
"Yah sepi lagi deh tanpa Naufal," ucapku dalam hati sambil masuk melangkah ke dalam mobil.
Dalam mobil aku kembali menangis memikirkan kata-kata Vela.
Aku menahannya sendiri.
"Rasanya aku tidak ingin pulang, aku sungguh suntuk di rumah, aku sudah tidak nyaman berada disana," kataku dalam hati.
Mobil ku lajukan menyusuri jalan.
Aku memutuskan untuk pergi ke puncak meskipun memakan waktu agak lama aku tetap kekeh untuk pergi kesana.
Tak lupa di perjalanan aku menyempatkan sholat terlebih dahulu.
Sesampainya di puncak, aku mendapati tempat yang sepertinya sangat sepi.
Aku memelankan laju mobilku.
Aku keluar dari mobil dan langsung masuk dalam cafe atau apa ini, karena cafe ini berbeda dengan cafe lainnya yang pernah ku datangi.
cafe ini di desain bukan hanya untuk nongkrong, tetapi sepertinya ini private cafe karena cuman ada beberapa ruangan saja, dan setiap ruangan terdapat sofa berjejer kecil dan balkon kecil.
Aku berjalan menemui pegawai yang tengah berdiri di depan pintu.
"Mbak, ini cafe ya?" tanyaku yang heran dengan tempat ini.
"Iya Mbak, ini private cafe, jadi anda bisa menyewa satu ruangan disini untuk beberapa jam, maksimal penyewaan hanya 24 jam, dan jika anda membawa pasangan, maka anda akan di mintai data diri anda," penjelasan dari pegawainya.
"Tapi aman kan Mbak?" kataku hanya untuk memastikan.
"Aman Mbak, karena jika disini membawa pasangan, maka harus dipastikan pengunjung sudah sah menikah," jawab pegawai itu.
"Silahkan masuk Mbak," ucap pegawai itu sambil membuka kan pintu untuk ku.
Aku masuk perlahan dan langsung duduk di tempat yang menurutku akan nyaman berada disana.
Setelah aku duduk sambil melihat pemandangan indah puncak di balkon, 2 pegawai menghampiriku.
"Mbak mau pesan apa?" tanyanya.
Aku mengutarakan semua apa yang aku inginkan.
Aku duduk melamun menatap hijaunya lapisan puncak.
"Papa, Gia sedih, Gia bingung siapa sebenarnya yang di cintai oleh suami Gia sendiri, padahal Gi selalu berusaha untuk menjadi istri yang baik buat Naufal, Gia rela tersakiti demi untuk membuktikan siapa wanita yang benar-benar di cintai oleh Naufal," kataku dalam hati.
Air mataku menetes begitu saja.
Beberapa menit kemudian, selang waktu yang tak lama, para pegawai membawakan pesananku.
Aku menghapus air mataku.
"Makasih ya Mbak," ucapku.
"Baik Mbak," jawab dua pegawai itu bersamaan dan berjalan meninggalkanku.
Aku sangat menikmatinya disana, dengan cuaca gerimis, seperti biasa aku bermain hujan di balkon.
Semakin terasa keheningan sore ini, aku merasa sangat damai disini, tapi hati kecil ku tetap memikirkan Naufal.
Aku kembali menangis untuk memikirkannya.
"Huuuffttt, cara apa lagi agar kamu mencintaiku Fal, aku sudah sangat buntu mencari jalan keluar ini sendiri tanpa kamu, aku lelah berjalan sendiri," kataku yang berdiri di pinggiran balkon.
Disana aku hanya bisa merenungi hubunganku dengan Naufal.
"Meskipun cara ini salah Mas, tapi aku sama sekali tidak bermaksud buat ngejauh dari kamu," kataku dalam hati.
Aku tidak bisa berlama-lama disana, karena hari semakin malam, aku harus pulangs sebelum Naufal sampai di rumah terlebih dahulu.
Saat aku tengah berjalan menuju mobil, aku melihat seorang pria yang tengah berdiri dan berbicara dengan para pegawai disana.
"Sepertinya aku mengenal pria itu?" kataku dalam hati.
"Dan sepertinya aku juga tau kemeja itu," kataku lagi dalam hati.
"Ah sudahlah," kataku sambil berjalan masuk ke dalam mobil.
Dengan aku menikmati suasana hening dan sepi di puncak, menghilangkan sedikit beban pikiranku pada Naufal.
Sesekali aku melihat ponselku barangkali ada pesan dari Naufal.
"Sudah kuduga, pasti dia tidak memberiku kabar, Hufttt," kataku dalam mobil.
Ku kencangkan laju mobil Naufal.
***(di Rumah)
1 jam kemudian aku sampai di rumah.
"Semoga saja Mas Naufal belum pulang," kataku dalam hati.
Ku masukkan mobil Naufal ke garasi, aku masuk dengan langkah kaki yang pelan.
"Mbak Gia," panggil Bi Sarah.
"Hehem Bibi, Gia kaget," kataku.
"Mbak Gia baru pulang ya?" tanya Bi Sarah.
"Iya Bi, Bi Mas Naufal sudah pulang?" tanyaku pada Bi Sarah.
__ADS_1
"Belum Mbak, Mas Naufal nggak pulang barengan sama Mas Naufal ya?" tanya Bi Sarah lagi yang mulai curiga padaku.
"Eemmm soalnya.....soalnya tadi Mas Naufal katanya ada acara sama temennya Bi, iya gitu," kataku gugup.
"Oh gitu ya Mbak," kata Bi Sarah sambil menenteng baju cucian miliknya.
"Ya udah kalo gitu Gia ke atas dulu ya Bi mau mandi," kataku.
"Mbak Gia aneh banget ya akhir-akhir ini sama Mas Naufal," gerutu dalam hati Bi Sarah.
"Bi, Bibi denger omongan Gia nggak?" tanyaku pada Bi Sarah yang bengong.
"Denger Mbak denger hehehe, monggo Mbak Gia," kata Bi Sarah mempersilahkan aku untuk ke atas.
Aku berjalan meninggalkan tempat Bi Sarah berdiri dengan hati yang sangat berat dan menahan tangisku karena mendengar Naufal yang belum juga pulang.
Aku masuk ke dalam kamarku dan langsung menguncinya.
Ku sandarkan badanku di pintu.
Semakin lama aku jatuh tersimpuh di lantai tepat depan pintu.
Lagi-lagi aku menangis tanpa suara.
"Tau gitu tadi aku nggak pulang dulu Mas," kataku dalam hati.
Aku melihat cincin yang tengah melingkar di jari manisku.
Aku lepas cincin itu, aku ingin melemparnya.
Saat tanganku sudah sangat siap untuk melempar jauh cincin itu, terlintas di pikiranku kata-kata Naufal saat mengucapkan akad.
Kata-kata terus terngiang-ngiang di telingaku.
Ku urungkan niatku, ku tutup kedua telingaku dengan tanganku sambil menangis meronta-ronta s seperti ingin keluar dari rumah ini.
Beberapa menit kemudian, suara ketukan dari pintu kamar.
Tok....tok....tok.
Aku tersadar dari aksi bodohku.
"Siapa itu? Apakah itu Mas Naufal? Ataukah Bi Sarah?" tanyaku dalam hati.
Ku dekatkan telingaku pada pintu untuk mendengar suara dari luar.
"Gi," panggil Naufal sambil terus mengetuk pintunya.
Ku tarik langsung telingaku.
Aku kaget bahwa Naufal pulang secepat ini.
"Mas Naufal? Kok dia udah pulang?" kataku dalam hati.
Naufal terus memanggilku.
"Iiii...iya Mas bentar," jawabku dari dalam kamar.
Gleeeekkkk.
"Kok lama Gi bukain pintunya?" tanya nya.
"Emmm iya tadi.....tadi aku di ruang ganti baju, jadi agak nggak kedengeran suara kamu," jawabku.
"Kamu belum mandi, kok masih kucel gini," ucap Naufal sambil mengangkat daguku.
"Belum Mas, tadi belum sempet mandi," jawabku lagi.
"Kok be," ucapan Naufal langsung ku potong agar dia tidak terus menanyai ku.
"Emmm Mas aku mandi dulu ya," kataku sambil langsung berjalan pergi meninggalkannya.
Naufal masuk ke kamar dan langsung ke ruang ganti baju untuk melepas jam tangannya.
"Aneh, sumpah aneh banget, sikapnya Gia akhir-akhir ini sama aku beda banget, terus tadi ban mobilku ada bekas lumpur, habis dari mana dia? Kok gak pamit sama aku sih, terus lagi ini tadi dia belum mandi," kata Naufal sambil duduk menatap langit-langit atap kamarnya.
"Pasti yang gak beres ini," ucap Naufal.
Naufal langsung berjalan keluar kamar dan menuruni anak tangga untuk ke ruang kerjanya yang ada di rumah.
Naufal dengan cepat menyalakan laptopnya dan langsung melihat aktivitas Gia selama dia tidak ada di rumah.
Naufal melihat apapun yang ku lakukan hari ini, dari aku berjalan mengendap-endap dan ketahuan Bi Sarah, kemudian aku menangis dan ingin melempar cincin pernikahanku dan dia, Naufal tau semuanya.
Naufal melihat setiap pergerakan yang aku lakukan.
"Gia kenapa lagi sih? Dia baru pulang dari mana?" kata Naufal sambil mengernyitkan kedua alisnya dan tetap menatap monitor laptop.
"Haduuuh Gi," kata Naufal sambil menepuk keningnya dan menyenderkan kepalanya di kursi putarnya.
"Selalu kayak gini kamu Gi, ada apa-apa gak mau bilang sama aku, padahal aku ini kan suamimu Gi!!! Bukan orang lain, huufttt," kata Naufal.
"Ini Gi yang buat kita salah paham, ini yang buat keluarga kita tidak harmonis," kata Naufal lagi.
Tak lama kemudian setelah Naufal puas melihat aktivitasku dari cctv yang telah di pasang tanpa sepengetahuanku.
Naufal berlari menuju kamar kembali.
Sedangkan aku yang baru saja selesai mandi kaget dengan Naufal yang mengunci kamar dan berjalan pelan mendekatiku.
"Mas Naufal kenapa ya? Apa dia marah sama aku?" gumamku dalam hati.
__ADS_1
Naufal terus menyempitkan arah jalanku, dia semakin mendekat dan aku semakin mundur sampai tidak ada ruang lagi di belakangku.
Naufal terus menatapku.
Aku tak kuat lagi untuk menatapnya kembali, Aku hanya bisa menundukkan kepalaku di depan dia.
Tubuh kita hanya berjarak 5cm saja.
Naufal dengan pelan mengangkat daguku.
"Gi, kali ini aku mau bicara bener-bener serius sama kamu," kata Naufal tanpa berkedip dan terus menatapku.
Aku menepis tangan nya dan ingin pergi dari hadapannya.
Dengan cekatan Naufal pergelangan tangaku.
Aku tetap berdiri membelakanginya.
"Gi, lihat aku," perintahnya dengan halus.
"Ada apa sih Mas," kataku yang semakin takut.
"Aku gak lagi becanda Gi, aku bener-bener mau ngomong serius sama kamu, lihat aku Gi!!!" perintahnya kembali.
Ku balikkan badanku dengan pelan menghadapnya.
Aku takut apa yang sebenarnya ingin dikatakan Naufal padaku.
"Apa Naufal ingin mengatakan padaku jika dia ingin kembali pada Vela?" gerutuku dalam hati sambil meremas-remas handuk kimono milik ku.
Naufal meraih kedua pipiku.
"Gi, tadi kamu habis dari mana?" tanya nya dengan sangat halus.
Deegggg....
"Kok Naufal tau? Aduuuuh aku harus jawab gimana nih," gumamku dalam hati.
"Sayang, jawab aku," ucap Naufal.
"Kamu harus jujur sama aku, aku ini suami mu dan kamu istriku," gertak Naufal.
Aku bingung kali ini aku harus menjawab apa.
"Aku....aku habis....aku habis dari puncak," kataku sambil menyayupkan pandangan mataku untuk tidak kembali menatapnya.
"Dari puncak? Kamu ngapain Gi kesana? Ha?" tanya Naufal lagi.
"Tadi aku....aku ketemu sama temenku disana, dan aku lupa mau kasih kabar ke kamu," jawabku gugup.
"Maafin aku Mas, aku berbohong sama kamu, ampuni aku," kataku dalam hati.
"Aku tau Gi kamu pasti bohong sama kamu, udah kelihatan Gi, kamu emang gak bisa bohong sama aku," ucap dalam hati Naufal.
"Udah ya Mas aku mau ganti baju," kataku sambil menepis kedua tangannya.
Aku berjalan semakin menjauh darinya.
"Gi aku tau kamu bohong sama aku," gertak Naufal yang menghentikan langkah kakiku.
Deeggg...
"Kok Mas Naufal tau? Haduh Ya Allah," ucapku dalam hati.
Aku tidak menjawabnya dan terus berjalan.
"Gi kamu harus jawab aku dulu loh, kamu bohong kan sama aku?" tanya Naufal lagi.
Naufal berjalan menghampiriku lagi.
Dia menatapku kembali, aku hanya mampu menundukkan kepalaku.
Lagi-lagi Naufal meraih kedua pipiku kembali.
"Sayang, lihat aku, ceritain semua apa yang sebenarnya terjadi sama kamu," rayu Naufal.
"Kamu jangan ngehindar dari aku, salah aku apa sama kamu? Hm? Aku harus gimana? Bilang sama aku, tapi kamu jangan berubah sama aku, jangan ngehindar, ya?" ucap Naufal dengan sangat halus.
Mataku mulai berkaca-kaca dengan sikap Naufal yang sabar menghadapiku dan tidak pernah memarahiku.
"Aku tau dari kemaren sikap kamu berubah sama aku, aku sengaja hari ini nemenin Vela tapi tadi aku nggak sendiri Gi, sumpah, tadi aku nemenin sama Bastian, aku cuman pengen tau apa yang kamu lakuin di rumah tanpa aku, karena kamu beda Gi semenjak aku harus membagi waktu yang seharusnya untukmu tetapi sekarang malah di renggut sama Vela, aku sengaja bohongin kamu jika tadi Bastian bilang kalo Vela gak mau kalo gak dijagain sama aku, aku sengaja buat rencana gitu sama Bastian cuman pengen tau apa yang sebenarnya terjadi sama kamu, aku minta maaf ya," kata Naufal sambil mengusap air mataku yang terus mengalir di pipiku.
"Enggak Mas, kamu nggak salah sama sekali, maafin aku yang egois ini, aku sengaja akhir-akhir ini tidak bersikap manja terhadapmu, aku hanya tidak ingin bergantung sama kamu, karena belum tentu kamu selamanya sama aku," kataku dengan terisak-isak.
"Hei hei hei, Kamu kenapa mikir gitu sama aku? Kamu kenapa mikir kalo aku belum tentu selamanya sama aku? Tentu Gi, tentu aku terus selamanya bersamamu, apa yang membuatmu ragu padaku, Hm?" tanya Naufal yang terus mendesak ku untuk jujur.
Pelan-pelan aku memberanikan diri untuk menatap matanya.
"Maafin aku ya Mas, aku lakuin itu semua agar aku bisa tau, apakah kamu memang benar-benar tulus mencintaiku? Aku bingung Mas, aku selalu memikirkan siapa wanita yang benar-benar kau cintai? Aku takut jika itu bukan aku, aku takut!!!" jeritku sambil terus menangis.
Naufal merasa kasihan denganku, Naufal langsung memelukku dan mencoba untuk menenangkanku.
Dia mengelus-elus rambutku.
Dia sama sekali tidak memarahiku ataupun membentakku.
Aku nyaman sekali berada dalam pelukannya, aku terasa aman dan terlindungi.
Memang kita selalu berbeda dari segi pemikiran, karena Naufal lebih dewasa dalam memikirkan segala hal, beda denganku.
Naufal selalu tenang menghadapi semua masalah, dia penyabar, baik sekali, dan sangat memuliakan wanita, dia tidak pernah sekalipun membentak ku sangat keras, itu semua yang membuat aku semakin jatuh hati padanya.
__ADS_1
Bersambung.