Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 168 (Stay Romance)


__ADS_3

Tok……tok….tok.


“Siapa Mas?” tanyaku.


“Nggak tau,” jawab Naufal.


“Masuk,” ucap Naufal.


Beberapa Dokter masuk ke ruangan Naufal termasuk Dokter


Irene.


“Eh ada Dokter Gia,” ucap Dokter Anton.


“Hehehem,” aku hanya tersenyum pada mereka.


“Dari tadi Dok?” tanay salah satu Dokter yang merupakan


teman Naufal juga.


“Iya,” jawabku.


“Iya lah, Dokter Gia yang ngerawat suaminya,” sahut Dokter


Anton.


“Aku keluar ya Mas,” bisikku lirih pada Naufal.


“Iya Sa…eh Gi,” jawab Naufal yang hampir keceplosan lagi.


Aku berjalan keluar dari ruangan Naufal, Sang Suster


langsung berlari menghampiriku.


“Dok, gimana keadaan Dokter Naufal?” tanya Si Suster.


“Alhamdulillah cuman luka ringan aja kok Sus,” kataku.


“Huuuffft syukurlah, satu rumah sakit bakalan pingsan kalo


sampe Dokter Naufal kenapa-napa,” ceplos Si Suster.


“Ha?? Maksudnya Sus?? Gimana-giamana?” tanyaku.


“Eemm….hhehehe, enggak Dok, Dokter tau kan gimana satu rumah sakit ini,” jawab Suster sedikit gugup.


“Ooo itu, iya saya paham, hehehem, bilangin sama semuanya


kalo Dokter Naufal nggak kenapa-napa biar semua nya nggak khawatir,” kataku.


“Dokter nggak marah?? Nggak cemburu?” tanya Si Suster.


“Kenapa cemburu Sus, nggak ada rasa itu sama skeali, malah


saya seneng banyak yang khawatir dan peduli sama suami saya,” kataku.


“Hehehe, gitu ya Dok, nanti saya bilang sama temen saya Dok, biar nggak pada khawatir, mereka kan nggak mungkin nanya lnagsung ke Dokter Naufal kan Dok,” kata Si Suster.


“Masih pagi ada aja masalah,” kata si Suster.


“Mungkin tadi tuh orang gila Dok, psikopat kayaknya, tega


banget loh,” ucap Si Suster.


“Memangnya tadi Suster tau pasien nya?” tanyaku.


“Tau Dok, orangnya udah agak tua, jangan-jangan itu


Bapaknya, tapi kok dia tega banget ya Dok,” kata Si Suster.


“Gangguan jiwa kali pria tadi ya Dok,” tebak Si Suster.


“Mungkin Sus, saya pikir-pikir juga gitu deh kayaknya, Mas


Naufal tadi juga bilang gitu,” ucapku.


“Tapi kalo orang gila, kok bisa masuk kesini sih Dok,” kata


Si Suster.


“Saya juga belum tau Sus kejadian sebenarnya bagaimana, kan sekarang masih di tindak lanjuti sama Pak Polisi,” ucapku.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


Hari ini Naufal dan aku pulang siang, karena setelah


kejadian ekstrim tadi pagi.


“Mas, aku aja ya yang nyetir,” ucapku sambil berjalan


beriringan dengan Naufal.


Sepanjang kami berjalan banyak yang mendoakan Naufal agar


cepat sembuh.


“Cepat sembuh ya Dok,” ucap salah satu pasien disana.


“Iya sama-sama,” jawabku.


“Nggak usah Sayang, apaan sih orang aku nggak eknapa-napa


gini kok, tuh bisa jalan, gendong kamu juga bisa, hehehe,” ucap Naufal.


“Jangan aneh-aneh deh Mas, ya udah iya kamu yang nyetir,”


kataku yang menyerah darinya.


“Hehehe, lagian kamu sih, aku kan nggak manja Sayang, selagi


aku masih bisa, aku nggak mau ngrepotin orang lain,” kata Naufal.


“Kan aku bukan orang lain Mas, aku ini istrimu,” ujarku.


“Hhhmmm selalu nggak mau kalah,” gerutuku.


Kami masuk ke dalam mobil dan mobil langsung melaju


menjemput Abay.


Tiba-tib ponsel Naufal berdering, Anufal segera mengangkat


telepon dari nomor yang dia tidak mengenalnya.


Naufal sepertinya sedang bicara serius dengan penelepon yang dia tidak kenal.


Setelah Naufal selesai menelepon, dia kembali menyimpan ponselnya di dashboard.


“Siapa Mas?” tanyaku.


“Polisi,” jawab Naufal.


“Gimana Mas katanya tadi, kronologi sebenarnya gimana?”


tanyaku smabil menghadap langsung pada Naufal.


“Apa motif laki-laki itu?” tanyaku terus bertubi-tubi


menyerang Naufal.


“Masih nanti malam Sayang, sekarang belum dapat motif


jelasnya gimana,” jawab Naufal.


“Eeemmm gitu ya Mas,” ucapku.


“Jangan bilang sama Abay ya Gi,” kata Naufal.


“Loh kenapa?” tanyaku.


“Aku nggak mau dia sedih,” jawab Naufal.


“Abay pasti ngerti lah Mas,” kataku.


“Enggak Gi, dia nggak pernah lihat aku kayak gini, apalagi

__ADS_1


bentar lagi dia mau ujian, terus belum lagi kita berangkat ke luar Jawa, malah nanti double mikirnya Abay,” tutur Naufal.


“Nanti aja kalo pulang kita selesai jadi rrelawan aku aja


yang cerita ke dia,” sambung Naufal.


“Ya udah iya deh Mas, tapi kamu harus cerita loh ya, nggak


boleh nggak cerita, nggak baik tau Mas,” kataku.


“Iya iya aku bakalan cerita kok sama dia,” kata Naufal.


“Nanti kalo dia tau sendiri gimana, kalo misal nih ya dia


nggak sengaja megang perut kamu hayo,” ujarku.


“Ya sebelum dia mau megang perut aku ya aku ngindar, aku


alihin, ayolah Sayang bantu aku,ya,” rayu Naufal.


“Hhmmm….iya deh iya, aku turutin kamu,” kataku.


Sampailah mobil kami berhenti di depan gerbang sekolah Abay,


Abay yang sedang menunggu kami sedari tadi langsung masuk ke dalam mobil.


.


.


.


.


.


.


.


***(Di Rumah)


Kami langsung menuju ke kamar kami masing-masing, dan segera


bergegas untuk mandi.


***(Di Kamar)


“Mas nanti kalo ada polisi kesini gimana?? Pasti Abay


nanya-nanya ke kamu tuh kalo nggak ke aku,” kataku.


“Yan anti kita cari alasan dulu Sayang, yang penting kita


nggak usah bohong sama Abay, bilang aja karena tadi di Rumah sakit ada sedikit masalah atau gimana gitu, pasti dia udah nggak nanya-nanya lagi,” jawab Naufal.


“Lagian Abay kan nanti les Gi,” sambung Naufal.


“Ya siapa tau dia tiba-tiba ke bawah hayo,” ujarku.


“Iya sih Sayang,” kata NAufal sambil mengelus dagunya.


“Kalo gini kan kamu nggak bisa meluk aku weekkkk,” ejekku.


“Kata siapa?? Ya tetep bisa lah, kenapa nggak bisa,” ucap


Naufal.


“Ya nggak bisa lah Mas, kan nanti terkena luka kamu,”


tepisku.


“Mau di coba?” tanya Naufal sambil mengangkat kedua tangannya seolah-olah akan memelukku.


“Aku kasihan sama lukanya nanti terjepit,” alasanku.


“Luka nya nggak bisa ngomong Sayang, udah lah coba dulu,”


rayu Naufal yang akhirnya berhasil memelukku.


“Gimana?? Bisa kan, nggak ada yang gak bisa kalo buat kamu,


hehehe,” bisik Naufal di telingaku sambil mengelus-elus kepalaku.


Bersambung.....


awas senyum-senyum hehheeh

__ADS_1


__ADS_2