Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 120 (Baby Store)


__ADS_3

Sepulang dari Rumah Mamaku, tepat sampai Rumah pada malam hari.


***(Di Rumah)


Naufal dan Bi Sarah menurunkan koper dan berbagai buah tangan yang sengaja ku beli untuk orang Rumah.


Bi Sarah segera mengunci pintu rumah karena memang sudah larut malam.


"Assalamu'alaikum," ucap salam kami.


Tidak ada satupun manusia yang menjawab.


"Bi oleh-olehnya di taruh dapur aja ya," kata Naufal.


"Iya Mas," jawab Bi Sarah.


Aku dan Naufal langsung berjalan menapaki anak tangga, karena memang kami sudah sangat lelah, sebelum pulang ke rumah kami sempat jalan-jalan bersama Johan dan Mama.


***(Di Kamar)


"Gi jangan lupa loh besok jadwalnya USG, tadi temenku udah aku WA," kata Naufal sambil melepas alas kakinya.


"Iya Mas, aku inget kok," kataku.


"Pokoknya nanti kalo mendekati hari lahiran bayi kita, aku bakalan cuti," kata Naufal sambil mengelus-elus perutku.


"Aku nggak mau kehilangan momen penting itu Sayang, apalagi ini untuk pertama kalinya, dannn sekalian besok kita beli perabotan bayi kayak ranjang, terus almari," tutur Naufal.


"Emang besok kamu pulang kerja jam berapa?" tanyaku.


"Aku besok pulang siang, jadi pulang kerja kita langsung belanja, ajak Bibi loh Sayang," ucapnya.


"Iya iya," jawabku.


Naufal menggeser tubuhnya untuk dekat denganku.


"Aku nggak sabar Gi, Mama sama Papaku kemaren WA aku nanyain tanggal bersalin nya, mereka seneng banget Gi," ucapnya.


"Iya lah Mas, nunggu nya udah lama," kataku sambil menyayupkan pandanganku ke bawah.


"Hus hust gak papa Sayang," kata Naufal sambil mengelus-elus lenganku.


"Bobo ya," tuturnya sambil mengecup keningku.


.


.


.


.


Keesokan harinya, seperti biasa Naufal meninggalkan ku untuk bekerja, aku hanya di temani Bi Sarah saja di Rumah.


***(Di Dapur)


"Bi nanti di ajak Mas Naufal keluar, Bibi bisa?" tanyaku.


"Bisa Mbak, bisa, kemana Mbak?" tanya Bi Sarah balik.


"Beli barang-barang bayi Bi," jawabku.


"Wah siap Mbak, Bibi seneng kalo dilibatkan seperti ini, hehehe," ucap Bi Sarah.


"Nanti pulang kerja Mas Naufal kita langsung berangkat ya Bi," kataku.


"Baik Mbak," jawab Bi Sarah.


"Ini Mbak segera dimakan," tuturnya sambil membawakanku segelas susu, cereal dan juga potongan buah-buahan.


"Makasih Bi," kataku sambil tersenyum padanya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Hari pun sudah siang, saat aku tengah melipat mukenahku, Naufal datang masuk ke Kamar.


"Sayangggg," panggilnya.


"Mandi langsung loh," kataku.


"Yaah gak boleh meluk nih," keluhnya.


"Hehehem, sini sini," kataku langsung memeluknya.


"Bau nggak?" tanyanya.


Aku mengendus aroma khas parfum Naufal yang awet melekat di kemejanya.


"Enggak," jawabku.


"Berarti aku nggak usah mandi Sayang," tepisnya.


"Jorok ah Mas, aku mandi, Bi Sarah mandi, masak kamu enggak," rengekku.


"Iya iya canda aja, hehhee, tunggu ya, aku mandi dulu," tuturnya sambil menyentil hidungku.


"Iya Mas," kataku.


.


.


.


.


.


.


.


Sampainya di "Baby Store", toko nya gede banget dan lantainya juga banyak, dan di sini juga sangat lengkap, kata Mamanya Naufal, xixixixi.


Lagi-lagi, selalu dan selalu, para pegawai disana terus melirik Naufal, hmmm sudahlah, aku juga sudah terbiasa dan kebal.


Karena baby kita cowok, jadi kita belikan ranjang yang netral saja, dan aku suka nuansa warna putih, jadi semua kita beli serba warna putih, dari ranjang, almari, kecuali stroller ya.


Dan untuk masalah pakaian ataupun bedong, aku serahin ke Naufal, karena dia tau selera cowok.


Karena begitu banyak barang yang kita beli, dan kita tidak mungkin bisa membawanya, ternyata disana disediakan pelayanan antar barang.


Berjam-jam kami berada di toko itu, akhirnya selesai pembayaran, kami langsung pulang, dan mobil toko mengikuti kami dari belakang.


.


.


.


.


.


***(Di Rumah)


Sampainya di rumah, semua harang diturunkan oleh pegawai toko dan di bawanya ke dalam ruang tamu.


"Makasih ya Pak," ucap Naufal.


"Ya Mas, sama-sama," jawab dua pegawai itu.


Lalu mereka pergi meninggalkan rumah kami.


"Udah lengkap semua kan?" tanya Naufal.


"Udah kok Mas udah kayaknya," jawabku.


"Sekarang kita pergi USG kalo gitu Sayang," ucapnya.


"Oh iya Mas, Ya Allah aku hampir lupa, ya udaha ayo Mas nanti keburu malem," tuturku.

__ADS_1


"Bi, Naufal sama Gia pergi dulu ya, bentaran doang," pamit Naufal.


"Iya Mas monggo," jawab Bi Sarah sambil mempersilahkan kami dengan tangannya.


Naufal langsung membawaku masuk ke mobilnya, lalu kami berangkat ke Dokter Bela (teman Naufal)


Sampai di tempat praktek Dokter Bela, kami mengantri cukup lama disana, dan akhirnya giliran namaku di panggil.


Aku segera masuk ke ruangan Dokter Bela.


.


.


.


.


Naufal lega mengetahui bayi kami yang sehat dan rahimku yang tidak ada keluhan apa-apa.


"Alhamdulillah Bel," ucap Naufal.


"Nanti kamu harus nungguin lahirannya loh Fal, hehehe," kata Dokter Bela.


"Kalo itu pasti Bel," jawab Naufal.


"Soalnya Naufal ini ya anaknya sok sibuk dari dulu, apalagi kalo soal karirnya," kata Dokter Bela padaku.


Aku hanya tersenyum pada Dokter Bela.


"Itu dulu Bel, kan sekarang Alhamdulillah udah terwujud, pastinya ya istriku nomer satu dong," kata Naufal.


"Istrimu ini pendiam ya Fal, hehehe, beruntungnya dirimu," kata Dokter Bela.


"Hehehem," aku hanya tersenyum saja padanya karena aku tidak begitu akrab dengan Dokter Bela.


"Bisa aja kamu," kata Naufal.


"Ya udah ini vitamin nya," ucap Dokter Bela yang memberiku sekantung vitamin untukku.


.


.


.


.


Selesai USG, kami langsung pulang, karena hari juga udah mulai gelap.


***(Di Rumah)


Pak Rusdi dan Naufal mengangkat satu per satu barang-barang yang kami beli tadi ke Kamar.


Dan semua barang sudah ada di dalam kamar.


Adzan magrib berkumandang, aku dan Naufal bergegas mengambil air wudhu, lalu kami pun sholat dan tak lupa untuk mengaji.


Selesai mengaji, Naufal langsung menata tata letak ranjang dan almari bayi kami. Kebetulan kamar kami sangat luas, jadi Naufal bisa menggunakan sisi Kamar yang diinginkannya.


"Sayang, ini ranjang nya disini ya," ucapnya.


Ranjang bayi di letakkan nya di samping ranjang kami.


"Iya Mas," jawabku yang tidak mengerti tentang hal seperti itu.


Sedangkan aku melipat baju-baju bayi satu persatu lalu ku tata di almari nya yang tidak begitu besar karena untuk bayi.


Dengan menata ini semua, kami sampai jam 9 malam, dan pastinya kami tidak lupa menyempatkan sholat.


"Hoooaamm, udah Sayang tidur ya, besok lagi," tutur Naufal.


"Uuughhh iya Mas, aku udah capek juga," kataku.


"Tuh kan kamu, jangan capek-capek ah," tuturnya.


Segera ku rebahkan tubuhku, dan Naufal mematikan lampu kamar lalu menyusulku tidur.


Naufal mencium keningku terlebih dahulu, lalu mendekapku ke dalam peluknya.


Bersambung...


Jangan lupa tinggalin komen, like, dan vote nya ya kak heheh🙏😁

__ADS_1


Dannnn pastinya jangan sungkan-sungkan buat kritik sarannya, Author akan menampung semua masukan dari reader, jadi tenang aja, jangan khawatir kalo komennya nggak di baca ya hehehe🖤😁


__ADS_2