Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 173 (Bunga dari Naufal)


__ADS_3

Langkah pria itu semakin mendekat padaku.


“Selamat Siang, Dok,” ucapnya dengan ramah.


“Siang,” jawabku sambil terus memperhatikan pria itu.


“Silahkan duduk,” tuturku.


Dengan luwes dan tubuh lenggak-lenggoknya yang terlihat


kekar, pria itu duduk.


“Dengan siapa ya?? Perasaan saya nggak ada janji sama pasien saya,” tanyaku agak sedikit was-was dengan pria ini.


“Ehehehehe, saya bukan pasien atau pun keluarga dari pasien,


saya karyawan dari Magnolia Floris, hihihi,” jawabnya sambil mengambil name tag nya dalam saku dan di berikan padaku.


“Ooo….ooo…Ehem, iya iya Mmm…maass,” aku bingung memanggilnya pria ini apa, sesuai postur tubuhnya yang kekar namun logatnya seperti wanita.


“Panggil saja saya Levi,” ucapnya.


“Eehhmmm,……ya…..Levi,” kataku sedikit terbata-bata.


“Tapi, saya nggak lagi pesan bunga Mas, eh sore…Levi maksud


saya,” sambungku.


“Apakah ini benar dengan Dokter Gia Azimaika, seorang istri


Direktur rumah sakit ini, yang pastinya Dokter Naufal yang baik itu sih,” ucapnya sambil membidangkan dadanya.


Aku agak sedikit risih adanya manusia ini, aku bingung


sebenarnya siapa yang mengirim dia kesini.


“Iii….iya benar, saya istri Dokter Naufal,” jawabku.


“Oke Dokter, silahkan tanda tangan disini sebagai bukti tanda terima,” ucapnya sambil mengeluarkan buku dan pen padaku.


“Bentar-bentar, sebenarnya ini siapa yang pesan??? Dan untuk siapa bunga ini??” tanyaku.


“Di sini di tuliskan, untuk Dokter Gia, jangan badmood-badmood lagi ya Sayang, tanda love, siapa lagi kalo bukan untuk Anda Dokter, heheheh,” kata Levi sambil membaca kertas yang tertancap pada bouqet bunga itu.


“Aaaasssshhhh pasti ini Mas Naufal,” kataku sambil


memutarkan bola mataku dan bersandar di sanggahan kursi putarku.


“Astaga, Mas Naufal…….” Gumamku.


"Kamu kok kirimnya orang yang seperti ini sih," gerutuku dalam hati.


“Silahkan bisa di tanda tangani sekarang Dokter, karena


kiriman saya masih sangat banyakkkkk sekali,” kata Levi yang gaya bicaranya hampir sama dengan seorang wanita, upppsss..


Langsung ku tanda tangani di atas buku yang dia berikan


padaku.


“Okey terima kasih Dokter, hihihihi, jangan lupa badmood


lagi ya, biar suaminya beli bunga di MAG….NO….LI….A..FLORIS, Hahahai, selamat siang, terima kasih Dokter, byeee,” kata Si Levi sambil melangkah keluar dari ruanganku.


Ku ambil bouqet bunga mawar putih yang pastinya kiriman


dari Naufal ini.


“Aarrgghhhh Mas Naufal…….hampir aja aku di terkam sama


banci tadi,” kataku.


Tiba-tiba Si suster masuk sambil tertawa terbahak-bahak


dalam ruanganku.


“Hahahahaha…..aduuuhhh sakit perut saya Dok,” ucapnya sambil melangkah duduk di depan ku.


“Ha??? Ini juga Suster, apalagi sih ini Sus sebenarnya,”


kataku.


“Hahahhahaa, Dokter……Dokter, kaku banget sih tadi, takut


ya?” tanya Si Suster.


“Ha?? Kok tau?? Maksudnya gimana sih ini Sus?” tanyaku lagi


sambil mengernyitkan kedua alisku.


“Dari tadi saya ada di depan ruangan Dokter, itu tadi


karyawan yang kerja di toko bunga saya, hahahaha, iiih Dokter takut ya sama modelan yang seperti Levi tadi,” kata Si Suster yang terus menertawakanku.


"Ya ampun Sus, ternyata tadi karyawan nya, Astagfirullah," kataku.


“Agak takut sih Sus, lagian tadi saya sendirian loh, eh


tiba-tiba ada orang masuk kesini tak dikenal, eh logatnya kayak gitu juga, aaaiiisssshhhh deg-deg an Sus, saya pikir gini, siapa sih orang ini, saya sempet gitu loh,” kataku.


“hahahahaha, maaf maaf Dok, memang sengaja tadi saya biarkan Pahlevi masuk sendiri,” ucap Si Suster.


“Pahlevi??? Siapa lagi itu Sus,” tanyaku lagi dan lagi.


“Pahlevi ya orang tadi Dok, nama aslinya Pahlevi, tapi mau


nya di panggil Levi, memang gitu anaknya Dok, hahahah, lekong tapi asiiik kok,” ujar Suster.


“Huuuuftttt, untung aja, dia segera pergi tadi,” kataku.


“Huuuumm, tapi bagus kok Sus bunga nya saya suka,” pujiku.


“Alhamdulillah kalo Dokter suka, tapi itu bukan dari saya loh Dok, itu dari suami teromantis serumah sakit ini, alias Dokter Naufal yakni suami Dokter Gia seorang, hhihihi,” ucap Suster.


“Hehehe, iya Sus, ini ada namanya,” kataku.


“Dokter sih badmood-badmood aja, tadi tuh Dokter Naufal


mendadak pesan bunga ke saya dan harus segera di antar siang ini, maka nya Levi tadi di bolehin masuk kesini, kan atas izin Dokter Naufal sendiri Dok,” kata Suster.


“Saya tadi juga mikir gitu Sus, kan nggak sembarangan orang boleh ke ruangan dokter,” ucapku.


“Lah ini, eeeehhh masuk aja,” sambungku.


“Hahaha, tadi juga saya sama Levi ke ruangan Dokter Naufal


dulu, terus di suruh langsung aja kesini, hehehe, lain kali badmood-badmood an lagi aja ya Dok, biar nambah koleksi bunga mawarnya, hehehe,” kata Si Suster sambil beranjak berdiri sari kursi.


“Aaah Suster bisa aja, hihihi,” kataku sambil malu-malu.


“Hehehehe, jangan di lihatin terus Dok, hehehe, ya udah saya


tinggal dulu ya Dok,” pamit Si Suster.


“Iya Sus,” jawabku.


Si Suster sudah keluar dari ruanganku, sekarang giliran aku


yang memuji-muji bunga ini.


“Mas Naufal bisa aja balikin mood aku, pantesan tadi pagi


dia bilang gitu sama aku, hehehem, udah anak satu masih romantis aja,” kataku dalam hati smabil tersenyum-senyum sendiri.


“Ke ruangan Mas Naufal ah,” kataku.


***(Ruangan Dr. Naufal)


Tok…Tok….Tok….


“Masuk,” jawab Naufal dari dalam.


Gleeeeekkk, ku buka pintu ruangan Naufal.


Ada Pak Bastian disana yang sedang ngobrol dengan Naufal.


“Eeemm….lagi serius ya?” tanyaku.


“Ooohh enggak kok Gi, enggak, cuman ngobrol biasa aja,” jawab Pak Bastian.


“Nggak papa kalo lagi serius ngobrol lanjutin aja, hehem,


aku keluar dulu aja gak papa,,,Mas,” ucapku.


Saat aku akan melangkahkan kaki ku untuk menarik gagangan


pintu, Naufal terlebih dahulu menarik tanganku.

__ADS_1


“Udah sini aja, mau kemana sih buru-buru,” sahut Naufal.


Pak Bastian melihat gandengan tangan kami.


“Gue tinggal dulu ya Fal, lanjut nanti aja,” kata Pak Bastian yang sepertinya sangat peka.


“Yoooii,” jawab Naufal.


Pak Bastian mengalah dan akhirnya keluardari ruangan Naufal, sekarang aku hanya berdua ada dalam ruangan Naufal.


“Ada apa Sayang?? Kangen aku ya??” tebak Naufal.


“Iiiihh kata siapa? Pd banget kamu,” kataku.


“Terus mau ngapain kamu keisni?” tanya Naufal.


“Oh nggak boleh, ya udah aku keluar aja,” candaku.


“Hehehei, ya boleh dong Sayang, sini duduk,” tutur Naufal.


Aku duduk di sofa empuk bernuansa klasik di ruangan Naufal.


“Tadi kamu ngirim bunga ke aku ya?” tanyaku.


“Emmm….enggak aku nggak ngirim bunga ke kamu,” jawab Naufal.


“Udah, jangan bohong deh kamu Mas,” ucapku.


“Jangan-jangan pacar kamu Gi,” canda Naufal.


“Mas……apaan sih, serius, jangan ngaco,” kataku.


“Hehehe, iya iya aku yang ngirim bunga ke kamu tadi, suka?”


tanya Naufal.


“Eemmm…..pasti suka lah Mas, hehehem, makasih ya,” kataku


sambil mengusap rambut yang sedikit meneutupi keningnya.


“Hehehehem, iay sama-sama, udah baikan kan moodnya?” tanya Naufal.


“Udah kok, kamu bisaaaaa aja kalo istrinya lagi badmood


kayak tadi,” ucapku.


“Udah, jangan badmood-badmood lagi ya,” tutur Naufal sambil


mengelus-elus tanganku.


“Iya Mas, tapi nggak janji weeekkk,” kataku.


“Kamu tadi ketemu Levi ya??” tanyaku.


“Ha?? Levi siapa???” tanya Naufal.


“Mas Naufal nggak tau kalo nama kedua dari pria tadi adalah Levi, hihihi, bisa aku kerjain nih,” kataku dalam hati.


“Levi, udah deh kamu nggak udah berlagak nggak kenal gitu,


juju raja sama aku,” kataku.


“Levi siapa sih?? Aku nggak punya temen namanya Levi,” jawab Naufal.


“Huuumm, bohong kamu, kamu diam-diam kan ketemu sama dia, pake di samperin ke ruangan kamu segala lagi,” kataku agak sedikit sinis.


“Apa sih Sayang, sekarang kamu nih ganti yang ngaco, orang


aku gak ada ketemu sama cewek lain kok, jangan nuduh-nuduh deh,” kata Naufal.


“Aku nggak nuduh Mas, aku ngomong berdasarkan fakta, udah deh kamu jujur aja, nggak usah di tutup-tutupin kayak gini dari aku,” kataku dengan sedikit jutek padanya padahal dalam hatiku sedang menertawakan Naufal.


“Gak jelas deh kamu, siapa cobak Levi Levi itu, orang aku


aja nggak kenal sama yang namanya Levi, masih aja di paksa buat jujur, aku jawab jujur gimana lagi Sayang??? Aku juga ngomong sesuai fakta kok, emang siapa yang bilang ke kamu kalo aku habis di samperin sama siapa tuh, Levi Levi


gak jelas itu?” tanya Naufal.


“Kata nya Si Suster, hihihihihi, yang punya magnolia floris


tempat kamu pesenin bunga buat aku,” kataku yang akhirnya jujur padanya.


Naufal mengernyitkan kedua aslinya dan berusaha mengingat-ingat nama Levi dalam memori otaknya.


“Hihihihihi panik ya,” ejekku.


“He’em, mau siapa lagi,” jawabku sambil mengangguk-anggukan kepalaku.


“Aaaarrrghhh….ada ada aja deh, namanya itu Pahlevi Sayang


bukan Levi,” ucap Naufal.


“Namanya dia tuh ada dua, Pahlevi sama Levi Mas,” kataku.


“Huuufffttt, panik aku Sayang, aku mikir-mikir, Levi??? Levi


siapa sih?? Aduh bakalan datang masalah baru nih, udah mikir gitu loh aku,” kata Naufal.


“Hehehehe, enak dikerjain??? Weeek,” ejek ku.


“Tega banget sih kamu Sayang, hmmm ngerjain suaminya,” ucap Naufal sambil mencubit halus kedua pipi tembem ku.


“Hehehehe,”


Aku langsung memeluknya.


“Makasih Mas,” kataku.


“Sama-sama,” jawabnya di pundakku sambil mengelus lenganku..


“Udah jangan lama-lama, aku mau kerja,” candaku sambil


melepas pelukan dengan Naufal.


“Gini dong senyum, nggak murung aja dari tadi,” kata Naufal.


Aku kembali ke ruanganku dengan hati yang senang.


Aku kembali bekerja hingga sore hari.


.


.


.


.


.


Tiba sore hari,


“Uuughhmmm, melelahkan juga hari ini,” kataku sambil menarik


sisi jariku.


Aku membereskan meja ku dan menyimpan laptop dalam laci.


Ku tenteng tasku dan ku lepas jas dokterku, lalu aku pulang


bersama Naufal.


.


.


.


.


.


Dalam mobil perjalanan pulang, Abay terus melihat bunga yang


ada di pangkuanku.


“Bunga dari siapa Ma?” tanyanya.


“Eeemmm….hayo dari siapa?’ tanyaku balik.


“Dari Papa,” tebak Abay.


“Ehehehem, pastinya dari Papa dong Nak, dari siapa lagi,”


kataku.


“Ada merayakan hari apa Ma?? Kok Papa kasih Mama bunga,”

__ADS_1


tanya Abay.


“Nggak merayakan hari apa-apa Bay, Papa kan selalu gitu sama Mama kamu, maka nya lihat di kamar kamu ada bunga beginian kan,” ucap Naufal.


“Iya Pa, di kamar Papa sama Mama ada, di dapur ada, bahkan


di kamar mandi juga ada Pa,” sahut Abay.


“Mama punya langganan beli bunga seperti ini Ma?” ambung


Abay.


“Ada, biasanya ke rumah, tapi ketemu nya sama Pak Rusdi kan yang ngerawat bunga nya Pak Rusdi, kecuali yang di lantai atas yang ngerawat Mama,” kataku.


“Mama suka bunga ini??? “ tanyanya.


“Suka banget Mama sama bunga ini, jika Mama nih ya disuruh


milih antara coklat, nonton ke bioskop sama Bunga ini, pasti Mama pilih bunga ini,” jawabku.


“Kenapa Ma?? Ada ceritanya?” tanya Abay lagi.


“Bagi Mama sih bunga ini baguss banget artinya, gambarin


Mama banget,” jawabku lagi.


.


.


.


.


Sepanjang jalan membahas bunga mawar putih kesukaanku.


Sampai tiba di rumah.


***(Di Rumah)


Tin…..tin…..


“Pak,” sapa Naufal pada Pak Joko.


Kami turun dari mobil.


“Assalamu’alaikum,” salam kami bersama-sama.


Rumah tampak sepi, karena semua sibuk dengan pekerjaannya masing-masing di rumah ini.


“Kamu naik duluan aja sama Abay Mas,” tuturku.


***(Di Halaman Belakang)


Aku melihat Bi Sarah dan Pak Joko yang sedang menyirami


bunga-bunga yang tertanam dan tumbuh rapi disana.


“Bi,” panggilku.


“Iya Mbak?” jawab Bi Sarah meletakkan……..dan berjalan


menghampiriku.


“Bi, vas bunga punya Gia yang kaca disimpan dimana ya Bi?”


tanyaku.


“Yang kaca……Yang mana ya Mbak??? Ehm Bibi kupa Mbak


kayaknya,” jawab Bi Sarah.


“Yang kaca bening Bi,” kataku.


“Oooh yang Mbak Gia bawa dari rumah ya, ada Mbak ada, tapi


Bibi simpan di gudang,” ucapnya.


“Saya ambilkan ya mBak, tunggu sebentar,” sambungnya.


“Nggak usah Bi, biar Gia sendiri aja yang ambil,” tepisku.


“Jangan Mbak, di gudang banyak debu, Mbak Gia kan alergi


debu,” tutur Bi Sarah.


“Eheheehm, ya udah Gia tunggu di kamar ya Bi, soalnya mau


buat naruh bunga ini,” kataku.


“Dari Mas Naufal ya Mbak….” Tebak Bi Sarah sambil tersenyum menyeringai padaku.


“Hehehe, iya Bi,” jawabku.


“Kulo ambilkan riyen nggeh Mbak (Saya ambilkan dulu ya


Mbak)” ucap Bi Sarah.


“Haaa..???”


“Iii…iya Bi,” jawabku yang hanya iya iya aja.


.


.


.


.


***(Di Kamar)


“Mana Bi vas nya,” ucapku.


“Ini Mbak, Bibi simpan rapi, udah Bibi bersihin juga,” kata


Bi Sarah.


“Makasih ya Bi,” ucapku.


“Nggeh sami-sami Mbak (Ya sama-sama Mbak)” kata Bi Sarah.


Ku bawa vas bunga itu masuk ke kamar. Ku letakkan di atas


meja, dank u ambilkan sedikit air untuk memenuhi vas bunga itu, lalu ku masukkan beberapa tangkai bunga mawar putih pemberian Naufal.


“Bagus….” Kataku.


“Sayang……..mandi gih, jangan lihatin bunga nya terus,” tutur


Naufal.


“Iya bentar,” ucapku sambil mengolak-alik bunga mawar itu.


“Nggak bakalan kemana-mana kok Bunga Gi, gak bakal bisa lari juga, nggak usah di elus-elus,” candanya.


“Iri ya kamu?" tanyaku.


“Ya iya lah, aku cemburu kalo kamu merhatiin bunga nya


terus,” kata Naufal yang sedang ada dalam ruang ganti baju.


“Ini juga kan bunga pemberian kamu Mas, jadi aku harus


ngerawat bunga ini,” ucapku.


“Tapi jangan lupa mandinya, masak bunga nya aja yang dikasih


air, orangnya enggak, hihihihi,” kata Naufal.


“Isssshhh Mas Naufal, iya ini nih akum au mandi,” kataku.


“Masih mau kan, belum jalan,” ujar Naufal.


“Iya iya ini aku jalan,” kataku yang akhirnya berjalan masuk


ke dalam kamar mandi.


“Hehehehe, nurut aja apa kata suami,” ucap Naufal.


“Lagian, dari tadi pantengin bunga mulu, suaminya disini,


malah yang dilihatin bunga mulu, hihihihi,” kata Naufal.


Dan dia pun menungguku hingga selesai mandi.


Bersambung........

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote nya ya heheheh😁🙏🖤


__ADS_2