Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 74 (Sandwich)


__ADS_3

***(di Kamar)


"Mas, sholat sana," perintahku.


Naufal segera bergegas mengambil air wudhu, sedangkan aku, duduk-duduk di sofa.


"Loh Gi, kamu nggak sholat?" tanya Naufal.


"Hehe, enggak Mas," jawabku.


"Aku sholat sendirian dong jadinya," keluh Naufal.


"Huumm dulu juga sendiri gitu Mas sebelum nikah sama aku," ucapku.


"Iya Gi, tapi kan udah kebiasaan sama kamu," kata Naufal.


"Udah segera sholat," perintahku.


Aku berjalan untuk cuci muka.


Setelah aku selesai cuci muka, Naufal juga selesai sholat, aku berbaring di atas ranjang.


Naufal menutup semua gorden dan mematikan lampunya, dia menyusulku berbaring.


"Huuuufffttt," suara nafas panjangku.


"Kamu langsung tidur, aku tau kamu bener-bener capek hari ini, tidur ya Sayang," tutur Naufal sambil menarik ku untuk dipeluknya.


"Pusing Mas," keluhku.


"Iya tadi kamu kebanyakan nangis soalnya, hehehe," ejek Naufal.


"Tadi Bi Sarah sama yang lain denger nggak ya Mas?" tanyaku.


"Kayaknya enggak Gi, tadi aja mereka sepi," jawab Naufal.


"Syukurlah Mas," kataku.


"Hujannya makin deres banget Mas," ucapku.


"Iya, untung nggak pake petir, kasihan kamu nanti takut," kata Naufal.


"Kan ada kamu Mas," ucapku.


"Iya sih," ucapnya.


"Sayang cepetan tidur, ngomong mulu dari tadi, kamu butuh istirahat cukup banget," tuturnya.


Aku semakin kuat memeluknya.


Kami pun akhirnya tertidur.


.


.


.


.


Jam 3 tetap alarm berbunyi dan membangunkan ku dari mimpi.


Sebenarnya sangat berat untuk bangun, aku masih sangat mengantuk, tapi gimana lagi aku harus bangun demi Naufal.


Ku ambil kerudungku dan segera turun ke bawah.


Saat aku berjalan menuruni anak tangga, selalu tampak Bi Sarah yang sudah siap on time di dapur.


***(di Dapur)


"Eh Mbak Gia," sapa Bi Sarah.


Aku hanya tersenyum padanya.


"Aku ingin bertanya pada Mbak Gia saat aku mendengar teriakan seorang wanita dari halaman depan rumah, tapi apakah aku pantas ya," lamunan Bi Sarah sambil mencuci piring.


"Eh Bi, kran nya belum di matikan," ucapku sambil mematikan kran air yang dibiarkan menyala oleh Bi Sarah yang sedang melamun.


"Astagfirullah, maaf Mbak, aduuuh Bibi ini melamun saja," ucap Bi Sarah.


"Hayo Bibi ada mikirin apa?" tanyaku sambil memotong-motong sayuran.


"Eemmmm.....Mbak Gia, sebelumnya Bibi minta maaf ya, kemaren Bibi lihat Mbak Gia tengah dimarahi oleh wanita teman Mbak Gia yang pernah kesini," ucap Bi Sarah.


"Kok Bi Sarah tau," gumamku dalam hati.


"Maafin Bibi ya Mbak, Bibi nggak tau kalo akan terjadi kayak gitu, tau gitu Bibi tidak menerimanya dan Bibi bilang saja Mbak Gia sedang keluar kota," kata Bi Sarah.


"Nggak papa Bi, kemaren hanya salah paham saja, Bibi nggak salah, emang kemaren dia bilang apa sama Bibi waktu dia nyariin Gia," kataku sambil menyalakan kompor.


"Kemaren kata wanita itu mau nyariin Mbak Gia, ada urusan penting, gitu Mbak katanya, ya udah Bibi percaya, terus akhirnya Bibi suruh masuk kan wanita itu, tapi dia tidak Mau Mbak, wanita itu lebih memilih untuk menunggu di luar saja, maaf banget ya Mbak," kata Bi Sarah yang menjelaskan padaku.


"Nggak papa Bi, kan Bibi juga nggak tau, Gia juga nggak tau bakalan kejadian seperti kemaren," kataku.


"Bibi taunya itu teman baik Mbak Gia," ucap Bi Sarah yang masih merasa bersalah padaku.


"Udah Bibi masak aja, nggak ada yang salah Bi, semua hanya salah paham," kataku.


Kami melanjutkan untuk memasak.


Adzan shubuh berkumandang.


"Bi Gia ke atas dulu ya, bangunin Mas Naufal," ucapku.


"Biar Bibi yang selesain Mbak, Mbak Gia sholat aja ke atas," ucap Bi Sarah.


"Nggak papa Bi, Gia nggak sholat kok, bentar ya Bi," kataku sambil berjalan meninggalkan Bi Sarah.


***(di Kamar)


Melihat suamiku yang tengah tidur pulas dengan dibalut selimut tebal, semakin membuatku terpikat padanya.


"Huuumm kamu sungguh baik padaku, hatimu sungguh baik bahkan sabar," kataku sambil mengusap keningnya.


"Mas," panggilku dengan lirih.


Naufal tak kunjung bangun.


"Mas Naufal," ucapku sambil menggoyang-goyangkan lengannya.


Sama sekali dia tak kunjung bangun.


"Kok nggak bangun-bangun," gumamku dalam hati.


Ku goyangkan lagi lengan tangannya dengan ekstra.


"Mas ayo bangun," ucapku.


Sepertinya Naufal sengaja mengerjaiku.


Aku tak sengaja meliriknya tersenyum saat aku menggoyangkan lengannya.


"Awas aja kamu Mas, dasar suka banget ngerjai aku," gumamku dalam hati.


Sengaja aku pelan bergerak mendekatkan mulutku pada lengannya, ku gigit lengan Naufal.


"Aaawwww, Gia," kata Naufal terbangun merasa kesakitan.


Naufal langsung terbangun.

__ADS_1


"Sakit Sayang, kok kamu gigit sih," ucap Naufal sambil mengelus lengannya bekas gigitanku.


"Salahnya sendiri gak bangun-bangun, kamu sengaja kan ngerjain aku," kataku sambil mata mencurigainya.


"Iiiih enggak Gi, kamu kok nuduh aku," kata Naufal sambil sedikit menahan tawanya, seperti anak TK yang ketahuan mengambil mainan temannya.


"Halah kamu alasan, emangnya aku gak tau tadi kamu ngintip aku sama sebelah mata kamu, huuuu dasar," ucapku.


"Wkwkwkw kok tau sih kamu Gi, aaarrghhh jadi gagal deh," kata Naufal kembali membuang badannya di atas kasur.


"Ayo bangun, Massss.......," kataku terus menggoyangkan Naufal.


"Awas kamu ngerjain aku lagi," ucapku.


"Hahahaha iya Gi ini bangun," kata Naufal kembali menarik badannya untuk bangun.


"Cepetan kamu mandi terus sholat," kataku sambil menarik tangannya.


"Ayoo," perintahku dengan manja.


"Iya iya ini bangun Sayang, Ya Allah," jawab Naufal sambil merangkak untuk turun dari kasur.


Ku gandeng tangannya dan ku masukkan Naufal ke kamar lalu ku tutup pintu kamar mandinya.


"Sayang, kok sadis banget sih, adooooh," kata Naufal di dalam kamar mandi.


"Hehehehem, salahnya sendiri sih bandel banget kamu," kataku.


Aku kembali menuju dapur.


***(di Dapur)


"Udah selesai Bi masaknya?" tanyaku.


"Udah Mbak Gia, Bibi mau sapu halaman dulu Mbak," jawab Bi Sarah.


"Iya Bi, Gia mau lanjutin ini dulu," kataku.


Dengan senang aku lanjut memasak untuk Naufal.


Setelah selesai memasak, keringat membasahi seluruh tubuhku.


"Huuuffttt, akhirnya selesai," ucapku sendiri.


Aku kembali ke kamar untuk mandi.


***(di Kamar)


"Mau mandi Gi?" tanya Naufal yang sedang melipat sajadahnya.


"Iya," jawabku singkat.


"Gi tadi kamu buatin aku sandwich gak?" ucap Naufal.


Langkahku langsung terhenti mendengar kata "Sandwich".


Aku berbalik menghadapnya.


"Enggak.....Kamu mau?" tanyaku.


"Pengen banget Gi, buatin ya nanti," jawab Naufal sambil memohon.


"Oh, yah habis mandi aku buatin kamu," kataku.


Aku langsung bergegas pergi mandi.


.


.


.


Tak lupa aku turun ke dapur untuk membuatkan sandwich Naufal.


***(di Dapur)


"Saking sukanya sama sandwich, sampe Naufal mohon-mohon minta dibuatin sama aku," gumamku dalam hati sambil membuatkan sandwich untuknya.


"Huuuuumm jadi keinget cerita Naufal sama Vela, agak sedih sebenarnya, tapi gimana lagi, ini makanan kesukaan Naufal," lamunku.


Bi Sarah menghampiriku untuk mengambil aneka masakan untuk di bawanya ke meja makan.


"Mbak Gia masak apa lagi?" tanya Bi Sarah.


"Enggak Bi, ini tadi Mas Naufal minta sandwich, jadi Gia buatin," jawabku sambil tersenyum pada Bi Sarah.


Bi Sarah membalas senyumku.


Tak lama kemudian aku menyusul Bi Sarah ke meja makan.


Tampak Naufal menuruni anak tangga dengan membawa jas dokterku dan jasnya sendiri.


Aku menghampirinya.


"Mana sini aku bawain," tawarku.


"Nggak Gi, gak papa udah," ucap Naufal.


Di meja makan mata Naufal langsung tertuju pada sandwich.


"Ini Gi sandwich nya?" tanya nya sambil duduk di sampingku.


"Iya, habisin semuanya," suruhku.


"Mari makan semuanya ya," ucap Naufal.


"Monggo," sahut Bi Sarah.


Naufal langsung menyantap sandwich dengan sangat nikmat, aku hanya bisa melongo melihatnya.


"Mas, gak makan nasi?" tanyaku.


"Enggak Gi, ini aja udah kenyang banget sama segelas susu," jawab Naufal.


"Ow," jawabku singkat dan agak kecewa padanya.


Aku membiarkan Naufal, dan mogok bicara padanya.


Selesai makan, kami berpamitan dengan mereka untuk pergi bekerja.


Kami berjalan ke garasi, dan segera masuk ke dalam mobil.


Naufal langsung menancap gas mobilnya.


Di dalam mobil aku hanya diam.


"Gi, jam berapa sekarang?" tanya Naufal.


"Setengah 7," jawabku singkat.


"Kok kelihatannya udah agak siang banget, sinarnya udah terang banget," ucap Naufal.


Aku diam tidak membalas obrolan darinya.


"Gi, are you oke?" tanyanya.


"He'em," jawabku singkat.


"He'em tapi kok kayaknya nggak oke, kenapa? Badmood lagi? Gara-gara apa?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Oh iya aku tau, pasti gara-gara kamu haid, ya udah aku maklumin kalo kamu lagi males ngomong, maaf Sayang," ucapnya sambil memberikan senyum manisnya padaku yang semakin membuat hatiku panas melihatnya.


"Bisa-bisanya dia gak peka, dasar Naufal," gerutuku dalam hati.


"Kamu tadi kenapa nggak makan masakan buatanku," kataku sambil cemberut.


"Oooooww kamu badmood nya gara-gara ini Sayang," ucap Naufal.


"Kalo kamu tiap pagi maunya di buatin sandwich, ya udah aku nggak masak, biar aku buatin kamu sandwich aja setiap paginya buat kamu sarapan," ucapku yang sama sekali tidak meliriknya.


"Bukan gitu Sayang, tapi beneran aku tadi udah kenyang, masak kamu badmood gara-gara itu sih," kata Naufal.


"Ya aku agak gimana gitu, padahal aku dengan senang hati buatin kamu sarapan, berharap buat kamu habisin, eh malah nggak kamu sentuh sama sekali," ceplosku.


"Loh loh loh, kan...nggak gitu Gia, Astagfirullah, coba aja tadi kamu nawarin aku bawa bekel masakan kamu yang belum sempat aku makan tadi, aku mau banget Sayang," ucap Naufal.


"Tau ah," kataku singkat.


"Aku tau pasti kamu ngambek gini kamus sangkut pautin sama Vela kan? Soalnya aku pernah cerita sama kamu dulu sering di bawain Vela sandwich, ya kan?" tebak Naufal.


Aku diam dan tidak menatapnya.


"Kannnnnn.....fixs kamu ngambek gara-gara ini, ya ampun Sayang gak gitu, emang tadi aku tuh pengen banget, kebetulan pengen banget emang, bukan karena aku dulu sering dibawain Vela sandwich, terus aku jadi suka sampe sekarang, dan setiap kali aku makan sandwich atau pengen sandwich itu keinget dia, bukan gitu Sayang, Ya Allah, beneran," rayu Naufal.


"Ya kali aja kan," ujarku.


"Aduuuh wkwkwk kamu jangan mikir gitu dong Sayang, ada-ada aja kamu tuh," kata Naufal.


"Namanya juga takut, gak peka banget, dasar," ucapku dengan cepat tapi lirih.


"Apa? Kamu bilang apa tadi? Takut?" tanya Naufal sambil mendekatkan telinganya padaku.


"Siapa ada yang bilang takut, sok tau kamu," kataku.


"Hehehe, Gi udah dong, aku malah gemes sama kamu kalo kamu ngambek gini," kata Naufal yang gemas denganku.


"Gini nih aku suka kalo kamu ngambek terus aku ketawain pasti ngambeknya nambah, lucunya juga nambah Sayang, wahahaha," ucap Naufal sambil menertawakanku.


"Apa sih?? Garing," ejek ku.


"Hehehe, ya udah iya aku minta maaf pagi ini udah buat kamu badmood lagi," kata Naufal sambil meraih tanganku.


"Di maafin nggak?" tanyanya.


"Iya," jawabku singkat.


"Ikhlas nggak?" tanyanya lagi.


"Iya ikhlas, nanya mulu kamu," kataku.


"Wkwkkwkw tuh kan, suka aku Gi kamu gini," kata Naufal.


***(di Rumah Sakit)


Sesampainya di Rumah Sakit, kami turun dari mobil dan berjalan beriringan menuju ruangan kami.


"Gi, hari ini kan kita pulangnya nggak sore banget, keluar ya," ajak Naufal.


"Kemana?" tanyaku.


"Terserah kamu, kamu pengennya kemana," jawab Naufal.


"Ke mana aja aku ngikut Gi," ucapnya.


"Nanti aja di pikirin Mas, nanti aku kasih tau kamu," ucapku.


"Ya udah, fokus kerja, jangan mikirin aku," kata Naufal.


Aku tersipu malu dibuatnya.


"Apaan sih, GR banget," kataku sambil mencubit halus pinggangnya.


"Kan malu-malu," kata Naufal sambil mencubit kedua pipiku.


"Aku ke ruanganku dulu ya, kamu jangan ngambek-ngambek," ucap Naufal.


"Iya," jawabku.


Naufal berjalan meninggalkanku.


"Segitunya suka sandwich," gumamku dalam hati.


Ku letakkan tasku di meja, ku buka laptopku sambil berfikir kemana nanti akan pergi bersama Naufal.


"Kemana ya nanti? Ke Mall udah bosen banget," ucapku.


Aku berfikir sangat kuat.


"Eemmm apa ke tempatku kemaren di puncak ya, itu kan bagus banget, private banget, pasti Mas Naufal suka, view nya juga bagus, cocok banget buat kita refreshing," ucapku sendiri.


"Fix kesitu aja, aku juga lagi kepengen ke sana," kataku.


Tiba-tiba terlintas di pikiranku keadaan Kakek dan Nenek.


"Eh jadi keinget sama Nenek sama Kakek, kayaknya aku kangen deh sama mereka," kataku.


"Gimana ya kabar Nenek sama Kakek? Beberapa hari nggak ketemu, aku pengen cerita-cerita sama mereka," ucapku.


"Kesana ah sekalian ke ruang periksa," kataku sendirian.


Aku berjalan keluar dari ruanganku menuju kamar Nenek dan Kakek.


.


.


.


Di ruangan Nenek dan Kakek, aku kaget karena aku tidak melihat sama sekali keberadaan mereka.


Ku lihat satu per satu bed pasien, tapi tidak ada Nenek.


Aku mulai panik, meskipun beliau bukan Nenek kandungku, tapi entah kenapa aku nyaman sekali cerita sama mereka selain bercerita sama sahabatku Susi.


"Kemana Nenek? Kok gak ada," gumamku dalam hati.


"Aku juga nggak ngeliat Kakek sama sekali, kemana ya?" kataku panik.


Pikiran negatif mengelilingi otakku.


"Jangan jangan Nenek???...Tidak, tidak mungkin," gumamku dalam hati.


"Apa mereka pulang?? Tapi aku belum tau rumahnya," kataku.


Aku kebingungan karena tidak bisa mengucap kata sampai jumpa pada mereka.


"Aduh kemana ya mereka?"


Pikiranku bertanya-tanya tentang mereka.


Bersambung......


Terimakasih Kak udah nemenin Author sampai eps ini.🖤


Jangan lupa like, komen dan vote ya kak😁


See you episode selanjutnya...😃🙏


jangan lupa gabung ke grub juga😊

__ADS_1


__ADS_2