Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 69 (Menemani Vela)


__ADS_3

Setelah aku lega berbisik dan berucap terima kasih pada suamiku.


Bastian memberiku buket bunga yang dibawanya.


"Ini apa lagi?" tanyaku yang kegirangan.


"Ini dari mereka, ini kan bunga kesukaan kamu, jadi kemaren mereka nanya sama aku, makanya bunga nya segede ini hehehe," jawab Naufal.


"Bener kata Dokter Naufal?" tanyaku pada mereka semua.


"Iya Dok," jawab serentak mereka.


Ku potong kue iris demi iris ku suapkan pada mereka satu-persatu.


"Makasih ya buat semuanya, buat surprisenya hari ini, buat bunga nya, pokoknya saya bersyukur banget, semoga do'a baik kalian untuk saya, kembali pada kalian juga, Aamiin," ucapku.


"Iya Dok, sama-sama," jawab mereka dengan serentak.


Setelah mereka selesai memberiku surprise, dan kebetulan sift kerja kita sudah selesai.


Naufal mengajakku untuk menemani Vela.


Dia menggandeng tanganku untuk pergi ke kamar Gia.


"Mau kemana Mas?" tanyaku.


"Nemenin Vela, kan kita nemeninnya barengan," jawab Naufal.


"Kamu yakin ngajak aku?" tanyaku lagi.


"Yakin lah, kenapa emangnya? Kamu nggak mau?" tanya Naufal balik.


"Bukan gitu, tapi....," kataku terpotong oleh Naufal.


"Ayolah Gi, masak kamu nggak kasihan sama aku nemenin Vela sendiri," rengek Naufal.


"Ya udah iya," kataku menuruti permintaannya.


"Semoga Vela tidak memarahiku," gumamku dalam hati.


Sesampainnya di depan kamar Vela, ku tarik tanganku dari genggaman tangan Naufal.


"Kenapa kamu lepasin?" tanya Naufal.


"Malu lah, hehem," jawabku.


Naufal tidak mempedulikan kataku, dia tetap meraih tanganku kembali, dan mengajakku masuk ke dalam kamar Vela.


"Assalamu'alaikum," ucap salam kami.


"Wa'alaikumsalam," jawab Vela.


Mata Vela langsung menatap genggaman tangan kami.


"Hari ini aku di temenin Gia ya Vel," ucap Naufal.


"Oouwh sama Gia?" tanya Vela.


"Iya emang kenapa?" tanya Naufal balik.


"Ya gak papa sih gak papa, aku seneng malahan, hehem," kata Vela sambil tersenyum padaku.


Aku duduk di sofa bersama Naufal.


"Kamu tiap harinya gini ya? Kesepian nemenin Vela," tanyaku lirih pada Naufal yang menyenderkan kepalanya di sofa.


"He'em," jawab Naufal sambil menganggukkan kepalanya.


"Maka nya kamu nemenin aku sampe orang tuanya Vela kesini," kata Naufal lirih.


Aku tersenyum padanya untuk memberi isyarat bahwa aku menyetujuinya.


Sepertinya Vela tengah iri melihatku yang sedang ngobrol manis dengan Naufal.


"Fal, aku minta tolong bantuin aku jalan mau ke toilet," panggil Vela sambil terbangun dari bed pasiennya.


"Gi, kamu bantuin Vela dong, aku minta tolong," ucap Naufal.


"Kok aku? Kan yang dimintai tolong kamu Mas," kataku lirih.


"Nggak papa kok Gi kamu aja yang bantuin aku," ucap Vela yang sepertinya malu.


"Mas ah kamu," kataku.


"Orang Vela nya nggak keberatan kok," ucap Naufal dengan santai.


"Iya Gi, gak papa sama aja," sahut Vela.


Aku berdiri dan berjalan menghampiri Vela, aku bantu dia untuk jalan ke toilet.


Setelah Vela masuk ke toilet, aku kembali duduk di samping Naufal.


"Mas, berarti kamu tiap hari nuntun Vela gitu ya," kataku.


"Emang kenapa? Kalo iya kenapa? Kalo enggak kenapa?" tanya Naufal.


"Nggak jadi nanya kalo gitu Mas," jawabku sewot.


"Wkwkwk lo kok gak jadi? Gimana sih kamu? Kepo nya jadi gak?" tanya Naufal lagi.


"Gak," jawabku singkat.


"Hehehe, ya nggak lah, bukan aku yang bantuin dia jalan, kalo ada Bastian ya aku panggil Bastian, kalo gak ada ya asisten khusus aku lah," ucap Naufal.


"Aku Gi meskipun jauh dari kamu, aku gak berani macem-macem, aku jaga jarak sama asisten aku, sama Vela terutama, jadi gak seenaknya aku sendiri, aku mikir kali Gi kalo aku punya istri, kalo aku gak mau disakitin sama kamu, ya otomatis aku juga gak mau nyakitin kamu lah, karena apapun yang terjadi sama mereka akibat ulah kita, entah itu bahagia atau kesedihan pasti suatu saat akan terjadi juga pada kita, jadi aku gak pengen nyakitin kamu," tutur Naufal lagi.


"Jadi kamu beneran gak pernah macem-macem kalo disaat lagi gak sama aku?" tanyaku lagi untuk memastikan.


"Iya Sayang beneran lah," jawab Naufal.


Pintu kamar mandi terbuka, aku kembali menuntun Vela untuk berjalan menuju bed pasiennya.


"Mas, sholat dulu," ajakku.


"Oiya, disini apa di mushola?" tanya Naufal.


"Di mushola," jawabku.


"Disini aja sekalian aku mau sholat juga," sahut Vela.


"Oow ya.....ya udah gak papa disini aja, sekalian sama-sama," kataku.


"Kamu udah ada mukenah?" tanyaku pada Vela.


"Udah," jawabnya singkat.


"Oow, ya udah Mas, aku ambil mukenah dulu ya," kataku pada Naufal.


"Nggak, kamu disini aja, biar aku yang ambilin mukenah kamu, di mobil kan?" tanya Naufal.

__ADS_1


"Enggak, biar aku yang ambil sendiri, gak papa," bantahku.


"Sayang, udah ya kamu duduk manis disini, jarak kamar ini sama parkiran mobil itu jauh loh, daripada nanti kamu yang capek, mending aku aja, ya? Nurut sama suami," kata Naufal yang membuat hati Vela semakin memanas.


Aku hanya diam sambil sesekali melirik ke arah Vela yang sepertinya sudah geram ingin segera menerkam ku.


Sedangkan Naufal keluar untuk mengambilkanku mukenah dan sajadah.


Aku bingung harus membuka obrolan bagaimana dengan Vela.


"Hatiku semakin panas melihatmu bermesraan dengan Naufal," sahut Vela.


"Eehm maaf Vel, tapi aku kesini di ajak sama Mas Naufal," ucapku dengan gugup.


Vela memelototi ku.


"Kalo kamu nggak suka aku nemenin kamu, gak papa kok, aku besok bisa buat alasan sama Mas Naufal," bujuk ku pada Vela.


"Yang ada kalo ketauan Naufal malah membenciku!!" kata Vela dengan judes.


"Enggak kok, Mas Naufal gak bakal tau," bantahku.


"Syukurlah, coba aja kalo emang kamu bisa!!" ucap Vela.


"Mana mungkin aku bisa berbohong lagi sama Mas Naufal, gak mungkin lah, aku kan tadi malam udah gak boleh aneh-aneh sama dia," gumamku dalam hati.


"Aku memaklumi sikap Vela seperti ini, mungkin jika aku di posisinya, aku juga akan melakukan hal yang sama dan merasakan sakit hati yang luar biasa," kataku dalam hati.


"Ya udah antarkan aku ke kamar mandi lagi sebentar, aku mau ganti baju," ucap Vela.


"Kamu bisa ganti baju sendiri?" tanyaku khawatir.


"Bisa lah," jawabnya singkat.


"Oow ya udah, baju kamu dimana? Biar aku ambilin," tanyaku.


"Itu disana," jawab Vela sambil menunjuk ke arah koper miliknya.


"Kamu mau pake baju yang gimana? Yang rok apa yang celana ini?" tanyaku lagi.


"Yang mana aja yang penting bersih, gitu aja pake nanya," ucap Vela.


"Eehmm ya udah, maaf," ucapku.


Aku berjalan untuk menuntunnya ke kamar mandi.


Vela masuk ke dalam kamar mandi.


Akhirnya Naufal kembali dengan membawakan sajadah dan mukenah.


"Kok cepet Mas?" tanyaku pada Naufal.


"Iya tadi di ambilin asisten aku kok," jawab Naufal.


"Ya Allah Mas Naufal, tau gitu tadi aku ngambil sendiri," kataku.


"Enggak Gi, tadi kebetulan asisten aku ada di ruang sebelah, dia mau turun juga ke parkiran, ya udah aku suruh dia ambil kunci di ruanganku, terus sekalian ambil mukenah dan sajadah ini," kata Naufal.


"Huuum kamu alasan aja," kataku agak kesal.


"Loh beneran loh Gi, tadi dia tanya sama aku, mau kemana Dok? Terus aku jawab mau turun ke parkiran, eh sekalian dia juga," ucap Naufal membela diri.


"Udah ah terserah kamu, mana mukenahku," kataku sambil ingin mengambil mukenah dari tangan Naufal.


"Gak, aku gak mau kasih, kamu marah kok sama aku," kata Naufal sambil menyembunyikan mukenah dan sajadah di belakang tubuhnya.


"Kamu jangan marah sama aku dong," rayu Naufal.


"Mana mukenahnya, aku mau sholat," kataku sambil terus merebut mukenahku.


Bukan mukenah yang kudapatkan tetapi malah ciuman dari Naufal yang sedang mendarat di pipiku.


Aku tersenyum penuh malu.


"Kamu ya, sempat-sempatnya kayak gitu," kataku.


"Hehehe gak jadi marah kan," kata Naufal.


"Kata siapa? Tetep marah lah aku," ucapku.


"Udah lah Gi, marahnya cancel aja dulu," rayu Naufal.


"Cancel cancel, kamu pikir ojek online," jawabku.


"Udah mana, nanti keburu di lihatin Vela loh," ujarku.


"Biarin weeekkk, kamu jangan marah dulu sama aku, nanti aku kasih mukenah kamu," ancam Naufal.


"Ya udah iya iya, aku gak marah," kataku mengalah.


"Gitu dong Sayang" ucap Naufal sambil menyerahkan mukenah padaku.


Vela membuka pintu kamar mandi, dan aku menuntunnya kembali.


Aku bergegas segera mengambil air wudhu, sekaligus juga Mas Naufal.


Kami melaksanakan sholat bersama.


Setelah sholat, kami kembali duduk menemani Vela.


Sebenarnya aku sangat bosan sekali, tapi bagaimana lagi? Aku harus menemani suamiku.


Tiba-tiba ponselku bergetar, ku buka pesan itu.


"Kamu pasti bosen ya," pesan dari Naufal.


Aku senyum-senyum sendiri melihat kelakuan Naufal ini, padahal kami duduk bersampingan.


"Kok kamu tau," balasan pesanku pada Naufal.


"Udah tau lah Gi, kamu kan bosenan anaknya, masak suami sendiri nggak tau," pesan Naufal.


Aku semakin gemas dengan Naufal.


"Eehmm Fal, Mamaku gimana?" tanya Vela pada Naufal.


"Nggak tau, emang kenapa? Beliau nggak ngehubungi kamu?" tanya Naufal.


"Enggak tuh, barangkali beliau hubungi kamu, kan beliau deket banget sama kamu," kata Vela.


"Kan beliau lebih deket sama kamu, kamu kan anaknya, masak iya gak dikasih kabar," kata Naufal sewot.


"Mas, jangan gitu dong kalo ngomong sama Vela," tuturku.


"Gimana sih Sayang? Hm? Ya emang gini kan kalo aku ngomong," bantah Naufal.


"Jangan gitu ah, kamu harus tetap menghargai dia," kataku lirih.


"Iya iya Sayang, Ya ampun," ucapnya.

__ADS_1


Aku sepertinya memang sangatlah lelah hari ini.


"Mas," panggilku.


"Hm?" kata Naufal.


"Sini an dikit," perintahku.


Naufal mendekatkan telinganya padaku.


"Ngantuk banget," bisik ku.


Naufal menepuk-nepuk pundaknya.


"Tidur sini," kata Naufal.


Aku hanya menggelengkan kepalaku.


"Sini gak papa, nanti kalo dia tidur kita pulang," tuturnya.


"Malu aku, nggak enak di lihatin Vela nanti, apalagi dia pernah ini sama kamu," kataku.


Ku sandarkan kepalaku di sofa, mataku sayup-sayup dan tertidur.


.


.


.


Saat aku bangun, aku tengah berada di pundak Naufal, ku buka pelan-pelan mataku.


Tampak disana Vela sepertinya sudah tertidur.


"Mas," panggilku pelan untuk membangunkan Naufal.


"Eehhmm, udah tidur Vela?" tanyanya.


"Udah Mas, itu," jawabku.


"Ya udah kalo gitu kita bisa pulang, udah malem juga," kata Naufal.


"Aku juga ngantuk banget Mas, nggak enak tidur disini, sakit tengkuk kepalaku," rengek ku.


"Mana mukenahmu?" tanyanya.


"Ini," kataku.


Naufal berdiri dan disusul olehku, kami berjalan keluar dari kamar Vela.


Kami berjalan ke ruangan masing-masing untuk berberes terlebih dahulu.


Setelah selesai Naufal menyusulku di tengah lorong, kita melangkah menuju parkiran.


.


.


.


.


Sampainya di parkiran, aku langsung masuk ke dalam mobil yang dibukakan oleh Naufal.


Dalam mobil aku hanya diam.


"Kok diem Gi?" tanya Naufal.


"Aku lagi marah ini," jawabku.


"Kok marah? Aku salah apa lagi? Ya Allah Gia," rengek Naufal.


"Kan tadi kamu waktu di kamar Vela, katanya marahku di cancel dulu aja, ya udah sekarang aku mulai lagi," kataku.


"Ya Allah Sayang, wkwkkwk, bisa-bisanya kamu ini, mana ada marah di cancel dulu habis itu di mulai lagi, dasar kamu," ucap Naufal.


"Kamu loh ya yang bilang bukan aku, malah kamu ketawain," ucapku.


"Hehehe, enggak, udah jangan marah ya, ini kan hari spesial kamu masak cemberut gitu Gi," ejek nya.


"Enggak lah Mas, kan aku tadi becanda, aku kalo marah selesai ya udah selesai, gak aku terusin," kataku membela diri.


"Huumm apanya? Orang kamu marahnya lama banget, susah sembuhnya, stres aku Gi kalo kamu marah, terus aku gak tau salahku apa," kata Naufal.


"Ya berarti itu tandanya kamu nggak peka," ejek ku.


"Iiiiih apaan? Orang aku peka banget sama kamu," bela Naufal.


"Kan aku udah bilang sama kamu, sebenarnya aku peka, tapi aku diemin dulu aja, jadi nggak langsung grusa grusu," ucapnya.


"Grusa grusu? Wkwkw apa itu Mas?" tanyaku heran.


"Grusa grusu itu kayak apa ya Gi, tanpa mikir langsung lakukan aja gitu loh, tanpa tau efek sampingnya bakalan gimana," tuturnya.


"Uuuuhhm dewasa banget sih," kataku gemas dengannya sambil mencubit pipinya.


"Makanya kamu kalo aku bilangin nggak usah ngeyel Sayang," ucapnya.


"Iya iya Mas, kan ku juga bukan istri yang sempurna," kataku.


"Iya tau, tapi aku cinta kok, tenang aja Sayang," kata Naufal.


***(di Rumah)


Akhirnya kami pun sampai di rumah.


Naufal tidak langsung memasukkan mobil ke dalam garasi.


"Loh Mas tumben garasi nya di tutup?" tanyaku heran.


"Nggak tau Sayang, kita parkir sini aja," kata Naufal.


Setelah mobil terparkir, Naufal dengan segera membukakan pintu mobil untukku.


"Sayang kamu lewat pintu depan aja, soalnya kan garasi nya di tutup, jadi kita gak bisa lewat samping," kata Naufal.


"Lah kamu mau kemana?" tanyaku.


"Ini loh mau ngambil ini," kata Naufal sambil membuka mobil bagian belakang.


"Ya Allah Mas, bunga nya kamu bawa ternyata," kataku melihat Naufal yang membawakan bunga mawar putih besar pemberian dari tenaga medis tadi.


"Iyalah Sayang, orang ini kesukaan kamu, lagian ini juga surprise dari mereka," ucap Naufal.


"Yuk masuk," ajak Naufal sambil menarik tanganku untuk dibawanya masuk ke rumah.


Naufal membuka pintu rumahnya. Disana sangatlah gelap gulita.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2