
"Aawww," kataku.
"Sayang," ucap Naufal sedang ingin menangkapku.
Wanita yang menabrak ku berbalik.
Aku sangat kaget, ternyata yang menabrak ku adalah Meira.
"Maaf," ucap Meira singkat dengan kesal.
"Eemmm......iya, gak papa," jawabku.
Dari arah belakang Meira, Pak Kevin sedang berjalan mendorong troli menyusul Meira.
Aku langsung menarik lengan Naufal agar tidak ada pertengkaran disini.
"Ayo Mas," ajakku.
Pandangan Pak Kevin yang terus menatapku, dan melihat isi troli belanjaanku.
Meira melirikku dengan sangat sinis.
Kami berjalan menjauh dari mereka.
"Padahal dia yang salah loh Sayang, dia juga yang melototin kamu," kata Naufal dengan kesal.
"Udah Mas, biarin aja," tuturku.
Aku memilih kembali belanjaan yang aku inginkan.
"Sayang, aku kesana bentar ya," ucap Naufal.
"Iya Mas," jawabku.
Tak lama kemudian setelah aku mengambil sekotak coklat, aku berjalan mencari-cari Naufal.
Dan akhirnya aku menemukan dia di antara jajaran rak bersama seorang wanita dan aku mengenalnya.
"Mas Naufal sama Vela," gumamku dalam hati.
Rupannya Vela menangis sambil menatap Naufal, Naufal hanya diam berdiri di depan Vela.
Aku berjalan pelan mengendap-endap menghampiri mereka, namun Vela melihatku yang sedang ada di belakang Naufal.
Vela berbalik dan berlari meninggalkan Naufal.
Ku tepuk lengan Naufal dari belakang.
"Mas, itu Vela?" tanyaku.
"Iiii.......iya Sayang," jawabnya gugup.
"Kok dia nangis?" tanyaku lagi.
"Aku nggak tau Sayang, aku kan tadi ambil ini, eh tiba-tiba kita nggak sengaja ketemu, terus dia natap aku lama sambil nangis gitu Gi, dia gak ngomong apa-apa," jawab Naufal.
"Ooowww," ucapku.
"Bener-bener berubah ya Mas dia," kataku sambil berjalan di depannya.
"Hehehem,"
"Jadi seneng aku Mas, lihat dia kayak itu tadi," kataku.
Naufal hanya diam tidak merespon perkataanku.
Kami berjalan menuju kasir, antrian sangat panjang, membuat kaki ku sangat pegal.
Naufal melihat kakiku yang tidak bisa diam karena nyeri.
"Kenapa kayak gitu, pegel ya?" tebaknya.
"Hehehe, iya Mas," jawabku malu-malu.
"Kamu tunggu di mobil aja gak papa Sayang," tutur Naufal.
"Nggak mau Mas, aku disini aja sama kamu," bantahku.
"Kamu capek loh, kamu sekarang juga udah ada nyawa lagi di rahim kamu," tuturnya lagi.
"Ya udah iya, mana kuncinya," ucapku.
Naufal mengambil kunci mobil di dalam sakunya lalu di berikan padaku.
"Aku ke mobil ya, maaf," rengekku.
"Gak papa Sayang," ucap Naufal sambil mengelus lenganku.
Aku berjalan menuju parkiran mobil.
***(Di Parkiran Mobil)
Saat aku berjalan mendekat pada mobil Naufal.
Ada seseorang menarik lenganku dari belakang.
Paakkkk.
"Aaawww," keluhku.
Rupanya Meira menamparku.
"Tau rasa kamu," ucapnya dengan wajah kesal dan marah padaku.
Air mata sudah memenuhi pelupuk mataku, pipiku sangat sakit, baru pertama kali ini aku merasakan sebuah tamparan.
Pak Kevin berlari mencegah tangan Meira yang ingin menamparku kembali.
"Kamu apa apa an sih!!!!" cegah Pak Kevin dengan wajah kesalnya.
"Sikap kamu yang seperti ini yang semakin membuat ku benci sama kamu!!!" kata Pak Kevin.
Aku hanya bisa menangis dan menahan sakit di pipiku.
"Gi, kamu nggak papa?" tanya Pak Kevin padaku.
Aku tidak menjawabnya, aku langsung pergi meninggalkan mereka dan masuk dalam mobil Naufal.
Di dalam mobil, aku menangis merasakan sakit dan memar di pipiku, karena tamparan tangan Meira yang sangat keras pada pipiku.
Aku menangis terisak-isak.
"Ya Allah, sebenarnya apa yang di inginkan Meira, mengapa dia begitu benci padaku, huhuhuhu," kataku dalam hati.
Beberapa menit kemudian, aku melihat Naufal tengah membawa troli yang berisi kantung belanjaan kami.
Segera ku hapus air mataku, aku tidak ingin melihatnya malah sedih karena perbuatan Meira tadi.
Tok.....tok.....tok.
Ku buka kaca jendela mobil.
Naufals segera memasukkan semua kantung belanjaan di bagasi mobil.
Lalu Naufal masuk kembali dalam mobil.
"Taraaa, aku beliin ini buat kamu," ucap Naufal membawakan es krim kesukaanku.
"Hehem, ya ampun Mas," kataku dengan mengambil es krim dari tangan Naufal.
"Makan gih," ucapnya.
Aku hanya tersenyum padanya dan segera menikmati es krim itu.
"Lama ya Sayang, maaf ya," kata Naufal sambil memegang tengkuk ku.
__ADS_1
"He'em gak papa Mas," kataku sambil tersenyum pada Naufal.
Naufal segera menancap gas mobilnya untuk pulang.
Di tengah perjalanan, kami menyempatkan untuk sholat di mushola.
"Sholat dulu Sayang," ajak Naufal sambil melepas seatbelt.
Segera aku dan Naufal turun dari mobil.
Masuk ke dalam mushola dan mengambil air wudhu.
"Aaaww," kataku saat membasuh muka ku karena memar di pipiku, benar benar keras Meira menamparku tadi.
Jika aku mengingatnya, aku ingin menangis.
"Nggak, aku gak boleh nangis, aku tidak ingin Naufal khawatir," ucapku dalam hati sambil mematikana air kran.
Setelah berwudhu, aku langsung melaksanakan sholat.
Setelah selesai sholat, kami kembali masuk dalam mobil, dan Naufal kembali melajukan mobilnya.
"Kok diem mulu Sayang?" tanya Naufal sambil menoleh padaku.
"Hehehm, gak papa," jawabku.
"Kenapa? Gara-gara tadi nunggu aku lama?" tanyanya lagi.
"Enggak Mas, udah fokus nyetir dong," kataku yang tak ingin membuatnya curiga.
Tak terasa kami pun sampai di rumah.
Pak Joko membukakan gerbang untuk kami.
***(Di Rumah)
Mobil melaju masuk ke halaman Rumah.
Tin....tin.
Bi Sarah dan Pak Joko keluar menghampiri mobil Naufal.
Aku dan Naufal keluar dari mobil, Naufal membuka bagasi belakang.
Bi Sarah dan Pak Joko mengambil beberapa kantung belanjaan kami dan dibawanya masuk ke dalam rumah.
Naufal menarik tangannku untuk dibawanya masuk ke rumah.
"Kok bengong sih kamu?" tanyanya yang sepertinya kesal karena sedari tadi aku cuek padanya.
"Sayang, kenapa?" tanyanya lagi.
"Ooww aagheemm gak papa Mas," jawabku sambil tersenyum pada Naufal.
Naufal melepas tangannya dari genggamanku.
"Jangan bengong Gi," rengeknya sambil berjalan meninggalkanku.
"Giaaa, kok nglamun sih, kasihan dari tadi Naufal kamu cuekin," kataku dalam hati.
Aku segera berjalan menyusul Naufal.
***(Di Kamar)
"Kamu mandi, aku udah siapin air hangat buat kamu," kata Naufal.
"Eemmm....iya Mas," jawabku terbata-bata karena sikap dingin Naufal.
Segera aku masuk dalam kamar mandi.
Aku berdiri di depan kaca.
Meraba pipiku bekas tamparan Meira.
"Iiisssshhh," desisku merasakan sakit.
Air mataku menetes begitu saja di pipi.
Beberapa menit kemudian, aku selesai mandi.
Naufal langsung masuk untuk segera mandi.
Ku rapikan tempat tidur.
Lalu ku rebahkan tubuhku di di atas ranjang.
Sesekali ku buka ponselku, barangkali ada pesan masuk yang penting untukku.
Hanya pesan dari grup saja yang ramai di ponselku.
Setelah Naufal selesai mandi, dia berjalan memakai baju tidurnya, dan lampu dimatikan oleh Naufal, ku pejamkan mataku.
Naufal menyusulku tidur di sampingku, kau merasakan hangatnya nafas dari Naufal yang sepertinya sekarang sedang menatap wajahku.
Naufal mulai meraba keningku, lalu turun ke pipi bekas tamparan Meira.
Aku menahan rasa sakitnya.
"Aaawww," keluhku.
"Sayang, kenapa??!!" tanya Naufal yang syok akibat rasa sakitku.
"Sakit sakit, jangan di pegang," kataku melepas tangannya dari pipiku.
"Pipi kamu kenapa Gi?? Ha??" tanyanya.
"Sakit Mas," jawabku.
"Iya sakitnya kenapa?" tanyanya lagi dengan sedikit memaksa.
"Cerita sama aku, ini sakitnya kenapa," paksa Naufal.
"Tadi......tadi...aku di tampar Meira waktu di parkiran," jawabku dengan gugup.
"Apa???!!! Di tampar??" tanya Naufal lagi dengan marah.
"Iiii.....iya Mas," jawabku dengan terbata-bata.
"Kamu kok nggak bilang sama aku Gi, kenapa kamu baru bilang sekarang, hm??" ucapnya.
Naufal kembali meraih pipiku.
"Memar kayak gini loh," ucpanya sambil mengernyitkam kedua alisnya.
"Bentar, kamu sini dulu, aku ambilin air hangat," kata Naufal yang beranjak dari dari ranjang dan keluar dari kamar.
Tak lama kemudian Naufal kembali dengan membawa wadah yang berisi air hangat dan kain basah.
Naufal mengangkat tubuhku untuk bangun.
Mengompres pipiku yang memar.
Aku menangis menatap Naufal yang wajahnya sangat kesal.
Naufal hanya diam tidak berkata sepatah kata apapun sambil terus mengompres pipiku.
Aku menahan tangannya.
"Mas, kamu marah sama aku?" tanyaku.
Naufal diam dan menundukkan kepalanya.
"Huuuuffttt," Naufal membuang nafas kuat-kuat.
"Ya kan kamu marah," tebakku.
__ADS_1
"Eesshhh, gini ya, aku nggak marah sama kamu Sayang, aku nahan marah karena sikap Meira sama kamu, aku benar-benar tidak bisa terima, aku tidak mau tinggal diam, sampek pipi kamu memar kayak gini loh Gi, aku gak bisa melihat kamu tersakiti kayak gini, aku, keluarga kamu, keluarga aku, aku dan mereka sangat menjaga kamu, apalagi orang tua kamu dari kecil menjaga kamu, tidak ingin putrinya tersakiti, begitu juga dengan aku, tidak ingin melihat istriku tersakiti, yahhh? Pliss Gi, biarin aku bertindak kali ini, ya," rayunya.
"Ini udah kelewatan batas Gi, aku aja gak pernah memperlakukan kamu kayak gitu bahkan keluarga kamu kan, dan begitu mudahnya orang lain menampar kamu, aku sama sekali tidak menerimanya, ini benar-benar sudah kelewatan Gi," ucap Naufal dengan tegas.
Aku hanya mampu mendengar dan menelan salivaku.
"Aku berhak sebagai suami kamu, aku mohon kamu jangan mencegahku, aku kasihan sama kamu Sayang," kata Naufal yang semakin membuatku menangis.
"Aku rela melakukan apa saja, apapun demi kamu bahagia, aku juga sangat rela membela kamu pada orang yang telah menyakiti kamu Sayang," ucap Naufal.
Aku langsung memeluknya. Aku menangis terisak-isak di pundaknya.
Nuafal mengelus-elus rambutku, aku menangis meraung-raung.
"Aku tadi bersikap dingin ke kamu, karena aku tau, ada yang kamu sembunyikan dari aku," ucap Naufal.
"Aku nggak pengen kamu khawatir Mas," kataku dalam hati.
Naufal melepas peluknya.
Mengompres pipiku kembali.
"Aku janji Gi, aku akan membuat Meira tidak akan menyakitimu lagi," kata Naufal dalam hati.
"Pelan pelan Mas," keluhku.
Naufal begitu telaten sambil mengusap air mataku yang terus mengalir.
Naufal menatapku begitu sedih.
"Sayang Sayang, aku lebih khawatir lagi sama kamu, apa lagi kamu sekarang hamil," ucapnya.
"Masih sakit?" tanyanya.
"Iya, tapi nggak kayak tadi Mas," jawabku.
"Udah sekarang bobok ya," tuturnya.
Naufal membuang air bekas kompresanku, lalu kembali tidur di sampingku.
Naufal menata bantalku agar lebih nyaman.
Naufal mengelus-elus pipiku.
"Bobok ya Sayang," ucapnya.
"Siapa pun yang nyakitin kamu Gi, akan aku buat mereka tidak akan bisa mendekatimu lagi," ucap dalam hati Naufal sambil terus memandangiku.
Aku meraih pipinya, lalu ku cium lama.
"Aku, tidak ingin kamu sedih Mas," kataku.
"Aku akan sedih bila kamu tersakiti Gi, bahkan aku lebih sedih, kamu jangan berpura-pura bahagia padahal hati kamu sedang patah," tuturnya.
"Hehehm," kataku sambil melingkarkan tanganku di pinggangnya.
Kami terlelap dalam tidur.
Adzan magrib berkumandang, Naufal membangunkanku.
"Mas, kok udah bangun duluan?" tanyaku.
Naufal memijat halus kedua alisnya.
"Kamu nggak tidur?" tanyaku karena melihat mata Naufal yang sangat sayup.
"Mas, jawabb," paksaku.
"Aku ngejagain kamu Sayang," jawabnya.
"Kannnnn, kamu nggak tidur, huuufft Mas kok nggak tidur sih," kataku.
"Aku terus membayangkan begitu sakitnya saat Meira menamparmu Gi, itu terbayang jelas di mataku meskipun aku tidak melihatnya langsung, aku terus membayangkannya Gi, betapa sakitnya hati mu juga, aku tau Meira tidak sekedar menamparmu tapi juga mencaci mu," kata Naufal dalam hati.
"Massss.....jangan diem," rengekku.
"Udah Sayang gak papa," ucapnya.
"Jangan gitu, kamu harus tidur," rengekku.
"Tidur gimana Sayang? Udah terlanjur pagi, ini nanti kita kerja," jawabnya pasrah.
"Aaarrghh kamu apa-apaan sih pake acara nggak tidur gini Mas, jangan membuatku khawatir sama kamu," kataku sambil menangis.
"Sayang... Kamu tidak ingin aku khawatir, tapi kamu?? Kamu terus mengkhawatirkanku," ucapnya.
"Tapi kamu jangan nggak tidur kayak gini, kamu harus istirahat, kalo nanti kamu sakit gimana?? Siapa yang ngejagain aku?? Siapa yang ngelindungin aku??? Siapa yang memelukku tiap malam?? Siapa yang menciumku lagi," rengekku sambil mengusapa air mataku.
"Sayang Sayang, enggak, aku nggak akan sakit, aku yang selalu mejaga kamu, aku yang selalu ngelindungin kamu, aku yang selalu memeluk kamu, dan aku juga yang selalu menciumi mu, bakalan terus kayak gitu Sayang, kayak gini nih," kata Naufal yang langsung menciumi setiap inci wajahku.
"Masss....jangan becanda, aku khawatir beneran," ucapku yang semakin menangis.
Naufal menghapus air mata di kedua pipiku.
"Hust hust hust, yang penting sekarang kamu mandi, nanti shubuhnya habis," tuturnya.
"Nggak, aku nggak mau, kamu nggak tidur tadi," ucapku yang ngambek pada Naufal.
"Loh loh loh, kok ngambek, apa kamu mau aku gendong kamu masuk ke kamar mandi, terus ak...," kata Naufal yang segera ku bungkam.
"Ya udah iya, nggak jadi, aku mau mandi," kataku sambil tanganku membungkam mulut Naufal dan berlari pergi ke kamar mandi.
"Aku lebih bahagia jika kamu bahagia Gi, aku lebih senang membahagiakanmu dari pada membuatmu khawatir," gumam Naufal.
Di dalam kamar mandi, aku khawatir memikirkan Naufal.
"Bisa-bisanya dia tidak tidur semalaman, nakal banget sih Naufal," gumamku dalam hati yang mengkhawatirkan keadaannya.
Aku menggosok gigi sambil kesal dengan Naufal.
Beberapa menit kemudian, aku selesai mandi.
Aku melihat Naufal yang tertidur pulas di sofa.
"Gimana ya?? Kalo aku bangunin kasihan Naufal, tapi kalo enggak, aaarghhh, Mas Mas, kamu ini seneng banget buat aku khawatir," gumamku dalam hati dan segera membangunkannya.
"Mas....Mas, bangun," ucapku sambil menggoyangkan lengannya.
"Uuuugggghhhhmm," desis Naufal sambil lengannya merangkul tubuhku.
Buukkkk....
Wajahku mendarat tepat di depan wajah Naufal.
Deg....Deg....Deg
Jantungku kembali berdebar kencang.
"Huuuffttt, tahan Gi tahan," gumamku dalam hati.
Lengan Naufal yang sangat berat membuat tumitku merasa pegal.
"Mass......, ayo bangun," kataku.
Naufal membuka pelan kedua matanya.
"Astagfirullah," ucap Naufal sangat kaget melihatku dengan memakai handuk yang ku buat konde di kepalaku.
"Haduuuh Sayang, kamu ngagetin aja," keluhnya sambil mengelus dadanya.
"Dari tadi aku bangunin kamu, malah kamu ngelempar aku," kataku lalu beranjak menjauh darinya.
"Eh ehe eh," ucapnya lalu memelukku manis dari belakang.
So Sweet........
__ADS_1
Bersambung.....