Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 15 (Tamu dari Luar Kota 2)


__ADS_3

Gia berusaha rileks dan tenang, agar Papanya tidak khawatir padanya. sesekali Gia menatap ke arah Mamanya.


"Papa beneran? Ini hadiah untuk Gia?" tanya Gia dengan membulatkan kelopak matanya dan menciutkan bibirnya.


"Iya Nak, dulu Papa pernah bilang sama Gia, bahwa nanti Gia akan Papa nikahkan dengan Pria pilihan Papa," kata Papa Gia dengan suara sangat halus.


"Ii...iya Pa Gia ingat," jawab Gia dengan gugup karena Gia sangat kaget begitu cepatnya hari yang ditakuti Gia akan datang.


"Gia gak papa kan, Gia menerimanya?" tanya Papa Gia.


"Gi...Gia, ee Papa Gimana? kalo menurut Papa dia baik dan cocok untuk Gia, Bismillah Gia akan menerimanya," jawab Gia dengan meremas-remas gamisnya.


"Gia gak lagi punya pacar kan Nak?" tanya Mama Gia.


"Enggak lah Ma, kan Papa melarang Gia pacaran," jawab Gia dengan senyumnya.


"Papa makasih banyak sama Gia, Gia udah jadi anak yang baik untuk Mama dan Papa. Papa bangga sama Gia," ucap Papa Gia yang langsung memeluk Gia dan mengelus-elus kepalanya.


Gia balik memeluk Papanya.


"Ya Allah, jika memang ini jalanMu, ini ridhoMu, ini yang membuat mereka bahagia, dan jika memang Gia harus mengubur bahkan membuang perasaan Gia untuk ke sekian kalinya, Insya'Allah Gia ikhlas, Gia hanya ingin mereka bahagia, karena hanya ini yang bisa Gia lakukan untuk mereka, mungkin memang ini yang terbaik untuk Gia Ya Rabb," ucap Gia dalam hati dengan meneteskan air matanya. Lalu melepas pelukan dari Papa nya.


"Gia, kamu nangis Nak?" tanya Mama Gia sambil memegang kedua pipi Gia.


"Gia terharu aja Ma, Gia bersyukur punya orang tua seperti Mama dan Papa," ucap Gia sambil menghapus air matanya.


"Papa do'ain semoga Gia nanti bahagia selalu," kata Papa Gia yang mencoba menghibur Gia.


"Ah Papa bisa aja, kan dari dulu sampai sekarang Gia bahagia," rengek Gia dengan manja.


"Ya udah Pa, Gia mau ke Bi Sarah," ucap Gia.


"Iya Nak, mungkin Bibi di dapur tadi masak," sahut Mama Gia.


Gia berjalan ke dapur.


***(di Dapur)


"Bi," panggil Gia.


"Ada apa Mbak Gia?" jawab Bi Sarah yang sedang membilas tangannya.


"Bibi nanti ke kamar Gia ya, Gia mau cerita banyak sekali sama Bibi," ucap Gia yang ingin terlihat sangat bahagia.


"Baik Mbak Gia," jawab Bi Sarah.


"Gia tunggu di kamar ya, nanti Bibi langsung masuk aja," kata Gia sambil meninggalkan dapur.


Gia menunggu di balkon kamarnya.


***(di Kamar Gia)


Gia duduk-duduk di balkon kamarnya sambil membaca koleksi majalahnya.

__ADS_1


Ceklek...Suara pintu kamar Gia terbuka.


"Mbak Gia," panggil Bi Sarah.


"Sini Bi duduk sini," ucap Gia sambil meletakkan majalah yang habis dibacanya.


"Mbak Gia mau cerita apa sama Bibi?" tanya Bi Sarah.


"Bibi tau nggak kenapa hari ini Bibi disuruh Mama masak banyak?" tanya Gia balik.


"Ibuk hanya bilang nanti ada tamu dari luar kota Mbak Gia," jawab Bi Sarah.


"Sebenarnya nanti tamu yang datang adalah keluarga dari Pria pilihan Papa yang akan melamar Gia Bi," ucap Gia dengan datar.


"Masya'Allah Mbak Gia, Gusti Alhamdulillah," kata Bi Sarah langsung memeluk Gia.


"Bibi senang ya?" tanya Gia di pundak Bi Sarah.


Mereka melepas pelukannya dan saling berhadapan satu sama lain dengan posisi tangan saling memegang.


"Bibi senang jika Mbak Gia juga senang, Mbak Gia senang atas berita ini?" tanya Bi Sarah.


"Gia...Gia senang Bi bahkan Gia bahagia banget," kata Gia sok bahagia karena ingin terlihat bahagia di depan orang-orang yang disayanginya termasuk Bi Sarah.


"Ya udah Bibi ke dapur dulu ya Mbak Gia, mau masak yang sangat enak buat calon suami Mbak Gia," ucap Bi Sarah yang sebenarnya tau akan isi hati Gia.


Bi Sarah meninggalkan kamar Gia.


Adzan magrib berkumandang, seperti biasa yang Gia lakukan di kosnya, Gia bergegas wudhu dan sholat.


Tok...tok..tok.


"Kak," panggil Johan.


"Masuk Dek," jawab Gia.


"Tumben kamu ke kamar Kakak?" tanya Gia pada Adiknya.


"Kakak baik-baik aja kan?" tanya Johan balik.


"Iiiihh kenapa kamu tiba-tiba tanya gitu sama Kakak," ucap Gia yang tak ingin memperlihatkan kehancuran hatinya.


"Johan khawatir sama Kakak," rengek Johan.


"Lihat nih Kakak baik-baik aja kan," jawab Gia sambil menggelitiki perut Johan.


"Iiiih Kak geli tau, Johan serius nih," gertak Johan.


Gia menghentikan gelitikannya.


"Apa sih Dek, masih kecil baru juga lulus SMA, udah sana fokus aja sama tes kamu masuk PTN pilihan Papa," ejek Gia.


"Kak, dengerin Johan," kata Johan menarik kedua tangan Gia dan ditaruh di pangkuannya.

__ADS_1


"Iya ini Kakak dengerin," jawab Gia yang mendekatkan wajahnya pada Johan.


"Kakak memangnya sudah tau Pria itu siapa? Apakah Kakak sudah mengenalnya? Apakah Kakak akan mencintainya? Apakah Kakak akan menerima bagaimanapun sifat dan perilakunya? Apa Kakak yakin?" tanya Johan yang sangat khawatir pada Kakaknya.


Gia tersenyum pada Johan dan menghembuskan nafasnya.


"Huftttt gini ya Dek, sebenarnya belum saatnya kamu mendengarkan tentang ini, tapi kamu memaksa Kakak untuk menceritakannya, namanya di jodohkan berarti sama sekali Kakak belum mengenalnya, nanti Kakak dan dia akan menjalani proses Ta'aruf, Bismillah Kakak akan menerima Pria pilihan Papa, dan seiring berjalannya waktu pasti Kakak akan mencintainya, dan Insya'Allah Kakak yakin akan menerima dia dengan segala sifat dan perilakunya," jawab Gia sambil menepuk-nepuk tangan Johan.


"Memangnya pasti bisa ya Kak?" tanya Johan lagi.


"Itu pasti, logikanya 2 insan dipertemukan, dan menjalin suatu hubungan serta terikat dalam pernikahan, hidup bersama satu atap, tidur bersama, setiap hari melihat wajahnya, setiap sisi rumah ada dia, pasti bisa. Kalo kata orang-orang cinta datang karena terbiasa, cinta datang tanpa di rencanakan, jadi kapan cinta datang, siapa orangnya, kita tidak tau. Kata siapa di jodohkan gak enak, jika kita menikmati prosesnya dan ikuti alurnya pasti bahagia, karena ridho orang tua itu ridho Allah juga Dek," kata Gia.


"Makanya kenapa dari dulu Kakak selalu menurut sama Mama dan Papa, Kakak rela mengurungkan semua ego Kakak demi mereka, dan Alhamdulillah bisa jadi sampai seperti sekarang ini," ucap Gia lagi yang sedikit-sedikit menasehati Adiknya.


"Kakak kuat banget ya," ucap Johan.


"Kayak kamu nih, kan kamu di suruh Papa ke PTN pilihannya, ya kamu nurut aja, jangan pernah membantah kata Mama sama Mama selagi itu positif dan gak merugikan kamu, dan kamu kalo mau lakuin ya jangan merasa terpaksa apalagi tertekan," tutur Gia sambil mengacak-acak rambut Adiknya itu.


"Ah Kakak, berantakan kan jadinya," rengek Johan.


"Tuh udah adzan magrib, sholat sana," kata Gia.


Johan meninggalkan kamar Gia, Gia bergegas mengambil air wudhu lalu sholat dan mengaji.


Beberapa menit kemudian. Mama Gia masuk ke kamar Gia.


"Gi," panggil Mama Gia.


"Cepat ganti baju, tamunya udah nunggu di bawah," ucap Mama Gia.


Deeegg....hati Gia bergetar, Gia bingung apa yang harus dia lakukan.


"Ii..iya Ma, bentar Gia ganti baju dulu," jawab Gia terbata-bata.


Mama Gia duduk di kasur untuk memilihkan khimar yang akan dipakai Gia. Mamanya memilihkan satu set khimar berwarna abu-abu.


"Bagus," ucap Mama Gia yang sedang melihat Gia berdiri mengenakan khimar yang dipilihnya.


"Ma, Gia grogi," ucap Gia.


"Bismillah Nak," jawab Mama Gia.


Setelah selesai, Gia turun bersama Mamanya. Gia hanya bisa menundukkan kepalanya dari mulai keluar kamar sampai turun ke Ruang Tamu.


***(di Ruang Tamu)


Deg..deg...deg.


    Gia duduk di tengah-tengah Papa dan Mamanya, Gia memandangi satu per satu tamu Papanya, dan Gia menyalami Om Diki dan Tante Feni . Gia terkejut dengan Pria yang duduk di sebelah Om Diki.


    Gia duduk kembali dan tetap melihat Pria itu. Gia sangat kaget.


Bersambung.....

__ADS_1


Jangan lupa kakak selalu tunggu episode selanjutnya ya.


terima kasih, jangan lupa juga untuk selalu like,coment, dan vote.🙏😁


__ADS_2