
Sore nya, Naufal datang ke ruanganku tanpa membawa Jas
Dokternya.
“Loh Mas, kok belum siap-siap??" tanyaku.
“Sayang, maaf ya aku nggak bisa pulang dulu sama kamu,”
jawabnya.
“Haa? Kenapa? Kamu ada urusan lagi??” tanyaku sambil
mengernyitkan kedua alisku.
“Iya Sayang, tadi waktu sholat kamu rau sendiri kan, aku
tadi buru-buru banget sampe nggak ikut sholat jama’ah,” jawabnya.
“Oh ya udah gak papa kok, aku pulang naik ojol aja,” ujarku
sambil memasukkan sesuatu ke dalam tasku.
“Nggak, jangan, kamu bawa mobilnya aja,” jawab Naufal.
“Loh la terus kamu gimana??" tanyaku lagi.
“Aku annti gampang, kan aku nggak tau pulangku jam berapa,
biar aku aja yang pulang naik ojol, kamu jangan nanti bahaya,” tuturnya.
“Beneran kamu yang naik ojol??" tanyaku lagi untuk meyakinkan Naufal.
“Iya Sayang, mending aku yang naik ojol dari pada kamu,”
ucap Naufal.
“Ini kuncinya,” sambung nya sambil memberikan kunci mobil
miliknya padaku.
“Pulang langsung loh, jangan belok-belok,” tutur Naufal.
“Iya Mas, mau belok kemana coba, kamu ni ada-ada aja,”
kataku.
“Pinter banget istrinya Naufal,” canda Naufal sambil
mengelus-elus kepalaku.
Aku menyalami dan mencium tangan Naufal.
“Aku pulang ya Mas,” pamitku.
“Iya, nanti aku belum bisa kasih tau kamu loh pulangku jam
berapa, kayaknya malem, awas loh jangan ngebut-ngebut, pelan aja,” ucap Naufal.
“HHmm ya ya,” jawabku.
“Assalamu’alaikum,” salamku.
“Wa’alaikumsalam,” jawabnya.
Aku meninggalakan Naufal berada di dalam ruanganku.
Aku berjalan ke parkiran sendirian, dan Pak Bastian
menyapaku.
“Pulang sendiri Gi??" tanyanya sambil mengikutiku berjalan
di parkiran.
“Iya Pak, Mas Naufal ada urusan katanya,” jawabku.
“Nggak sama Pak Bastian ya,” tebak ku.
“Beda Gi, hehehem, suami kamu itu orang sibuk,” kata Pak
Bastian.
“Hehehehe,” aku hanya tersenyum pada Pak Bastian.
Kami berjalan berdua ke parkiran hingga menemukan mobil kami masing-masing.
Mobil Pak Bastian melaju lebih dulu dibanding mobilku, sesekali Pak Bastian mengklakson padaku.
Aku menyusul mobil Pak Bastian dari belakang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Di perjalanan aku melewati sebuah sekolah, di depan sana aku
melihat anak kecil yang sedang duduk sendirian, padahal Sekolahnya sudah sepi.
“Kok sepertinya aku kenal ya sama wajah anak itu??” gumamku dalam hati.
“Loh itu kan anaknya temennya Mas Naufal,” ucapku.
Mobil perlahan ku hentikan di depan sekolah itu.
Aku melihatnya lagi dari dalam mobil, aku ingin membuktikan
apakah itu benar-benar anaknya Mas Raka temennya Mas Naufal.
Dam ternyatabenar, meskipun aku belum tau nama anak itu,
tapi aku pernah melihat dia saat Mas Raka melakukan video call dengan Mas Naufal.
Aku turun dari mobil dan menghampiri anak itu.
“Hey, hallo,” sapaku dengan hangat padanya, agar dia tidak
takut padaku.
“Tante siapa??” tanyanya.
“Eemmmm…..Tante ini istrinya Om Naufal, kamu ingat nggak??” tanyaku.
“Om Naufal temen nya Papa??” tanya dia balik.
“Iya teman Papa kamu,” jawabku sambil mengangguk-anggukkan kepalaku.
“Kamu disini nungguin siapa?” tanyaku.
“Nunggu jemputan Pak Sopir Tante,” jawabnya.
“Eemmm…” aku melihat jalanan namun belum ada mobil yang
melintas dan hanya angkotan umum saja.
“Gimana kalo di antar sama Tante,” ucapku.
“Nggak mau Tante, aku nunggu disini aja, kata Mama aku nggak
boleh kemana-mana sampai Pak Sopir jemput aku,” jawabnya.
“Tapi ini udah sore loh, nanti kalo kamu kenapa-napa
gimana?? Nggak papa sama Tante aja, nanti Tante bilang ke Mama kamu,” bujuk ku.
“Nggak mau Tante,” jawabnya tetap kekeh menolakku.
NAmun aku tidak tega meninggalkan dia sendirian, apalagi dia
adalah anak dari temennya suamiku.
“Ya udah Tante temenin ya disini nunggu Pak Sopir,” ucapku
yang duduk di sampingnya.
.
.
.
.
.
.
Setengah jam kemudian, anak ini tidak kunjung dijemput.
“Sopir kamu belum jemput juga, mending di antar Tante ya,”
ucapku.
“Tenang aja, nanti Mama kamu nggak bakal marah, kan Mama
kamu teman Tante juga, ya,” bujuknya.
Dia hanya diam memperhatikanku.
“Kan kita udah nunggu lama nih disini, kasihan nanti kamu
nya kan pulang sekolah harus istirahat,” tuturku.
“Di antar Tante ya??” tanyaku.
“Ya udah aku mau Tante,” jawabnya akhirnya mau untuk ku
antar.
“Tapi kamu tau Rumah kamu dimana??” tanyaku.
“Tau Tante,” jawabnya.
“Ya udah sekarang masuk mobil Tante ya,” ucapku.
Kami berdua masuk ke dalam mobil. Mobil ku lajukan untuk
mengantar anak ini pulang.
.
.
.
“Loh kok ini kayak mengarah ke perumahan rumahnya Revina
temen Abay ya??” gumamku dalam hati.
“Ah nggak mungkin,” ucapku dalam hati sambil tetap fokus
menyetir.
.
.
Beberapa menit kemudian, kami masuk ke dalam sebuah
perumahan.
“Bener ini Rumah kamu??” tanyaku.
“Iya Tante,” jawabnya.
__ADS_1
Tapi untung saja, dugaanku salah, Revina dan anak ini benar
satu perumahan tapi dengan gang yang berbeda.
Anak ini menuntunku sepanjang perjalanan mengantarkan dia.
“Tante, nanti di depan ada Rumah gerbangnya hitam ya, itu
Rumahku,” ucapnya.
Perlahan laju mobilku berjalan.
“Ini gerbangnya yang mana?? Inia da dua??” tanyaku.
“Maju dikit lagi Tante,” jawabnya.
Mobilku berhenti di depan Rumah Mas Raka.
“Bentar, Tante antar kamu turun,” ucapku.
Aku menggandeng tangan anak itu dan dia membuka kan kunci
gerbangnya lalu menyuruhku untuk masuk.
Tok….tok….tok…..
Ku ketuk pintu Rumah itu.
“Assalamu’alaikum,” ucapku.
Tok….tok….tok…
Gleeekkkkkkk….
Aku tersenyum pada pria yang membukakan pintu untuk kami.
Deeeeegggggggg……
Aku langsung dia menghadap pria itu, aku berusaha untuk
tetap tersenyum padanya, namun pandanganku tajam menatapnya, pria itu juga sangat kaget saat melihatku tengah bersama anak ini.
Pria ini adalah Pak Kevin.
Pandangan Pak Kevin menjadi tidak menyenangkan dengan dua
alis dan keningnya yang tiba-tiba mengkerut melihatku.
Aku tidak mengerti kenapa aku bisa bertemu dengannya lagi,
apa hubungannya semua ini.
Kenapa ada Pak Kevin lagi.
Ku telan saliva ku pelan-pelan karena ingin membuka obrolan
dengan Pak Kevin.
“Eemmmm……..mmmmmm…..saya…sss….saya tadi nggak sengaja ketemu
dia di depan sekolahnya, jadi saya antar dia ke rumahnya,” ucapku sambil tersenyum gugup pada Pak Kevin yang menakutkan ini.
Aku berusaha biasa saja di depan dia. Bahkan dia tidak menjawabku malah tetap melotot padaku.
“Mika masuk,” ucap Naufal.
“Oooo jadi anak ini namanya Mika,” kataku dalam hati.
“Hehehehe, iya Mika masuk,” jawab Mika menyenangnkan.
“Makasih ya Tante sudah di antar,” ucap Mika.
“Tante nggak masuk dulu ke dalam,” kata Mika.
“Ememm…..Tante langsung pulang aja ya Mika,” kataku.
“Yaaah, ya sudah lain kali main ke Rumahku lagi ya Tante,”
ujar Mika.
“Agheemm….ii..iya Mika,” jawabku sambil bibirku gemetar.
Mika pun masuk ke dalam Rymahnya.
“Makasih,” ucap Pak Kevin.
Brraakkkk…..dia membanting pintunya kuat-kuat di depanku
samapai aku kaget berdiri tepat di depan pintu.
Ku tundukkan kepalaku.
“Aku salah apa ya sama Pak Kevin??” tanyaku dalam hati.
“Kok Pak Kevin bisa di rumahnya Mika??” tanyaku lagi dalam
hati.
Ku langkahkan kaki ku untuk kembali ke dalam mobil.
Di perjalanan aku masih memikirkan hal tadi.
“Ada hubungan apa ya Mika sama Pak Kevin, kok bisa??”
gumamku dalam hati.
“Mas Naufal kayaknya nggak tau deh soal ini,” ucapku sambil
menggigit jariku.
“Pak Kevin kelihatannya nggak suka banget sama aku, padahal
aku berusaha biasa saja pada beliau, aku punya salah apa lagi ya sama beliau??”
gerutuku dalam hati yang terus bertanya-tanya.
“Apa aku ngomong ajaya sama Mas NAufal,” kataku dalam mobil.
“Huuumm, nggak, nggak mungkin aku bahas Pak Kevin lagi sama
Mas Naufal,” ucapku.
sebenarnya.
“Apa Mika itu anak nya Pak Kevin ya???”
“Terus, Revina siapa nya??”
“Apa Pak Kevin punya dua istri???”
“Nggak, nggak mungkin pasti, tapi bisa juga sih,” gumamku
dalam mobil.
.
.
.
.
.
.
Hingga sampai di Rumah, dalam otakku masih terus
bertanya-tanya.
***(Di Rumah)
Ku parkirkan mobilku di depan Rumah.
Aku langsung masuk ke dalam Rumah, sampai lupa
takmengucapkan salam.
“Ma, Mama masuk tapi nggak ucapin salam??” tanya Abay yang
langsung menghampiriku.
“Oh ya, Assalamu’alaikum,” ucapsalamku sambil tersenyum
padanya.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Abay.
“Mama kenapa??? Pasti kerjaan nya banyak ya hari ini??’
tanya Abay yang sepertinya mengerti dengan raut wajahku yang sedang banyak
pikiran.
“engg….enggak Nak enggak, Mama biasa aja, nggak lagi banyak
pikiran kok,” jawabku.
Abay berjalan keluar sambil mengintip ke dalam mobil.
“Ma, Papa kemana?? Kok Mama nggak pulang sama Papa??” tanya
Abay.
“Papa masih sibuk Nak, jadi belum bisa pulang, Mama pulang
sendiri,” jawabku.
“Emmmm,” jawab Abay langsung berlari kembali ke kamarnya.
Aku menyusul Abay untuk ke kamar ku sendiri.
***(Di Kamar)
Aku langsung melepas kerudungku dan bergegas masuk ke dalam
kamar mandi.
.
.
.
.
.
Setelah mandi, ku keringkan rambutku dengan hair dryer
sambil duduk di depan kaca riasku.
Aku kembali memikirkan hal yang seharusnya tidak ku
pikirkan, tapi aku sangat penasaran.
“Kenapa Pak Kevin tetap marah sama aku?? NAnti bisa-bisa
Mika nggak boleh ketemu lagi sama aku, tapi kan itu anaknya Mas Raka,” gumamku
didepan kaca.
“Aaarrrgghhh, sudah lah, bukan urusanku,” ucapku.
Menunggu rambutku kering.
Adzan Magrib berkumandang, namun Naufal tak kunjung pulang.
Sepertinya dia sangat sibuk.
“Allahuakbar…….Allahuakbar,”
Abay masuk ke dalam kamarku.
“Ma, Papa belum pulang??” tanya Abay.
“Belum Nak, kayaknya Papa pulangnya malam, Mama nggak tau,
__ADS_1
dan Papa juga nggak tau,” jawabku.
“Yaaaah, nggak bisa makan malam barengan dong Ma,” ucap
Abay.
“Kayaknya mala mini nggak bisa Nak,” kataku.
“Hhhmm, ya sudah Ma,” jawab Abay pasrah.
“Sholat gih Sayang,” tuturku pada Abay.
“Mama sudah sholat??’ tanya Abay.
“Belum, ini Mama mau wudhu,” jawabku.
Abay pun kembali ke Kamarnya, aku bergegas mengambil air
wudhu.
Dan segera melaksanakan sholat magrib seorang diri di kamar.
.
.
.
.
.
Setelah sholat, aku mengaji bersama Abay berdua.
Abay tampaknya gelisah karena Papa nya belum pulang-pulang.
“Abay, kenapa?? Nungguin Papa??” tanyaku.
“Iya Ma, Papa pasti lama,” jawab Abay.
“Tapi Papa pasti pulang kok Nak,” bujukku.
.
.
.
.
.
Setelah mengaji, aku mengajak Abay turun untuk makan malam.
Abay terus saja memandangi wajahku, otakku terus
bertanya-tanya tentang siapa Mika, Mas Raka dan Pak Kevin sebenarnya.
“Mama,” panggil Abay.
“Mama kenapa ngelamun?” tanya Abay.
“Oh emm….nggak papa Nak, Mama kayaknya ngantuk deh,” jawabku
terpaksa berbohong pada Abay.
“Yakin Mama hanya ngantuk??” tanya Abay lagi dengan benar
menatap kedua mataku.
“Iya Nak,” jawabku.
***(Di Ruang Tamu)
Bi Sarah menyiapkan makan malamnya.
“Yang lain kemana Bi??’ tanyaku.
“Yang lain katanya nanti malam mau masak-masak sendiri Mbak,
jadi nggak ikut makan malam,” jawab Bi Sarah.
“Mas Naufal nya dimana Mbak?? Kok nggak hadir sendiri?”
tanya Bi Sarah balik.
“Mas Naufal masih sibuk Bi, belum bisa pulang,” jawabku.
“Berarti makan nya cuman 3 orang saja ini Mbak, hehehem,”
ucap Bi Sarah.
“Iya Bi, hehehe, mau gimana lagi?? Nggak ada member nya yang
lain,” candaku.
Kami pun menikmati makan malam hanya bertiga saja, tidak
seperti biasanya.
“Ma, nanti Mama setelah sholat isya’ langsung tidur ya,”
ucap Abay.
“Hehehem, kenapa??’ tanyaku smabil mengernyitkan kedua
alisku.
“Kan tadi Mama katanya ngantuk,” ucap Abay.
“Hehehe, iya iya, duuh anak Mama pengertian banget,” pujiku.
“Abay juga, habis sholat isya’ harus langsung tidur, TV sama
Ps nya di matiin, ya,” tuturku ganti.
“Hehehe, iya Ma,” jawab Abay.
.
.
.
.
.
Selesai habis semua makanan kami santap bertiga, NAufal
masih belum pulang.
Aku berbincang-bincang sebentar dengan Bi sarah di Ruang
Makan sambil emnunggu adzn isya’.
.
.
.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, akhirnya adzan isya’ pun
berkumandang.
“Udah isya’, waktunya sholat,” kataku.
“Ma, Abay ke atas dulu ya,” ucap Abay.
“Iya Nak,” jawabku.
Aku membereskan piring-piring kotor dan juga gelas.
“Aduuuh Mbak, ndak usah, annti baju nya kotor, biar Bibi
saja,” ucap Bi Sarah.
“Ahehehe, nggak papa Bi, Gia juga nggak lagi ngapa-ngapa in
kok, biarin Gia bantuin Bi sarah nyuci ini semua,” kataku.
“Ndak udah Mbak, ini sudah tugas Bibi,” ucap Bi Sarah.
“Bibi….nggak papa, Gia yang mau sendiri,” paksaku.
“Ya sudah Mbak kalo begitu,” ucap Bi Sarah.
Di Dapur aku membantu Bi Sarah mencuci piring dan semua alat masak.
.
.
.
.
.
Tak lama kemudian, kerjaan ku dan Bi Sarah selesai.
“Huufftt, bersih sudah Bi,” ucapku.
“Makasih Mbak sudah di bantuin Bibi, seharusnya tidak usah
Mbak nggak papa,” ujar Bi Sarah.
“Aaagghh nggak papa Bi, jangan gitu,” kataku.
“Gia ke atas ya Bi, Bibi istirahat,” tuturku.
“Hehehehe, enggeh Mbak (Iya Mbak)” jawab Bi Sarah.
.
.
.
.
.
Aku kembali ke Kamarku untuk sholat isya’.
.
.
.
.
.
Beberapa jam kemudian, sudah pukul 9 malam, Naufal belum
juga menemui ku di Kamar.
***(Di Kamar)
“Huuumm, Mas Naufal kok belum pulang-pulang ya, terakhir kasih kabar ke aku tadi pas magrib,” kataku.
Aku memutuskan untuk tidur saja terlebih dahulu meninggalkan
Naufal.
Ku rebahkan tubuhku di Ranjang, dan ku Tarik selimut tebal.
“Uuummm, enaknya Ya Allah,” ucapku saat sangat nyaman berada di atas ranjangku ini.
__ADS_1
Bersambung.....
Hayoooo yang rindu sama Pak Kevin siapa??? hehehe