hati.
Ku siapkan seragam dan sepatu untuknya. Lalu aku kembali ke kamar.
***(Di Kamar)
Beberapa menit kemudian, Naufal dan aku selesai mandi.
Abay masuk ke dalam kamar kami.
"Ma, Mama tadi nyiapin seragam sama sepatu Abay ya," ucapnya.
"Iya Nak, memangnya kenapa?" tanyaku.
"Mama nggak usah nyiapin seragam punya Abay, nanti Mama capek, Abay bisa sendiri Ma," kata Abay yang selalu di didik Papanya dengan mandiri.
"Loh kenapa? Abay kan anak Mama, Mama juga nyiapin kemejanya Papa," sanggahku sengaja ingin tau jawaban Abay.
"Papa kan suami Mama, Mama boleh seperti sama Papa, Abay kan udah besar Ma, jadi Abay bisa," kata Abay yang membuata hatiku trenyuh.
"Pinter anak Papa," puji Naufal pada Abay.
"Oh gitu, jadi Mama nggak boleh?" tanyaku lagi.
"Enggak, Mama nyiapin punya Papa aja," ucapnya.
"Hemmm ya udah sekarang kita sarapan ya," tuturku.
Kami pun turun dari lantai atas ke lantai bawah.
***(Di Ruang Makan)
Kami semua menyantap sarapan pagi dengan nikmat.
"Enak banget Ma," puji Abay.
"Iya dong Dek Abay, yang masak siapa dulu," sahut Bi Sarah.
"Mama kan yang masak?" tanya Abay.
"Iya Dek Abay, Mama Dek Abay pandai memasak," kata Bi Sarah.
Aku tersenyum pada Abay.
.
.
.
.
Setelah selesai sarapan, kami segera berpamitan pada Bi Sarah.
Mobil melaju keluar dari pintu gerbang rumah.
Tin tin....
"Pagi Pak," sapa Naufal pada Pak Joko.
"Pagi Pak, hati-hati," kata Pak Joko.
Seperti biasa, kami mengantarkan Abay ke sekolahnya terlebih dahulu.
Beberapa menit kemudian, sampai di depan sekolah Abay.
Abay segera menyalami tangan kami.
"Assalamu'alaikum Ma, Pa," ucapnya.
"Wa'alaikumsalam Nak," jawabku dengan Naufal.
Abay turun dari mobil dan berjalan masuk ke sekolahnya.
Naufal kembali menancap gas mobilnya.
.
.
.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, kami sampai di Rumah Sakit.
***(Di Rumah Sakit)
Aku dan Naufal berjalan menyusuri koridor.
Di pertengahan jalan, kami berpisah karena ruangan kami berbeda, saat aku sedang berjalan dan membuka pintu ruanganku, Dokter Irene datang menangis di belakangku.
"Dokter Irene," ucapku yang shock melihatnya.
"Dokter kenapa menangis?" tanyaku.
"Huhuhuhum, aku ingin bercerita padamu lagi Gi," jawabnya.
"Sini Dok sini, masuk dulu," ajakku.
Aku membawa Dokter Irene masuk ke ruanganku.
"Tenang Dok, tenang," kataku sambil mengelus lengannya.
Dokter Irene langsung memelukku.
"Suamiku menghamili pacarnya Gi, huhuhuhu," kata Dokter Irene di pundakku.
Aku shock setelah mendengar isi hati dari Dokter Irene.
"Apa Dok??" tanyaku sambil melepas pelukannya.
"Iya Gi, suamiku menghamili pacarnya, tapi dia tidak mengakuinya Gi, suamiku tetap kekeh bilang sama aku kalo dia tidak pernah melakukan hal licik itu, huhuhuhu," jawab Dokter Irene.
"Eeemmmm.....Dokter lebih baik bertanya dulu benar-benar dengan suami Dokter, siapa tau apa yang dikatakannya benar Dok," tuturku.
"Enggak Gi !!!! Gak mungkin !!! Dia pasti bohong sama aku, dia keterlaluan Gi sama aku," kata Dokter Irene yang masih menangis.
"Tapi Dok, siapa tau memang benar yang menghamili pacar suami Dokter bukan suami Dokter, siapa tau orang lain Dok, tapi memanfaatkan suami Dokter, Dokter yang tenang ya," tuturku lagi dan lagi.
"Huhuhuhu, aku sedih Gi, aku tidak mampu bercerita pada siapapun, apalagi ke Mamaku, tidak mungkin Gi, dia sangat bahagia dengan pernikahanku, bagaimana aku bisa pisah darinya?? Aku sudah tidak kuat Gi, semakin haris semakin aku mencintainyas semakin aku sakit hati padanya Gi," keluh Dokter Irene.
"Dok, lebih baik di bicarakan baik-baik, dan harus memakai bukti jika benar-benar memang suami Dokter, dan ingat Dok, perceraian sangat di benci oleh Allah, sebisa mungkin kita mempertahankannya Dok, kita gali buktinya dulu Dok," tuturku.
Dokter Irene semakin menangi menjadi-jadi di pundakku, aku sangat merasa kasihan padanya.
"Aku sedih Gi, huhuhu, rasanya aku ingin mengakhiri hidupku," ucapnya.
__ADS_1