Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 226 (Permintaan Maaf Yang Kedua)


__ADS_3

Aku mengobrol banyak dengan Mama Feni. Mama Feni terus memberiku wejangan-wejangannya.


Aku tidak terlalu mempermasalhkan kejadian Mas Naufal dan Adiknya Abid, yaaa memang bagi orang lain iki bukan masalah yang sepele. Tapi aku tidak mau mencurigai suamiku sendiri.


Aku sudah terlalu lama menyiksanya dengan diriku yang tertutup ini padanya, sudah cukup. Aku tidak ingin berlanjut menyiksanya kembali.


Aku ingin percaya sepenuhnya padanya. Apapun itu aku akan terbuka padanya.


"Ma, makasih udah dengerin Gia ya," ucapku.


"Sering-sering cerita ya sama Mama, kelakuan Naufal apapun itu ceritakan ke Mama," tutur Mama Feni.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Setelah selesai di pijat oleh Koko, Mas Naufal kembali menemui kami, dan kini aku meninggalkan Mama Feni dan Mas Naufal berdua karena aku harus mandi.


Pasti sekarang ini Mama Feni sedang menegur Mas Naufal, pikirku saat menuju kamar mandi.


Dan ternyata benar, Mama Feni sedang memberi banyak nasehat pada Mas Naufal.


"Naufal, Mama mau bicara sama kamu," kata Mama Feni.


"Mama mau bicara apa?? Kok kayaknya serius banget," jawab Mas Naufal dengan santai dan duduk di sofa sebelah kursi Mama Feni.


"Kamu buat ulah apa lagi Nak sama menantu Mama??" tanya Mama Feni.


"Ulah?? Ulah apa Ma??" tanya Mas Naufal balik sambil mengernyitkan kedua alisnya.


"Sama Adiknya Abid, hm?? Ngapain kamu??" Mama Feni langsung terus terang.


"Mama kok tau?? Gia cerita sama Mama??" sambung Mas Naufal.


"Iya lah, sudah semestinya Gia cerita ke Mama, mengadu kelakuan anaknya ini, kamu ada apa sama Adiknya Abid?? Jujur Naufal," ucap Mama Feni dengan tegas.


"Nggak ada apa-apa Ma, Astagfirullah,"


"Mama curiga sama anaknya sendiri, Naufal nggak ada apa-apa sama Adiknya Abid," jawab Mas Naufal.


"Mama nanya Nak, Mama nggak curiga, kasihan istrimu jika kamu main dibelakang seperti itu," tepis Mama Feni.


"Main di belakang?? Mama kenapa sih?? Naufal nggak kayak gitu Ma, astagfirullah Mama...." ujar Mas Naufal.


"Naufal, manusia itu bisa berubah. Sekarang mencintai istrinya. Dan besok, dia bisa mencintai orang lain, jangan disepelekan. Apalagi godaanmu itu sangat banyak,"


"Bisa-bisanya kamu salah menggandeng, nggak logis. Mama nggak suka jika alasan kamu nggak tau kalo itu bukan istri kamu,"


"Dari kulitnya kan sudah terasa Naufal saat kamu memegang tangannya, alasan apa?? Sampai kamu salah loh,"


"Kamu jujur sama Mama, kamu ada main sama Adiknya Abid???" tanya Mama Feni menegaskan kembali karena tidak puas dengan alasan Naufal yang tidak tau kalo yang digandeng itu bukan istrinya.


"Ya Allah Mama......Naufal nggak ada main sama siapapun, entah itu Adiknya Abid, entah itu siapa. Nggak ada Ma, Mama tau sendiri kan Naufal gimana, Naufal nggak mungkin ngelakuin itu Ma," tepis Naufal lagi membela dirinya sekuat mungkin.


"Nggak ada yang nggak mungkin Nak, nggak ada,"


"Istrimu sangat baik, dan sangat mempercayaimu. Mama minta tolonggggg sekali sama Naufal, Mama mohon jangan sampai kamu sakiti dia,"


"Mama sudah mencoba menumbangkan rasa percayanya Gia sama kamu, tapi dia tetap kekeh jika kamu tidak mungkin melakukan itu, dan Gia tetap percaya sama kamu,"


Mata Mama Feni mulai berkaca-kaca saat mengatakan hal itu.


"Kamu beruntung memiliki Gia Nak, sangat beruntung," tutur Mama Feni.


"Jangan begitu lagi Nak, anak nya Mama ini sangat jelih, anak Mama ini tidak mungkin mengkhianati istrinya atau bahkan bermain gila," kata Mama Feni sambil meneteskan air matanya.


"Hati manusia itu mudah berubah Nak, kamu nggak bisa bilang jika kamu nggak mungkin melakukan itu, itu tergantung kamunya gimana Nak?? Kamu sudah tidak kecil lagi, Mama hanya bisa memberi nasehat seperti ini,"


"Mama sudah tidak bisa mengontrol kamu sedang dimana dan sama siapa?? Sudah tidak bisa, hidupmu sudah kamu tanggung sendiri. Jadi pilihan apapun yang kamu ambil, itu juga akan kamu pertanggung jawabkan sendiri Nak,"


"Itu sudah hidupnya Naufal," ucap Mama Feni sambil mengalir air mata di kedua pipinya.


"Kalo kamu menyakiti istri kamu, berarti kamu juga menyakiti Mama Nak, ingat itu," tutur Mama Feni.


Kemudian, aku kembali lagi menemui Mama Feni dan Mas Naufal.


Aku berpura-pura tidak tau jika Mama Feni menasehati Mas Naufal, padahal sebenarnya aku sudah tau.


"Nah ini kebetulan ada istri kamu juga, minta maaf lagi sama istri kamu di depan Mama Nak," tutur Mama Feni.


Aku kaget dengan ucapan Mama Feni, padahal Mama Feni sudah ku beritahu jika Mas Naufal sudah ku maafkan dan tidak begitu ku pikirkan lagi.


"Mmmm......Ma, tap.....tapi Mas Naufal sudah meminta maaf sama Gia Ma," jawabku.


"Mama pengen tau gimana Naufal meminta maaf ke kamu Nak, harus di depan mata Mama," ucap Mama Feni.


Tanganku di tarik oleh Mama Feni untuk duduk di sampingnya. Aku merasa sungkan kepada Mas Naufal karena sudah mengadukan ini pada Mama Feni.


Aku jadi salah tingkah di depan Mas Naufal.


"Ayo, minta maaf sama Gia Naufal," perintah Mama Feni.


Mas Naufal mulai meraih tanganku di depan Mama Feni, aku salah tingkah dan gelagapan sendiri saat itu.


"Mas minta maaf sama kamu, karena Mas sudah berbuat salah sama kamu, tapi Mas bener-bener nggak sengaja Sayang, Mas bener-bener nggak tau kalo itu bukan kamu,"


"Maafin Mas Sayang," ucap Mas Naufal sambil mengelus-elus tanganku.


Terlihat di wajah Mas Naufal saat meminta maaf padaku dengan sangat tulus dari lubuk hatinya, seperti saat dia meminta maaf padaku setelah melakukan kesalahan itu.


Dari matanya masih sama, ini yang membuatku tetap percaya padanya dan kekeh aku percaya padanya.


Aku menahan tangisku di depan Mama Feni.


"Mas tau, itu sangat menyakitkan buatmu, Mas tau Mas sudah menyakitimu, seharusnya Mas lebih peka lagi, di depan Mama, Mas bener-bener minta maaf Sayang,"


"Tapi percayalah, semua itu tidak sengaja Sayang, Mas tidak sengaja, dan di depan Mama juga, Mas ingin bilang......bahwa Mas tidak ingin menyakitimu, meskipun godaan pasti banyak, tapi pasti Mas kuat Sayang," sambung Mas Naufal lagi.


"Aku sudah memaafkan Mas Naufal, seperti yang pernah aku bilang, seorang istri tidak mungkin tidak memaafkan suaminya, dan itu aku Mas, aku istri yang seperti itu," jawabku sambil mengelus-elus tangan Mas Naufal kembali.


Mama Feni langsung memelukku dan menangis di pundakku.


Aku ikut menangis di pundak Mama Feni juga, terasa sangat erat pelukan Mama Feni, Mama Feni menangis terisak-isak mendengarkan aku telah memaafkan anaknya ini.


Memeluk Mama Feni bisa mengobati rasa rinduku pada Mama di rumah.

__ADS_1


"Terimakasih Nak, sudah sangat baik sama anak Mama, jika dia melakukan kesalahan lagi, tolong maafkan lah, jangan pernah tinggalkan dia," kata Mama Feni dengan lirih.


"Insya'Allah Ma, Insya'Allah," jawabku sambil mengelus punggung Mama Feni.


Dan Mama Feni melepas pelukannya padaku.


"Mama begitu care sama kamu Nak, apalagi saat Papa kamu meninggal, begitu sedihnya saat Mama kamu menceritakan sama Mama tentang kedekatan kamu dan Papa kamu dulu, uuuhhmmm, Mama sangat tersentuh....masih ada gadis seperti itu," kata Mama Feni.


"Mama kenapa sampai berfikir seperti itu sama Naufal?? Naufal nggak mungkin melakukan itu Ma," sahut Mas Naufal.


"Tidak ada yang tidak mungkin Nak," tepis Mana Feni dengan lembut.


Mama Feni memberi segudang nasehat untuk Mas Naufal di depanku. Mas Naufal mengangguk-angguk saat mnedengarkan nasehat itu. Sangat fokus dan menatap tajam kedua mata Mama Feni.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Beberapa jam kemudian, setelah suasana sedikit mencair dan tidak tegang seperti saat tadi.


Makanan datang kepada kami, Koko yang membawakan makanan itu.


"Ini Buk, makanannya datang," ucap Koko.


"Yang di depan udah semua??" tanya Mama Feni.


"Sudah Buk," jawab Koko.


"Ooo ya sudah, minumnya juga sudah??" tanya Mama Feni lagi.


"Sudah beres semua Buk," jawab Koko lagi.


Diam-diam Mama Feni menraktir semua karyawannya.


"Makasih Buk, saya perwakilan dari semuanya, hehehem," ucap Koko dengan sedikit dagelannya.


"Iya, sama-sama, sampaikan ke semuanya loh," tutur Mama Feni.


"Baikk Buk," ucap Koko dan kembali ke depan meninggalkan kami di ruangan ini.


Mama Feni membelikan kami masing-masing pizza besar beserta dengan minuman sodanya.


"Ayo Nak dimakan," tuturnya.


Kami pun menikmati pizza itu bersama.


"Kamu jarang ke rumah Mama kamu Gi??" tanya Mama Feni.


"Jarang Ma, kadang sebulan sekali Gia kesana," jawabku.


"Eemmmm syukurlah, sering-sering tengokin Mama kamu ya, kasihan kesepian," tutur Mama Feni.


"Biasanya juga wa an sama Mama," sambungnya.


"Iya Ma, Budhe nggak tega ninggal Mama sendirian, Johan kan juga kerja Ma, jarang di rumah, dari pada nanti Mama kenapa-napa, jadi Budhe yang mengalah," jawabku sambil menikmati pizza itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kira-kira jam 3 sore, kami berpamitan pulang.


Karena Mas Naufal yang akan berangkat kerja.


Mama Feni tetap disana, karena suntuk katanya di rumah ditinggal Papa Diki yang sibuk bekerja.


"Ma, Naufal sama Gia pulang dulu," kata Mas Naufal sambil bersalaman dengan Mamanya.


Aku pun juga begitu, lagi-lagi Mama Feni memelukku kembali.


"Hati-hati kalo bawa menantu Mama, nggak usah ngebut, hehehm," tutur Mama Feni.


"Iya iya Mama......siaapp, Naufal nggak akan apa-apain menantu Mama yang manja ini," ejek Mas Naufal.


"Hehehehem, Mas Naufalllll," kataku.


Kami juga berpamitan dengan beberapa karyawan Mama Feni disini, tak lupa kami wajib berpamitan dengan Koko yang gokil itu, hihihihi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sampainya di Rumah, Mas Naufal langsung bergegas mandi. Aku menyiapkan kemeja dan sepatunya.

__ADS_1


Saat aku tengah menyiapkan kemeja Mas Naufal, tiba-tiba nasehat Mama Feni yang mengusik otak dan pikiranku.


"Iya ya, benar juga kata Mama Feni, secinta-cintanya seseorang pasti pernah berbohong, nggak ada manusia yang sama sekali nggak punya titik hitam, nggak mungkin semua nya putih suci," gumamku dalam hati.


"Tapi dengan melihat Mas Naufal seperti itu, terkadang membuat rasa percaya ini semakin kokoh," kataku lagi dari hati.


"Ya Allah.......jika Mas Naufal berbohong padaku, tunjukkanlah kebohongan itu di depan mata kepalaku sendiri, tapi jika tidak....buatlah aku semakin percaya dan semakin mencintainya," gerutuku dalam hati.


.


.


.


.


.


.


.


.


Tak lama kemudian, Mas Naufal keluar dari kamar mandi sambil bernyanyi-nyanyi dan bersiul.


"Mass..kok siul-siul gitu, temennya setan tau," ucapku.


"Setannya ngikut kamu loh Sayang, hayooo," ucap Mas Naufal lagi.


"Nggak takut, weeekkk," jawabku lalu masuk ke kamar mandi meninggalkan Mas Naufal.


.


.


.


.


.


Selesai mandi, aku menyiapkan makan untuk Mas Naufal sebelum berangkat bekerja.


Di Dapur, ku buatkan capcai dan jus seledri untuknya.


Saat aku tengah menumis sayur mayurnya, Mas Naufal datang dari belakangku.


Menepuk pundak kananku, dan dia bersembunyi di kiriku.


"Ehehehem, Mas Naufal ada aja kayak anak ABG aja," kataku.


"Emang Mas masih ABG kok, weeekkk," jawab Mas Naufal.


Mas Naufal menompangkan kepalanya di pundakku dan melingkarkan tangannya pada pinggangku.


Aku langsung gelagapan dan malu jika ketahuan dengan Bi Sarah atau yang lainnya.


"Mas Naufal.....jangan gini," kataku.


"Hahahah, memangnya kenapa Sayang?? Sah sah aja lah," jawab Mas Naufal dengan entengnya.


Lalu Mas Naufal melepas pelukannya itu.


Mas Naufal sengaja mengerjaiku sore itu sambil terpingkal-pingkal menertawakanku.


"Mas nunggu di meja makan sana aja, jangan ikut-ikutan kesini," tuturku.


"Nggak mau, Mas mau nemenin kamu masak disini, makan nya juga mau disini sama kamu, gimana dong???" godanya di dekatku.


"Uuuhmm, Mau kerja juga manja-manja Mas ini," kataku.


"Justru itu Sayang, kan Mas mau pergi, jadi ya wajar kalo Mas lengket sama kamu," ucap Mas Naufal.


"Ya sudah, Mas duduk dulu aja, bentar lagi udah selesai kok, nanti aku temenin makan nya," tuturku.


Mas Naufal pun menurutiku dan dia duduk manis menungguku sambil melihatku bergelut di Dapur.


"Pantesan Mama Sayang banget sama kamu," ujar Mas Naufal.


"Memangnya kenapa Mas??" tanyaku.


"Aaaahh kepo kamu Sayang," jawab Mas Naufal.


.


.


.


.


.


.


.


Tak lama kemudian, ku siapkan satu porsi capcai dan segelas jus seledri untuk Mas Naufal.


"Nah, kamu duduk sini sebelahnya Mas, kita makan berdua," ujar Mas Naufal.


"Mas aja yang makan, aku masih kenyang tadi makan di tempatnya Mama," jawabku.


"Ya udah duduk manis temenin Mas sampe selesai makan," tuturnya.


Aku pun menuruti segala apa yang Mas Naufal mau, meskipun hanya sekedar menemaninya makan. Karenas sebenarnya Mas Naufal sangat tidak suka jika makan sendirian, jadi dia selalu meminta siapapun untuk menemaninya makan.


Aku hanya sanggup menatap Mas Naufal yang tengah makan tepat di depanku ini.


"Kamu mau Sayang?? Sesendok aja, ya," paksanya.


"Nggak ah Mas," tepisku.


"Ayolah Sayang, ya??" paksanya lagi.


Mas Naufal memberikan satu suapan capcai ke mulutnya, tapi ternyata.....sepertinya Mas Naufal sengaja membuat cemot bibirku.


"Eehe eh Mas nggak sengaja," ucapnya lalu mengusap cemot di bibirku sambil menatapku lama.


Deg deg.....deg deg.....


Jantungku berdebar-debar tak karuan.


"Udah bersih Mas," ucapku sambil memegang tangannya dan kujauhkan dariku.


"Hehehem, Mas sengaja tau buat drama kayak gini, biar romantis, hehehe," ujar Mas Naufal.


"Tuh kan, jail banget sama istrinya," kataku yang malu-malu.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2