Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 153 (Mengawalinya Kembali)


__ADS_3

***(Di Resto)


Sampailah kita di Resto, kami turun dari mobil.


“Ayo Dek sini,” kata Si Suster yang menggandeng tangan


Revina.


Kami berjalan masuk menuju Resto.


“Selamat Sore,” ucap Pegawai yang membukakan kami pintu.


Aku hanya tersenyum padanya.


Kami menaiki anak tangga untuk ke lantai 2, dan kami duduk


di meja yang dekat dengan balkon, karena memang ini tempat favoritku.


“Sore, silahkan,” kata pelayan sambil menyodorkan buku menu


makanan.


Aku memesan ramen, dan Si Suster memesan sushi.


“Kamu suka sushi?” tanyaku.


“Waduh Dok, kalo Susi suka banget,” jawabnya.


“Abay tadi pesan apa?” tanya Suster pada Abay.


“Ramen juga Tante sama seperti Mama,” jawab Abay.


Si Suster mencoba mengajak berbicara Abay dan Revina, tampak dari sikap Si Suster yang seperti penyayang dan sangat suka dengan anak kecil, seharusnya di usianya yang sekarang, dia sudah mempunyai suami bahkan dia sudah hamil, hehehem.


“Suster suka banget sama anak kecil, memang gitu ya Sus


jiwa-jiwa perawat itu penyayang,” pujiku.


“Hehehem, mungkin kebanyakan orang berpendapat seperti itu Dok, tapi memang saya suka banget sama anak kecil, apalagi kalo keponakan Papa ke rumah, pasti mainnya sama saya,” ucapnya.


“Bahkan Abay dan Revina yang baru saja kenal dengan Suster bisa ngerasa welcome banget, heheh,” pujiku lagi.


“Kalo sama anak kecil, nggak tau kenapa jiwa jiwa ke ibuan


saya jadi keluar Dok, hehehe,” canda Si Suster.


“Hehehem, Si Suster bisa aja,” kataku.


“Apalagi anak bayi Dok, waaah suka banget saya Dok,” kata Si Suster.


“Kenapa nggak ngambil ke bidan aja dulu?” tanyaku.


"Ini kan Papa Dok yang milihin saya Dok," jawab sambil tersenyum padaku.


"Oh iya ya, saya lupa, nggak papa, yang penting kan


berkah dan barokahnya, banyak loh Sus yang pengen jadi kayak Suster ini, ngambil di bidang Suster ini, beruntung kita bisa mendapatkan posisi ini," kataku.


"Iya sih Dok, Dokter bener, dulu saya mikirnya juga


gitu Dok, jadi saya jalaninya nggak terlalu berat-berat banget, heheh," sanggahnya.


"Pokoknya apapun yang kita jalani dengan lapang,


meskipun itu bukan keinginan kita, Insya'Allah pasti nantinya bakalan baik dan membawa berkah buat kita, malah mungkin memang rejeki kita disini Sus," tuturku.


Si Suster hanya menganggukkan kepalanya saja.


Beberapa menit kemudian, Saat beberapa pelayan datang,


ponselku bergetar.


Ternyata telepon dari orang tua Revina.


"Hallo Assalamu'alaikum," kataku.


"Wa'alaikumsalam, maaf ya Mbak saya mau jemput anak


saya sekarang, dan maaf saya merepotkan, Mbak dimana ya?" tanya orang tua Revina.


Suasana disana sangat bising, karena juga ada Mbak pelayan


yang sedang ada di meja kita, jadi aku samar-samar mendengar suara orang tua Revina.


"Hallo, maaf Pak saya nggak bisa denger, saya WA saja


ya," kataku.


"Oh iya iya Mbak," jawab orang tua Revina.


"Assalamu'alaikum," salamku dan langsung menutup


telepon dari orang tua Revina.


“Revina, ini tadi sepertinya Papa kamu yang telfon Tante,


katanya Papa kamu mau jemput kamu kesini sekarang, jadi Tante kasih alamat ini ke Papa kamu,” kataku.


“Iya Tante, makasih ya,” jawab Revina.


Aku hanya tersenyum padanya.


“Dok, saya mau sholat dulu ya,” ucap Si Suster.


“Iya Sus, ada kok mushola nya sebelah sana,” kataku sambil


mengarahkan tanganku kea rah selatan.


“Abay ikut Tante,” ucap Abay.


“Revina juga Tante,” sahut Revina.


Akhirnya mereka bertiga meninggalakan ku pergi untuk sholat.


Aku mencoba menghubungi Naufal, mengirim pesan WA padanya.


“Mas, sekarang lagi dimana? Masih kerja ya?” Gia.


Aku sangat berharap jika Naufal membalas pesan WA dariku.


“Astagfirullah aku lupa belum kasih alamat ke orang tua


Revina,” gumamku.


Segera ku kirim pesan pada orang tua Revina, sesekali ku


lihat profilnya, profil dengan foto Revinda dan info sibuk.


Sekalian ku kirim detail dimana kami duduk di Resto ini,


agar nanti orang tua Revina tidak mencari-cari lagi.


.


.


.


Aku menunggu Suster, Abay dan Revina hampir 15 menit.


“Lama banget ya,” kataku.


Aku berniat untuk melihat ke mushola, dan ternyata sangat


antri.


Lalu aku kembali duduk di meja ku.


“Pantesan lama, antri banget,” kataku.


.


.


.


Akhirnya, beberapa menit kemudian, saat aku sedang menunduk memainkan ponselku.


“Mbak,” ada sesorang dengan suara pria memanggilku.


Yang pertama kali ku lihat dan sempat ku lirik, dari


sepatunya, ku kira seorang pelayan, tapi nggak mungkin pakai celana seformal ini.


Lalu aku memandang dan menatap wajah pria itu.


Dan ternyata…………Deg-deg………deg-deg………


Pak Kevin yang sangat sangat lama tidak pernah ku temui


batang hidungnya sekarang datang menemuiku, dan berdiri di depanku.


Pak Kevin sangat kaget saat tau ternyata yang dia hampiri adalah aku yang dulu mahasiswanya, begitu juga dengan aku sangat shock melihatnya. Ternyata pertemuan kita di


Resto ini.


Hatiku bingung…..


Kami hanya bisa saling menatap, aku berdiri di depannya,


merasa sangat canggung karena sudah 10 tahun tidak pernah bertemu dan berpamitan dengan kejadian sedikit tak baik menurutku, padahal kita dalam satu kota yang sama.


Tatapan empat mata kami buyar oleh panggilan Revina yang ada di belakang Naufal.


“Papa,” panggil Revina.

__ADS_1


Naufal menoleh dan langsung duduk jongkok karena Revian


berlari memeluknya.


“Apa???!!! Revina panggil Papa??!!! Ternyata……..Pak Kevin adalah Papa Revina??!!! Berarti selama ini aku mengantarnya ke rumah Pak Kevin, nggak !!! Ini nggak mungkin,” kataku dalam hati yang bengong melihatnya.


Si Suster berjalan menghampiriku.


“Dok,” panggilnya.


“Hello, Dok, kenapa?” tanyanya yang membuyarkan lamunanku.


“Emm…oow…nggak papa Sus,” jawabku.


“Duduk lagi Dok,” tuturnya.


Aku kembali duduk begitu juga Abay dan Si Suster.


“Papa kenalin ini Tante Gia, Mamanya Abay,” ucap Revina yang tidak mengetahui bahwa Papanya dan aku sudah saling mengenal.


Kami benar-benar canggung, dan bingung untuk mengawalinya


siapa dan bagaimana.


“Maaf Pak, Bapak kenal sama Dokter Gia?” tanya Si suster


karna tau seperti ada yang berbeda dari tingkah Papa Revina itu.


“Eemmm….oh, engggak, saya baru bertemu dan tau sekarang


ini,” jawab Pak Kevin dengan ramah pada Suster.


Deeeeggggg…………….


Untuk kedua kalinya Pak Kevin membuat ku kecewa atas jawabannya yang diberikan pada Si Suster, pertama saat aku sebagai mahasiswa nya, dan yang kedua, aku sebagai Mama dari teman anaknya.


“Kevin,” ucapnya saat berkenalan pada kami.


“Gia,” jawabku.


Aku mempersilahkan duduk untuk Pak Kevin dan Revina.


“Saya langsung pulang aja,” tepis Pak Kevin yang membuatku kecewa kembali.


“Oh ya, silahkan,” jawabku.


Pak Kevin terlihat sangat membenciku.


“Tante, makasih ya, sudah ngajak Revina kesini,” ucap Revina.


“Iya Re, sama-sama,” jawabku.


Setelah Revina mengucapkan terima kasih padaku, Pak Kevin


langsung menggandeng Revina untuk pulang.


“Makasih sudah jaga anak saya,” kata Naufal sangat singkat.


“Ya, sama-sama,” jawabku sambil tersenyum padanya agar tidak terlihat kaku dan mencurigakan.


Moodku sudah berubah setelah bertemu dengan Papa Revina ini, aku sudah tidak nafsu makan, padahal makanan yang ku pesan ini sangatlah lezat dan nikmat.


Pak Kevin dan Revina pulang meninggalkan kami, tanpa menyapa Abay sebagai teman dari anaknya.


“Ma, kenapa ramen nya nggak dimakan?” tanay Abay.


“Tiba-tiba perut Mama Kenyan Nak,” jawabku.


“Kenyang?? Memangnya Mama tadi sudah makan,” tanay Abay lagi.


“Perut Mama tiba-tiba nggak enak Nak,” kataku.


“Nanti Mama makan dikit-dikit aja ramennya,” kataku untuk


melegakan Abay.


“Eeeemmm, Abay, sebelumnya Abay udah pernah bertemu dengan Papanya Revina?” tanyaku.


“Belum Ma, kalo Mamanya Revina, Abay udah pernah ketemu Ma,” jawabnya.


“Memangnya kenapa Ma?? Mama sebelumnya sudah pernah ketemu sama Papanya Revina?” tanya Abay balik.


“Oh enggak, Mama belum pernah ketemu, baru ini tadi Nak, kan Mama nggak pernah ke rumah Revina,” jawabku.


Si Suster dan Abay sangat menikmati makanannya, aku merasa tersiksa disini, sama sekali tidak lahap menyantap ramen ini.


.


.


.


.


Setelah selesai semua makan, dan ramen ku tak ku habiskan,


.


.


.


Di perjalanan yang tidak terlalu ramai ini, ku lihat ponselku kembali, tidak ada balasan pesan dari Naufal.


“Dok, makasih ya sudah traktir saya hari ini,” ucap Si


Suster.


“Iya Sus, sama-sama,” jawabku.


“Tante, kapan-kapan main ke rumah Abay ya,” ajak Abay yang tidak malu-malu lagi dengan Si Suster.


“Iya Sus, kapan-kapan main ke rumah saya,” kataku.


“Iya Abay, Tante nanti kalo ada waktu luang ke rumah kamu,”


jawab Si Suster.


Mobil berbelok ke arah perumahan.


“Lurus aja Dok,” kata Suster.


Mobil melaju sangat pelan.


“Nah ini Dok rumah saya, Dokter sama Abay nggak mampir


dulu?” tanyanya.


“Enggak Sus, lain kali aja ya, udah malem,” jawabku.


“Ya udah deh, makasih ya Dok sudah nganter saya sampai


rumah,” ucapnya.


“Iya Sus sama-sama,” kataku.


“Daa Tante,” sahut Abay.


“Daaa Abay, hati-hati ya,” ucapnya.


Mobil ku lajukan kembali arah pulang, Abay berganti tempat


duduk di depan tepat di sebelahku.


“Ma, Tante tadi baik banget ya Ma,” puji Abay pad Si Suster.


“Iya Nak, memang baik banget si Suster tadi,” kataku.


“Tante itu belum punya anak ya Ma?” tanya Abay lagi.


“Belum Nak, nikah aja belum Nak,” jawabku.


.


.


.


.


.


***(Di Rumah)


Sampainya di Rumah, mobil ku lajukan masuk ke garasi.


Lalu kami turun dan masuk ke rumah.


“Assalamu’alaikum,” salamku dan Abay.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Pak Rusdi sambil membawa timba.


Aku dan Abay langsung berjalan menuju kamar.


“Nak, langsung mandi ya,” tuturku.


“Iya Ma,” jawabnya.


Abay berjalan ke kamarnya, sedangkan aku masuk ke kamarku sendiri.


***(Di Kamar)


Ku letakkan tasku di atas ranjang, dan aku berjalan ke


balkon.

__ADS_1


“Huuufftt, pertemuan ini terjadi lagi,” kataku dalam hati.


Ku lihat kembali profil WA Papa Revina alias Pak Kevin.


Saat ku buka, semua tampilan sudah berubah, profil WA tanpa foto, sepertinya Pak Kevin memblokir nomor WA ku.


“Kok nggak ada fotonya ya,” gerutuku.


“Pasti Pak Kevin langsung blok nomor WA ku,” ucapku dalam


hati.


“Asshhh, kok bisa-bisanya anak Pak Kevin satu kelas sama


Abay, teman Abay pula, huuum,” kataku.


“Siapa ya istri Pak Kevin?? Apakah Meira,” dalam hatiku


bertanya-tanya.


Tok….tok….tok….Seseorang dari luar sedang mengetuk pintu


kamarku.


Gleeeekkkk..


“Ma, Mama kok belum mandi?” ucap Abay dari belakang yang


mengagetkanku.


“Mama kepikiran Papa yak arena Papa belum kasih kabar,” tebak Abay.


“Emm..enggak Nak, Mama kan tadi keringetan kalo masih


keringat kan nggak boleh langsung mandi,” jawabku.


“Mama kenapa nggak nyala in AC nya aja,” kata Abay.


“Mama pengen udara alami aja Nak, maka nya Mama di balkon kan,” tepisku.


“Ya udah Abay ke bawah ya Ma, udah di tunggu guru les Abay,” ucapnya.


“Iya Nak,” jawabku.


.


.


.


Aku segera bergegas mandi, setelah mandi, aku melaksanakan


sholat isya’ karena kebetulan adzan isya' sudah selesai berkumandang.


Saat aku sholat, ponselku terus berdering.


Ku buka ponselku, 5 panggilan video dari Naufal tidak


terjawab.


“Astagfirullah, ternyata Mas Naufal,” kataku.


Ku panggil balik ke nomor Naufal.


“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif……”


”Kok nggak aktif…Mas Naufal ngapapin sih?” tanyaku yang


sedikit kesal.


“Tadi di WA nggak ada balasan, sekarang nomorya nggak aktif,” kataku.


Ku lepas mukenahku, dan keluar dari kamar Abay untuk


mengecek apakah Abay sudah tidur atau belum.


Gleeeeeekkk… ku buka pintu kamar Abay.


“Belum tidur,” kataku.


“Belum Ma,” jawab Abay di depan layar laptopnya.


“Abay hari ini mau nonton film bentar ya Ma,” rayunya.


“Iya Nak, Mama malam ini tidur kamar Mama ya Nak, Abay kalo mau tidur sama Mama, langsung ke kamar Mama aja,” ucapku.


“Iya Ma,” jawabnya.


Ku cium kepala Abay.


“Mama ke kamar ya Nak,” pamitku.


“Iya Ma,” jawabnya.


Aku kembali ke kamarku.


***(Di Kamar)


Langsung ku rebahkan tubuhku di atas ranjang.


“Uuugghmm,”


Ku buka ponselku dan melihat foto Naufal di layar ponselku


membuatku semakin kesal padanya.


“Sibuk banget kamu Mas, sampe lupa sama aku,” kataku yang


berbicara dengan foto yang ada di layar ponselku.


Untuk menunggu kedua mataku mengantuk, ku buka-buka galeri foto ku dan Naufal.


.


.


.


.


Tak terasa hampir satu jam aku memainkan ponselku.


Ponselku kembali berdering, ku angkat telepon dari Naufal.


“Assalamu’alaikum Sayang,” kata Naufal.


“Wa’alaikumsalam,” jawabku.


“Belum tidur?” tanya Naufal.


“Belum,” jawabku singkat.


“Abay mana Sayang?” tanya Naufal lagi.


“Di kamarnya,” jawabku singkat lagi.


“Kamu kenapa cuek banget gini?? Ada masalah kerjaan?? Atau kamu lagi capek,” tebak Naufal.


“Cuman capek aja,” jawabku.


“Yah padahal aku pengen banget telfonan lama sama kamu,


eeeh tapi kamu nya capek, ya udah kamu istirahat gih,” tuturnya.


“Iya, aku juga udah ngantuk banget,” kataku.


“Nggak tidur sama Abay?” tanya nya lagi.


“Lagi pengen tidur sendiri,” jawabku.


“Kamu kenapa sih Sayang?? Marah sama aku?” tanyanya.


“Enggak, kan kamu disana kerja,” kataku.


“Tapi kamu nggak biasanya kayak gini,” ucap Naufal yang


sebenarnya sudah paham dengan sikapku yang bete karena seharian tidak di kasih kabar darinya.


“Kamu bete pasti karena seharian aku nggak merhatiin kamu


kan?? Yak an?? Hayo ngaku Sayang, hehehem,” canda Naufal yang mencoba menghiburku.


“Enggak lah Mas, kan kamu memang kerja, kenapa aku cemburu sama pekerjaan kamu,” alasanaku.


“Udah lah Sayag ngaku aja, aku tuh udah paham banget sama


sikap kamu,” tepis Naufal.


“Kamu ngapain tadi pake acara nomor kamu nggak aktif?”


tanyaku.


“Tuh kan apa aku bilang kamu bete gara-gara ini, tadi itu aku masih bicara sama orang penting Sayang, sama Bastian juga kok,” jawabnya.


“Orang penting?? Maksud kamu aku juga bukan orang penting,” kataku yang sensi padanya.


“Enggak, maksud aku orang penting di meeting aku, ah kamu


sensi banget, ya kamu orang penting banget lah buat aku,” ucapnya.


“Harus nggak di aktifin nomornya?” tanyaku.


“Kan biasanya aku kalo penting banget kan juga gitu Sayang,


aku matiin handphone aku,” jawabnya.

__ADS_1


“Iya iya, ya udah aku mau tidur,” kataku.


Bersambung…..


__ADS_2