
Saat keluar dari ruangan Nenek dan Kakek, langkah ku terhenti, hatiku terus menangis atas apa yang telah dikatakan Sang Nenek padaku, bahwa kami memang benar-benar saling mencintai dengan tulus.
"Apakah benar yang dikatakan Nenek bahwa kita saling mencintai dengan tulus?" tanyaku dalam hati.
"kamu kenapa bengong Gi?" tanya Naufal.
"Siapa yang bengong, aku nggak bengong kok," kataku menyembunyikan semuanya.
"Ya udah aku ke ruanganku dulu ya," pamit Naufal.
"Iya Mas," jawab ku singkat.
Naufal berjalan meninggalkan ku.
Aku berjalan sendiri menuju ruang kerjaku.
"Aku ingin melupakan semua firasat buruk ku dan ingin fokus bekerja, Bismillah," kataku dalam hati untuk memotivasi diriku sendiri.
Beberapa jam kemudian, hari sudah semakin sore, pertanda aku dan Naufal selesai untuk bekerja.
Naufal menemuiku di ruang kerja.
"Gi, Aku mau minta izin sama kamu mau temenin Vela dulu ya, soalnya Bastian nggak bisa nemenin hari ini, soalnya dia ada meeting di luar, kamu temenin aku ya," ajak Naufal yang sepertinya sungkan padaku.
"Aku pulang aja ya Mas, kamu nggak papa nemenin Vela di sini, soalnya aku juga belum siapin makan malam, kan nggak enak nanti kalo di rumah nggak ada orang, aku atau kamu sebagai tuan rumahnya," kataku untuk membujuk Naufal.
"Beneran nggak papa aku nemenin dia sendiri? Sebenarnya aku nggak mau Gi nemenin sendiri, aku takut kalo..." Kata Naufal terhenti olehku.
"Iihh iya nggak papa, udah Mas kamu nggak usah sungkan-sungkan sama aku, ya emang kamu harus izin sama aku, tapi aku ngebolehin kamu kok," kataku dengan halus.
"Ya udah, kamu pulang pakai mobil aku aja ya," ucap Naufal.
"Nggak usah, aku pakai go-jek aja nggak apa-apa," bantahku.
"Nggak mau, nanti kamu berduaan di mobil lagi sama tukang ojeknya," kata Naufal yang sepertinya cemburu.
"Mas udah nggak apa-apa, lagian aku nggak ngapa-ngapain kok sama tukang ojek nya," kata aku.
"Nggak Sayang, aku nggak mau!! Kamu harus pakai mobil aku, nanti biar aku yang pulang naik gojek ya," kata Naufal yang tetap kekeh menyuruhku mengendarai mobilnya.
"Ya udah ya, aku pulang duluan ya, kamu nggak papa kan di sini sendiri, maafin aku nggak bisa nemenin kamu," kata aku.
"Iya Sayang," jawab Naufal sambil mengecup keningku.
"Aku pulang ya Mas, Assalamu'alaikum," salam ku sambil menyalami dan mencium tangannya.
"Sebenarnya berat Mas hatiku buat kamu nemenin Vela sendiri, tapi aku lakukan semua ini karena aku ingin mencari bukti siapa wanita yang sangat benar-benar kamu cintai Mas, apakah kamu menikahiku hanya untuk melupakan Vela ?? Atau memang kamu mencintaiku dengan tulus sampai kamu bisa mempertahankan hubungan kita sampai detik ini," kataku dalam hati.
"Dalam mobil rasanya sepi tanpa Naufal, tapi aku nggak boleh ikut meskipun aku nggak siap buat berbagi dengan Vela, dan dari dulu aku nggak siap Mas buat berbagi apapun dengan orang lain, apalagi berbagi dengan orang yang aku Sayang, aku nggak bisa!!! Tapi aku harus ngelakuin ini, maafin aku Mas," kataku.
Tiba-tiba air mataku menetes dengan sendirinya.
"Susi Aku pengen cerita sama Susi, tapi jam segini pasti belum pulang kerja dia," kataku yang juga mencoba menelpon Susi tapi tidak ada jawaban.
Karena begitulah Susi, dia sangat sibuk sekali, selain Dokter dia juga seorang pebisnis.
"Aku bingung aku harus bagaimana?? Aku hanya ingin membuktikan apakah Mas Naufal benar-benar mencintaiku, itu saja. Tapi kenapa hatiku begitu sakit seperti ini, dari awal memang aku yang salah, aku yang memisahkan mereka," kataku dalam mobil sambil terus menangis.
Dan ternyata beberapa menit kemudian Susi menelponku balik.
Ku tepikan kan mobilnya lalu aku fokus menelpon Susi.
"Halo Gi, Assalamu'alaikum," ucap Susi.
"Wa'alaikumsalam Si, kamu di kos nggak?" kataku.
"Ini masih di rumah sakit Gi, kenapa?? Tapi habis ini aku pulang kok kayaknya," jawab Susi.
"Ya udah nanti aku ke kos kamu ya habis magrib, Aku minta izin dulu sama Mas Naufal nanti," kata aku.
"Iya Gi, tapi kamu nggak ada masalah kan sama Naufal?" tanyanya yang khawatir.
__ADS_1
Pertanyaan Susi itu membuat hatiku sangat sakit, memang begitulah Susi sangat peduli dan sensitif terhadap setiap keluhanku, dan Susi pasti tau pasti ada apa-apa jika aku menghubunginya.
"Enggak kok Si, aku baik-baik saja sama Mas Naufal," jawab ku yang belum siap menceritakan semua pada Susi.
"Oh ya udah kalo gitu Gi, nanti aku tunggu kamu di kos aku ya, oke?" kata Susi.
"Iya Si, maafin aku ya ganggu waktu kerja kamu," kata aku.
"Apaan sih Gi, nggak papa kali, gak usah sungkan," kata Susi.
"Ya udah Si, Assalamu'alaikum," salam ku.
"Wa'alaikumsalam," Susi langsung menutup telepon dariku.
Cuman Susi yang bisa aku ajak bicara tentang masalah ini, dia selalu mendukung apa yang telah aku putuskan, dia sangat mengerti aku.
Ku lajukan lagi mobil Naufal untuk menuju jalan ke rumah.
***(di Rumah)
Sesampainya di rumah, rupanya Bi Sarah tengah menyirami tanaman bersama Pak Rusdi.
"Assalamu'alaikum," ucapku yang keluar dari mobil.
"Wa'alaikumsalam, loh Mbak Gia sendiri?? Mas Naufal ke mana Mbak?" tanya Pak Rusdi menyapa aku untuk pertama kalinya.
"Iya Pak tadi Mas Naufal masih sibuk banyak kerjaan di rumah sakit, masih banyak data pasien yang harus ditangani nya," jawab ku berbohong.
"Oh gitu ya Mbak, pantesan Mbak Gia sendirian pulangnya," jawab Pak Rusdi.
"Saya masuk dulu ya," pamitku pada Bi Sarah dan Pak Rusdi.
Mereka menganggukkan kepalanya dan tersenyum padaku.
Sekarang pandanganku kosong hatiku sepi, ini memang kemauan ku, dan aku yang harus menanggungnya sendiri, aku lakukan ini demi kebaikan hatiku dan juga kamu Mas, Aku hanya ingin tau tidak lebih dari itu.
Aku berlari menaiki anak tangga dan langsung membuka kamarku, lali ku kunci kamarku, aku menangis meraung-raung sendiri disana.
Aku sadar ini rencana aku dan harus aku yang menanggung resikonya sendiri.
"Maafin aku Mas, aku sengaja memberi waktu kamu bersama Vela, Aku ingin tau apakah rasa cintamu itu akan tumbuh lagi atau tidak, jika iya, benar dugaanku selama ini bahwa kamu menikahiku dan mencintai Ku hanya ingin melupakan Vela tapi jika tidak, berarti memang cinta kamu tulus untuk aku Mas," kataku yang tengah duduk di bawah lantai dan bersandar di ranjang.
"Aku kesepian Mas di sini, aku takut, aku takut sekali tanpa kamu, aku nggak mau kamu semakin terluka untuk semakin mencintaiku Mas," kataku.
Kuraih ponselku dan ku buka foto galeri bersamanya dulu waktu akad, tangisku semakin tak terkontrol saat melihat foto itu, karena tampak sangat bahagia di wajah Papa dan Mamaku.
"Mas Naufal sekarang lagi ngapain ya sama Vela, aku ingin menelponnya," ucapku dalam hati.
Tapi aku mengurungkan niatku karena tidak ingin mengganggu mereka.
Aku menangis sampai tertidur di lantai.
Beberapa jam kemudian saat adzan telah berkumandang aku bangun.
"Astaghfirullahaladzim Aku tertidur di sini," ucap ku sendiri.
Ku bangunkan tubuhku, Aku mengambil ponsel dan melihat apakah ada pesan dari suamiku, tetapi tidak ada kabar satupun dari Naufal.
"Pasti Mas Naufal masih sibuk merawat Vela di sana," kataku.
Aku bergegas langsung mandi dan sholat sendiri lalu bersiap-siap untuk pergi ke kos Susi.
Setelah aku selesai mandi pun sepertinya Naufal belum juga pulang.
"Kamu benar-benar sangat sibuk ya Mas, sampai jam segini kamu belum pulang ke rumah," kata aku.
"Tapi ya sudahlah," ucapku agak sedikit nelangsa.
Aku mengirim pesan pada Naufal untuk pamit pergi ke kos Susi.
Setelah selesai bersiap-siap aku turun ke bawah dan melihat Bi Sarah yang sedang menonton TV bersama Pak Rusdi.
__ADS_1
"Mbak Gia mau ke mana," tanya bisa bis arah.
"Ini mau ke kosnya Susi Bi, nanti bilangin ya sama Mas Naufal kalo saya ke kosnya Susi, tapi kalo Mas Naufal udah pulang, Gia tadi juga udah ngirim pesan sih sama Mas Naufal tapi mungkin dia lagi sibuk banget jadi nggak sempet bales pesan dari Gia, dan nanti Mas Naufal pulangnya juga nggak malam banget kok Bi," kataku pada Bi Sarah.
"Baik Mbak Gia, pasti nanti saya akan sampaikan pada Mas Naufal," kata Bi Sarah.
"Gia pergi dulu ya Bi, Assalamu'alaikum," pamitku sambil berjalan menuju pintu dan mengambil kunci mobil dari dalam tas.
"Iya Mbak hati-hati, Wa'alaikumsalam," ucap Bi Sarah dan Pak Rusdi.
Kali ini aku tidak menaiki mobil Naufal tetapi mengendarai mobil ku sendiri.
Di perjalanan menuju ke kos Susi, aku menelepon Susi untuk memastikan bahwa Susi sedang di kos dan tidak sedang di luar.
Tut...tut...tut. Suara dering ponselku
"Halo Assalamu'alaikum Si," ucapku.
"Ya Gi Wa'alaikumsalam, kamu jadi kesini kan?" tanya Susi.
"Iya Si, ini aku lagi di perjalanan menuju kos kamu," jawabku.
"Ya udah kamu hati-hati fokus nyetir nggak usah kenceng-kenceng yang penting nyampe selamat," tutur Susi.
"Iya Si, ya udah ya Assalamu'alaikum," ucapku langsung menutup telepon pada Susi.
Beberapa menit kemudian, aku sampai di depan kos Susi.
Rupannya Susi sudah menungguku di depan halaman kosnya dan langsung menghampiri mobilku
"Widih pengantin baru nih ke sini," ejek Susi padaku.
"Iiih apaan orang udah lama kok nikakhnya," kata aku.
"Sini Gi masuk," ucap suci sambil membukakan pintu kosnya lalu aku masuk dan duduk di sofa yang sudah biasa ku duduki jika berkunjung ke kos Susi.
"Aku tahu kamu ke sini pasti akan ceritain tentang pak Kevin kan," tebaknya.
"Kok Pak Kevin sih Si, kan sekarang aku udah nikah jadi istrinya Mas Naufal," kataku.
"Oh berarti kamu ke sini mau nyeritain tentang Naval tebak nya lagi.
"Aku mau tanya deh sama kamu salah nggak ya sih aku biarin Naufal sama Vela?" tanyaku.
"Maksud kamu gimana nih, Aku bingung nggak paham Gi," jawab Susi.
"Kan gini sih, kemarin malam Vela kecelakaan terus koma, dan keluarganya kan jauh tuh di luar negeri, jadi dia di sini di rawat sama Mas Naufal, tadi juga di rawat sama Bastian sih kemudian aku sempet mikir gini, nggak mungkin kan Mas Naufal bisa 100% jatuh cinta sama aku, pasti kan dia masih ada rasa cinta sama Vela, meskipun itu hanya sedikit banget, iya kan Si?" kataku menekan pada Susi.
"Kalo logika nya, iya sih Gi, apalagi kalo Vela itu Cinta pertamanya suami mu," kata Suci semakin meyakinkan ku.
"Nah bener banget Si, kemarin malam aku sama Mas Naufal waktu mau tidur tuh bagi-bagi cerita, Aku nyeritain tentang Pak Kevin, dia nyeritain tentang Vela dan ternyata memang benar Vela adalah Cinta pertamanya dan sekarang Mas Naufall pun juga belum pulang ke rumah, dia masih merawat dan menemani Vela di rumah sakit," kataku.
"Kamu biarin Naufal sendiri nemenin Vela di sana? Kamu nggak takut gitu kalo hati Naufal akan balik lagi sama Vela," tanya Susi.
"Gini loh Si, Aku tuh mau mastiin apakah Mas Naufal benar-benar jatuh cinta sama aku dengan tulus, ataukah dia jatuh cinta dengan aku hanya untuk agar bisa melupakan Vela. Aku ingin membuktikan itu Si, kalo misal selama aku membiarkan dia sama Vela dia tetap perhatian sama aku, dia tetap bersikap layaknya suami istri sama aku, aku bisa jamin dia kalau dia tulus cinta sama aku, tapi kalau sifatnya berubah sama aku pasti dugaana aku benar, Mas Naufal balik ke Vela," kataku sambil sedikit sulit karena menahan rasa sakit dan tangisku.
"Kok kamu gitu sih Gi, soalnya kamu nggak boleh ngebiarin mereka berdua lagi," tutur Susi.
"Habis aku bingung sih pakai cara apa lagi, Aku udah buntu banget sumpah aku tuh agak ragu gitu sama Mas Naufal kurang yakin aja, siapa lagi Si yang mampu ngebuktiin ini semua, Kalo bukan aku siapa lagi Si yang buktiin Si," kataku sambil meneteskan air mata.
"Gi kenapa kamu selalu di posisi yang seperti ini sih aku kasihan sama kamu, tapi bener kata kamu ini memang satu-satunya cara buat ngebuktiin apakah Mas Naufal benar-benar tulus mencintai kamu," kata Susi yang sepertinya mendukungku.
"Aku nggak tahu lagi Si harus lari pada siapa, harus cerita pada siapa, aku sendiri juga tak mampu cerita sama Mama Papa, mereka sangat menganggap baik Mas Naufal, memang sih Mas Naufal sangat baik tapi aku hanya ingin tahu karena ini soal perasaan," kata aku.
"Ya Allah Gi, aku sumpah salut banget sama kamu Kamu bisa sekuat ini Gi," kata Susi.
"Sebenarnya berat sih buat aku ngelakuin rencana aku sendiri, tapi aku nggak tau lagi aku sudah terikat dengan dia, aku sudah terlanjur sangat mencintai dia, aku sayang sama dia, aku nggak mau kehilangan dia, Aku sudah terjatuh sangat dalam Si dan sulit untuk aku merangkak ke atas lagi, sangat sulit jika aku ke atas aku akan meninggalkan Naufal tapi itu tidak mungkin, biarlah disini aku yang berkorban sekali lagi," ucapku pada Susi.
"Kamu yang sabar ya, kamu mampu cerita sama aku kapanpun dan dimanapun, kamu tau aku selalu ada buat kamu, ingat terus itu Gi, Aku selalu ada buat kamu," ucap Susi dengan tegas.
Bersambung.....
__ADS_1