
Tatapan itu yang sangat aku rindukan.
Tapi kenapa? Mas Naufal malah menarik tubuhnya dari dekatku.
"Nanti saya kasih obat nya ya Bi," ucap Mas Naufal.
"Makasih Mas," ucap Bi Sarah lirih.
Mas Naufal lalu pergi meninggalkanku dan Bi Sarah.
"Mas Naufal kenapa menghindar dari aku??"
"Bahkan, Mas Naufal saja tidak ingin berdekatan denganku,"
"Dan setiap malam, Mas Naufal juga tidak pernah mendekapku kembali??"
"Apa ada yang disembunyikan dari aku ya??" Gerutuku dalam hati.
"Ah sudahlah, aku nggak boleh suudzon dengan suamiku sendiri," gumamku lagi dalam hati.
"Eemm Bi jangan lupa buburnya di habiskan ya, nanti tunggu obatnya dari Mas Naufal, terus langsung istirahat lagi ya Bi," tuturku.
Bi Sarah hanya menganggukkan kepalanya.
Aku meninggalkan Bi Sarah dan menemui Mas Naufal. Aku tidak ingin mengganggu suasana hatinya yang sudah berhari-hari tak kunjung membaik.
***(Di Ruang Tamu)
Kami sarapan tanpa Bi Sarah. Akhirnya aku semeja lagi dengan Mas Naufal setelah beberapa hari rutinitas ini tidak terlaksana.
"Mas ini ya," saat ku mengambilkan nasi merah untuknya.
"Mas ambil sendiri," tolaknya lalu merebut sendok nasi dariku.
"Kan sudah biasanya aku yang ngambilin Mas," kataku.
"Nurut sama Mas," ucapnya tanpa melihatku.
Sakit rasanya mendengar penolakan itu. Daripada aku menangis di depan orang banyak, lebih baik aku berlari ke kamar untuk meluapkan kesedihan hatiku ini.
***(Di Kamar)
Mas Naufal lagi-lagi tidak mengejarku, Mas Naufal mengacuhkanku. Benar-benar keterlaluan.
__ADS_1
"Huhuhuhuhuhu, iisskkk......issskk.....isssk,"
"Mas jahat sama aku, huhuhuhuhuhu," kataku dalam hati dengan isak tangisku.
"Mau sampai kapan Mas mau seperti ini? Huhuhuhuhuhu, menyiksa batinku seperti ini,"
"Nggak, aku nggak boleh diam, aku harus selesai in masalah ini, huhuhu, ini sama sekali tidak benar," gertakku dalam hati.
Bahkan Mas Naufal tidak berpamitan padaku saat akan pergi bekerja.
Aku bangkit dari dudukku di atas ranjang, menghapus air mataku. Dan bergegas ke kamar mandi.
Hari ini aku akan membuktikan dengan Mas Naufal bahwa masalah ini harus segera berakhir. Aku akan menemuinya di tempat kerjanya dengan membawa sekotak sandwich untuknya. Semoga dengan sandwich itu......suasana hatinya kembali membaik.
Ku rias wajahku dengan sangat hati-hati.
Parfum ku semprotkan di sisi sisi tubuhku.
Aku ingin terlihat lebih cantik di depan Mas Naufal.
"Huuufffttt, semoga apa yang aku lakuin ini Mas, membuat hubungan kita jadi lebih baik," ucapku di depan kaca sambil menyunggingkan kedua pipiku.
Tepat pukul 09.30 aku berangkat ke tempat kerja Mas Naufal alias tempat kerjaku dulu.
Aku turun ke bawah sambil membawa tas jinjingku. Dan tak lupa ku ambil sandwich yang sudah ku pesan via online di Dapur.
"Kurang apa lagi ya? Sandwich udah, apalagi yaa....?
"Aaaah aku rasa udah deh," ucapku.
Hanya debaran hatiku yang sedang menemaniku saat ini. Segera aku berlari dengan heelsku yang tidak terlalu tinggi ini ke dalam mobil.
***(Di Rumah Sakit)
"Huuuuffttt, semoga dengan ini bisa memperbaiki semuanya, Aamiin," ucapku saat masih di dalam mobil.
Aku pun turun dan langsung masuk ke Lobi, disambut oleh mereka disana dengan senyumnya. Ternyata mereka masih mengingatku, padahal sudah lama aku tidak muncul di tempat ini.
Dan mereka masih menyapaku dengan sebutan "Dokter" disini, adduuuhh rasanya aku masih bekerja disini aja.
"Dokter Giaaa," sapanya.
Ku balas dengan senyumku yang sangat senang dengan keramahan mereka padaku.
__ADS_1
Aku pun bertemu dengan Suster Andini yang dari dulu selalu bersamaku.
"Dokter Giaaaa, ooohh God," ucapnya lalu memelukku.
"Ya Allah Suster, lama nggak ketemu," kataku.
"Iya Dok, sama-sama sibuknya, akhirnya ketemu juga,"
"Eeehh ngomong-ngomong, Dokter mau ketemu sama Dokter Naufal?" tanya Suster Andini.
"Iya Sus," jawabku.
"Adduuuhh, selalu deeeh, dari dulu Top couple emang, heheheheh," canda Suster Andini.
"Alhamdulillah Sus, gimana kabarnya sekarang?" tanyaku.
"Alhamdulillah baik, Dokter sendiri gimana? Abay udah punya adik belum Dok? Hehehe," tanya Suster Andini yang sedikit menggelitik.
"Ehehehehm, belum Sus," jawabku sambil tersenyum malu-malu.
"Ya sudah kalo gitu Dokter dilanjut ketemu sama suami, hehehe, mau saya antarkan Dok?" tawarannya.
"Udah gak papa saya sendiri aja Sus, makasih ya, kapan-kapan main ke rumah loh," bujukku.
"Hehehe Insya'Allah Dok, bye Dok, sehat-sehat ya," ucapnya saat melihatku melangkah pergi.
Saat aku melangkah menuju ruangan Mas Naufal, disana aku juga berjumpa dengan Dokter Anton. Sangat menyenangkan bisa kembali berkunjung di Rumah Sakit ini.
Aku sangat bersemangat akan menemui Mas Naufal.
"Ya Allah, bantu Gia ya,"
"Semoga semuanya akan membaik," ucapku dalam hati.
Tepat di depan pintu ruangan Mas Naufal, aku mendengar Mas Naufal sedang berbicara dengan seseorang.
"Yaaaahh, Mas Naufal pasti lagi sibuk," gumamku.
Akhirnya aku memutuskan untuk kembali pulang saja, karena tidak mungkin aku menemuinya. Namun, saat aku mendengars suara seseorang tengah menyebut namaku dalam ruangan itu, akhirnya langkahku hentikan.
Aku terpaksa menguping pembicaraan Mas Naufal dengan seseorang yang suaranya sangat ku kenali. Yaaah, sepertinya Pak Bastian disana.
"Tapi Fal, kenapa harus Gia??" ucap Pak Bastian yang menyentil telingaku.
__ADS_1
Deg-deg.....Aku terkejut mendengar kalimat itu.
Bersambung....