
Aku masih memikirkan tawaran Pak Kevin.
Akhirnya aku memutuskan untuk menerima tawaran Pak Kevin untuk pulang bersama beliau. Karena aku berfikir jika aku tidak mau diantar beliau dia egois dan hanya memetingkan diri sendiri tanpa memikirkan Susi.
"Ya udah sekali ini ya," kataku.
"Yeeaayy," jawab Susi dengan sangat senang.
Karena sudah lumayan malam bagiku, aku takut jika naik ojek online.
Mobil Pak Kevin melaju lumayan kencang, aku dan Susi duduk di belakang. aku membuang pandangannya keluar jendela mobil dengan bibirnya yang dimajukan karena kesal sedangkan Susi memperhatikan jalan ke depan, Dalam mobil tidak ada obrolan apapun kecuali pada saat mau sampai di dalam rumah nenek Susi.
"Depan itu ada pertigaan Pak Kevin, belok kiri Pak," ucap Susi.
"Oh iya, yang mana ini rumah Nenek kamu?" tanya Pak Kevin.
"Itu Pak yang gerbangnya warna gold," kata Susi dengan menunjuk ke arah gerbang tersebut.
"Ini ya," kata Pak Kevin.
"Iya Pak," jawab Susi.
Susi keluar dari mobil Pak Kevin, dan aku sebenarnya ingin ikut keluar Susi tetapi ketika kaki ku turunkan dari mobil, Susi menghentikannya.
"Eits Gi, kamu mau kemana?" cegah Susi dengan menekan tubuh Gia agar tidak bisa berdiri.
"Aku turun sini aja Si, lagian kos ku nggak searah sama Pak Kevin!" jawabku sewot.
"Awas kamu Gi, sok sok an cuek," gerutu dalam hati Pak Kevin yang menunggu mereka.
"Enggak kok gak papa saya tetap tidak keberatan," sahut Pak Kevin.
"Tuh Gi, Pak Kevin aja ngga keberatan," ucap Susi.
"Tapi Si, masak iya aku berdua dalam mobil sama seorang pria yang aku baru kenal," ucap ku lirih dengan mendekatkan bibirnya pada telinga Susi.
"Tenang aja, saya nggak ngapa-ngapa in kamu kok," kata Pak Kevin.
"Udah lah Gi, nggak papa dari pada kamu naik ojol udah malem nanti malah ada apa-apa," rayu Susi.
"Ya udah deh Si, kali ini aku nurut lagi sama kamu," jawabku yang tidak ikhlas sebenarnya.
"Ya udah Pak Kevin, saya terima kasih banyak sudah diantarkan sampai rumah Nenek saya," ucap Susi.
"Iya nggak papa," jawab Pak Kevin.
"Bapak tidak mampir terlebih dahulu," tawar Susi karena ngga enak sama beliau.
"Enggak, lain kali aja Insya'Allah," kata Pak Kevin.
"Saya masuk ya Pak, mari Pak," ucap Susi.
Pak Kevin hanya menganggukkan kepalanya dan senyum, dan Susi berjalan masuk ke Rumah Neneknya sedangkan aku menutup pintu mobil dan membuang mukaku kembali ke jendela sambil melipatkan kedua tangan nya karena AC dalam mobil sangat dingin.
"Pindah ke depan," kata Pak Kevin singkat.
__ADS_1
"Nggak mau, saya disini aja Pak," jawab ku tanpa melihat ke arah Pak Kevin.
"Kamu pikir saya tukang ojek online kamu!, saya di depan dan kamu sendirian di belakang," ucap Pak Kevin yang menolehkan wajahnya padaku.
"Tadi aja Bapak juga di depan sendiri, tapi Bapak nggak protes, kok sekarang Bapak protes pada saya," ucapku tegas.
"Kamu ya! keras kepala banget, tadi ya tadi, sekarang ya sekarang," kata Pak Kevin dengan wajah kesalnya.
"Ya udah iya," jawabku datar dan pindah ke kursi depan sebelah Pak Kevin
"Yes berhasil nih," gumam Pak Kevin dalam hati dan senyum-senyum sendiri karena berhasil mengerjai aku.
"Jangan lupa pake sabuk pengaman nya," ucap Pak Kevin.
Aku tidak menjawab dan langsung memasang sabuk pengamannya.
"Kamu pikir tadi berbisik sama Susi saya tidak dengar? ya dengarlah, tenang aja, saya nggak bakal menyakiti ataupun melukai kamu, malah saya akan menjaga kamu," goda Pak Kevin sambil menyalakan mesin mobil.
Deeegggg jantung Gia berdebar, dan wajahku memerah.
"Aduh tahan jangan sampai aku suka sama Pak Kevin," gerutuku dalam hati sambil menyentuh dadanya.
Tiba-tiba Pak Kevin menanyakan hal yang sensitif padaku.
"Kamu punya pacar?" tanya Pak Kevin dengan agak malu-malu.
"Siapa?" jawabku.
"Ya kamulah, saya kan sama kamu sekarang, masak iya saya tanya diri saya sendiri?!" ucap Pak Kevin kesal.
"Kenapa?" tanya Pak Kevin lagi.
"Gak papa,"jawab ku.
"Pasti ada alasannya dong," rayu Pak Kevin lagi.
"Kan saya sudah menjawabnya Bapak Kevin Wirawan," ucap ku diperjelas.
"Kamu nih ya dasar, pokoknya saya harus tau kenapa kamu gak punya pacar?" tanya Pak Kevin lagi.
"Karena saya gak pengen," jawabku, karena aku tau dia pasti sudah dijodohkan dengan pilihan Papa Mamanya kelak.
"Kenapa gak pengen? memangnya selama ini kamu gak pernah pacaran?" tanya Pak Kevin kepo.
"Bapak kenapa sih, pengen tau aja tentang saya," jawabku.
"Ya gini nih, susah ngomong sama orang yang gak pernah tau rasanya jatuh cinta," kata Pak Kevin.
"Maksud Bapak?" jawabku dengan heran.
"Ya gak papa saya hanya ingin tau, tekankan itu!" ucap Pak Kevin.
"Udah lah Pak biar jadi rahasia buat saya, Pak Kevin gak perlu tau tentang saya," jawabku dengan tegas.
"Saya perlu tau," jawab Pak Kevin keceplosan.
__ADS_1
"Buat apa?" tanyaku.
"Ya karena saya dosen kamu," jawab Pak Kevin dengan wajah memerah.
"Bapak ini nggak masuk akal banget ya, ini kan diluar mata kuliah Pak," ucapku.
"Udah lah kamu ini jangan membuat saya marah sama kamu, jawab aja susah banget," gertak Pak Kevin.
"Kamu pernah pacaran?" tanya Pak Kevin.
"Gak" jawabku kesal.
"Berarti kamu juga gak pernah jatuh cinta," ejek Pak Kevin.
"Ya memang," kataku.
"Tapi nggak mungkin kamu gak pernah jatuh cinta?" tanya Pak Kevin lagi.
"Manusiawi ya Pak, saya pernah kagum tapi saya belum pernah kecewa dalam hal perasaan, dan saya juga gak tau gimana rasanya jatuh cinta itu," jawabku semakin terhanyut dalam suasana dan semakin nyaman ngobrol dengan Pak Kevin.
"Jika saat ini pria yang ada disampingmu telah mencintai mu, apakah kamu akan membalasnya?" tanya Pak Kevin.
Degggg .... jantung Gia kaget.
"Maksud Bapak gimana ya?" tanyaku karena kaget.
"Jika saya mencintai mu, apakah kamu akan membalas cinta saya?" kata Pak Kevin.
"Bapak bercanda ya," ucapku.
"Kapan saya pernah bercanda sama kamu?" tegas Pak Kevin.
"Gak mungkin lah Bapak cinta sama saya," ucapku dengan gugup karena baru pertama kali ini aku di tembak oleh seorang pria.
"Saya serius Gi," ucap Pak Kevin dengan menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Saya bingung sama Bapak," jawabku.
"Mungkin ini waktu yang tepat buat saya ngomong sama kamu tentang hal ini," kata Pak Kevin.
"Tapi Pak, posisi kita berbeda, Bapak seorang dosen dan saya hanya seorang mahasiswa, saya tidak percaya dengan perkataan Bapak tadi," ucapku yang menoleh pada Pak Kevin.
"Gi, tapi kan," kata Pak Kevin terpotong oleh ponsel nya yang berdering, dan Gia acuh akan hal itu.
Mobil Pak Kevin melaju kembali, tetapi jalan yang dituju bukan jalan menuju ke kosku.
"Loh Pak, ini kan jalan ini bukan menuju kos saya," ucapku dengan kaget.
"Iya tau," jawab Pak Kevin judes.
"Terus Bapak mau bawa saya kemana?" tanyaku.
bersambung...
nantikan episode selanjutnya kak 😊
__ADS_1