
Keesokan harinya.
***(Di Rumah Sakit)
Mataku masih berat karena semalaman menangisi Papaku. Aku jadi mengantuk dan sempat beberapa kali aku menguap.
“Hooooaam, Mama kok belum video call aku ya,” ucapku.
“Apa aku WA ke Johan aja,” ucapku lagi.
“Tapi Johan pasti kerja,” gumamku.
Dengan keraguanku, aku tetap bersih keras untuk mengirim pesan WA pada Adikku Johan.
“Dek,” Gia (07.10)
“Iya Kak??” Johan (07.15)
“Kamu kerja sekarang??” Gia (07.17)
“Iya Kak, kenapa Kak?” Johan (07.20)
“Papa gimana Dek?” Gia (07.21)
“Papa baik-baik aja Kak, kecapek an aja,” Johan (07.25)
Setelah mendapatkan jawaban yang sama seperti yang di berikan Mamaku padaku.
Aku semakin ingin tau bagaimana keadaan Papaku, ku coba video call Mamaku berkali-kali.
Dan akhirnya Mama pun mengangkatnya.
“Mama,” ucapku.
“Gi, lagi dimana ini?? Kerja ya??” jawab Mamaku di layar ponselku.
“Iya Ma, eeemmm……Ma, Papa udah bangun??” tanyaku sambil ku gigit bibir bawahku.
“Udah kok, Papa udah bangun, tapi belum bisa di ajak video
call, soalnya masih ngobrol sama Dokternya Nak,” jawab Mamaku.
“Eeemmm, gitu ya Ma, nanti kalo bisa, Mama video call Gia
lagi ya, ini udah jam kerja, jadi Gia nggak bisa lama-lama video call Mama,” ujarku.
“Iya Nak, nanti pasti Mama video call kamu,” jawab Mamaku
sambil tersenyum padaku.
“Yaudah kalo gitu Gia kerja dulu ya Ma,” pamitku.
“Iya Nak, Assalamu’alaikum,” ucap salam Mamaku.
“Wa’alaikumsalam,” jawabku lalu menutup video call ke
Mamaku.
“Semoga Papa makin emmbaik keadaannya Ya Allah, huuummm, padahal Gia kangen banget sama Papa,” ucapku.
Ku sandarkan kepalaku di kursi putarku.
Tidak terada, dengan pelan-pelan kedua mataku terpejam.
Tiba-tiba semuanya gelap, Papaku sekarang berdiri di
hadapanku.
“Papa,” panggilku padanya.
Papa tersenyum padaku.
“Papa kok disini?? Katanya Mama, Papa sakit,” ucapku.
“Papa jangan kemana-mana dulu, sebelum Papa sembuh ya, Gia nggak mau Papa kenapa-napa lagi, nanti Gia sedih,” ucapku di depan Papaku.
Papaku hanya berdiri dan tersenyum kepadaku.
Tiba-tiba bayangan itu hilang, dan sekarang tepat di depan Mataku, tergambar semua saat aku masih kecil bersama Papa, kami sedang bermain-main berdua disana, tergambar juga saat setiap malam, Papa selalu menghadirkan dongeng malam nya untukku hingga aku tertidur.
Papaku mengutarakan semua mimpi-mimpi nya padaku. Dan beliau juga memelukku.
Aku menangis saat meliht kenapa gambaran di masa lalu ku
terpajang tepat di depan mataku.
“Sedang dimana aku ini???”
“Apa aku kembali ke masa lalu?? Dan kenapa disana ada aku??” tanyaku terus-menerus.
Aku pun terbangun dan terjatuh dari kursi ku.
Buuukkkk….
“Awwwwwwwhhhh,” keluhku.
“Aduuuhh, aku tertidur,” ucapku sambil melihat jam tangan
yang melingkar di tangan kiriku.
“Astagfirullah udah jam 8 ini,” kataku sambil bergegas
bangun dan memijat sedikit keningku yang terbentur kaki meja.
Suster Andini tiba-tiba masuk setelah mendengar suaraku.
“Astagfirullah Dokter, kenapa Dokter di bawah??” tanya
Suster Andini yang membantuku untuk duduk.
“Saya jatuh Sus,” jawabku.
“Kok bisa sih Dok?? Dokter habis ngapaina aja??” tanya
Suster Andini lagi.
“Saya ketiduran sebentar tadi Sus,” jawabku.
“Ya Allah, duduk dulu Dok,” tutur Suster Andini dan
mengambilkan ku segelas air putih.
“Minum dulu Dok,” ucapnya.
Ku teguk habis segelas air yang diberikan Suster Andini
padaku.
“Pantesan, dari tadi saya manggil-manggil Dokter, ketuk
pintu tapi nggak ada jawaban, terus saya denger suara orang jatuh sih Dok, dan ternyata Dokter beneran jatuh, ya maaf Dok tadi saya kurang sopan karena nyelonong masuk,” ujar Suster Andini yang duduk tepat di depanku.
“Iiiissshhhh, nggak papa Sus,” kataku sambil masih merasakan
nyeri di keningku.
“Dokter mikirin apa sih, kok bisa ketiduran?? Hmm…ngebayangin apa Dok??” tanya Suster Andini.
“Nggak papa kok Sus, tadi malam saya kurang tidur, jadi
nggak tau tiba-tiba ketiduran,” jawabku terpaksa membohongi Suster Andini.
“Udah yok Sus,” ajakku pada Suster Andini untuk segera
menemui pasien-pasien kami.
“Yakin Dokter bisa??” tanya Suster Andini lagi.
“Yakin Sus, cuman gini doang kok, nggak papa, hehehe,”
jawabku.
“Oke deh Dok,” jawab Suster Andini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Siangnya, aku bertemu Naufal saat bejalan ke ruanganku.
“Gia,” panggil naufal dari arah belakangku.
Suster Andini terkejut melihat Naufal yang berdiri tepat di
belakangnya.
“Eh Mas?? Ada apa??” tanyaku.
Suster Andini sepertinya merasa sungkan berada di tengah-tengah kami.
“eemmm….Dok, maaf ya, saya permisi dulu,” ucapnya.
“Loh kenapa??’ tanyaku.
“Hehehe, nganter ini Dok,” jawabnya sambil memberikan kode
kedipan mata padaku.
“Ooooo hehehem, iya iya Sus,” jawabku.
“Mari Dok, Dokter Naufal,” ucap suster Andini.
“Iya mari mari,” jawab Naufal.
Aku ingin menertawakan Suster Andini yang selalu kikuk saat
ada Naufal.
“Eh iya, kenapa Mas?? Ada yang mau kamu bicarain sama aku??" tanyaku.
Naufal sepertinya menemukan kejanggalan di area wajahku,
matanya fokus ke arash keningku.
“Kamu kenapa?? Lihatnya gitu banget??” tanyaku sambil
mengernyitkan kedua alisku.
Naufal mencoba menyentuh keningku yang agak memar, namun aku dengan sigap menarik tangan nya.
“Eh eh mau apa kamu Mas??” tanyaku lagi.
“Kening kamu kenapa?? Habis kejedot apa itu Sayang??” tanya Naufal.
“Eeemmmm, nggak kok, nggak kenapa-napa kamu salah lihat
kali,” jawabku.
“Huuuum, Sayang……Sayang, udah sini ikut aku,” kata Naufal.
Naufal langsung menarik tanganku dan membawaku ke ruangan nya.
“Loh loh Mas, kenapa kita kesini??” tanyaku.
__ADS_1
Naufal menyuruhku duduk di kursi putarnya.
Dan menengadahkan wajahku ke atas.
“Kamu merem,” tuturnya.
Wajah Naufal sudah berada tepat di atas wajahku.
“Mas, jangan lah, kamu mau ngapain sih??” tanyaku yang mulai
gelisah dengan sikap Naufal.
“Udah Sayang, merem aja,” tuturnya lagi.
“Ya udah nih aku merem, awas kamu aneh-aneh, aku ngambek,” ancaman ku.
“Yaelah Sayang, iya-iya, kamu ih,” jawab Naufal.
Akhirnya ku pejamkan kedua mataku, nafas Naufal terasa
hangat di keningku.
“Tuh kan kening kamu memar, pasti habis kejedot ini,” ucap
Naufal.
Ku buka kedua mataku kembali.
“Emang kelihatan??” tanyaku malu-malu sambil ku angkat kedua alisku.
“Merah gitu, masak iya, apa yang merah-merah buat di pipi
itu kamu taruh kening,” canda Naufal.
“Hayo habis kejedot apa kamu ngaku Sayang,” sambung Naufal.
Raut wajahku tiba-tiba sedih.
“Loh……..di tanya kok malah cemberut gitu,” kata NAufal.
“Tadi aku ketiduran, terus aku jatuh dari kursi aku,”
jawabku sambil kedua mataku yang sudah berkaca-kaca.
“Hahahah, kamu jatuh Sayang, ya ampun Sayangggg…..kok bisa sih???” tanya Naufal.
“Jangan di ketawain,” ucapku dengan nada sedikit merengek
akan menangis.
“Loh, kok jadi nangis??? Kenapa?? Hmm? Kamu mikirin apa??”
tanya Naufal.
Aku sudah tidak tahan menahan tangisanku, aku langsung
emmeluk Naufal.
“Aku habis mimpi Papa,” ujarku.
Naufal mengelus-elus kepalaku.
“Uuuussttt hey….” Kata Naufal sambil duduk jongkok dan
meraih kedua pipiku.
“Mimpi gimana?? Hm?? Cerita sama aku??’ tutur Naufal.
“Papa ada di depan aku Mas di mimpi itu, Papa senyum ke aku,
aku takut Mas,kalo terjadi apa-apa sama Papa,” jawabku dengan terbata-bata.
Aku menceritakan mimpiku di pagi buta pada Naufal. Dia terus
mencoba menenagkan ku.
“Cup cup cup, udah gak boleh gitu Sayang, mungkir pikiran
kamu negatif jadi ke bawa ke mimpi kan,” tutur Naufal.
“sekarang, mendingan kita sholat ya,” ajak Naufal.
“Udah nggak usah nangis, nanti matanya bengkak lagi,” ucap
Naufal sambil mengusap air mataku.
Kami pun berjalan ke Mushola berdua.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah selesai sholat, Naufal mengantarku hingga masuk ke
dalam ruanganku.
“Kamu jangan mikir aneh-aneh lagi ya, nanti kalo mikir
aneh-aneh malah kejadian loh,” tutur Naufal.
“Astagfirullah Mas, jangan dong,” kataku.
“Nah iya udah nggak usah mikir aneh-aneh Sayang,” kata
Naufal.
Anufal sambil akan mencium keningku.
Namun aksinya berhenti saat dia ingat bahwa kita sedang
tidak berada di Rumah.
Sehingga Naufal mengurungkan niatnya.
“Iiisshhh, lupa Sayang ini dimana?? Hehehehe, nggak baik,”
canda Naufal.
Aku tau Naufal sebenarnya ingin menghiburku.
AKu tersenyum padanya.
“Nah gitu dong senyum, jangan cemberut mulu,” ucap NAufal.
“Ya udah aku balik ya, tapi kamu jangan nangis, awas kamu,
kalo aku balik terus kamu masih aja nangis, jangan dong,” ujar Naufal.
“Iya iya Mas, enggak kok,” kataku.
“Pinterrrrr banget istriku,” ucap Naufal sambil sesekali
mengusap kepalaku.
Naufal pun keluar dari ruanganku.
“Hhhhmm, kenapa mereka semua begitu mudahnya mengatakan bahwa Papa sedang baik-baik saja, padahal aku begitu merasakan, bahwa Papaku sedang tidak baik-baik saja, apa mereka tidak merasakan??? Atau sengaja menyembunyikan semuanya dari aku,” gumamku dalam hati.
“Ya Allah, hilangkan pikiran buruk ini, semoga apa yang
dikatakan mereka padaku memang benar, bahwa PApaku memang sedang baik-baik saja,” ucapku dalam hati.
Aku tidak bisa terus-terusan larut dalam kesedihan dan
tenggelam dalam pikiran burukku.
Disini aku juga banyak menanggung ketakutan bahkan menyangga dan membantu proses penyembuhan pasien-pasien ku.
“Bismillah,” ucapku lalu mamakai jas Dokterku kembali.
.
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa jam kemudian, matahari sudah menjadi orange berada di barat.
Mas Naufal datang ke ruanganku hanya memberitahu bahwa dia tidak bisa pulang bersamaku.
“Sayang………maaf banget ya, maaf,” kata Naufal.
“Kenapa?? Kamu sibuk lagi??? Nggak bisa pulang lagi sama
aku??” tanyaku bertubi-tubi menyerangnya, bak peluru tembak dari penjajah.
“Kok kamu tau?? Aku bakalan bilang sibuk ke kamu,” ucap
Naufal.
“hhmm, ya tau lah Mas, beberapa bulan ini kan sibuk kamu
ekstra banget,” jawabku.
“Yaaah, kamu pasti marah ya Sayang,” tebak Naufal sambil
memasang raut wajah sedih di depanku yang sedang sibuk membereskan meja kerjaku.
“Marah?? Kalo aku mau marah, udah dari awal kamu
sibuk-sibuknya pasti aku udah marah Mas,” ujarku.
“Kalo emang kamu gitu ya terus mau di gimana in lagi, nggak
papa lah aku pulang sendiri,” ucapku.
“Sayangggg….jangan marah ya,” ucap Naufal.
“Aku nggak lama kok, nggak kayak kemaren pulang maelm
banget, palingan ini nanti habis magrib udah pulang Sayang,” sambung Naufal.
“Hehehem, Mas Naufal, nggak papa lah, kan ini kerjaan kamu,” ucapku dengan sedikit berat hati sebenarnya.
“Tapi ini nanti aku nggak langsung pulang ya, karena aku
harus belanja dulu, bahan-bahan di dapur udah mau habis,” sambungku lagi.
“Sama siapa kamu??’ tanya Naufal.
“Ya sendiri lah Mas, tadi aku udah WA Abay kok,” jawabku.
“Maafin aku ya Sayang,” kata Naufal.
“Aarrrghh udah deh Mas, nggak appa, aku juga bisa kok, udah
nggak papa, jangan terus-terusan minta maaf hehehem,” candaku.
“Udah aku pulang dulu Mas, kamu yang semangat kerja nya biar cepet selesai cepet pulang,” sambungku.
__ADS_1
“Iya Sayang, pasti kok, kamu hati-hati ya,” tutur Naufal.
“Iya Mas, Daaaaa, Assalamu’alaikum,” ucapku.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Naufal.
.
.
.
.
.
.
Aku mampir ke sebuah Supermarket terlebih dahulu.
***(Di Supermarket)
Aku mendorong trolly sendirian, aku memilih-milih
bahan-bahan yang sudah habis di Dapurku.
.
.
.
.
.
.
Hampir satu jam aku berada di dalam Supermarket ini.
Aku mengantri di Kasir yang sangat panjang antrian nya.
“Aduuuh, pasti lama ini nanti,” gumamku dalam hati.
Saat aku masih mengantri, trolly yang ada di belakang ku,
tidak sengaja menyenggol kaki ku, auto aku langsung membalikkan badanku ke belakang.
Saat aku berbalik ke belakang,
Deeeeegggg, aku melihat Mbak Meira disana.
Meira kaget melihatku yang sekarang ada tepat di depannya,
dia melotot melihatku.
“Ini kan Mbak Meira?? Apa kabar dia lama nggak ketemu??” gumamku dalam hati.
Meskipun aku sedikit takut dengan wanita yang menamparku
ini, namun aku tetap terlihat baik-baik saja di hadapannya.
Saat kami masih saling memandang, Pak Kevin datang
menghampiri Meira dengan membawa sebuah sabun cair.
“Ini Me….” Ucapan Pak Kevin terpotong saat dia melihatku.
“Ha?? Pak Kevin??” tanyaku dalam hati.
Raut wajahnya berubah menjadi kesal lagi.
Mataku langsung tertuju pada masing-masing jari manis
mereka.
“Jadi…….selama ini istri Pak Kevin adalah Mbak Meira,” ucapku
dalam hati.
Pertanyaan yang selama ini membuatku terus ingin tau,
ternyata terjawab sudah sekarang. Bahkan di depan mataku.
“Jadi, Revina berarti……anak mereka,” gerutuku dalam hati.
“Pindah sini kita,” sahut Pak Kevin sambil menarik trolly
dan tangan Meira untuk berpindah ke kasir lain.
“Kenapa Pak Kevin begitu sangat benci sama aku ya??” tanyaku dalam hati.
Meira terus saja masih mencuri-curi pandang padaku yang
sudah tidak lagi melihatnya, sedangkan Pak Kevin pandangan lurus ke depan dan berubah menjadi murung.
“Jadi selama ini, anak ku berteman dengan anak mereka, Ya
Allah, aku sangat tidak menyangka jika Revina adalah anak nya Meira, aku juga tidak menyangka bahwa mereka menikah,” kataku dalam hati sambil melamun saat mengantri.
“Aku senang jika Pak Kevin bisa menerima Meira, tapi kenapa
Pak Kevin masih membenci aku, seharusnya kan dia sudah mendapatkan cinta nya dan hidup berkeluarga, membuka lembaran baru untuk rumah tangga nya, apa aku pernah buat kesalahan yang sangat fatal ya sama Pak Kevin??? Sampe-sampe Pak Kevin kayak gitu sama aku,” ucapku.
.
.
.
.
.
Dan akhirnya, setelah aku mengantri lama di kasir, sekarang
giliran barang-barangku yang akan di total.
“Apa Mbak Meira juga masih membenci aku ya??” tanyaku dalam hati.
“Mbak, totalnya………..” ucap Mbak Kasir.
“Mbak,” panggilnya lagi yang tau aku sedang melamun.
“Ooo….emmm….iya Mbak maaf,” jawabku.
Ku berikan atm card pada Mbak Kasir.
Setelah selesai membayar, ku dorong trolly ku sendirian,
tepat saar aku mendorong trolly ku ke Parkiran, saat itu juga Pak Kevin dan Mbak Meira berjalan berdua di depanku untuk menuju mobilnya.
“Nggak nyangka, akhirnya hatinya Pak Kevin luluh juga,
Alhamdulillah Ya Allah, aku seneng banget,” gerutuku dalam hati.
“Mereka terlihat sangat cocok,” pujiku pada mereka.
“Hhhmmm, apa lagi anaknya sangat cantik dan baik, tapi
sayang, Abay sudah tidak lagi berteman dengan Revina, hhmmm, segitu bencinya kamu sama saya Pak, sampai Abay dan Revina ikut-ikutan jadi korban nya,” gumamku dalam hati.
Ku masukkan barang belanjaan ku ke dalam mobil. Adzan magrib sudah berkumandang.
“Kok cepet banget ya, nggak berasa,” ucapku.
Setelah semua barang ku masukkan dalam mobil, aku bergegas
untuk masuk ke dalam mobil dan menancap gas mobil Naufal untuk pulang.
.
.
.
.
.
.
.
Di perjalanan, aku masih kepikiran dengan mereka. Yahh Pak
Kevin dan Mbak Meira.
Padahal dulu Pak Kevin sangat tidak menyukai Meira, tapi
sekarang masalah takdir dan hati tidak ada yang tahu, ehh sekarang mereka malah sudah punya anak seumuran anak ku.
“Hehehem, kira-kira mereka kapan yah menikah, kok anaknya
bisa seumuran Abay??” ucapku sendirian dalam mobil.
“Pasti udah lama banget mereka menikah, huuumm, dunia sempit banget, padahal kan Pak Kevin selalu berusaha menghindar dari aku, malah anak kita yang temenan, hehehem, lucu ya,” kataku sambil melamun melihat jalanan.
Tiba-tiba…….ciiiitttttt…..
Aku menancap rem mendadak.
“Astagfirullah,” kataku.
Hampir saja aku menabrak burung. Karena aku tidak melewati
jalan kota, aku lebih memilih lewat jalan dalan karena menghindari kemacetan agar segera pulang juga bertemu dengan Abay.
“Huuuuftttt, hampir aja, aku nabrak tadi,” gumamku.
“Giaaaa, fokus Gi,” sambungku lalu ku tancap gas mobilnya
kembali.
Sesekali ku lihat ponselku, aku berharap mendapatkan notif
dari Mamaku.
Namun hasilnya, tidak. Mamaku belum meneleponku.
“Huuumm, Mama kok belum video call atau nelfon aku gitu,”
ucapku.
“Apa Papa masih tidur ya dari tadi,” kataku dalam mobil.
Akhirnya ponselku pun berdering, namun bukan dari Mamaku,
tapi dari suamiku.
Langsung ku terima panggilan telepon dari suamiku.
“Hallo, Asalamu;alaikum Mas,” salamku.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Naufal.
“Sayang, kamu dimana ini sekarang??” tanya Naufal.
“Aku masih di perjalanan pulang Mas, baru aja pulang dari
belanja,” jawabku.
“Ooooh ya udah, kirain kamu udah di Rumah, aku ahbis ini
pulang kok Sayang, tennag aja, tunggu aku ya…..aku nggak akan biarin kamu nahan rindu terlalu lama ke aku, heheheh,” canda Naufal.
“Iiiih kamu ah, apa sih Mas,” ucapku malu-malu.
Naufal malah menertawakanku.
Bersambung.........
__ADS_1