Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 51 (Nenek dan Kakek Tua)


__ADS_3

Alarm ponselku berbunyi tepat pukul 3 pagi.


Kuraih ponselku di meja sebelah Naufal, agak berat untuk bergerak karena dekapan tangan Naufal yang melingkar di pinggangku.


Aku berusaha memindahkan tangan Naufal.


"Mas," panggilku pada suamiku.


Naufal pelan-pelan membuka matanya.


"Hm?" jawabnya.


"Geser dikit, aku mau masak," ucapku lirih karena tangan Jihan terbangun.


Naufal menggeserkan tubuh kekarnya.


Aku segera berjalan menuju dapur.


***(di Dapur)


Tampak disana Bi Sarah yang tengah menyiapkan bahan-bahan untuk kita memasak.


"Bi, mau masak apa?" tanyaku pada Bibi.


"Semur ayam aja Mbak," jawab Bi Sarah.


"Ayamnya udah beli?" tanyaku lagi.


"Udah Mbak," jawabnya.


"Ya udah, ini Gia mau masakin Mas Naufal rendang aja Bi," kataku sambil mencuci daging.


"Tapi Bibi tau resepnya kan," tebakku.


"Tau Mbak, tenang saja, hehehe," kata Bi Sarah.


Rupanya Bi Sarah sangat mahir sekali dengan hal memasak.


Beberapa jam kemudian,adzan shubuh berkumandang.


Syukurlah tepat masakanku dan Bi Sarah sudah siap untuk di hidangkan.


"Udah adzan Bi, Gia ke atas dulu ya Bi," ucapku.


"Baik Mbak," jawabnya.


***(di Kamar)


Tampak suamiku sedang tidur pulas merangkul tubuh mungil Jihan, sebenarnya aku tak tega untuk membangunkan mereka. Tapi sudahlah.


"Mas, bangun," ucapku sambil mengelus keningnya.


"Ehhmm, udah shubuh?" tanyanya sambil menarik kaki tangannya.


"Udah, cepetan kamu mandi, nanti gantian aku," tuturku.


"Aku mandi, kamu bangunin Noni," perintah suamiku.


Naufal segera beranjak dari kasur.


"Jihan, bangun Nak," ucapku dengan halus.


Rupanya Jihan mulai terusik dengan suaraku. Dia membuka pelan matanya.


"Sholat shubuh dulu ayo sama Uncle sama Aunty," tuturku.


Jihan langsung membangunkan tubuhnya dari kasur dan menyalakan TV karena sambil menunggu Naufal keluar dari kamar mandi.


Setelah beberapa menit Naufal keluar dari kamar mandi, sekarang untuk giliranku, dan kemudian Jihan.


Setelah semua selesai mandi, kami pun sholat bersama.

__ADS_1


"Non, kamu nanti main di rumah sama Bi Sarah ya, Aunty sama Uncle kerja dulu, nanti kalo kita sudah pulang, kita main bersama kemanapun kamu mau, ya?" tawar Naufal sehabis sholat.


"Uncle lama nggak kerjanya?" tanya Jihan.


"Mungkin siang Uncle sudah pulang," jawabnya.


"Iya Jihan, kami pasti segera pulang," sahutku sambil menyiapkan kemeja suamiku.


"Uncle, nanti Noni boleh nggak main sama boneka besar itu," ucap Jihan sambil menunjuk boneka besar minion milikku.


"Eemmmm.....," pikir Naufal sambil menoleh ke arahku.


"Boleh Jihan, kamu boleh main apa aja disini, di almari masih banyak boneka Aunty," kataku.


"Ya udah Uncle siap-siap kerja dulu ya Non," ucap Naufal.


Jihan menyamankan dirinya duduk di sofa sambil menonton TV.


Aku dan Naufal bersiap-siap untuk berangkat bekerja.


Hampir satu jam kami selesai berberes.


"Non kita makan dulu ke bawah ya," tutur Naufal.


Jihan langsung turun dari sofa dan mematikan TV nya.


Naufal menggendong Jihan yang sangat manja padanya.


"Sepertinya kamu sangat bahagia Fal, jika ada Jihan disini, Hmmm semoga kita segera di beri momongan, Ya Allah, bahagiakan keluarga kecilku ini, langgengkan aku dan Mas Naufal, Aamiin," ucapku dalam hati.


***(di Ruang Makan)


Tumben sekali disana sudah tampak pekerja rumah yang tengah duduk menunggu kami.


"Jihan, cantik sekali," goda Pak Rusdi.


"Masya'Allah, lucu ya Mbak," kata Bi Sarah.


"Nanti main sama Bibi ya Jihan," ajak Bi Sarah.


Jihan hanya menganggukkan kepalanya sambil duduk di samping Naufal.


"Mari makan, di kenyangin ya, jangan sampe sakit, hehehe," perintah Naufal yang sangat memperhatikan kesehatan mereka.


Kami pun langsung menyantap hidangan yang sedari tadi aromanya sudah mengusik hidungku.


Setelah selesai habis kami menyantap sarapan pagi, aku dan Naufal pamit untuk pergi bekerja.


"Bi, titip Noni ya," ucap Naufal.


"Iya Mas," jawab Bi Sarah sambil tersenyum.


"Kami berangkat dulu ya Bi," sahutku.


"Mari semua, Assalamu'alaikum," salam Naufal dan aku.


Naufal langsung menancap gas mobilnya menuju rumah sakit.


***(di Rumah Sakit)


Seperti biasa kami selalu terpisah di tempat ini, tempat dimana kami memberikan seluruh abdi kami pada setiap pasien.


Tidak ada yang berubah ataupun merubah, sudah tugas kami setiap hari berinteraksi dengan pasien.


Aku berjalan menuju ruang periksa. Aku melihat seorang Nenek yang terbaring di bed pasien dan di temani oleh Kakek yang sepertinya suaminya. Mereka saling melempar tawa.


Yang membuatku simpati dengan mereka, genggaman tangan Kakek pada Nenek.


Ku hampiri mereka.


"Maaf permisi, Nenek sakit apa Kek?" tanyaku.

__ADS_1


"Nenek jantungnya bocor Dok," kata Kakek tua yang sepertinya sudah berumur 85 tahun.


"Ini istrinya Kakek?" tanyaku lagi.


"Iya Dok, ini istri saya," jawabnya kurang jelas karena mulutnya yang juga sudah rentan.


Aku semakin tertarik dengan mereka.


"Kakek disini yang nunggu sendiri," ucapku.


"Iya Dok," jawab Kakek Tua.


"Anak Kakek kemana?" tanyaku lagi yang semakin penasaran.


"Kakek nggak punya anak Dok, karena rahim Nenek sangat lemah, jadi Nenek tidak bisa memberi Saya keturunan Dok, tapi itu bukan alasan Saya untuk meninggalkannya," ucap Kakek Tua.


Aku langsung membungkam mulutku dengan kedua telapak tanganku, karena menahan tangis.


"Kakek sangat mencintai Nenek?" tanyaku sambil mengusap air mata.


"Iya Dok, dulu saya tidak mencintai Nenek, karena dulu sejak kecil kita dijodohkan, dan Saya sempat berfikir untuk meninggalkannya," penjelasan Kakek.


"Lantas apa yang membuat Kakek sekarang tidak ingin meninggalkan Nenek," kataku.


"Saya hanya bisa sabar Dok, dengan sikap Kakek dulu yang tidak menganggap saya sebagai istrinya, hampir 1 tahun Kakek tidak pernah menyentuh saya," sahut Nenek.


"Itu alasan Saya untuk tidak meninggalkan Nenek Dok, Nenek selalu sabar menghadapi sikap Saya, padahal Saya dulu sering sekali membawa pacar Saya ke rumah, hehehe," kata Kakek sambil tertawa bersama Nenek.


"Tapi setelah Saya pertama kali melakukan kewajiban layaknya seorang suami dan istri, di saat itulah saya merasa tidak bisa jauh-jauh dari istri Saya Dok," kata Kakek.


Aku semakin terharu dengan mereka.


"Dokter sudah menikah?" tanya Nenek Tua.


"Sudah Nek," jawabku.


"Pasti suami Dokter sangat mencintai Dokter," kata Nenek Tua.


"Eehhmm ii..iiya Nek, dia sangat baik pada Saya, dulu kita juga dijodohkan seperti Kakek dan Nenek," ucapku.


"Suami Dokter kerja dimana?" tanya nya lagi.


"Suami Saya kerja disini Nek," jawabku.


"Jadi Dokter juga?" katanya.


Aku hanya menganggukkan kepalaku dengan air mata yang mengalir di pipiku.


"Kapan-kapan Saya ajak suami Saya untuk bertemu dengan Nenek dan Kakek ya," tuturku.


"Iya Dok, Dokter kenapa menangis?" tanya Nenek Tua.


"Hehemm, Saya terharu melihat kesetiaan Kakek dan Nenek, meskipun dalam rumah tangga selalu tidak ada yang sempurna," kataku.


"Kuncinya satu Dok, hanya saling mengerti, dulu Saya tidak pernah mau mengerti perasaan istri Saya, tapi setelah sadar, ternyata hanya dua saja yang diminta Nenek pada Saya, kesetiaan dan pengertian Dok," tutur Kakek Tua.


"Kakek dan Nenek makasih ya, sudah memberi Saya wejangan dan pengalamannya pada Saya," ucapku.


"Saya ke ruangan Saya dulu ya," pamitku pada mereka.


"Dokter besok kesini lagi ya," pinta Nenek Tua.


"Insya'Allah Saya pasti akan kesini," ucapku sambil tersenyum.


Aku berjalan menapaki lantai lorong menuju ruanganku, di sepanjang lorong Aku terus memikirkan cerita dan wejangan dari mereka.


Bersambung.......


Terima kasih untuk semuanya.๐Ÿ–ค


Jangan lupa like, komen dan vote ya kak๐Ÿ™๐Ÿ˜

__ADS_1


Tunggu episode seru selanjutnya yang bikin gemes dan greget buat kalian hehehe๐Ÿ˜Š


__ADS_2