
Keesokan harinya,
***(Di Dapur)
Aku sedang memasak dengan Bi Sarah.
“Mbak Gia tadi malam kenapa? Mbak Gia sakit?” tanya Bi Sarah.
“Enggak Bi, cuman masuk angin aja,” jawabku.
“Bibi nanti mau ikut sama Gia?” tanyaku.
“Kemana Mbak?” tanya Bi Sarah.
“Ke salon Mama Bi, mau spa, Bibi ikut ya, biar nanti Gia ada temennya,” ucapku.
“Tapi Mbak, saya nggak enak sama Mbak Gia sama Mas Naufal,” kata Bi Sarah.
“Udah nggak papa Bi, Mas Naufal pasti juga setuju kok Bi,” tuturku.
“Pokoknya nanti Bibi ikut aja,” kataku.
Aku dan Bi Sarah kembali melakukan aksi memasak kita.
“Huuumm, pas nih,” kataku saat mencicipi kuah soto ayam.
Setelah aku mencicipi satu sendok masakanku, aku langsung
beralih membuatkan susu untuk Naufal, Abay dan juga aku.
Setelah selesai membuatkan susu untuk mereka, aku kembali ke
kamar.
***(Di Kamar)
Aku tidak melihat Naufal disana, ku rapikan tempat tidur kami.
Tiba-tiba ponsel Naufal berdering.
“Siapa pagi-pagi begini telfon,” gumamku dalam hati.
Aku mencoba untuk mengambil ponsel Naufal.
“Siapa ini tanpa nama?” gerutuku.
“Jangan-jangan ini nomor Mama nya Vela, “ kataku dalam hati.
Naufal keluar dari kamar mandi, ponselnya langsung ku lempar ke Kasur kembali.
“Siapa Sayang?” tanya Naufal.
Aku langsung berbalik melihat Naufal.
“Aku….aku nggak tau Mas, nggak ada namanya,” jawabku.
Naufal berjalan mengambil ponselnya, lalu mematikan telepon dari seorang tanpa idntitas di ponselnya.
“Kok kamu matiin Mas,” kataku.
“Kan aku nggak kenal Sayang,” jawab Naufal.
“Siapa tau itu penting Mas, coba kamu telfon balik,” tuturku.
“Nggak usah Sayang, kalo penting pasti WA aku duluan, tapi tadi nggak ada,” ucap Naufal.
“Ayolah Mas telfon lagi,” paksaku.
“Kamu kenapa maksa banget gini?” tanya Naufal yang memandangku berbeda.
“Aku takut Mas kalo itu Mamanya Vela atau siapa pun yang bersangkutan sama kamu, aku trauma sama kejadian Vela dulu,” kataku.
“Ya ampun Sayang, kamu mikirnya sampe situ, ya nggak mungkin lah Sayang, kan aku udah ganti nomor, nggak mungkin Mamanya Vela tau,” ucap Naufal sambil meraih kedua pipiku.
“Ya kali aja Mas, aku kan cuman ngira-ngira aja,” ucapku.
“Huuumm kamu itu Sayang, kalo trauma susah banget sembuhnya, udah nggak usah dipikirin, nggak penting, mandi gih,” tuturnya.
Ternyata ponsel Naufal kembali berdering.
“Mas, udah angkat aja,” ucapku.
Akhirnya Naufal pun mengangkat telepon dari nomor yang tidak dikenalnya itu.
“Iissh siapa juga,” gumam Naufal.
“Haloo, Assalamu’alaikum, dengan siapa?” ucap Naufal.
“Fal ini Gue Bastian,” jawab Pak Bastian.
“Ya Allah Bas, kenapa Loe nggak WA Gue duluan sih,”kata Naufal.
“Ini nomor Lo yang mana lagi sih,” kata Naufal.
“Udah Lo nggak usah basa-basi, ini Gue udah di Rumah Sakit, Lo cepetan kesini, Pak Anton nyariin Lo, lagi ada janji Lo?” tanya Pak Bastian.
“Astagfirullah iya Bas, Gue ada janji sama pasien Gue pagi-pagi banget, arrghh, oke oke Gue kesana,” ucap Naufal langsung menutup telepon Pak Bastian.
“Ada apa Mas?? Kenapa?? Itu Pak Bastian??” tanyaku bertubi-tubi.
“Iya Sayang, aku lupa ada janji sama pasien aku,” jawab Naufal yang berjalan dan ikuti di belakangnya.
“Sepagi ini?” tanyaku.
“Iya Sayang, soalnya bisaku pagi ini,” jawab Naufal lagi.
“Jas ku mana Sayang?” tanya Naufal yang terburu-buru.
“Udah aku siapin di depan tadi sama jam tangan kamu,” jawabku.
“Terus kamu nggak sarapan dong,” ucapku.
“Ya enggak Sayang, udah nanti aja aku sarapan disana,” kata Naufal sambil mengancingkan kemejanya.
“Ya udah nanti aku bawain kamu sarapan, terus sekarang kamu berangkat duluan, nanti biar aku sendiri yang antar Abay,” kataku.
“Kamu nggak papa Sayang nganter Abay sendiri?” tanya Naufal yang masih sempat-sempatnya mengkhawatirkanku.
“Nggak papa Mas, udah cepetan kamu berangkat,” tuturku.
Aku menungu Naufal hingga ia berangkat, karena aku juga ikut tergesa-gesa.
“Lain kali kalo kamu punya janji sama siapa pun kamu bilang ke aku biar aku ngingetin kamu,” tuturku.
“Biasanya aku bilang Bastian Sayang, tapi aku lupa,” jawab Naufal.
Naufal pun berlari ke bawah dan segera berangkat bekerja.
“Mas Naufal ada-ada aja buat janji pagi-pagi begini,” gerutuku yang berjalan masuk ke kamar mandi.
.
.
.
.
.
Setelah mandi dan bersiap-siap, aku menjemput Abay di kamarnya.
***(Di Kamar Abay)
Pintu kamar Abay terbuka.
“Abay,” panggilku.
“Iya Ma bentar, Abay masih pakai sepatu,” jawab Abay.
“Hari ini kamu cuman dia antar ama Mama aja ya, soalnya Papa kamu udah berangkat duluan,” kataku.
“Iya Ma, Abay sudah tau, tadi Papa pamitan sama Abay,” jawab Abay.
“Ada urusan apa ya Ma kira-kira Papa datang sepagi ini?” tanya Abay.
“Tadi kata Papa kamu ada janji sama pasiennya,” jawabku.
“Papa mengutamakan pasiennya banget ya Ma,” ucap Abay.
“Iya lah Nak, memang pekerjaan seperti Papa sama Mama harus seperti itu, nanti kamu juga begitu,” tuturku sambil mengelus lengannya.
Aku dan Abay pun turun ke bawah untuk sarapan pagi tanpa Naufal.
***(Di Ruang Makan)
“Pagi Bibi,” sapa Abay.
“Pagi dek Abay,” jawab Bi Sarah.
Aku dan Abay langsung duduk bersama mereka yang sedari tadi sudah menungguku.
“Mbak, Mas Naufal diaman??” tanya Pak Rusdi.
“Mas Naufal udah berangkat duluan Pak,” jawabku.
“Oh pantesan tadi waktu Bibi nyiapin ini, Mas Naufal lari sama pamitan ke Bibi,” sahut Bi Sarah.
“Kok tumben sepagi ini ya Mbak?” tanya Bi Sarah.
“Iya Bi, soalnya ada janji sama pasiennya,” jawabku.
“Ayo mari makan,” ucapku mempersilahkan kami untuk makan.
__ADS_1
.
.
.
Beberapa menit kemudian, selesai kami makan, aku mengambil kotak di dapur lalu ku isi dengan roti dan selai.
“Buat Mas Naufal ya Mbak?” tanya Bi Sarah.
“Hehem, iya Bi, soalnya tadi nggak sarapan, kalo mau sarapan disana kan kasihan Bi sendiri, jadi Gia bawain roti, soalnya kan sekarang Mas Naufal sarapannya ini,” jawabku.
Setelah selesai aku menyiapkan sarapan untuk Naufal, aku langsung berpamitan dengan Bi Sarah.
“BI, Gia berangkat dulu ya, Assalamu’alaikum,” ucapku.
“Wa’alaikumsala,” jawab Bi Sarah.
Aku menggandeng Abay untuk masuk ke mobilku.
.
.
.
.
.
Di perjalanan yang tidak lumayan macet, mobilku melaju lumayan kencang.
“Sepi ya Ma kalo nggak ada Papa,” keluh Abay.
“Hehehm iya,” jawabku.
“Kalo ada Papa pasti ada aja,” kata Abay.
“Mulai besok kayaknya Papa kamu dapet shift malam Nak,” ucapku.
“Yah berarti berangkatnya nggak sama Mama dong,” kata Abay.
“Enggak dong Nak,” jawabku.
.
.
.
Tak lama kemudian, sampai di depan sekolah Abay.
“Assalamu’alaikum Ma,” kata Abay.
“Wa’alaikumsalam,” jawabku.
Kembali ku tancap gas dengan pelan menuju rumah sakit.
.
.
.
.
Beberapa menit kemudian akhirnya aku sampai di Rumah Sakit.
***(Di Rumah Sakit)
Mobil melaju ke parkiran, lalu aku turun dari mobil.
Aku langsung berjalan menuju ruangan Naufal untuk
mengantarkan sarapan padanya.
“Pagi Dokter,” sapa Dokter Irene padaku yang kebetulan berjalan searah denganku.
“Pagi Dok,” jawabku.
“Mau kemana Dok?? Ke ruangan Dokter Naufal?” tanyanya.
“Iya Dok, ini mau kasih sarapan,” jawabku.
“Soalnya tadi beliau buru-buru banget kesini jadi nggak sempat sarapan,” sambungku.
“Ooh ya udah Dok saya duluan ya,” kata Dokter Irene.
Semakin dekat langkahku dengan ruangan Naufal.
***(Di Ruangan Naufal)
Tok….tok….tok
“Assalamu’alaikum,” ucapku.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Naufal dan Pak Bastian.
Naufal berdiri menyambutku sambil menyelipkan dua tangannya di saku celananya.
“Mas ini sarapan buat kamu,” kataku sambil memberikan satu kotak isi roti padanya.
“Wiiihh istriku pengertian banget,” kata Naufal ambil ingin memelukku.
“Hey hey inget ini dimana,” gertak Pak Bastian.
“Hehehe bercanda kali Bas,” ucap Naufal.
“Pasti habis ini langsung aku makan kok Sayang,” rayu Naufal.
“Katanya kamu janjian sama pasien kamu, pasien kamu mana??” tanyaku.
“Barusan aja pulang Sayang,” jawab Naufal.
“Memangnya ada urusan apa Mas?? Kalo aku boleh tau,” tanyaku lagi.
“Pasti boleh lah Gi, kamu kan istrinya, gak mungkin ada yang Naufal sembunyiin dari kamu,” sahut Pak Bastian.
“Itu tadi pasien aku mau program cari pendonor ginjal Sayang, tapi kan dia harus antri,” kata Nuafal.
Deeeggg…..
Aku jadi teringat soal Pak Kevin.
“Ha?? Pendonor ginjal?? Jangan-jangan Pak Kevin,” gumamku
dalam hati.
“Tapi jika Pak Kevin, Mas Naufal akan cerita sama aku,” gerutuku dalam hati.
“Kamu kenal orangnya Mas??.......atau mungkin itu teman kamu?” tanyaku.
“Kenal lama Sayang, tapi ya hanya sebatas pasien dan dokter aja,” jawab Naufal.
“Cewek ya Mas,” tebakku.
“Cowok lah Sayang,” jawab Naufal.
“Mana mungkin cewek Gi, pasti kamu cemburu ya,” sahut Pak Bastian.
“Apa sih Lo Bas, nggak mungkin lah Gia cemburu, ini kan perkara pekerjaan, ya Sayang ya,” kata Naufal membelaku.
Pak Bastian hanya menertawakanku saja.
“Pasti bukan Pak Kevin,” ucapku dalam hati.
“Memangnya kenapa kamu tanya sama aku gitu Sayang??” tanya
Naufal balik.
“Oh eng….enggak kok, cuman nanya aja, ehem,” jawabku.
“Aku ke ruanganku ya Mas, jangan lupa di makan ininya,” ucapku.
Aku berjalan keluar dari ruangan Naufal.
Saat langkahku sudah jauh dari ruangannya, Naufal mengintipku karena ingin membicarakanku dengan Pak Bastian.
“Fal, Lo ngapain ngintip-ngintip istri Lo gitu?” tanya Pak Bastian.
“Gue bingung sama Gia, banyak banget rahasia yang dia sembunyiin dari Gue,” keluh Naufal.
“Ah masak Fal?? Lo kan istrinya, dia pasti terbuka dong sama Lo,” kata Pak Bastian sambil mengernyitkan kedua alisnya.
“Terbuka sih terbuka Bas, dia suka cerita juga sama Gue, tapi Gue jarang tau tentang dia Bas, disini Gue yang kurang peduli apa emang Gia yang sangat menutup rapat ya,” ucap Naufal sambil berfikir kuat.
“Mungkin emang sifatnya aja kek gitu Bas, emang yang Lo nggak tau dari dia apasih??” tanya PPak Bastian.
“Ya kayak kemaren Bas, Gue aja nggak tau kalo Gia suka cangkir pink punya dia, terus Gue tanya samaBi Sarah, ternyata itu barang kesukaan dial oh Bas, bayangin, barang kesukaan dia aja Gue nggak tau,” kata
Naufal.
“Apa Gue yang terlalu sibuk ya?” tanya Naufal.
“Mungkin Lo kali yang kurang lama sama dia, udah jangan nyalahin diri Lo sendiri,” tutur Pak Bastian.
“Tapi rasanya tuh nggak enak Bas, Gue mau tau semuanya dari ujung hingga akar-akarnya semua tentang Gia, pasti Lo tau kan semua tentang istri Lo,” tanya Naufal.
“Iya tau lah, tau semuanya bahkan,” jawab Pak Bastian.
“Apa Gia kurang percaya sama Gue ya??” tanya Naufal lagi.
“Arrghh udah lah Fal, Lo jangan mikir aneh-aneh tentang Gia, kalo saran Gue mending Lo intropeksi aja sih, tapi Lo juga nggak salah bagi Gue, udah sana Lo makan, Gue mau balik, byeeee,” ucap Pak Bastian.
__ADS_1
“Bas Bas…” panggil Naufal yang menghentikan langkah Pak Bastian.
“Lo tanyain ke Susi dong Bas? Ya? Pliiisss,” rayu Naufal.
“Ada syaratnya tapi??” kata pak Bastian sambil menaikkan satu alisnya.
“Apa?” jawab Naufal.
“Traktir Gue makan di kantin hari ini,” ucap Pak Bastian.
“Asshh iya iya nanti Gue traktir,” kata Naufal.
“Oke deal kalo gitu, hehem,” ucap Pak Bastian uang memang sudah sangat sangat akrab dengan Naufal.
Sedangkan aku berjalan ke ruang periksa bersama seorang suster yang biasanya menemaniku.
“Dokter kenapa?? Pucet banget hari ini??” tanya Suster itu.
“Masak pucet Sus?” tanyaku.
“Iya Dok, Dokter sakit?” tanya Suster itu.
“Enggak Sus, saya sehat-sehat aja,” jawabku.
“Yakin Dokter baik-baik aja?” tanya Suster itu lagi yang khawatir padaku.
“Iya Sus, nggak papa kok,” kataku.
Ponselku berdering, lalu ku ambil dalam saku jasku.
Ku buka pesan dari Naufal.
“Istriku, doakan aku ya, pagi ini aku ada operasi, doain semoga lancar, amin,” Naufal.
Akutersenyum membaca pesan WA dari Naufal.
“Iya Mas, aku pasti doain kamu,” Gia.
Suster itu memandang aneh padaku.
“Siapa Dok?? Hehehm Dokter senyum-senyum sendiri aja,” kata Suster itu.
“Pasti baca WA dari Dokter Naufal ya,” tebak Suster itu.
“Hehem,” aku hanya tersenyum padanya.
“Enak ya Dok pagi-pagi udah di kasih energi dari sang suami, jadi semangat kan Dok,” ujar Suster itu.
“hehehm, bisa aja kamu Sus,” sahutku.
.
.
.
.
.
.
Adzan dhuhur berkumandang, jam istirahat mulai datang.
“Dok, kita ke kantin ya,” ajak Suster itu.
“Boleh,” jawabku.
“Suster nggak sholat dulu?” tanyaku.
“Hehem, baru saja tadi pagi Dok, saya haid,” jawabnya.
“Ya udah langsung kesana apagimana Sus?” tanyaku.
“Boleh Dok,” jawabnya.
Saat aku tengah berjalan menuju lift, Dokter Irene kebetulan juga berjalan ke arah yang sama denganku.
“Mau kemana Dok?” tanya Dokter Irene.
“Ke kantin, Dokter Irene mau ikut??” tanyaku.
“Sebenarnya mau Dok, tapi mau sholat dulu,” jawab Dokter Irene.
“Oh nggak papa Dok, nanti saya pesankan dan saya tunggu disana, gimana?” sahut Suster yang bersamaku.
“Boleh boleh,” jawab Dokter Irene.
“Dokter mau apa??” tanya Suster lagi.
“Makanan sama minumannya samain seperti yang di pesan Dokter Gia saja ya Sis,” jawab Dokter Irene.
Suster itu sangat kaget mendengar jawaban dari Dokter Irene.
“Oh gitu Dok, iii….iya,” jawabnya.
Saat lift tengah berhenti di lantai 6, Dokter Irene berjalan belok ke kanan, sedangkan aku dan Suster berjalan lurus menuju kantin.
“Dokter Gia saking akrabnya sama Dokter Irene ya, hehehe saya salut,” kata Suster.
“Hehehm, saya juga nggak tau Sus kalo Dokter Irene bakalan memesan menu yang sama seperti saya,” kataku.
“Dan saya juga kaget Dok tado waktu Dokter Irene bilang kalo beliau mau sholat.” Kata Suster dengan lirih.
“Memangnya kenapa Sus?” tanyaku.
“Soalnya dulu kalo di ajak teman-temannya sholat selalu lagi dapet Dok,” jawab suster itu.
“Setiap manusian kan bisa berubah Sus, kapan pun itu,” ujarku sambil tersenyum pada Suster itu.
“Hehehe, iya sih Dok, Dokter benar,” jawabnya.
“Apa karena temenan sama Dokter Gia ya, Dokter Irene jadi berubah? Hehehem,” ceplos Suster.
“Enggak lah Sus, Dokter Irene seperti itu pasti atas kemauannya sendiri,” kataku.
“Hehehe, iya juga sih Dok,” ucapnya.
***(Di Kantin)
“Dokter duduk saja, biar saya yang memesankan,” kata Suster itu yang sangat baik padaku semenjak bekerja di Rumah Sakit ini.
“Nggak papa Sus, saya ikut saja,” jawabku.
Kami pun memesan makanan dan minuman untuk mengisi perut kami di siang bolong ini.
Setelah memesan, kami langsung membayarnya di kasir, lalu berjalan mencari tempat duduk.
“Sepi banget ya Sus,” kataku sambil duduk di kursi.
“Iya Dok, jam segini kan jam-jam Dokter sama yang lainnya sholat,” jawab Suster.
Suster itu mengambil ponselnya lalu membuka ponselnya, raut wajahnya berubah menjadi sedih.
“Suster kenapa?” tanyaku.
“Oowh, eng…..enggak…dok,” jawabnya dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.
“Ada apa?? Cerita aja sama saya, nggak papa kok, jangan sungkan-sungkan,” kataku.
“Hehem, enggak Dok, Papa saya mau ajak saya liburan ke luar negeri kalo cuti nanti,” kata Suster itu.
“Kok matanya berkaca-kaca gitu?” tanyaku lagi.
“Oh ini, ini saking saya bahagia Dok, jadi begini, hehehe,” tepisnya.
Tak lama kemudian, pesanan ku datang.
“Silahkan,” ucap seorang pelayan yang membawakan kami banyak makanan dan minuman.
“Makasih Mbak,” ucapku.
“Sama-sama,” jawab Pelayan itu sambil menatapku aneh.
“Kenapa Mbak, ini Dokter Gia,” sahut Suster itu.
“Benar ini ya Sus istrinya Dokter Naufal?” tanya pelayan itu.
“Hehehm, iya Mbak,” jawab Suster itu.
Pelayan itu langsung mengusap tangannya dan menaruh loyangnya di meja lain. Aku bingung dengan sikap pelayan itu.
Tiba-tiba dia langsung meminta bersalaman padaku.
“Gia,” kataku sambil tersenyum pada pelayan yang paruh baya itu.
“Waduh, ini toh istri Dokter Naufal, masya’Allah,” ucapnya lalu berjalan pergi meninggalkanku.
“Maklum lah Dok, Dokter Naufal kan sangat terhormat disini, jadi Dokter jangan kaget,” kata Suster.
“Hehehm, iya Sus, nggak papa Sus,” jawabku.
“Kan Dokter jarang kesini, baru-baru ini kan Dokter Gia kesini, jadi mereka semenjak mendengar berita bahwa Dokter Naufal menikah, semua heboh Dok, hehehm, ingin tau siapa yang jadi istrinya Dokter Naufal,” kata Suster.
“Oh ya??” ucapku spontan.
“Iya Dok, Dokter Naufal sangat terhormat sekali disini, apa lagi Dokter Naufal sangat ramah dan sangat dekat dengan semua Mbak-Mbak pelayan yang ada disini, jadi ya nggak heran Dok jika banyak orang yang sangat peduli
dengan Dokter Naufal,” ucapnya.
“Hehem, gitu ya Sus, saya baru tau, saya tau Naufal ramah dengan semua orang, tapi saya nggak nyangka aja banyak sekali yang peduli dengan beliau,” kataku.
“Hehehm, maaf ya Dok, saya jadi bicarain Dokter Naufal, heheh,” ucapnya.
__ADS_1
Bersambung......