Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 181 (3 Coklat)


__ADS_3

Ku gesekkan kedua telapak tanganku.


“Eemmmm…..Mas, tadi aku pulang sama teman kamu,” kataku.


Naufal langsung berhenti melahap roti yang dibawanya tadi.


“Hm?? Teman aku??? Siapa??” tanya Naufal sambil menaikkan kedua alisnya.


“Dok…….Dokter Alvi,” jawabku terbata-bata karena agak takut.


“Oh Alvi, Kenapa sama Alvi??? Susternya kemana??” tanya


Naufal lagi.


“Emmm…..pasti kamu mau marah ya sama aku, tapi gini loh Mas ceritanya,” ucapanku terpotong oleh Naufal.


“Ngapain marah Sayang??? Aku nggak marah sama kamu,” ucap Naufal.


“Beneran kamu nggak marah??” tanyaku lagi.


“Semobil kalian?? Berdua??” tanya Naufal lagi dan lagi.


“Tuh kan kamu pasti bakalan marah sama aku, iya aku semobil


berdua sama dia,” jawabku.


“Eemm ya nggak papa dong Sayang, jalanan juga pastis epi dan gelap kan, pasti kamu takut kalo sendirian, ya nggak papa, kenapa aku harus marah sih,” ucap Naufal.


“Ya aku takut kalo kamu cemburu aku satu mobil sama cowok


lain, aku pake GoCar aja nggak boleh sama kamu, tapi tenang aja Mas, aku naiknya di belakang kok, nggak deketan sama dia,” ujarku.


“Eemmmm…iya nggak papa, aku nggak marah, terus Alvi nya


mana??” tanya Naufal.


“Bentar-bentar, kamu kok santai banget, aku digodain Pak


Bastian aja kamu sewot kamu cemburu padahal itu sahabat kamu, lah ini, temen baru kamu, kok kamu biasa aja,” kataku heran.


“Sayang, malah bagus kan kamu ada yang jagain,” kata Naufal.


“Tapi kamu nggak biasa nya kayak gini Mas,” tepisku.


“Aku tau latar belakang Alvi Sayang, dia anak yang baik kok,


nggak suka godain kayak si Bastian, jadi aman,” kata Naufal.


“Susternya kemana?? Kamu belum cerita sama aku,” ucap


Naufal.


“Oh iya ini, tadi Si Suster di jemput temennya, ketemuan,


katanya ada temennya disini,” jawabku.


“Kok kamu nggak nanyain ke aku gimana aku bisa sama Alvi


Mas,” kataku.


“Nah akum au tanya itu tadi Sayang, gimana kok bisa


ketemu??” tanya Naufal.


“Tadi Dokter Alvi motornya mogok di jalan awal masuk hutan,


terus dia lambai in tangannya buat minta tolong, yaa akhirnya aku bantu, itung-itung dia temen kamu,” jawabku.


“Kalo kamu mau nolongin Alvi berarti akmu mau dong di


tanya-tanya in sama Alvi tentang islam,” kata NAufal.


“Mass……ya nggak bisa gitu dong, kenapa nggak kamu aja sih,


udah deh Mas, jangan libation aku,” rengekku.


“Kan kalo aku misalkan nggak bisa, atau lagi sibuk, kan dia


bisa tanya kamu, Sayang……kita punya ilmu itu harus di bagi dan harus bermanfaat,” tutur Naufal.


“Iya Mas, aku tau, tapi lewat kamu ya,” ucapku.


“Loh ya nggak bisa dong Sayang, namanya nanya ya gharus ke


orangnya langsung, kalo pake perantara takutnya salah paham nanti,” ujar Naufal.


“Pokoknya aku nggak mau Mas, udah ah, kamu malah bahas ini,” ucapku.


“Mana aku minta rotinya,” ucapku.


Naufal langsung menyuapi ku satu potong roti selain


strawberry.


“Gimana tadi udah ngobrol banyak sama Abay??” tanya Naufal.


“Udah Mas, tapi nggak banyak, dan nggak bisa lama, soalnya


dia harus les,” jawabku.


“Emmm….dia bisa nggak tidur di rumah Mama, nggak kamu


tanyain,” ucap Naufal.


“Udah juga Mas, katanya nggak bisa tidur, hihihi kasihan ya


Mas,” jawabku.


“Dia kan nggak biasa tidur di rumah Mama Mas,” sambungku.


“Hehehem, Abay….Abay….padahal di rumah Mama nggak beda jauh dari rumah kita loh Sayang, cuman bedanya kalo Mama kan di pinggir jalan gede, kalo kita kan dalam kompleks jadi lebih tenang,” ucap Naufal.


“Papa gimana kondisinya??” tanya Naufal.


“Ehemm….Papa….Papa baik-baik aja kata Mama,” jawabku dengan lemas.


Naufal menarik pundakku dan mengelusnya.


“Di do’a in aja Sayang, Insya’Allah Papa nggak kenapa-napa,”


tutur Naufal.


“Iya Mas,” jawabku yang sok tegar dan sok kuat.

__ADS_1


“Besok, kita ke kota berdua, ya,” ajak Naufal.


“Beneran??” tanyaku yang sangat sennag.


“Ya beneran lah Sayang, emang ada wajah bohong ya,” tanya


Naufal.


“Hehehem, enggak sih, beneran ya berdua,” kataku.


“Iya beneran, aku juga kangen kali Sayang sama Abay sama


Bibi,” ucap Naufal.


“Kamu bawa aku kemana besok??” tanyaku.


“Udah besok lihat aja,” jawab Naufal.


“Mas Naufal ah selalu pake gitu, jago banget buat aku


penasaran,” kataku.


“Hehehe,”


Mobil melaju ke dekat tenda, Suster keluar dari mobil. Dan


mobil itu kembali melaju balik.


“Tuh Suster Mas,” kataku.


“Sama cowoknya??” tanya Naufal.


“Ngaco kamu Mas, sama temen lamanya, pacarnya kan di luar


negeri,” jawabku.


“Masuk Mas, dingin, kamu istirahat sana,” tuturku.


“Bentar, aku mau ketemu sama Alvi,” ucap Naufal.


“Mau apa?? MAksud aku kenapa??” tanyaku.


“Mau ngobrol, siapa tau bisnis berdua, hihihihi, kamu kira


aku mau marahi Alvi, ya nggak lah Sayang,” kata Naufal.


“Hihihihi, jangan capek-capek, langsung tidur aja, nggak


usah ngobrol malem-malem,” tuturku lagi.


“Iya Sayang iya nggak lama-lama kok,” kata Naufal.


“Aku masuk dulu ya Mas, ngantuk,” ucapku.


“Iya, masuh gih,” ucap Naufal.


Aku meninggalkan Naufal duduk sendirian disana.


.


.


.


.


.


Dalam tendasetelah aku gosok gigi dan cuci muka, aku tidak


bisa tidur.


“Mas Naufal kira-kira ngobtolin apa ya sama Alvi??” tanyaku


dalam hati.


“Apa janga-jangan Mas Naufal introgasi Alvi,” gumamku dalam


hati.


“Aaahh nggak, nggak mungkin,” ucapku.


Si Suter yang memainkan ponselnya di sampingku langsung menoleh padaku.


“Haa?? Nggak mungkin apanya Dok??” tanyanya.


AKu langsung menatapnya kembali, dan membulatkan mulutku.


“Ha??? Ooooo in….ini….nggak papa kok Sus, hehehem,” jawabku.


“Hayo Sokter lagi mikirin apa??” tanya Si Suster.


“Nggak ada, nggak ada mikir apa-apa,” tepisku.


“Eehhmmm, masak, tadi gimana Dok?? Berani pulangnya??” tanya Suster lagi.


“Bbb…..berani Sus, berani, hehem,” kataku.


“Maafin saya ya Dok,” ucap Suster.


“Nggak papa Sus, namanya juga ketemu teman lama, siapa yang nggak pengen,” kataku sambil tersenyum padanya.


“Iya Dok, apalagi dulu banyak kenangan-kenangan, huumm


rasanya pengen balik ke dulu lagi,” ucap Si Suster.


“Ehehehe, iii….iya kali ya Sus,” kataku.


“Memangnya tadi temennya Suster cowok??” tanyaku rada


sungkan.


“Cewek Dok, waduh saya nggak berani kalo jalan sama temen


cowok saya, gimana jadinya saya nanti mau nikah, heheh,” jawab Suster.


Kami ngobrol berdua sampai mengantuk.


"Hoaam, tidur Dok," kata Suster.


"Iya Sus, tidur aja duluan nggak papa," tuturku.


Suster pun meninggalkan ku tidur.

__ADS_1


Aku tetap saja tidak bisa tidur, karena masih penasaran apa yang dibicarakan Alvi dan Naufal.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Keesokan harinya.


***(Di Puncak)


Seperti biasanya setiap harinya kita harus berjalan menanjak demi pasien kita.


Aku berjalan mneghampiri Naufal yang sedang menemani pasiennya.


Saat aku sudah berada di depan Naufal, saat itu juga Alvi berada di samping Naufal.


"Eh kalian, sini duduk sini," tutur Naufal.


"Eemm....aku cuman mau bilang bentaran kok Mas nggak lama," kataku.


Karena aku tidak suka bertemu dengan Alvi lagi, kehadiran dia takut untuk membuatku ingat akan masa kecil kami berdua.


"Ya sudah saya permisi dulu Dok," ucap Alvi.


"Emmm nggak papa disini sekalian aja," kata Naufal.


"Aku mau bicara empat mata sama kamu," alasanku agar Alvi pergi meninggalkan kami berdua.


Akhirnya dengan kata-kata ku yang mnegusirnya secara halus, Alvi pun pergi.


"Ngomong apa Sayang??" tanya Naufal.


"Nggak ada ngomong apa-apa, mau ngobrol santai biasaa aja," jawabku.


"astaga Sayang, aku kira penting," ucap Naufal.


"Memangnya nggak boleh ya," rengekku.


"Ya boleh dong Sayang," ucapnya.


Aku tidak lama ngobrol dengan Naufal karena lagi-lagi kami harus melayani pasien kami.


Saat aku sedang berjalan ke arah lokasi bagian kelompokku, aku melihat gadis kecil yang sebelumnya sudah pernah ku temui.


Rupanya dia sedang bersedih.


Dia sangatlah lusuh, dan kulitanya sangat kotor dan banyak debu.


"Hay," sapaku.


Dia hanya diam sambil menggerakkan bola matanya.


"Kamu ngapain disini?? Main apa??" tanyaku.


Lagi-lagi dia hanya diam sambil menatapku.


"Bentar-bentar, sepertinya Dokter udah pernah kenalan sama kamu, nama kamu siapa??? Dokter lupa," ucapku.


"Nara Dok," jawabnya.


Tangannya sepertinya sedang menggenggam sesuatu.


"Kamu bawa apa itu??" tanyaku lagi.


Dia membuka genggaman tangan kanan nya yang membawa sebuah permen seperti kelereng.


Dia membuka nya dan akan memakannya.


"Eeiiitsss kotor Sayang, cuci tangan dulu," tuturku sambil mencegah tangannya agar tidak masuk ke dalam mulutnya.


"Aku mau ini," ucap gadis itu.


"Sini ikut Dokter, cuci tangan dulu, ya," ajakku sambil menggandeng tangannya.


Dengan telaten ku bersihkan tangan gadis itu.


"Sebelum makan harus banget cuci tangan, ya, biar nanti kuman-kumannya nggak masuk ke perut kamu, hehehem, nanti kalo sakit perut gimana," rayuku.


"Iya Dok," jawabnya dengan polos.


"Nah mana permen kamu?" tanyaku sambil membuka tanganku untuk meminta permen yang terus dibawa dia.


Dia pun memberikan permen itu padaku.


"Ini permennya udah kotor Dek, ini Dokter kasih, Dokter punya coklat buat kamu," ucapku.


Aku duduk jongkok di depan gadis itu.


Ku keluarkan 3 bungkus coklat yang beraneka rasa.


"Kamu pilih mau yang mana," ucapku sambil tersenyum padanya.


Dia mengambil coklat rasa strawberry.


"Kamu suka rasa strawberry?" tanyaku.


"Iya Dok," jawabnya.


"Heheem, berarti sama dong kita, hehehe," kataku.


"Sini Dokter bukain coklat nya," kataku.


Ku buka coklatnya dan ku berikan padanya.


Saat dia akan memakannya, seorang pria mencegahnya.

__ADS_1


"Jangan di kasih coklat, dia alergi coklat," ucap pria itu dari arah belakangku.


Bersambung.............


__ADS_2