
Hatiku berdebar-debar saat sedang bersama Mas Naufal.
"Mas sayang kan sama aku?"
"Mas nggak bakal ngelakuin itu lagi kan?" tanyaku dengan isak tangisku.
"Iya Sayang, iya," jawab Mas Naufal.
"Gia sayang sama Mas, Gia cinta sama Mas, sangat cinta, nggak mau ninggalin Mas Naufal," kataku di pundaknya.
"Jangan pergi-pergi lagi ya," kata Mas Naufal sambil mengelus kepalaku.
"Nggak, nggak akan Mas," ucapku.
Aku semakin memeluk begitu erat.
Akhirnya Pak Bastian, Susi dan Mama Feni masuk ke kamar kita.
"Agheemmm,"
Aku langsung melepas pelukan itu dan menghapus air mataku.
"Ciyeeeee," ceplos Pak Bastian.
"Massss," desis Susi.
"Loh, katanya Pak Bastian pulang," kataku.
"Hehehe, kita semua, aku Susi dan Bi Sarah ini merencanakan semua ini Gi," jawab Pak Bastian.
"Iya Sayang, maaf tapi Mas beneran jatuh, tadi waktu Mas mau berangkat kerja, ada kucing di depan, terus Mas mau mindahin, eh Mas malah kesrempet, terus kaki nya Mas terkilir, eh ada Bastian tumben pagi-pagi ke rumahnya Mas, karena dia khawatir aku belum juga berangkat ke Rumah Sakit, langsung deh dia spontan buat rencana ini sama Susi," sahut Mas Naufal.
"Iya Gi, Naufal jatuh beneran nggak bohong," sanggah Pak Bastian.
"Tapi cuman kesrempet kok kepalanya pake berdarah, ini apa?" tanyaku sambil membuka perban yang melilit di kening Mas Naufal.
Dan ternyata, itu semua cuman rekayasa, itu hanya darah palsu.
"Jadi, yang di perban ini bohongan semua?" tanyaku.
"Iya Gi, tapi tenang jangan marah dulu, ini semua kita lakuin karena kita simpati dan peduli sama kalian,"
"Kan nggak mungkin kalo pasangan teromantis satu rumah sakit ini tiba-tiba marahan, kan nggak asik Gi," canda Pak Bastian.
Mas Naufal tersenyum padaku.
"Ma, Mama yakin deh, percaya sama Naufal, Naufal nggak ada apa-apa sama Vela, tanya tuh Bastian," kata Mas Naufal.
"Bastian udah cerita semua sama Mama, maafin Mama juga," ucap Mama Feni yang langsung memeluk Mas Naufal.
Aku masih bengong, kenapa Mama Feni sudah tidak marah lagi dengan anaknya yang nakal ini.
"Udah lah, kalian jangan marahan, nggak enak dilihatnya," kata Pak Bastian yang terus mengejek kami.
"Iya Gi, baikan gih," kata Susi yang ketularan jahilnya seperti Pak Bastian.
"Maafin Mama sudah menampar kamu Nak, sakit ya," kata Mama Feni sambil mengelus pipi Mas Naufal bekas tamparannya kemarin.
"Aaahhh, enggak Ma, nggak papa," jawab Mas Naufal.
"Ini rencana aku sama Susi Gi, Naufal nggak tau apa-apa, dan kita juga yang maksa Naufal kok,"
"Kasihan Naufal Gi, selalu galau kalo kerja, bawaannya murung, diem nggak mau ke kantin, pokoknya nggak enak banget dah, sumpah," ucap Pak Bastian.
"Bener Mas?" tanyaku.
"Kan Bastian sendiri yang bilang, bukan Mas, masak rekayasa sih Sayang?" Kata Mas Naufal.
"Ya sudah, kan kalian udah baikan nih, Gue sama Susi pamit pulang Fal, Gue mau kerja, Lo kan cuti," pamit Pak Bastian.
"Bastian," panggil Mama Feni.
"Iya Tante?"
"Perfect, Tante suka, thank you so much Bas, Susi sama Bastian the best," puji Mama Feni sambil mengacungkan dua jempolnya.
"Sama-sama Tante, heheem, sudah sepantasnya seorang sahabat melakukan ini," jawab Pak Bastian.
"Bastian pamit pulang ya Tante," pamitnya pada Mama Feni.
"Susi juga Tante," sambung Susi.
Susi dan Pak Bastian menyalami tangan Mama Feni dan pergi meninggalkan kami semua.
Mama Feni menyatukan tangan kami berdua.
"Kalian baik-baik ya, jangan sampai kayak gini lagi, Mama juga sedih lihatnya, sahabat kalian aja sedih apalagi Mama,"
"Dan kamu Naufal?"
"Naufal lagi Ma?? Aaasshh," jawab Mas Naufal.
"Kamu lebih protect ke istri kamu, Mama nggak mau denger kayak gini lagi, sekali lagi kamu buat Gia salah paham, Mama bakalan marah sama kamu," ancam Mama Feni.
"Salah paham? Jadi semuanya salah paham aja, kenapa sih salah paham selaluuuu aja datang, kenapa nggak pergi jauh-jauh aja," gumamku dalam hati.
"Kalo sudah begini, Mama tuh tenang Nak, Mama saja Sampai nggak berani cerita ke Papa kamu Fal, makin marah nanti Papa sama kamu," kata Mama Feni.
"Kalian baikan aja dulu, di lanjut ya tadi pelukannya Sayang, hehheem," ujar Mama Feni sambil mencubit daguku.
Aku tersipu malu karena ketahuan bermesraan di depan Mama Feni.
"Mama pamit pulang aja ya, Assalamu'alaikum," kata Mama Feni.
"Naufal antar Ma?" tawaran Mas Naufal.
"Sudah jangan, stay in here with your beloved wife, come on," kata Mama Feni.
"Hehehm, makasih Mama," ucap Mas Naufal sambil mencium kening Mamanya.
"Mari Buk saya antar ke depan," kata Bi Sarah.
Mama Feni pun melangkah keluar dari kamar kami berdua.
Sekarang tinggal hanya aku dan Mas Naufal.
Kami saling canggung dan kaku.
"Eeeee..."
__ADS_1
"Kamu......kamu....udah nggak marah sama Mas kan?" tanya Mas Naufal.
"Masih," jawabku.
"Mas harus jelasin semuanya sama aku dulu, salah paham apa sebenarnya?" tanyaku.
"Sini sini, kamu duduk sini," kata Mas Naufal membawaku duduk.
"Jadi, Bastian sendiri yang cerita ke Mama, kalo Mas ini melakukan semuanya semata-mata demi kesembuhan Clava, itu tanggung jawab Mas sebagai seorang Dokter, bukan teman Vela, salahnya Mas, karena Mas nggak cerita ke kamu,"
"Apalagi ini jelas-jelas ada hubungannya sama Vela, ya Mas juga nggak nyalahin kami, kalo kamu marah, salahnya Mas disitu, kan Mas melakukan semuanya sudah tugas Sayang,"
"Tapi, soal sembuh atau tidak, hanya Allah yang bisa. Dan ternyata Clava dibawa ke Singapura, dia berobat disana,"
"Dan untuk brownies itu, memang Vela seringggg sekali cerita tentang aku ke Clava, kata Vela, Clava suka sama aku apalagi aku ini seorang Dokter, jadiiii brownies itu cuman simbol terima kasih aja, nggak lebih, Vela sendiri kok yang bilang gitu Sayang,"
"Dia nangis-nangis sama aku, mohon biar nanti kalo Clava nanya apakah browniesnya sudah Mas makan? Mas jawabnya harus iya meskipun yang makan Bastian, tanya aja sama Bastian kalo kamu nggak percaya Sayang,"
"Lagian Vela buatnya juga dipaksa sama Clava, mereka akan menetap disana, tidak akan kembali kesini," jawab Mas Naufal yang menceritakan panjang lebar tentang kesalah pahaman.
"Dan setelah itu, kita juga nggak ada apa-apa Sayang, udah gitu," sambung Mas Naufal.
"Kenapa Mas nggak ngejelasin semua sama aku waktu itu, Mas itu selalu gitu, nunggu aku ngambek, marah, terus pergi, baru Mas mau jelasin semuanya," keluhku.
"Bukan begitu Sayang, aku kan juga harus kasih ruang ke kamu, ya Mas salah sebenarnya, Mas ngaku Mas salah, jadi ya....gimana lagi? Mas cuman bisa diam, terus mau jelasin ke kamu, kamu juga nggak bakal percaya, dan ternyata Bastian sendiri kan yang bilang, bukan Mas,"
"Udah, kamu percaya kalo Bastian yang ngomong?" tanya Mas Naufal sambil menaikkan satu alisnya.
"Namanya juga sayang banget," ucapku jutek.
"Katanya sayang, tapi kok mau pergi," ejek Mas Naufal.
"Kan nggak jadi," jawabku dengan singkat.
Mas Naufal mengangkat daguku agar mataku menatap kedua matanya.
"Nggak usah pergi ya, pergi nya sama Mas aja, berdua,"
"Honeymoon di Swiss, Mas siap kok, kapan pun kamu mau, besok sekalipun," kata Mas Naufal.
"Bener?" tanyaku.
"Iya bener, kapan Mas becanda soal ginian sama kamu," kata Mas Naufal.
"Gampang lah Mas, yang penting kaki kamu sembuh dulu," ucapku.
"Ciyeeeeee, udah peduli lagi nih sama Mas," ejek Mas Naufal.
"Aaah selalu kayak gitu, aku pergi lagi nih," ucapku ngambek lalu berdiri.
Mas Naufal menarik tanganku hingga aku terjatuh duduk di pangkuannya.
Deg deg....deg deg.......
Mas Naufal melingkarkan kedua tanganku di lehernya. Aduuuhh rasanya jantungku berdebar tak karuan. Sempat terbesit kelakuan Mas Naufal.
Tapi, aku berusaha menahannya. Aku ingin terhanyut bersama Mas Naufal sekarang ini.
Semakin lama, wajah Mas Naufal semakin dekat padaku. Ku mulai memejamkan mata. Dan kami pun terhanyut oleh suasana berdua.
Apalagi, dengan hembusan udara dingin dari AC yang membuat Mas Naufal semakin erat mencekamku.
Aku mengikuti alur yang diciptakan oleh Mas Naufal dengan apik.
Mas Naufal melepas peniti di kerudungku. Dan mencoba membelai wajahku.
"Kemanapun kamu mau pergi, Mas nggak akan rela," bisiknya di telingaku.
Dan tiba-tiba......
Tok tok tok......
"Aaarrrgghhh, siapa lagi ini," desis Mas Naufal.
Hatiku tertawa terpingkal-pingkal mengetahui Mas Naufal yang jengkel mendengar ketukan pintu.
"Hehehem, udah buka dulu gih," ucapku.
Mas Naufal menurunkan aku untuk duduk di sofa dan dia membuka pintunya sambil mengusap bibirnya.
Glekkkk.....
Sepertinya Bi Sarah tau ritual apa yang sedang terjadi.
"Ehehehem, aduuuh Mas Naufal, maaf loh Mas kalo Bibi ganggu banget,"
"Eeeee....aammm...nggak kok Bi, nggak ganggu," jawab Mas Naufal sambil gelagapan seperti maling yang telah ketahuan.
"Ini loh Mas, kopernya Mbak Gia, Bibi mau mengantar ini," kata Bi Sarah.
"Oh iya Bi, makasih ya,"
"Emmm Bi, Naufal minta tolong hubungi tukang urut ya, suruh kesini sekarang juga," ucap Mas Naufal.
"Wadoooh, tukang urut toh Mas, apanya Mas Naufal ini yang terkilir, hehehe," ceplos Bi Sarah yang pikirannya sudah kemana-mana.
"Bibii.....kaki Naufal kan terkilir Bi tadi," jawab Mas Naufal malu-malu.
"Oh oke Mas, siap setelah ini langsung Bibi laksanakan,"
"Hihihihi, maaf loh Mas sekali lagi, Bibi turun lagi aja ya, monggo (silahkan) dilanjut Mas, hehehe," ujar Bi Sarah langsung turun sambil senyum-senyum sendiri.
"Mas, apa?" tanyaku.
Mas Naufal kembali menutup pintunya.
"Ini koper kamu Sayang, Mas kira apaan," ucap Mas Naufal sambil membawa dua koperku.
"Ya udah, hari ini kamu mau dimasakin apa?" tanyaku.
"Berhubung hari ini kita baikan, aku bakalan masakin makanan kesukaan kamu? Mau apa? Sandwich?" tanyaku sambil menaikkan satu alisku.
Mas Naufal tidak menjawabnya, malah dia langsung melangkah mendekat padaku dan mendaratkan one kiss again padaku.
"Mas nggak mau apa-apa, nanti malam kita dinner," ucap Mas Naufal di depan kedua mataku.
"Dinner Mas?" tanyaku.
"Iya dinner, kenapa? Kamu nggak mau?" tanya Mas Naufal.
__ADS_1
"Ya mau Mas, tapi apa bisa, mendasak seperti ini," kataku.
"Itu urusan gampang Sayang, yang penting nanti kamu dandan yang cantik buat Mas, buat Mas semakin jatuh cinta sama kamu," kata Mas Naufal.
"Tapi kan, kaki nya Mas Naufal lagi sakit," ujarku.
"Ini hal sepele Sayang, bentar lagi tukang urutnya juga datang, masih otw, nanti malam juga pasti udah enakan," jawab Mas Naufal.
Mas Naufal sepertinya ingin melanjutkan kisah manis di pagi hari ini. Tapi, ponselku berdering.
Dan ternyata panggilan video call dari anak kami tercinta.
"Assalamu'alaikum Ma," ucap Abay.
"Hay Sayang, Wa'alaikumsalam anak Mama, gimana kabarnya?"
"Mama baik Nak, Abay gimana?"
"Abay juga Ma, ini Abay baru aja selesai sekolahnya,"
"Mama sama Papa kapan kesini?" tanya Abay.
"Hayo pasti sudah rindu sama Mama sama Papa ya," tebakku.
"Iya nih Ma, tapi percuma sih Ma, meskipun Mama kesini sama Papa, Abay sibuk soalnya bentar lagi Abay uts Ma," kata Abay.
"Belajar Nak, bangga in Papa sama Mama kamu ini," sahut Mas Naufal.
"Iya Pa, pasti kok Pa, Papa sudah memberikan semua sama Abay, apalagi dengan fasilitas yang Papa kasih ke Abay," kata Abay.
"Nah bener, ingat!! Harus tau diri, jangan lupa ibadahnya, kamu udah dikasih nikmat banyak sama Allah," tutur Mas Naufal lagi yang ada di sampingku.
"Iya Pa," jawab Abay yang selalu menurut pada Papanya.
"Eh, Papa sama Mama mau ke Swiss," ujar Mas Naufal.
"Wah, yang bener Pa? Kapan Pa?" tanya Abay yang sangat antusias.
"Belum tau, Mama kamu ini minta nya kapan," jawab Mas Naufal.
"Cuman Papa sama Mama aja yang kesana?" tanya Abay.
"Iya Nak, memangnya kenapa? Kalo Abay ikut juga nggak papa," ucapku.
"Tapi pasti nggak bisa Ma, tau sendiri kan Ma disini sangat ketat, apalagi kalo mau ujian, Mama sama Papa kesana dulu aja nggak papa, kan Abay bisa kapan-kapan ke Eropa, ya kan Pa," ucap Abay.
"Iya Nak, konsen aja dulu sama sekolah kamu," tutur Mas Naufal lagi.
"Sering ke coffe shop punya temen Papa nggak?" tanya Mas Naufal.
"Malahan tiap malam minggu Abay kesana Pa," jawab Abay.
"Seringnya main kemana kamu?" tanya Mas Naufal seperti wartawan.
"Ya kan kalo Abay kemana-mana pasti bilang sama Mama sama Papa," jawab Abay dengan jujur.
"Pinter anak Mama, rajin-rajin disana ya Nak, jangan lupa baca Qur'an nya," tuturku.
"Siap Ma," jawab Abay.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, aku sudah mempunyai anak remaja yang penurut ini.
"Ya sudah ya Ma, Abay mau lanjut lagi," ucap Abay.
"Iya Nak," jawabku.
"Salam buat temen Papa ya Nak," sahut Mas Naufal sambil menampakkan wajahku ke kamera.
"Iya Pa, nanti Abay sampaikan," kata Abay.
"Ya sudah, kamu lanjut dulu,"
"Bye Pa, Ma, Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam," jawab kami berdua.
"Untung aja ya Sayang, anak kita pengertian, kalo dia ikut ke Swiss gimana dong, hahaha," kata Mas Naufal.
"Uuuuhhh Mas Naufal, ada-ada aja," kataku sambil mencubit bahunya.
Tak lama kemudian, seseorang kembali mengetuk pintu kamar kami.
Tok..tok...tok.....
"Nah tuh, tukang urutnya dateng," ucap Mas Naufal sambil mengacungkan jarinya menuju pintu kamar.
"Aku aja yang bukain," kataku lalu berdiri dan membuka pintu.
Gleekkkkk.....
"Ini Mbak, Bapak urutnya sudah datang," kata Bi Sarah.
"Oh iya Pak, mari silahkan masuk," kataku.
"Iya Mbak, matur suwun (Terima kasih)" jawab Bapak Tukang Urut itu.
"Loh Bi, waah klop ini kalo ngomongnya sama Bibi, sama-sama mahir Bahasa Jawa nya," ujar Mas Naufal.
"Hehehe, ya iya toh Mas," jawab Bi Sarah.
"Saya turun dulu Mbak, mau buatkan minum," kata Bi Sarah.
"Iya Bi," jawabku.
"Sayang, kamu temenin Mas disini loh," perintah Mas Naufal.
"Ndak papa Mas, ndak sakit kok," sahut Bapak Tukang Urut.
"Tuh kan Mas," sahutku mendukung jawaban Bapak Tukang Urut.
"Bukan masalah sakit nggak sakitnya Sayang, pokoknya kamu temenin Mas,"
"Dia tuh suka cemburu Pak kalo saya lagi berdua sama seseorang sekalipun cowok, ya kan Sayang," kata Mas Naufal.
Aku tau, Mas Naufal itu tipe pria yang sangat malu dan kikuk jika berada bersama seorang pria di dalam satu kamar.
"Hehehem, pasti Mas Naufal nggak enak berduaan di kamar," gumamku dalam hati.
Akhirnya aku menemani Mas Naufal saat di urut kaki kanannya.
__ADS_1
Tidak sekalipun Mas Naufal berteriak kesakitan, coba saja aku pasti sudah berteriak-teriak dan menangis.
Bersambung.......