
Setelah merapikan sajadah dan sarungnya Johan tidur disamping kakaknya Johan tidak menyangka bahwa Kakaknya tidur secepat ini padahal hanya ditinggal Johan melipat sarung dan meletakkannya di dalam almari eh tahu-tahu kakaknya udah tidur dan dia juga memutuskan untuk tidur karena sangat capek untuk hari ini.
Adzan subuh berkumandang dia membangunkan adiknya yang tertidur pulas membelakanginya.
"Dek bangun," ucap dia sambil menggoyang-goyangkan badan adiknya.
Johan membalikkan badannya menghadap kakaknya dan membangunkan tubuhnya.
"Kakak mau balik ke kamar Kakak," ucap dia sambil turun dari ranjang Johan.
Gia keluar dari kamar Johan tampaknya Mamanya menghampirinya.
"Semalam tidur di kamar johan Gi?" tanya Mama Gia yang sepertinya ingin membangunkan Johan.
"Iya Ma," jawab Gia sambil menenteng bonekanya.
"Adikmu udah bangun?" tanya Mama dia lagi.
"Udah Ma, tadi Gia bangunin, ini Gia mau balik ke kamar untuk sholat," jawab Gia.
"Ooh ya udah Nak," ucap Mama Gia sambil meninggalkan Gia.
Gia berjalan menuju kamarnya.
***(di Kamar Gia)
Sampai di kamar Gia yang terpisah 3 ruangan dari kamar Johan, Gia langsung menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu lalu sholat subuh. Setelah sholat, dia mengambil kopernya untuk mengemasi barang-barangnya kembali.
"Hufftt," suara nafas Gia.
"Cepet banget udah mau balik aja, padahal masih kangen sama Mama Papa," gumam Gia dalam hatinya.
Setelah beberapa menit, Gia selesai berkemas, Gia mandi dan bersiap-siap untuk balik ke kosnya.
Tok....tok....tok suara ketukan pintu dari luar kamar Gia.
"Nak," panggil Papa Gia.
"Iya Pa, masuk aja," jawab Gia yang sedang duduk di atas ranjangnya.
"Balik pagi Nak?" tanya Papa Gia.
"Iya Pa, soalnya takut macet, Gia besok masuk pagi juga, malah nggak sempet istirahat di kos," ucap Gia dengan nada datar.
"Ya udah Papa tunggu di bawah sarapan dulu ya," tutur Papa Giaa sambil mengelus rambut Gia.
Gia hanya menganggukkan kepalanya, Gia bersiap-siap untuk balik ke kosnya, dia mengganti bajunya dengan gamis yang diberikan Papanya tahun kemarin.
Selang waktu tak lama, Gia turun ke bawah untuk sarapan sambil membawa kopernya.
***(di Ruang Makan)
Gia datang dengan membawa kopernya lalu duduk disebelah Papanya.
"Mama sama Johan mana Pa?" tanya Gia pada Papanya.
"Mama masih di dapur, tuh Adikmu," jawab Papa Gia sambil mengarahkan bola matanya kearah Johan yang sedang berjalan ke meja makan.
Mama dia datang dengan membawa ayam kecap kesukaan Gia.
"Ayo dimakan, sini Bi Sarah makan dulu," perintah Mama Gia.
Semua melahap habis makanan masakan Mama Gia dan Bi Sarah, setelah makan mereka keluar ke halaman depan rumah untuk mengantarkan Gia.
"Ma Gia masih kangen sama Mama, Papa, Johan, Bi Sarah juga," rengek Gia dipelukan Mamanya.
"Gia harus semangat dong, bentar lagi kan udah lulus koas," tutur Mama Gia.
"Iya Nak sabar dulu," sahut Papa Gia.
"Ya udah ya Ma, Gia berangkat," ucap Gia sambil menyalami mereka semua, tak lupa Gia mencium kedua orang tuanya dan juga Adiknya.
Gia meletakkan kopernya di kursi belakang mobil, dan Gia masuk ke dalam mobil lalu membuka kaca jendela mobil.
"Assalamu'alaikum," salam Gia.
"Wa'alaikumsalam Nak, hati-hati gak usah ngebut," tutur Mama Gia.
Mobil Gia keluar dari halaman rumahnya, Gia menancapkan gas mobilnya dengan kecepatan hanya 60 saja, karena Gia ingat pesan Mamanya.
Satu jam setengah Gia ada di dalam mobilnya. Tiba-tiba ponselnya berdering dan ternyata misscall dari Riana.
"Halo Gi, Assalamu'alaikum," salam Riana.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam Na, ada apa?" jawab Gia.
"Udah di kos?" tanya Riana.
"Belum Na, ini aja masih di jalan," jawab Gia.
"Ada apaan sih Na?" tanya Gia lagi.
"Eh Gi, aku udah dapet informasi tentang dokter Noval tau," ucap Riana.
Gia sedikit kaget karena Riana menyebut nama dokter Naufal dan menekan rem mobilnya tiba-tiba.
"Halo Gi, kamu gak papa kan?" tanya Riana khawatir.
"Aku Na? eemmm nggak papa kok nggak papa," jawab Gia.
"Nanti pasti aku ceritain ke kamu semua deh Gi kalau kamu udah sampai kos," ucap Riana.
"Aduh Na ternyata cuma gara-gara ini kamu nelpon aku," rengek Gia.
"Ii..iya sih Gi, hehehe udah ah pokoknya nanti malam aku ke kos mu dan kamu harus dengerin, Oke?," rengek Riana.
"Iya iya Na, kok kamu udah di kos Na,? emangnya kamu balik kapan?" tanya Gia.
"Ini tadi baru sampai Gi, dianterin Papa ku," jawab Riana.
"Oh ya udah Na kalau gitu, aku nyetir nih," ucap dia yang fokus menyetir.
"iya iya Gi, hati-hati jangan ngebut, Assalamu'alaikum," salam Riana.
"Wa'alaikumsalam," jawab Gia sambil menutup telepon dari Riana.
"Kayaknya Susi harus tahu tentang Pria pilihan Papa ku deh," gumam Gia dalam hatinya.
Gia mencoba menelpon Susi tapi ponsel Gia hanya berdering dan tidak ada jawaban dari Susi.
Beberapa jam kemudian, Gia sampai di depan kosnya. Gia langsung mengambil ponselnya untuk mengirim pesan ke keluarga Gia di rumah bahwa dia sudah sampai di kos, begitu lah Gia sangat dikawatirkan oleh keluarganya. Gia langsung memarkirkan mobilnya, lalu mengeluarkan kopernya dari mobil dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
***(di Kos Gia)
Kebetulan Gia baru saja haid tadi pagi, dan dia lupa karena dia ingin sholat.
"Astagfirullah aku lupa," ucap dia sambil memegang kerudungnya.
Adzan ashar berkumandang, mata Gia terbuka mendengar adzan tersebut. Gia menarik tubuhnya untuk bangun, dia lupa belum mengeluarkan semua bajunya di dalam koper.
"Ya Allah kok bisa ketiduran sih padahal belum aku masukin ke almari," oceh dia sendiri dalam kamarnya.
Akhirnya Gia memasukkan semua bajunya ke almari, Gia membuka ponselnya berharap Susi menghubunginya, tapi ternyata tidak mungkin Susi lagi sibuk kali ya.
Setelah dia menata bajunya, Gia menarik handuknya dan bergegas untuk mandi.
Setelah Giaa mandi dan mengambil kerudungnya untuk dipakai di kepalanya. Gia keluar dari kamarnya untuk mengambil makanan yang tertinggal di mobilnya.
Setelah mengambil makanannya, Gia kembali masuk dalam kamarnya dan menonton film kesukaannya di laptopnya.
Berkali-kali Gia melihat ponselnya, tetapi Susi tak kunjung menghubunginya.
Adzan maghrib berkumandang, Gia mematikan laptopnya.
Tok....tok...tok.
"Gi," panggil Riana.
Gia membukakan pintu untuk Riana.
"Lh Na, cepet banget munculnya," ucap Gia.
Riana hanya menyunggingkan bibirnya pada Gia.
"Masuk Na," perintah Gia.
Riana masuk ke kamar Gia.
"Ini Na cemilan aku bawa dari rumah buatan Mama ku sendiri loh Na," ucap dia sambil menyodorkan beberapa toples berisi cemilan dari keju kesukaan Gia.
Lalu Riana mengambil satu keping cemilan tersebut.
"Enak banget Gi, Mama kamu pinter masak Ya Gi," puji Riana.
"Ya iyalah Na, jago banget Mama ku masak," jawab Gia.
"Kok nggak nurun ke kamu sih Gi, kamu aja di sini makanya beli terus, nggak bisa masak ya kamu Gi," ejek Riana yang tidak membuat hati Gia terluka.
__ADS_1
"Iih Nana, nanti kalau aku nikah pasti bisa kok," ceplos Gia sambil melototkan kedua bola matanya dan bibirnya berhenti bergerak seketika.
"Emangnya kamu mau nikah Gi?" spontan tanya Riana.
"Eeee belum lah Na, masih lama, ngaco kamu Na," jawab Gia.
"Gi sekarang ganti aku mau cerita nih," rayu Riana yang sebenarnya tau Gia malas mendengar tentang dokter Naufal.
"Hmm ya," jawab Gia datar.
"Gi dengerin dong," rengek Riana.
"Iya Na, ini aku dengerin," ucap Gia sambil meminum jus alpukat yang dibuatkan Mamanya.
"Gi katanya temennya Kakak ku yang dulu pernah SMA sama Dokter Naufal, dulu Dokter Naufal tuh punya sahabat namanya siapa gitu Gi aku lupa, mereka deket banget Gi, sahabatnya Dokter Naufal asli dari luar negeri, tapi dia ke Indonesia buat sekolah dan jagain Eyangnya tau Gi," ucap Riana.
"Sahabatnya cowok apa cewek Na?" tanya Gia pada Riana sambil meneguk jusnya.
"Ya jelas cwek lah Gi, orang mereka deket banget kayak orang pacaran, gimana sih kamu," jawab Riana.
Uhuk...uhuk.
Gia kaget mendengar cerita Riana, tiba-tiba Gia langsung tersedak dan batuk-batuk.
"Pelan-pelan napa sih Gi, tau Gi tau kalau jusnya enak," ejek Riana sambil mengambilkan tissue untuk Gia.
"Udah lanjutin lagi," jawab Gia seolah tak peduli dengan cerita Riana.
"Katanya tuh Gi, dulu mereka berangkat dan pulangnya bareng terus, sampe temen-temennya pada banyak yang musuhin ceweknya itu Gi, memang sih Dokter Naufal pernah cerita sama teman Kakak ku kalau dia suka sama sahabatnya itu," kata Riana.
Gia kesal mendengar hal itu.
"Terus Na, mereka pacaran?" tanya Gia.
"Sok-sokan peduli kamu Gi sama Dokter Naufal," ejek Riana.
"Kan aku cuman kasih feedback baik ke kamu," jawab Gia.
"Mereka gak pacaran lah Gi, orang ceweknya balik ke negara asalnya buat lanjutin study nya, tapi dengar-dengar mereka sebenarnya saling suka tapi nggak berani untuk ngungkapin satu sama lain gitu loh Gi," ucap Riana.
"Kesel deh Gi jadinya," keluh Riana.
Hati Gia semakin panas mendengar ini semua, tapi dia berusaha terlihat biasa-biasa aja agar Riana tidak curiga padanya.
"Cemburu kamu Na?" tanya Gia.
"Ya iya lah Gi, sebagai fans berat beliau Riana Aqila Putri sangat sangat cemburu," jawab Riana.
"Iidiiih gitu banget kamu Na, kalo misal Dokter Naufal udah punya calon istri gimana Na?" tanya Gia lagi.
"Ya.... Ya gimana ya Gi, asal Dokter Naufal bahagia aja lah," jawab Riana.
"Kok kamu sok tau Gi?" tanya Riana balik karena heran dengan respon Gia.
"Kan misal Na," bantah Gia.
Mereka berbincang-bincang hingga larut malam, Riana pamit untuk pulang dan Gia memutuskan untuk tidur.
Keesokan harinya.
Gia seperti biasa bangun, bergegas untuk mandi, lalu sarapan dengan roti dan keju kemudian berangkat ke rumah sakit.
***(di Rumah Sakit)
Gia berjalan menuju ruang kerjanya.
"Aduh semoga aja nggak ketemu sama Dokter Naufal," gumam Gia dalam hati karena jika dia bertemu dengan Dokter Naufal dia akan malu campur bahagia.
Sampai di ruang kerjanya, Gia langsung duduk dan membuka laptopnya, kebetulan sepertinya Riana belum datang sehingga Gia sendiri di ruang kerjanya.
Tiba-tiba Dokter Naufal masuk ke dalam ruangan Gia, Gia sangat kaget dan salah tingkah dengan adanya beliau. Dokter Naufal mendekat pada meja Gia karena sepertinya ingin berbicara padanya. Sedari tadi beliau terus menatap Gia yang matanya hanya tertuju pada layar laptopnya saja.
Bersambung....
Ada apa Dokter Naufal menghampiri Gia?
Tunggu episode selanjutnya ya kakak😁
jangan lupa like, comment dan vote🙏
terima kasih untuk selalu setia menunggu dan membaca novelku ini🖤
terima kasih sudah kasih like, comment and votenya.
__ADS_1