
Tapi mengapa tiba-tiba aku tidak srek membicarakan tentang suamiku. Aku takut jika ini benar-benar terjadi. Aku akan malu dengan Bi Sarah.
"Aaaa...aaaa nggak papa sih Bi, hehem cuman nanya aja," jawabku.
"Mbak Gia aneh, sudah pasti sedang ada masalah dengan Mas Naufal ini," gumam dalam hati Bi Sarah.
"Apa aku ke Rumah Sakitnya Mas Naufal aja ya,"
"Biar aku tau sendiri, atau aku wa Suster Andini saja ya," gumamku dalam hati sambil melamun.
"Aaarrghhh tidak mungkin, aku tidak ingin melibatkan siapapun disini," gumamku lagi.
"Mbak....Mbak Gia," panggil Bi Sarah.
Aku tidak tau sejak kapan Bi Sarah memanggil namaku.
"Eeehmm iya Bi??" jawabku.
"Kalo begitu, Bibi turun saja ya Mbak," pamit Bi Sarah.
"Iya Bi, iya," jawabku.
Bi Sarah pun turun ke bawah meninggalkan ku sendirian disini. Aku masih penasaran dengan cerita itu. Akhirnya, niatanku untuk menghampiri Mas Naufal dan menanyakan hal itu semakin kuat.
Langsung aku bergegas berdiri, ku ambil kunci mobilku di atas meja bufet. Lalu aku turun dan berlari masuk ke Garasi.
"Mbak mau kemana??" tanya Bi Sarah.
"Keluar sebentar ya Bi," jawabku.
"Iya Mbak, hati-hati," tutur Bi Sarah.
"Mbak Gia mau kemana?? Kok buru-buru banget,"
"Apa ada hubungannya dengan pertanyaan Mbak Gia tadi ya??" Tebak Bi Sarah di dalam hati.
Aku langsung menancap gas mobilku dengan penuh emosi yang sudah tidak bisa ku tahan lagi. Kenapa Mas Naufal tidak bercerita tentang ini padaku jika memang ini bukan apa-apa.
"Bagaimana jika rasa curigaku benar??"
"Bagaimana jika Mas Naufal......"
"Aaaasssshh, nggak!! Aku nggak boleh mikir negatif tentang suamiku,"
Ucapan Mama Feni waktu itu. Terus mengahantui pikiran dan telingaku.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, aku pun sampai di Rumah Sakit.
***(Di Rumah Sakit)
Setelah mobil terparkir. Aku langsung berjalan terburu-buru ke ruangan Mas Naufal.
"Dokter Gia," sapa mereka yang ada disana.
"Dokter,"
Begitu sapaan mereka. Aku cukup memberikan senyumku pada mereka karena aku juga sedang terburu-buru.
Dan akhrinya, aku sampai di depan ruangan Mas Naufal. Tepat di depan pintu ruangannya, kaki ku berhenti. Berat untuk melangkah ke dalam.
"Ya Allah......gimana ini??? Aku harus gimana?? Aku tidak bisa jika harus menuduh suamiku tanpa bukti apapun," gumamku dalam hati.
Belum tau yang sebenarnya saja kaki dan tanganku sudah gemetaran. Apalagi nanti jika bertanya dengan Mas Naufal. Pasti bibirku juga ikut bergetar.
"Bismillah, Ya Allah semoga jawaban dari Mas Naufal sesuai dengan apa yang aku harapkan," kataku dalam hati.
Tanganku mulai memegang gagang pintunya. Tinggak ku tarik ke bawah saja, pintu ini akan terbuka.
Deg deg.....deg deg.....
Glekkkk.......
Dan ternyata, Mas Naufal tidak ada disana sekarang. Kedua mataku menelusuri semua sisi ruangan ini. Tapi, tidak ada Mas Naufal disana.
"Astagfirullah, Mas Naufal kan masih meeting, ini kan udah jam setengah sepuluh, Ya Allah," ucapku.
"Huuuffttt, untung saja Mas Naufal masih meeting, seenggaknya aku bisa menyusun kata-kata yang harus ku tanyakan pada Mas Naufal," kataku yang sendirian berada di dalam sana.
Aku lebih memilih menunggu Mas Naufal saja, agar aku tidak terus-menerus penasaran. Dan aku juga tenang jika sudah mendengar kebenaran yang sebenarnya. Mas Naufal nggak mungkin aneh-aneh.
__ADS_1
Sudah satu jam an aku menunggunya disana, Seorang mengetuk pintu ruangan Mas Naufal aku membukakannya. Asisten Mas Naufal datang dengan membawa sekotak berisi brownies itu.
Deeegggg.....
"Dokter Gia," ucap Asisten Mas Naufal.
Mataku langsung menuju pada kotak yang di bawa Asisten Mas Naufal itu.
"Oooo jadi ini yang suka kasih brownies buat Mas Naufal, tapi itu beneran isinya brownies kan," gumamku dalam hati.
"Ternyata ini jawabannya," gumamku lagi.
"Masuk masuk," perintahku.
"Aaaaammmm.....Saya cuman mau kasih ini ke Dokter Naufal Dok, ini dari depan Lobi, ada yang kirimin terus saya bawa sekalian," kata Asisten Mas Naufal.
"Kiriman?? Berarti bukan dia dong yang ngasih buat Mas Naufal??" tanyaku dalam hati.
"Oooo gitu ya?? Kiriman dari siapa ini Mbak??" tanyaku.
"Saya kurang tau Dok, kayaknya ada kartu ucapannya di dalam," jawab Asisten itu.
"Ya sudah nanti saya berikan sama Dokter Naufal, pasti kamu tau juga kan Dokter Naufal lagi meeting," kataku.
"Iya Dok, kalo gitu saya permisi ya, mari Dokter," pamit Asisten Mas Naufal dengan ramah.
"Iya mari," jawabku lalu menutup pintu itu.
Bentuk kotaknya sangat elegant, warnanya gold dan terlihat dari luar sepertinya ini brownies mahal dan juga lezat.
"Dari siapa ya ini??"
"Nggak mungkin kalo Mas Naufal pesan brownies ini," gumamku lagi dalam hati.
Aku mencoba membuka kotak browsnies itu.
Ku cari-cari tidak ada kartu ucapannya disana.
"Diselipin dimana yaaa," gumamku.
Saat aku membuka kresek yang membungkus kotak brownies itu. Kartu ucapan itu jatuh. Dan saat aku mengambilnya. Mas Naufal masuk ke ruangannya.
"Sayang," ucapnya.
Aku masih menjongkok mengambil kartu ini. Aku melihat kaki Mas Naufal yang sedang ada di depan mataku dan juga satu pasang kaki lagi di belakangnya.
Aku pun beranjak berdiri, ternyata satu pasang kaki di belakang Mas Naufal adalah kaki dari Pak Bastian.
Deg deg........
Mata Pak Bastian dan juga Mas Naufal melihat kotak brownies yang ku bawa ini.
Semakin terlihat kekhawatiran mereka saat aku mengambil kartu ucapan ini.
"Sayanggg kok disini??" tanya Mas Naufal yang berusaha mencairkan suasana.
Pak Bastian pamit undur diri saat melihat situasi ini, seperti ada yang disembunyikan dari mereka berdua.
Akhirnya aku lega, Pak Bastian bisa meninggalkan kami berdua disini.
"Emangnya aku nggak boleh disini," jawabku dengan judes.
"Kok kamu jawabnya sewot gitu sama Mas," kata Mas Naufal.
Aku mengabaikan ucapan Mas Naufal. Sekarang yang aku lakukan ingin membuka dan membaca surat ini.
Ku buka kartu ucapan itu, dan disana tertuliskan kalimat nan cantik dan indah.
"Morning Om Dokter, Semoga suka ya, jangan lupa di balas ya Om,"
-Clava dan Mama Vela-
Deegggggg..............
Kata-kata itu membuatku ingin menangis.ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Rasanya aku ingin marah sekali pada Mas Naufal.
Wajahku begitu marah pada Mas Naufal.
"Apa ini Mas??!!" tanyaku.
"Mas pasti tau kan, ini dari siapa??!!"
"Iya kan??!!" tanyaku dengan penuh amarah dan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.
"Jawab Mas!! Ini dari siapa pasti Mas tau," kataku.
"Coba ini dari siapa??!! Hm??" tanyaku.
"Dari Vela, terus siapa Clava Mas??!!" jawab Mas Naufal sangat enteng.
Deeggg.....semakin membuat aku merasa terpukul.
"Jadi ini Mas, ini yang katanya Mas mau ngebahagiain aku, ini buktinya??!"
"Bukan Sayang, nggak gitu, " kata Mas Naufal.
"Nggak gitu nggak gitu apanya Mas??"
"Ini Vela, terus Clava yang mana lagi?? Hm?? Siapa??" tanyaku.
"Setelah Vela, Dokter Irene, lalu Clava siapa lagi ini, nanti nya siapa lagi Mas??"
"Hm?? Siapa lagi yang akan membuatku hancur seperti ini," kataku sambil menangis.
"Siapa Vela yang ini???!! Siapa Clava Massss," tanyaku dengan tangisan yang luar biasa.
__ADS_1
Meskipun aku menjerit keras disini, pasti mereka tidak akan mendengar. Karena disini sangat tertutup dan kedap udara.
"Vela teman Mas," jawab Mas Naufal yang merasa bersalah.
Duuuuaaarrrr........
Emosi telah membawaku masuk ke dalam dunianya.
"Ooo jadi seperti ini perbuatan Mas sebenarnya, Mas nutup-nutupin semuanya dari aku, ternyata kalian berlanjut Mas?? Iya??" tanyaku di depan wajahnya.
"Berlanjut apa sih Sayang?? Kita itu nggak ada apa-apa," jawab Mas Naufal.
"Aku dan Vela hanya sebatas teman dari dulu, udah itu aja nggak lebih," jawab Mas Naufal membela diri.
"Sebatas teman bukan begini Mas, nggak gini," ucapku dengan tangisanku.
"Mas udah bohong sama aku, bohonggg!!!" kataku.
"Nggak Sayang, Mas nggak bohong, kamu salah," ucapnya.
"Aku salah!! Yah memang aku salah, aku salah karena percaya sama kamu, aku salah karena menerima perjodohan kita dulu!!!" Ceplosku yang sudah tidak tahan lagi dan uncontrol.
Gllleerrrrrrrr...........
Pyyyaaarrrrr.........
Seperti suara halilintar yang mencambuk tubuh Mas Naufal. Aku begitu emosi, sudah lelah rasanya.
Hatiku begitu hancuurrrrr yang keberapa kalinya ini.
Mas Naufal terus saja mengulangi kesalahan yang sama, sama dan sama.
Bodohnya aku, selalu percaya dan memaafkan.
Aku bodoh.
"Apa kamu bilang??" kata Mas Naufal.
"Oooo jadi begini kamu??!!"
Mas Naufal juga sedikit menaikkan nada bicaranya padaku untuk pertama kalinya.
"Aku udah......aku udah capek percaya sama Mas, huhuhuhum," kataku sambil terjatuh ke sofa.
Tok....tok...tok.....
Di saat kami bertarung seperti ini. Ada saja yang ingin masuk ke ruangan Mas Naufal. Yaaaah maklum dia kan orang sibuk.
Langsung ku hapus kedua air mataku, dan memalingkan wajahku untuk tidak melihat seseorang yang mencoba masuk ke ruangan Mas Naufal.
"Masuk," jawab Mas Naufal.
Gleekkk.....
Dokter Anton kaget saat melihatku tengah berada di ruangan ini, karena Dokter Anton lama sudah tidak bertemu denganku.
"Permisi Dok, meeting akan segera di lanjutkan kembali, dan Dokter sudah ditunggu disana," ucap Dokter Anton.
"Iya saya akan segera kesana," jawab Mas Naufal.
"Baik Dok," ucapnya lalu meninggalkan kami berdua kembali.
"Aku mau meeting," jawab Mas Naufal lalu meninggalkanku.
"Tega sekali Mas Naufal berbuat seperti ini padaku, huhuhum," kataku dalam hati.
Tak lama setelah Mas Naufal keluar, aku bergegas untuk pulang. Karena aku sudah sangat marah dengan Mas Naufal.
Sambil berjalan dan terus menundukkan kepalaku.
Aku berjalan sangat cepat agar tidak ada yang melihatku dan mengajakku bicara. Hatiku sudah sangat sakit. Dan tidak ingin berbicara dengan siapa-siapa lagi.
Aku langsung masuk ke dalam mobil. Dan menancap gas mobilku dengan kencang.
Aku tidak terima dengan perlakuan Mas Naufal.
"Ya Allah..... bisa-bisanya Mas Naufal seperti itu,"
"Ingat Mas, anakmu sudah besar, ingat Abay, kenapa Mas masih mengukir kisah di masa lalu??" Ucapku dalam hati.
"Apa yang dikatakan Mama Feni benar, dan sekarang sudah terjadi, huhuhuhu,"
Aku menangis terisak-isak di dalam mobil.
"Aku harus lari kemana ini??"
Akhirnya aku menghubungi Susi.
Tut....tut....tut.....
Susi tak kunjung menerima panggilan dariku.
"Susiiiii ayo angkat, aku butuh kamu," kataku.
Tut....tut....tut.....
"Iya Gi, ada apa??"
"Kamu dimana?? Aku mau ketemu kamu," jawabku sambil menangis.
"Ya Allah Gi, kamu kenapa lagi??" tanya Susi yang panik mendengar aku menangis.
"Ceritanya panjang, nanti aku ceritain ke kamu," jawabku lagi.
"Oh oke-oke, aku di rumah kok, kamu langsung kesini aja," kata Susi.
"Ya Si," jawabku.
__ADS_1
Ku tancap gas mobilku lebih kencang lagi.
Bersambung.....