
Aku dan Bi Sarah kembali menghampiri Naufal dengan membawa baju-baju yang kami pilih tadi.
"Udah?" tanya Naufal.
Aku hanya menganggukkan kepalaku saja pada Naufal.
"Ya udah ini semuanya Mbak," kata Naufal.
"Baik Pak," jawab pegawai itu sambil mengambil baju yang ku bawa dan di bawa oleh Bi Sarah.
"Silahkan bisa di tunggu dulu," tutur pegawai itu sambil tersenyum pada Naufal.
Kami duduk bertiga sambil menunggunya sebetar saja.
"Mbak, kok pegawai nya dari masuk sampai ini tadi lihatin Mas Naufal ya," bisik Bi Sarah padaku.
"Oh iya Bi, soalnya semua udah kenal sama Mas Naufal begitu juga keluarga Mas Naufal," jawabku dengan lirih.
Tak lama kemudian, Aku dan Naufal berjalan ke kasir untuk membayar baju yang kami beli tadi.
Setelah membayar, Bi Sarah berjalan menghampiri kami, mmebawakan 6 kantung kardus yang dibawa Naufal.
"Makasih Pak Naufal dan Mbak Gia," ucap semua pegawai disana.
Naufal dan aku hanya tersenyum pada mereka.
Kami berjalan keluar dari Butik, lagi-lagi aku mendengar desis dari para pegawai di dalam Butik.
Kami berjalan masuk ke mobil. Dan Naufal kembali melajukan mobilnya.
Hari pun sudah mulai petang, Naufal mempercepat laju mobilnya.
"Bi, sebenarnya ini tadi Naufal mau ngajak Bibi makan di luar kalo pulangnya kita masih sore, ini kan mau magrib jadi kita beli makan aja terus kita makan di Rumah sama-sama ya Bi, karena kalo kata orang jawa pas hamil tua gak boleh keluar malam," kata Naufal sambil melirik Bi Sarah dari pantulan kaca.
"Oh iya Mas ndak papa, memang baiknya seperti itu Mas, Bibi dulu juga begitu Mbak, apalagi Mbak Gia hamil anak pertama," kata Bi Sarah.
"Berhubung ini udah jam 5 kita beli makan di Resto aja ya Bi," tutur Naufal.
"Iya Mas," jawab Bi Sarah.
Mobil Naufal melaju menuju sebuah Resto.
.
.
.
.
Sedampainya di Resto, Bi Sarah dan Naufal saja yang turun.
"Kamu di mobil sini aja Sayang," tuturnya.
"Iya Mas, jangan lupa pesananku loh," kataku.
"Iya Sayang nggak lupa, aku turun sama Bibi aja," ucapnya.
Naufal dan Bi Sarah turun dari mobil.
Aku hanya memainkan ponselku saja dalam mobil.
Tiba-tiba aku mendapatkan sebuah pesan email.
"Gia, apa kabar?" @Riana456
Aku kaget mendapatkan pesan dari temanku waktu koas yaitu Riana.
"Ya Allah, ini Nana beneran," kataku dalam mobil sendirian.
"Aduuuuh udah lama banget dia hilang tanpa kabar," gumamku dalam hati.
Aku segera membalas pesan email dari Riana.
"Alhamdulillah baik Na, kamu sendiri gimana kabarnya?" @GiaAzm_
Setelah ku tunggu-tunggu balasan dari Riana, hampir setengah jam aku menunggunya, tapi Riana tak kunjung membalasnya.
"Gimana ya kabar Nana sekarang??? Lama banget nggak tau kabar dia, keberadaan dia, sosmednya juga udah gak ada, huuumm dasar Nana, hehem," kataku dalam hati.
"Apa dia sudah menikah ya?? Atau jangan-jangan dia menikah sama Rama," tebakku dalam hati.
Aku kaget tiba-tiba Naufal dan Bi Sarah membuka pintu mobil.
"Astagfirullah, kaget aku Mas," kataku.
"Kamu sih senyum-senyum sendiri sambil lihatin handphone kamu sampe nggak tau kalo aku sama Bibi jalan kesini," kata Naufal sambil memakai seatbelt.
"Waaaah Naufal kayaknya curiga ini, mau bilang sekarang tapi ada Bibi," gerutuku dalam hati.
"Udah ah nanti aja di Rumah, dari pada nanti saling ngeyel di depan Bibi kan nggak enak di liatnya," kataku dalam hati.
Naufal menancap gas mobilnya kembali.
Suasana kembali hening dalam mobil.
Aku mencoba mengirim pesan pada Naufal.
"Tumben diem-diem mulu," Gia.
Ponsel Naufal berdering, dia segera mengambilnya dan membaca pesan masuk dariku.
Naufal sedikit melirikku. Dan dia mulai membalas pesanku.
"Ada Bibi, mau romantis nggak enak," Naufal.
Aku menahan tawaku karena membawa pesan dari Naufal.
"Baru tau pertama ini kamu mati gaya," Gia.
Naufal melihat ponselnya kembali.
"Kamu seneng ya, awas aja nanti," Naufal.
Aku membaca balasan pesand dari Naufal sambil menoleh padanya.
Lebih baik aku tidak membalasnya.
Namun, Naufal mengirim kembali pesan WA padaku. Aku segera membuka isi pesan WA dari Naufal.
"Kenapa nggak di balas??? Kamu takut ya😆," Naufal.
Aku hanya diam dan memalingkan wajahku ke luar jendela mobil.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Tak lama kemudian, akhirnya kami sampai di Rumah.
Mobil Naufal melaju masuk ke halaman Rumah setelah gerbang di buka oleh Pak Joko.
Mobil Naufal langsung di masukkan ke dalam garasi.
Setelah mesin mobil telah mati, kami segera keluar dari mobil.
Bi Sarah dan Naufal membawa semua barang belanjaan kami.
Kami bertiga masuk ke Rumah melewati pintu samping.
***(Di Ruang Tamu)
"Bi, nanti abis sholat magrib, semuanya di suruh makan malam bareng ya," tutur Naufal.
"Iya Mas," jawab Bi Sarah.
"Naufal sama Gia mau sholat dulu di atas Bi," kata Naufal.
"Iya Mas, monggo monggo," ucap Bi Sarah.
Aku dan Naufal naik ke atas membawa gamis dan baju kurta belanjaanku tadi, sedangkan Bi Sarah membawa bajunya dan makanan yang kami beli di Resto tadi.
***(Di Kamar)
Naufal segera masuk ke kamar mandi, sedangkan aku berjalan ke Ruang Ganti Baju.
Setelah selesai mengganti bajuku, aku bergegas mengambil air wudhu.
Setelah berwudhu, kami langsung melaksanakan sholat magrib berdua.
.
.
.
Tak lama kemudian, kami selesai sholat, kami menyempatkan untuk mengaji bersama sebentar.
Semenjak usia kehamilanku menginjak 5 bulan, Naufal dan aku menyempatkan untuk mengaji bersama.
.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, setelah selesai mengaji, aku mengembalikan kembali sajadah, mukenah, dan sarung yang baru saja kami pakai.
"Sayang ayo turun," ajak Naufal.
"Iya Mas bentar, ambil kerudung," jawabku sambil mencari-cari kerudungku.
Setelah ku dapati tumpukan kerudung yang biasanya ku pakai di dalam Rumah saja, ku ambil satu kerudung tersebut dan segera ku kenakan untuk menutupi rambutku.
"Iya," jawabnya.
Aku dan Naufal menuruni anak tangga sambil membawa 4 kantung kardus baju kurta.
***(Di Ruang Makan)
Kami melihat semua pekerja yang bekerjad di Rumah kita sudah menunggunya.
"Nunggu dari tadi ini," kata Naufal sambil menarik kursi untukku.
"Enggak kok Mas, kita baru saja berkumpul disini," jawab Bi Sarah.
"Waduh udah siap semua ini," ucap Naufal sambil duduk di sampingku.
Dari roti maryam, cheese burger, kepiting pedas, kornet sapi, pizza, dan menu makanan lainnya.
Naufal membagikan satu persatu baju kurta pada Pak Rusdi, Pak Joko, dan dua pekerjanya.
"Makasih Mas," ucap Pak Rusdi.
"Makasih Pak," kata Pak Joko dan dua pekerjanya.
"Iya sama-sama," jawab Naufal sambil tersenyum pada mereka.
"Ya udah sekarang kita makan dulu, mari makan makan," kata Naufal memeprsilahkan kami semua untuk makan.
Sambil makan kami sambil berbincang-bincang.
"Pak, nanti kalo Ibuk melahirkan, disini atau disana Pak?" tanya Pak Joko.
"Di sana Pak," jawab Naufal.
"Disana sampai kapan Pak?" tanya Pak Joko lagi.
"Sampe 3 bulan mungkin Pak," jawab Naufal sambil melihatku.
"Rumahnya sepi Mas jadinya hehehe," sahut Pak Rusdi.
"Masih ada Bibi disini, dan saya juga pasti sering pulang, karena kan pekerjaan nyad disini," kata Naufal.
Kami berbagu cerita dari satu per satu pekerja Naufal, apalagi dua satpam baru Naufal yang belum menikah, aku sangat tertarik dengan kisah percintaannya sampai kami tertawa terbahak-bahak mendengar ceritanya.
.
.
.
.
.
Hari sudah semakin larut malam, Naufal mengajakku untuk segera beristirahat.
"Ya sudah silahkand di lanjutkan ya, saya sama Gia mau istirahat dulu," ucapnya.
"Iya Mas," jawab mereka.
Aku dan Naufal berjalan menaiki anak tangga menuju kamar.
__ADS_1
***(Di Kamar)
Aku dan Naufal bergegas mengambil air wudhu, lalu melaksanakan sholat isya'.
Tak lupa kami juga melakukan rutinitas kami setiap malam dengan cuci muka dan gosok gigi.
Setelah sholat, Naufal mematikan lampunya.
Tubuhku sudah berbaring di atas ranjang dan Naufal menyusulnya.
"Mas tadi Bibi tanya sama aku," kataku.
"Tanya apa?" kata Naufal.
"Tadi kan Bibi bisikin aku gini, Mbak, Mas Naufal dari tadi awal masuk Butik sampe sekarang di lihatin terus sama pegawai-pegawai nya gitu, terus aku jawab gini, iya Bi soalnya disini udah kenal banget sama Mas Naufal sama keluarganya juga gitu, padahal nggak gitu sebenarnya," ucapnya.
"Terus-terus Bibi tanya apa lagi?" tanya Naufal yang sedang berguling menghadapku.
"Ya udah cuman gitu doang," jawabku.
"Berharap banget di kepo in," kataku.
"Eh eh eh kok sewot," ucap Naufal.
"Kannn, padahal aku biasa aja loh," tepisku.
"Kamu cemburu kannnnnn," goda Naufal.
"Iiih enggak apaan, aku biasa aja sih, udah sering juga di gituin, ke tempat Spa Mama kamu, terus ke Butik itu, terus ke Hotel, udah biasa," kataku.
"Mengagumi seseorang itu wajar, kita, kamu, mereka pasti gak bisa kontrol," ucapku.
"Beda lagi kalo cinta, pasti aku udah cemburu, maka nya tadi aku terpaksa jawab gitu sama Bibi, dari pada nanti Bibi kasihan sama aku, padahal yang kayak gitu itu udah biasa bagi aku," kataku sambil melihat ke langit-langit atap.
"Iiiiihhh dewasa banget sih," ucap Naufal sambil meberantakkan rambutku.
"Kayak kamu nggak gitu aja Gi," ejek Naufal ganti.
"Kok aku? Emang aku pernah kayak gitu," kataku.
"Pernah, waktu di acara reunian temen kulihaku, terus waktu kamu koas," jawab Naufal.
"Waktu koas??? Perasaan enggak deh," ucapku.
"Kamu aja yang nggak tau, waktu koas kan banyak Dokter yang mondar mandir tuh, kalo di depan kamu aja mereka kelihatan Cool, tapi coba aja kalo di belakang layar, topiknya kamu terus sampe bosen dengerin tiap pagi sampe sore, heeesshh," kata Naufal.
"Baru tau aku, pasti kamu ngarang ya, biar aku juga kelihatan sama kek kamu," tebakku sambil menyipitkan kedua mataku.
"Iiih enggak ya, emang fakta kok, aku aja yang baru cerita sama kamu," bantah Naufal.
"Cemburu yaaaaa," godaku padanya.
"Enggak lah Gi," bantahnya.
"Ah masak??" godaku lagi.
"Kalo dulu enggak, kalo sekarang ya iya, tapi sekarang udah enggak soalnya udah pada tau kamu istriku," ucap Naufal sambil mengangkat kepalaku, dan menjadikan lengannya sebagai bantalku tiap malam.
"Terus tadi kamu ngapain hayo senyum-senyum sendiri sambil lihatin handphone kamu," kata Naufal.
"Kevin lagi?" tebaknya.
"Ya nggak lah, itu tadi temen aku koas dulu yang tergila-gila banget sama kamu, Si Riana, kamu inget nggak?" tanyaku.
"Riana??" Kata Naufal.
"Ooowhh yang biasanya sama kamu terus sama siapa lagi itu satu cowoknya, emmmm," ucap Naufal sambil mengingat-ingat.
"Rama?" kataku.
"Nah itu bener, kemana aja Gi mereka itu," tanya Naufal.
"Aku juga nggak tau Mas, setelah kita lulus koas, mereka berdua udah gak ada kabar, WA udah nggak aktif, IG nya udah nggak ada, eh tadi tiba-tiba Riana kirim pesan email sama aku, terus aku bales kan, eh sampe sekarang nggak dibales lagi," jawabku.
"Kasihan loh Mas, Rama itu," ceritaku.
"Kenapa emangnya??" tanya Naufal.
"Rama itu dulu sebenarnya suka sama Riana, tapi Riana nya ini nggak peka, terus yangd dibahas tiap kita koas itu cuman kamuuuuu mulu, setiap kali Riana cerita soal kamu ke aku, pasti dia seakan-akan kelihatan kek biasa aja gitu loh, tapi kadang dia juga kesel, padahal aku udah kasih kode-kode terus sama Riana, tapi Riana masih nggak kerasa tuh, kok bisa ya Mas," kataku.
"Ya bisalah Gi," ucapnya.
"Bentar, ini kok kayaknya memper-memper ceritanya sama kamu juga ya, sebelas dua belas, ya nggak sih??" tebakku.
"Apaan sih??? Ya nggak lah Sayang," bantah Naufal.
"Ya sama lah Mas, suka sama sahabat sendiri," kataku langsung to the point.
"Nggak lah, terus-terus Si Rama ngungkapin ke Riana nggak?" tanya Naufal.
"Eemmm......emmmm," suara ku hanya bergeming dan tidak menjawab.
"Kepo yaaaa, weeekk," ejekku padanya.
"Oooowwhh gitu, awas ya kamu," kata Naufal dan langsung mendekapku.
Aku jadi keinget sama pesan Naufal tadi di WA.
Dia sudah berada tepat di depan wajahku.
Deg deg.......deg deg.....
Lagi-lagi detak jantungku berdebar, pasti Naufal juga merasakan hal yang sama padaku.
Dia hanya menatapku sangat lama, lama-kelamaan aku tersipu malu atas tingkahnya.
"Mmm...Mas, jangan gini dong," kataku lirih.
"Kenapa?? Gak ada salahnya kan kit...," kata Naufal langsung ku bungkam dengan tanganku.
Aku tersenyum padanya, lalu ku angkat kepalaku dan aku mendaratkan ciuman di kening Naufal.
"Ini untuk malam ini, bobo ya, selamat malam Sayang," bisikku di telinga Naufal.
Aku langsung berbalik membelakangi Naufal karena aku sangat malu.
"Nggak usah malu, terusin aja manggilnya kek gitu," balas bisik Naufal di telingaku.
Aku berpura-pura tidak mendengarkan dan sudah memejamkan mataku.
Naufal menarik tubuhku sehingga sangat dekat dengannya.
Sepertinya dia sedang menertawakanku dalam hatinya.
Dia terus mengelus rambutku, sampai aku tertidur.
__ADS_1
Bersambung......
jangan lupa ajak temennya buat baca Novel ini hehehe