Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 211 (Berbagi Cerita)


__ADS_3

Setelah semua sudah menghabiskan menu sarapan paginya, dan aku pun juga sudah selesai mandi, Abay berpamitan pada Naufal untuk bermain ke Rumah Niko.


"Iya Nak, nanti pulangnya jangan siang-siang ya," tutur Naufal.


"Iya Pa," jawab Abay.


Naufal menghampiriku yang sedang mencuci baju-bajunya dengan mesin.


"Sayang," panggilnya.


"Hm??" jawabku.


"Sibuk banget kamu," ucap Naufal.


"Ya begini Mas, dari pada nggak ngapa-ngapain kan," ujarku.


Setelah kita berdua ngobrol beberapa kalimat, Naufal mengikutiku untuk ke lantai atas.


Aku duduk di sebuah sofa yang di depan nya sudah terpajang televisi super besar dan membuat mata terbelalak.


Naufal duduk santai di sampingku.


"Mas, menangnya kamu mau buat aku rindu dengan apa lagi? Hm? Surprise apa lagi??" tanyaku sambil menepuk paha nya.


"Kalo aku kasih tau kamu namanya bukan surprise dong Sayang," jawabnya.


"Masssss," rengekku.


"Iya iya, aku besok ke luar lagi," ujar Naufal yang membuat hatiku semakin menciut.


"Dan pastinya kamu bakalan rindu sama aku Sayang," sambung Naufal.


"Oh itu," jawabku singkat.


"Berapa hari??" tanyaku.


"Mungkin 3 hari kalo nggak 5 hari Sayang," jawab Naufal.


"Oooo ya udah," kataku yang tidak bersemangat karena akan ditinggal olehnya.


"Kamu nggak nanya aku kesana nya sama siapa Sayang??" tanya Naufal padaku.


Aku langsung menengok padanya.


"Pak Bastian kan?" tebakku dengan santai.


"Ya pastinya dong Sayang, sama Dokter Irene juga," jawab Naufal.


"Oh kali ini Dokter Irene juga ikut Mas," ucapku.


"Iya Sayang, tumben kamu biasa aja??" tanya Naufal.


"Kenapa harus khawatir Mas?? Dokter Irene kan sudah punya pujaan hati sendiri, dan aku juga tau kok Dokter Irene sebenarnya gimana orangnya??" jawabku dengan tegas.


"Yakin kamu Sayang?? Kamu nggak cemburu??? Nggak ada yang tau loh," ucap Naufal.


"Ha maksud kamu nggak ada yang tau gimana??" tanyaku sambil mengernyitkan kedua alisku.


"Yaaaa kan emang Irene sempet sadar, tapi kan siapa tau tiba-tiba dia gitu lagi, ya bukan nya aku suudzon kan Sayang, sekarang kan kita bisa lihat, kemaren dia kan juga masih punya suami, tapi nyatanya dia juga masih mau sama Alvi, tuh gimnaa tuh," ujar Naufal yang menjelaskan padaku.


"Iya juga sih Mas,"


"Aaahh itu kan tergantung kamu nya Mas, kalo kamu cuek nggak gimana-gimana pasti nggak akan terjadi apa-apa, tapi ya jangan cuek-cuek banget Mas sama Dokter Irene, kalo misal apa-apa ya kamu harus bantuin juga, itu kan temen kamu juga," tuturku.


"Yakin kamu??"


"Kalo aku nggak mau gimna??" tanya Naufal menantang sambil mengangkat satu alisnya.


"Mas, bukan nya kita harus saling membantu, yang penting tau batas kan," kataku sambil menepuk-nepuk lengan tangannya.


"Oke siap Sayang, hhhmmm," gerutu Naufal.


Kami keasikan bercakap-cakap berdua, sampai kami membiarkan benda besar di depan kami ini berbicara sendiri, mungkin jika aku menjadi benda ini??? Pasti aku akan kesal dan jengkel, karena dibiarkan seperti ini, di anggurin seperti ini.


.


.


.


.


.


.


.


Siang harinya. Setelah adzan dhuhur, kami pun shilat berdua, dan sekarang, baru sehari aku berada di Rumah full untuk Abay, Abay juga sering datang ke kamarku, dan jarang sekali meninggalkan kamar ini, sampai-sampai ia tidur siang berdua bersama Naufal di ranjang dan aku tidur di sofa.


Angin sepoi-sepoi berhembus dari jendela kamar membuat tidur siang kami semakin lengkap dan tak ingin bangun dari mimpi-mimpi indah di siang bolong, kebersamaan ini yang aku inginkan, dan pastinya mereka juga sangat ingin.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hingga tiba saatnya Naufal harus segera berangkat bekerja.


***(Di Kamar)


"Sayang, nanti malam kamu tidur sama Abay aja disini," tutur Naufal.


"Pastinya lah Mas," jawabku.


"Jangan kangen-kangen ya sama aku, hehhee," canda Naufal.


"Apa sih Mas?? PD banget kamu, orang kamu kerja dan udah biasa kamu tinggal-tinggal ya pasti nya udah kebal lah Mas aku sama ginian," ujarku sedikit mengungkapkan isi hatiku.


"Kalo keluar kemana-mana bilang sama aku loh Sayang," tuturnya lagi sambil memakai kaos kaki nya.


"Itu kan sudah pasti Mas, kemana pun aku pergi pasti aku ijin ke kamu kan, nggak mungkin aku nggak bilang," kataku.


Naufal memberikan kecupan pada keningku.


"Pinter banget istriku," puji Naufal sambil menyunggingkan pipinya dan terlihat gigi-giginya yang tertata baris dengan rapi itu.


Semakin memikat hatiku dan semakin membuatku jatuh cinta jika dia tersenyum seperti ini. Entah kenapa?? Meskipun kami sudah semakin menua dan usia pernikahan kami sudah tidak lagi mudah, namun kami berdua masih bersikap seperti orang yang baru nikah, bahkan setiap hari, Naufal selalu memberikan sikap usil dan romantisnya padaku.


Kurang apa lagi dia?? Ini memang pria yang selalu aku doakan dan Allah dekatkan di setiap angkatan kedua telapakku di atas sajadahmu Ya Rab.


Aku tersenyum-senyum melihat Naufal, hingga pandanganku kosong karena pikatan senyumnya.

__ADS_1


Dengan tiba-tiba aku memeluknya, terhirup wangi parfum Naufal yang khas dan sejak dulu ia memakainya, Naufal kaget dengan sikap manjaku ini.


"Hmmmm, udah kangen pasti ini," tebak Naufal.


Aku hanya dia dan menikmati parfum yang ada di sekitar leher dan bahunya.


"Aku mencintaimu Mas," kataku sambil memalingkan wajahku.


Lalu ku terjunnya satu ciuman di pipi nya.


Naufal langsung membulatkan kedua matanya, malah tampak dari samping bulu matanya yang molek dan lentik itu.


"Lagi Sayang lagi," kata Naufal.


"Hehehheem,"


Naufal meraih kedua bahuku, dan menatap kedua mataku.


"Aku jauh lebih mencintaimu Sayang," ujar Naufal mengungkapkan isi hatinya padaku sambil menempelkan tangan nya pada kedua pipiku.


Cuuupp.........satu kecupan terjun berkali-kali di kening wajahku.


"Aku mencintaimu, dan akan selalu seperti itu," kata Naufal.


Deg deg....deg deg.... lagi-lagi hatiku bergetar.


Padahal aku yang memulai semua ini, aaarrgggh tapi aku sendiri yang kuwalahan mengontrol degup jantungku ini, pasti Naufal juga merasakan hal ini, namun dia berusaha tetap terlihat cool di depanku.


Wajah Naufal semakin mendekat, mendekat dan sangat dekat dengan wajahku, hingga jarak antara hidung kami saja hanya beberapa inchi.


Degup jantungku semakin menjadi-jadi sekarang. Naufal juga semakin mendekat kembali, hingga ku putuskan untuk menutup kedua mataku dengan kelopak mataku yang sudah ku hiasi dengan eyeshadow berwarna natural.


Drreeeetttttt............getaran ponsel Naufal membuyarkan semuanya.


Naufal langsung menjingkat kaget dan segera membuka pesan masuk ke ponselnya.


Aku gelagapan dan salah tingkah bahkan bingung.


"Eeemmm, Mas mending kamu segera berangkat deh, nanti keburu telat," kataku sedikit terbata-bata.


"Iii....iiya Sayang," jawab Naufal.


"Huuufttt...Gia.....Gia, malah senjata makan tuan sih, kamu yang mulai, kamu juga yang deg-degan, tau rasa kan kamu," gerutuku dalam hati.


Naufal juga merasa sedikit salah tingkah karena terlihat saat dia mengambil jas dokternya.


"Eemm....ya udah, akuu.....aku berangkat yah, Sayang," ucapnya gugup sambil memegang tengkuknya.


"Iya Mas, aku antar ke b....." ucapanku langsung terpotong karena Naufal memberikan kiss manisnya tepat di kedua bibirku.


"Aku berangkat ya.....Sayang," kata Naufal malu-malu.


Aku hanya menunduk dan mengikuti langkahnya turun ke bawah.


.


.


.


.


.


.


.


***(Di Depan Halaman Rumah)


"Hati-hati ya Pa," kata Abay.


"Iya Nak," jawab Naufal lalu masuk ke dalam mobilnya.


Kedua jendela depan mobil di buka olehnya, dan kepalanya mengintipku dari dalam mobil.


"Nggak usah ngebut Mas," tuturku.


"Iya Sayang, Assalamu'alaikum," pamit Naufal.


"Wa'alaikumsalam," jawabku dan Abay.


Mobil melaju menuju pintu gerbang besar rumah Naufal ini.


Aku dan Abay bergegas masuk ke Rumah.


"Ma," ucap Abay.


"Apa Nak??" tanyaku sambil menggelantungkan satu tanganku pada bahunya.


"Sehari ini gimana perasaan Mama nggak kerja??" tanya Abay.


"Pastinya ada yang beda lah Nak, biasanya Mama pagi-pagi udah harus bertemu langsung sama pasien, udah beri ini itu sama mereka, terus tiba-tiba di rumah digantikan dengan kamu sama kesibukan Mama yang lain, tapi Mama senang kok Nak," ujarku.


"Berarti waktu Mama di rumah benar-benar untuk Abay, tapi kalo nanti Abay sekolah ke luar negeri gimana Ma?? Mama sendirian dong di Rumah," gerutuku Abay.


"Ya kan masih ada yang lain nya Nak, nggak tau nanti nya bakalan gimana, yang pasti Mama sering-sering nengokin kamu disana, dan kamu juga harus inget, fokus belajar disana," tuturku.


"Pasti nya Ma, hehehe," kata Abay.


Adzan magrib berkumandang, terdengar oleh semesta.


Allahuakbar....... Allahuakbar.


Segera aku mengambil air wudhu bersama Abay.


Dan setelah berwudhu, sajadah ku bentangkan ke lantai. Seperangkat alat sholat yang diberikan Naufal padaku kini yang ku kenakan.


Tak lupa, bait do'a selalu ku khususkan untuk kesembuhan Papa, dan untuk kebahagiaan dunia akhirat keluargaku.


Aamiin.


"Amin yarobbal alamin,"


Ku usapkan kedua telapak tangan bekas ku angkat untuk memanjatkan do'a pada Yang Maha Kuasa pada permukaan wajahku.


Kini lega rasanya, perlahan-lahan semua akan ku lupakan, terutama kenangan-kenangan saat bekerja.


Intinya disini, aku memohon, agar Allah selalu memberikan ketenangan jiwa padaku dan tak lupa selalu bersyukur pada-NYA.


Al-Qur'an kecil berwarna hitam dan berselimut gliter silver yang diberikan Naufal padaku, kini ada dalam tanganku, mulai ku membaca ayat demi ayat dalam buku kecil itu.


Di pertengahan saat ku lantunkan ayat suci Al-Quran, ponselku dalam laci pun berdering.


"Sodaqollahul adzim,"


Ku tutup dan ku simpan baik-baik al-qur'an kecil itu.


Tanpa melepas mukenah dan melipat sajdah, langsung ku ambil ponse dalam laci.


Mama, yah panggilan dari Mamaku. Setiap kali, aku mendapat notif panggilan ataupun pesan dari Mamaku, rasanya.......deeeggg.....takut.


Takut jika berita buruk yang akan diberikan oleh Mamaku.


Langsung ku telepon balik nomor Mamaku, aku khawatir dengan keadaan Papaku, yang sudah tidak seperti dulu lagi.

__ADS_1


Tut....tut....tut.


"Assalamu'alaikum Ma," salamku.


Yang ku takutkan akhirbya terjadi, berita buruk itu sekarang terdengar tepat di lubang telingaku dari ponsel ini. Keadaan Papa semakin memburuk kata Mamaku, membuatku semakin jatuh dan terpuruk.


"Tapi kamu tenang saja Nak, tadi Mama sudah konsultasi sama Dokternya, enaknya Papa ini gimana, udah kamu jangan khawatir, apa pun kondisi Papa, Mama akan selalu kasih kabar ke kamu," ujar Mamaku.


"Mama janji??" tanyaku.


"Insya'Allah Mama kasih tau kamu kapan pun," jawab Mamaku.


Aku tidak mungkin tidak mempercayai Mamaku sendiri. Akhirnya aku pun berusaha untuk tidak memperbesar kesedihan ini, bendungan tawa yang lama ku nantikan tak kunjung datang menemuiku.


"Gia percaya sama Mama, Gia boleh kesana Ma??" tanyaku.


"Gia nggak usah kesini nggak papa Nak, kasihan nanti Abay kamu ajak perjalanan jauh," tutur Mamaku.


"Tapi nggak papa kok, kebetulan Mas Naufal juga lagi ada tugas ke luar negeri besok," tepisku.


Rupanya Mama ku tau kesedihan yang ku alami selepas aku pergi dari dunia kerja yang sejak kecil ku idam-idamkan ini, pasti Mamaku tidak ingin menambah lagi beban kesedihan yang setiap harinya sengaja ku timba.


"Gia, udah nggak papa, disini kan ada Mama sama Johan, besok mertua kamu juga kesini, kan udah di wakilkan sama mereka, hehehe, ya Nak ya," tutur Mamaku.


"Eeemmmm gitu ya Ma?? Ya udah Ma kalo gitu, tapi pokoknya Mama selalu kasih kabar sama Gia ya, kapan pun itu, Mama harus bisa menghubungi Gia,'" ujarku.


"Iya Nak, gimana?? Keadaan kamu Nak?? Abay gimana?? Sehat??" tanya Mamaku.


"Alhamdulillah sehat semua kok Ma, Bi Sarah sehat," jawabku.


"Kamu sendiri bagaimana Nak??" tanya Mamaku lagi.


"Maksud Mama gimana??" tanyaku balik.


"Sudah, jangan terlalu di pikirkan soal resign kamu, mungkin memang Allah kasih jalan ini, Mama tau dan sangat tau, bahwa keputusan ini berat di kamu, ya kan??" tebak Mamaku.


Ku tahan isak tangisku, meskipun air mata sudah memenuhi pelupuk mata, rasanya jika seperti ini, aku ingin kembali saat aku masih kecil, saat aku merasa terkurung oleh Papaku.


Lebih baik aku seperti itu, dari pada aku harus merasakan lara yang tak kunjung sirna.


Egoisnya diriku, tak ingin tersakiti sekalipun oleh keadaan, yaaa......aku atau keadaan yang egois??


"Bismillah Ma, pasti bisa kok, hehehem," kataku.


"Kalo Gia mau cerita, udah di ceritain aja sama Mama, Mama juga pengen di ceritain sama kamu Nak, ya," rayu Mamaku sejak dulu yang mebginginkan aku terbuka padanya.


"Hehehe, iya Ma, pasti kok Gia pasti nanti kalo ada apa-apa cerita ke Mama," kataku.


2 jam an sudah aku bercengkrama secara tidak langsung dengan Mamaku, hingga ponselku sangat panas mengenai pipi dan telingaku.


.


.


.


.


.


.


Setelah adzan isya, Susi datang ke rumahku tanpa memberitahuku terlebih dahulu.


Karena ada tamu spesial yakni sahabatku sendiri, aku membawa Susi ke lantai atas, di Rooftop dekat kamar Abay.


Secangkir coklat panas sudah menjadi jamuan favorit di rumah ini, beberapa toples makanan kering dan 2 piring kue basah untuk Susi.


Karena kita berdua sama-sama sedang ditinggal oleh Sang Suami untuk mengabdi, dan anak kita juga sibuk bermain sendiri, ini lah waktu yang tepat untuk Susi mengulik-ulik suara hatiku.


"Ayo dong cerita," kata Susi sambil menyenggol lenganku.


Srruuppp.....ku teguk secangkir coklat panas yang sama dengan Susi namun dengan nuansa cangkir yang berbeda.


"Cerita apa lagi??" tanyaku.


"Eh Gi, aku tau lah pasti kamu butuh temen curhat, udah deh jangan di pendam sendiri, makin tua nggak baik loh, hehehe," canda Susi.


"Mumpung lagi nggak ada anak kita loh Gi," sambung Susi.


"Cerita apa Si?? Aku bingung?? Nggak ada yang mau di ceritain," tepisku.


"Aaahh yakinn?" rayu Susi.


"Tentang kerjaan kamu?? Uupppssss......"


"Gimana tuh??" Susi sengaja memancing-mancing dan membuatku kesal.


Aku hanya diam sambil memperhatikan pemandangan dari atas Rooftop menuju halaman di samping Rumah.


Sambil menikmati angin malam yang dingin menusuk-nusuk pori-pori kain baju ini.


"Aku tau Gi, kamu belum bisa move on," ceplos Susi.


"Ha?? Move on?? Dari siapa??" tanyaku spontan.


"Dari Alvi,"


"Yaa dari kerjaan kamu lah Gi," jawab Susi.


"Iih Susiiiiii.....Apa sih kok jadi bahas-bahas Si Alvi, udah deh, aku kan udah nggak mau bahas itu lagi, iiihhh kamu," kataku.


"Hahaha iya iya maaf Gi, giliran bahas Alvi aja langsung bibirnya mengerucut gitu," ejek Susi.


"Ya dari kerjaan kamu lah Gi, dari apa lagi??" Kata Susi.


"Aku tau, pasti kamu belum bisa lupain kan, apalagi ini impian kamu, ya pasti susah lah Gi," sambung Susi.


"Aaahhh masak iya gitu sih?? Nggak ah biasa aja," tepisku yang masih ingin menutup-nutupi dari Susi.


"Nggak mungkin, pasti kamu sedih-sedih tuh kemaren, udah deh, aku udah hafal sama kamu, dan mana mungkin kamu mau mengakuinya kalo nggak aku paksa, ya kannn???? Susi di lawan, hahahahaha," kata Susi.


"Kamu nih Gi, ibarat kita udah mengidam-idamkan seorang pria sejak lama, namun saat mendapatkannya, dan belum lama, eeehhh kamu harus ngelepasin, duuuuhhh......pasti susah banget move on nyaaaa....belum galau-galau an, belum lagi nangis-nangis sambil dengerin lagu galau, hhhmmmm, gitu kan," tebak Susi yang selalu menghiburku dengan dagelan-dagelan nya.


"Hehehehe, sumpah Si, kamu sok tau bangettt tau nggak, selalu bisa aja jadi pelawak, duuh duhh," ucapku sambil sedikit menertawakannya.


"Loh tapi bener kan??" tebak Susi.


"Kamu curhat ya Si yang tadi?? Pasti pernah ngalamin hal-hal kek gitu ya, hehehehehe, senjata makan tuan kan," ejekku ganti padanya.


"Giiiii, ini kan bahas kamu, kok jadinya ke aku sih," kata Susi.


"Huuuuuuffftttt," ku hela nafas panjangku.


Aku mencoba ingin berbagi cerita ini pada Susi, akhirnya ku kelurkan air mata yang sudah ku tahan beberapa hari ini.


Air mata pun menetes. Susi langsung menengok ke arahku yang sedang duduk di samping nya.


Aku menangis terisak-isak sambil menundukkan kepalaku.


"Huhuhuhuhuhu,"


Susi mengelus-elus lengan dan bahuku.


Bersambung.........

__ADS_1


__ADS_2