Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 92 (Susi & Pak Bastian)


__ADS_3

Setelah mandi, rupanya Naufal sudah ada di dalam kamar.


Naufal keluar dari ruang ganti baju.


"Kok cepet tadi?" tanyaku.


"Cepet lah Sayang, besok mereka udah bisa langsung kerja," jawabnya.


"Temennya Pak Joko ya itu Mas," tebakku.


"Kok kamu kepo in mereka??" tanyanya sambil menaikkan satu alisnya.


"Aaaarrrgggh, nggak jadi," kataku.


"Hehehehe, aku takut nanti kalo kamu tanya-tanya tentang mereka, kamu jatuh cinta sama mereka, gimana??" tanyanya.


"Ya nggak lah, iiihh kamu ini kenapa sih, ha?? Mikirin apa sih, ngaco dasar," kataku.


"Bisa aja lah, dia kan seumur kamu kayaknya, tapi agak tua satu tahunan dari kamu," ucap Naufal.


"Tau ah, gak ngomong sama kamu Mas," kataku sambil berjalan ke ruang ganti baju meninggalkan Naufal.


"Sayang, aku cuman takut, dan ngasih tau kamu aja, kalo udah terlanjur masuk di hati aku, gak akan bisa keluar, karena aku gak ada pintu keluarnya, xixixiix," goda Naufal dengan sedikit teriak agar aku mendengarnya.


Aku tersenyum-senyum sendiri, lalu kembali menghampirinya.


"Lalu kenapa Vela bisa keluar kalo gak ada pintu keluarnya??" kataku sambil menjinjitkan kedua tumitku agar agak tinggi sepadan dengannya.


Kami saling bertatap, wajah Naufal semakin mendekat dan mendekat ke wajahku. Sebenarnya aku tau apa yang akan di lakukannya padaku.


"Huuufftt, capek kakiku jinjit terus," keluhku.


"Ayo jawab, gak bisa jawab kan Mas," ejekku.


Sekarang ganti Naufal yang mebungkukkan badannya ke arahku.


"Bisa, kata siapa? Kecuali kalo aku yang ngeluarin, jadi aku paksa, weekkk," ejek Naufal ganti.


Deg....deg....deg.


Mata kami benar-benar sangat dekat, dan Naufal juga kembali semakin mendekat.


"Eemmm Mas mandi dulu, gih," kataku gugup.


Naufal menaikkan sebelah bibirnya.


"Hahahhaa, ya ya ya, aku tau kali ini kamu lepas dari aku, lihat saja kamu Sayang," gumam Naufal dalam hati.


"Keburu ashar nya abis, aku dari tadi nungguin sholat agar kita bisa sholat jama'ah, berdua," ucapku sangat gugup karena Naufal tak kunjung menarik wajahnya kembali tegap.


"Oke," jawab Naufal yang menarik badannya kembali dan berjalan meninggalkanku ke kamar mandi.


"Huuuffttt, sesak banget, kenapa setiap kali aku dekat dengannya semakin aku jatuh cinta padanya," ucapku sendiri.


Sambil menunggu Naufal aku menyiapkan sajadah dan baju untuknya.


.


.


.


.


Beberapa menit kemudian, Naufal keluar dari kamar mandi.


Aku menunggunya sambil memainkan ponselku dan sudha memakai mukenah.


Setelah Naufal selesai mamakai bajunya, kami segera melaksanakan sholat berdua.


Setelah sholat, aku turun ke bawah untuk menyiapkan jamuan makan malam untuk kedua tamu istimewa yang semoga akan menjalin cinta sampai Jannah.


***(di Dapur)


Kebetulan ada Bi Sarah disana sedang menyiapkan buah-buahan.


"Udah semua Bi?" tanyaku.


"Udah Mbak, tinggal kolaknya aja," ucap Bi Sarah.


"Sini Bi, biar Gia yang panasin," kataku.


Bi Sarah menyiapkan satu panci kolak untuk ku panaskan sebentar.


"Bibi ngantar teh buat Pak Rusdi dulu ya Mbak," kata Bi Sarah.


"Iya Bi," jawabku sambil tersenyum padanya.


Ku aduk aduk satu panci berisi kolak yang baunya khas aroma pandan.


Tiba-tiba, Buuukkk.....


Ada yang melekat dari belakang tubuhku. Ternyata Naufal yang memelukku dari belakang.


"Mas, jangan gini ah," kataku sambil terus bergerak-gerak.


"Apa sih kamu, diem Sayang," tuturnya.


"Kamu tau tempat dong Mas, ini nanti kalo ada yang lihatin gimana," gerutuku.


"Sudahlah Sayang, 5 menit aja," paksanya.


"Lepas nggak Mas," kataku.


"3 menit deh," rayunya.


Bi Sarah berjalan ke dapur dan kaget melihat kami.


Naufal langsung melepas pelukannya.


"Oh ma..maaf Mbak, Mas, Bibi....nggak ini....nggak tau," kata Bi Sarah dengan gugup.


"Ketauan kan," bisikku lirih.


"Eeehmmm nggak kok Bi, Mas Naufal aja udah di bilangin Gia tapi masih tetep," kataku dengan polos.


"Abis kangen banget Bi," ucap Naufal.


"Aduh romantisnya Mbak Gia sama Mas Naufal, heemmm enak ya kalo masih muda," gumam dalam hati Bi Sarah.


Tak lama kemudian, adzan magrib berkumandang.


***(di Kamar)


Aku dan Naufal segera mengambil air wudhu. Lalu melaksanakan sholat magrib berdua.


Setelah selesai sholat, aku melipat kembali sarungnya.


Tak lama kemudian, Bi Sarah memanggil Naufal.


Tok...tok...tok


"Mas Naufal," panggil Bi Sarah dari luar pintu.


Naufal membuka pintunya.


"Mas Naufal di tunggu tamunya di bawah," ucap Bi Sarah.


"Iya Bi, nanti Naufal segera turun," kata Naufal.


"Makasih ya Bi," ucap Naufal.


"Enggeh (Iya) Mas," jawabnya.


Bi Sarah turun kembali ke bawah, Naufal kembali menutup pintunya.


"Siapa Mas?" tanyaku.


"Bastian mungkin, bilangnya Bi Sarah tamuku," kata Naufal.


Setelah melepas kopyah dari kepalanya, Naufal dan aku turun ke Ruang Tamu.


***(di Ruang Tamu)


"Wehehh, gercep banget Lo kalo soal ginian," ejek Naufal sambil duduk di sofa.


"Apaan sih Lo, jangan gitu, malu Gue, ada bini Lo juga," kata Pak Bastian.


Teng...tong....teng...tong.


Naufal hampir beranjak dari sofa yang di dudukinya.


"Aku aja yang bukain," kataku.


Aku berjalan menuju pintu.


Ku buka pintu itu, ternyata Susi benar-benar datang.


"Assalamu'alaikum," salam Susi.


"Wa'alaikumsalam," jawabku.


"Udah di tungguin," kataku.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Susi.


"Udah ayo masuk dulu," ajakku sambil menarik tangannya dan ku nawa dia ke Ruang Tamu.


Susi dan Pak Bastian sepertinya malu-malu.


Pak Bastian ternganga melihat Susi.


"Subhanallah, andai saja aku beneran berjodoh dengan dia," gumam dalam hati Pak Bastian.


Susi duduk di sampingku.


"Si, ini teman aku, pasti kamu udah di kasih cerita sama Gia soal dia, dan kamu pasti juga tau apa tujuan kalian kesini," kata Naufal.


"Dan itu Susi Bas sahabatnya Gia," ucap Naufal.


Pak Bastian dan Susi saling melempar senyuman.


"Disini kan kalian sama-sama single nya, barangkali kalo kalian memang mencari yang sama-sama serius juga, ya bisa kenal lebih dekat lagi, barangkali juga kalian berjodoh," ucap Naufal.


"Ya kenalan aja dulu, gak usah pacaran, kalo ngrasa cocok ya langsung aja," kata Naufal.


Aku baru tau Pak Bastian bisa mati gaya seperti ini.


Sebenarnya aku tertawa di dalam hati.


Di malam itu mereka saling memperkenalkan satu sama lain, sepertinya Susi mulai nyaman berbicara dengan Pak Bastian.


"Syukurlah, mereka sepertinya nyambung," gumamku dalam hati.


Lama kami berbincang-bincang, kami memutuskan untuk melaksanakan sholat bersama terlebih dahulu.


Saat aku dan Susi sedang berwudhu, sepertinya Pak Bastian sedang berbisik-bisik dengan Naufal.


"Sumpah, adeeemm Fal lihatnya, subhanallah," ucap Pak Bastian lirih.


"Huuummm, apalagi kalo lihatinnya tiap pagi, tiap bangun tidur, bayangin Lu," ucap Naufal.


Kami segera melaksanakan sholat bersama dan juga para pekerja di Rumah Naufal.


Setelah sholat, Naufal mengajak mereka untuk makan malam bersama.


"Mari makan," ucap Naufal.


Kami semua segera menyantap menu makan malam.


Setelah makan, Naufal mengajak Susi dan Pak Bastian ke gazebo halaman belakang untuk bakar-bakaran agar Susi dan Pak Bastian lebih dekat.


***(di Gazebo)


Aku dan Susi memanggang beef untuk mereka.


"Ciyeee Susi," ejekku.


"Apasih Gi," kata Susi.


"Gimana??? Tipe kamu nggak??" tanyaku.


"Yang penting sevisi sama semisi Gi," jawabnya.


"Hehehhe, aku nggak sabar nanti kalo kamu nikah," ucapku.


"Iiiidih, kamu kok mikirnya udah sampe situ sih Gi," ejek Susi.


"Siapa yang nggak seneng Gi, kalo temennya mau di halalin," kataku.


"Yaaaaa semoga saja berjodoh, tapi masih banyak yang harus aku tau tentang Pak Bastian Gi," ucapnya.


"Jangan lama-lama, hehehe," ejekku.


"Apa sih, heheheh," senyum Susi sambil malu-malu dan pipinya memerah.


Sedangkan Naufal dan Pak Bastian sepertinya juga sedang membicarakan Susi.


"Bas, cocok gak??" tanya Naufal


"Gak usah nanya Fal, pasti iya lah," jawab Pak Bastian.


"Lo seriusin nih anak orang," ejek Naufal.


"Udah pastilah Fal," ucap Pak Bastian.


"Terus cepet-cepet nikah, aku doain jodoh sama Susi," kata Naufal.


"Yang penting tujuannya sama, terus dia bisa di ajak segera Fal, aku sih iya-iya aja, mau cari apa lagi Fal," ucapnya.


"Weeeeh, keren Lo," puji Naufal.


Kamu duduk-duduk menikmati beef bersama sambil menikmati angin malam.


"Sayang, Bi Sarah kali aja mau," ucap Naufal.


"Sayang Sayang," bisikku.


"Gak papa lah Sayang, mereka kan sahabat kita," bisiknya kembali.


"Aaghheemm," deheman Pak Bastian.


"Iya tadi udah kok, beef nya masih ada banyak," kataku.


"Gitu ya Gi kalo udah suami istri," ejek Susi sambil berbisik padaku dan menyenggol lenganku.


"Nanti kamu juga gitu," ejekku ganti.


Senang sekali Rumah ramai seperti ini.


Setelah kami nongkrong malam bersama, Pak Bastian dan juga Susi berpamitan untuk pulang karena hari sudah larut malam.


Kami mengantarkan mereka ke depan halaman Rumah.


***(di Depan Halaman Rumah)


"Anterin Susi sampe kosnya Bas, ikutin mobilnya aja, pastikan dia sampe kos selamat," kata Naufal.


Susi malu-malu. Sedangkan Pak Bastian memberikan kode oke pada Naufal.


"Aku pulang ya Gi, Assalamu'alaikum," salam Susi lalu berjalan dalam mobilnya.


"Aku juga pulang Fal, Gi, bye Assalamu'alaikum," ucapnya.


"Wa'alaikumsalam," jawabku dan Naufal.


Mereka masuk ke dalam mobil.


Sesekali mobil Susi dan Pak Bastian menyapa kami.


Mobil Susi melaju terlebih dahulu dan diikuti dengan mobil Pak Bastian keluar halaman Rumah kami.


"Seneng tuh pasti Bastian," kata Naufal.


"Hehehe, mereka lagi jatuh cinta," kataku.


"Kayak aku," ucap Naufal.


Aku menoleh padanya.


"Ya kayak aku, yang setiap harinya jatuh cinta sama kamu," ucap Naufal yang membuatku tersipu malu.


"Apaan sih," kataku sambil langsung berlari masuk ke dalam Rumah.


***(di Kamar)


Segera aku cuci muka dan merebahkan tubuh ku di ranjang, kemudian Naufal menyusulku dengan merebahkan tubuhnya di sampingku.


"Huuumm, lucu ya Sayang mereka tadi," kata Naufal.


"Kayak kita dulu," ucapnya.


"Apaan, enggak ya Mas, dulu kan kita yang ngomong malah Mama sama Papa kita, kita cuman diem-diem aja," kataku.


"Tapi lucu loh gitu tuh, pacarannya habis nikah, jadi makin lengket kayak kita ini Sayang," ucap Naufal.


"Ya kan memang sudah halal Mas," ucapku.


Naufal mendekap tubuhku lalu mencium keningku.


Kami terlelap dalam tidur.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Beberapa bulan kemudian. Kami melewati hari-hari berdua kami dengan penuh kebahagiaan, meskipun ada masalah yang datang tapi kita bisa mengatasinya, karena aku sangat ingat ketika Naufal bilang hidup itu nggak selalu bahagia, hidup juga tentang sedih, kecewa, bahkan marah.


Suamiku yang semakin hari semakin mencintaiku, begitu juga aku padanya, Naufal merasa senang dan aku bangga padanya karena dia bisa membangun keluarga yang harmonis seperti ini, hampir banyak kebahagiaan yang dia hadirkan setiap harinya, meskipun belum hadir bayi mungil di pernikahan kami, tapi Naufal tetap mencintaiku.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Tak terasa pernikahan kami sudah genap 1 tahun, apalagi sekarang tepat first anniversary pernikahan kita.


Hari ini kami mengambil cuti karena memang waktu sehari ini kami ingin menghabiskan berdua.


Saat aku baru saja bangun, Naufal yang sedari tadi sudah bangun dan masih tetap memelukku.


Menyingkirkan rambut yang separuh menutupi keningku.


Naufal mencium keningku.


"Happy Anniversary Sayang," ucapnya.


Aku langsung memeluknya dan mencium pipinya.


"Kamu minta hadiah apa?" tanyanya.


"Aku minta, kita langgeng, sehat, jujur, saling setia, sabar satu sama lain," ucapku.


"Udah itu aja, yang lain Sayang," tawarnya lagi.


"Enggak, aku cuman minta itu aja," kataku.


Naufal tersenyum padaku.


"Kalo kamu minta apa??" tanyaku.


"Aku......aku minta ini," kata Naufal sambil menarik laci lalu mengeluarkan sebuah benda yang untuk pertama kalinya dia berikan padaku.


"Ini," kata Naufal sambil mengarahkan test pack warna pink putih itu.


"Maksud kamu???" tanyaku lagi.


"Aku minta kamu cek, apapun hasilnya aku terima," ucap Naufal.


"Aku takut Mas, nanti mengecewakanmu," kataku.


"Aku menerima positif ataupun negatif Sayang, aku hanya minta ini di Anniversary kita ini," kata Naufal.


"Kamu yakin??? Kamu udah siap bagaimanapun hasilnya??" tanyaku.


"Iya aku udah yakin Sayang, sana gih," ucap Naufal.


Dengan ragu aku mengambil test pack itu dari tangan Naufal.


Aku beranjak dari kasur lalu berjalan ke kamar mandi.


***(di Kamar Mandi)


Aku hanya mondar-mandir di dalam kamar mandi, karena ini untuk kali pertamanya.


Aku hanya takut jika hasilnya tidak seperti yang diinginkan oleh Naufal.


"Gimana nih??? Kasihan Naufal jika hasilnya....Aduuuh," kataku sendirian dalam kamar mandi.


Hampir seperempat jam aku berada di dalam kamar mandi tetapi tidak melakukan apa-apa, melainkan hanya mondar mandir saja.


"Sayang, udah belum??" teriak Naufal dari luar.


"Ee......eeemmmmm, belum Mas, aku takut," jawabku.


"Gak papa Sayang, bagaimanapun hasilnya aku gak akan kecewa, hasilnya juga tidak akan merubah semuanya," ucapnya.


"Kamu janji ya??? Jangan kecewa??" tanyaku untuk meyakinkan Naufal.


"Iya Sayang, cepet gih," ucapnya.


Saat aku akan membuka kedua mataku yang sedari tadi aku pejamkan.


"Haduuuh gimana ini hasilnya," kataku dalam hati.


Segera ku balik task pack untuk melihat hasilnya, tanpa ekspresi apapun aku keluar dari kamar mandi.


Gleekkkk....


Naufal langsung menyambutku.


"Sayang gimana hasilnya??" tanyanya.


"Udah aku bilang kan Mas sama kamu, ujung-ujungnya pasti kamu bakalan.....," ucapku tak tega dan air mata sudah memenuhi pelupuk mataku.


"Kenapa Sayang??? Negatif ya??" tanyanya.


"Udah lah, lihat saja sendiri," kataku dengan menyerahkan test packnya sambil air mataku menetes di kedua pipiku.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2