
Setelah selesai aku memasak.
Segera ku bangunkan Naufal di atas, belum lama adzan juga sudah berkumandang.
***(di Kamar)
Naufal sepertinya sudah terbangun.
"Aku siapin air hangat ya Mas," kataku.
Naufal bangun dari ranjang.
Setelah ku siapkan air hangat untuk Naufal, dan ia pun segera mandi, aku menunggunya sambil menyiapkan sajadah seperti biasa.
Beberapa menit kemudian, Naufal selesai mandi dan langsung melaksanakan sholat shubuh, sedangkan aku segera bergegas untuk mandi.
Aku masih terus memikirkan mimpi itu, kenapa di depan mataku selalu terbayang Naufal yang akan pergi meninggalkanku.
"Semoga tidak terjadi apa-apa sama Naufal," kataku dalam hati.
Setelah selesai aku mandi, aku bersiap-siap seperti biasa.
"Sayang, kamu udah siapin barang-barang aku yang mau dibawa kesan?" tanyanya.
"Udah kok, tadi udah aku siapin tinggal berkas-berkas nya aja aku nggak tau, nanti kamu masukin sendiri," tuturku.
Naufal menghampiriku yang tengah duduk di depan kaca rias.
"Makasih ya Sayang," ucapnya.
Setelah selesai bersiap-siap, kami turun ke bawah untuk sarapan.
Pandanganku kosong, tidak ada yang kupikirkan selain Naufal.
***(di Ruang Makan)
"Pagi Mbak Mas," sapa Bi Sarah.
"Pagi Bi," jawab Naufal.
Aku hanya tersenyum pada Bi Sarah lalu duduk di samping Naufal.
"Mari makan," ucap Naufal mempersilahkan kami semua.
Ku santap sarapan pagi itu yang bagiku rasanya tak senikmat biasanya, karena saat ini pikiranku terbebani oleh Naufal, Naufal dan Naufal.
"Gi, di habisin," tutur Naufal.
"Udah kenyang Mas," jawabku sambil meneguk segelas susu.
"Kenapa Mbak? Masakan Bibi kurang gurih atau gimana Mbak?" tanya Bi Sarah.
"Eemmm......enggak Bi, enak kok enak, cuman Gia udah kenyang, hehe," kataku.
"Itu jari kamu kenapa?" tanya Naufal.
"Ini tadi gak sengaja ke iris waktu aku masak tadi, tapi nggak papa kok," jawabku.
Setelah selesai sarapan, Naufal berpamitan pada Bibi.
"Bi, kami berangkat dulu ya," ucap Naufal.
"Assalamu'alaikum," salamku dan Naufal.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati Mas," jawab Bi Sarah.
Kami masuk ke dalam mobil, dan Naufal melajukan mobilnya.
Di dalam mobil dan sepanjang perjalanan aku hanya diam sambil memainkan ponselku.
__ADS_1
"Sayang," panggil Naufal.
Aku tidak menjawabnya.
"Gia kenapa sih dari tadi diem, makan juga gak di habisin," gumam dalam hati Naufal.
"Sayang," panggil Naufal lagi dengan mengangkat daguku agar menoleh padanya.
Aku menepis tangannya.
"Sayang kamu diem aja dari tadi? Kamu bad mood lagi? Atau kenapa? Hm? Cerita dong sama aku jangan di pendam sendiri," tutur Naufal.
Air mataku memenuhi pelupuk mata.
"Aku.........aku semalem mimpi kamu kecelakaan Mas," ucapku sambil mengusap air mataku.
"Itu yang buat kamu dari tadi diem terus makan kamu nggak habis, iya?" tegas Naufal lagi.
Aku mengangguk kepalaku dan tidak berani untuk melihatnya.
"Sayang, mimpi kan hanya bunga tidur aja, kamu mikirnya sedalam itu loh," kata Naufal.
"Tapi mimpi aku itu sama persis seperti apa yang mau kamu lakuin Mas, kamu mengalami kecelakaan pesawat saat kamu juga pergi ke luar negeri demi pekerjaanmu, sedangkan kamu juga akan pergi kan nanti, aku kepikiran, aku khawatir sama kamu, salah ya???" ucapku agak sedikit emosi.
"Hust hust Sayanggggg......Bukannya aku gitu, pasti tangan kamu ke iris juga gara-gara mikirin mimpi itu kan?" tebaknya.
"Habis gimana lagi, aku takut," rengekku.
"Aku ngerti perasaan kamu Sayang, tapi kamu nggak perlu mikir sedalam itu, do'a in aja semoga tidak terjadi apa-apa sama aku," tutur Naufal sambil menggenggam tanganku.
"Kalo terjadi apa-apa gimana? Kamu mau tanggung jawab? Kamu bisa nggak jamin sama diri kamu sendiri, kamu kembali ke Indonesia dengan keadaan yang sama," kataku.
"Huuuuuffttt," suara nafas Naufal.
"Aku tau Gi, kamu sangat khawatir sama aku," gumam dalam hati Naufal.
"Ya udah iya Sayang, aku janji aku akan kembali kesini dengan keadaan yang sama, tapi kamu juga harus mengerti bahwa takdir tidak ada yang tau," tuturnya lagi.
***(di Rumah Sakit)
Sesampainya di Rumah Sakit, aku tetap diam dan tidak berbicara padanya.
"Sayang, jangan marah," ucap Naufal dengan sangat halus.
Aku mencoba terpaksa tersenyum padanya, tetapi yang sebenarnya ku inginkan bukan senyum padanya, aku ingin dia tidak pergi dan tetap disini.
Sepertinya hati Naufal lega telah melihatku tersenyum.
Kami keluar dari sisi pintu mobil yang berbeda.
"Semoga presentasi nya batal Ya Allah, aku benar-benar takut," harapku dalam hati.
Di tengah-tengah lorong, jalan kami terpisah.
"Fokus kerja ya Sayang, do'a in aku," ucap Naufal lalu berjalan meninggalkan ku.
Kata itu semakin kuat membuatku yakin bahwa mimpiku akan benar-benar terjadi, aku hanya bisa menangisinya tanpa ia ketahui.
Di ruang kerjaku, aku mencoba untuk tidak memikirkan mimpi itu, tapi tidak bisa.
Aku menyerah untuk berusaha melupakan mimpi itu.
Segera aku berjalan keluar dan menemui para pasienku, semoga saja mimpi ini segera pergi jauh dari pikiranku.
Ku periksa satu per satu pasienku, aku tidak menemui Naufal atau Pak Bastian sama sekali.
Tak cukup bisa hal ini untuk aku melupakan mimpi buruk itu.
.
__ADS_1
.
.
.
Hari juga sudah semakin siang, mimpi itu juga tak kunjung pergi.
Segera aku membereskan meja kerja ku.
"Kemana Naufal? Dia juga sama sekali tidak menghubungi ku," gumamku dalam hati.
Aku berjalan ke parkiran mobil.
Rupanya disana tampak Naufal dan Pak Bastian tengah berbincang di depan mobil kami.
Aku berjalan menghampiri mereka.
"Fal, istri Lo tuh," kata Pak Bastian.
Naufal berbalik badan dan berdiri di tengah-tengah aku dan Pak Bastian.
"Udah pulang Sayang?" tanya Naufal.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum padanya.
"Bas, Gue duluan ya," pamit Naufal.
"Oke Fal, awas Lo nanti telat, Gue jemput," ucap Pak Bastian.
"Hahaha, gak bakalan," kata Naufal.
Kami segera masuk ke dalam mobil.
Naufal menancap gas mobilnya.
Aku kembali terdiam.
Di tengah perjalanan, Naufal berhenti di minimarket.
Dia memarkirkan mobilnya di depan halaman minimarket.
"Kamu tunggu disini ya, bentar," tutur Naufal yang langsung nyelonong pergi masuk ke minimarket.
"Ngapain Naufal?" tanyaku dalam hati.
Beberapa menit kemudian, dia kembali dengan membawa sekantong es krim, marshmellow, dan lolipop.
"Ini Sayang," ucap Naufal.
"Aku tau, pasti kamu masih kepikiran mimpi buruk itu kan," tebak Naufal.
Aku menganggukkan kepalaku.
"Kamu habisin itu ya," tutur Naufal sambil menarik seatbelt dan menancap kembali gas mobilnya.
Ku habiskan satu persatu es krim di sepanjang perjalanan pulang.
"Lagi?" tanya Naufal.
Aku menggelengkan kepalaku.
Naufal mengusap sisa es krim yang ada di bibirku.
"Kamu mau?" tanyaku.
"Tapi kamu suapin," jawabnya.
Ku buka satu es krim untuknya.
__ADS_1
"Kamu kok tau aku suka beginian?" tanyaku.
"Ya tau lah Sayang, kan aku suami kamu," jawab Naufal.