
Saat Gia mengetahui suaminya tepat tengah malam keluar dari kamar seorang wanita, sebagai seorang istri, Gia yang melihat hal itu pasti sangatlah marah.
Sedangkan Naufal juga sangat kaget melihat istrinya yang tengah berdiri memperhatikan ulahnya tepat di belakangnya.
Naufal yang sehabis menutup pintu kamar Vela kaget dengan adanya Gia.
Naufal tau Gia akan sangat marah kepadanya.
Gia menarik mundur langkahnya dan Naufal mencoba mendekatinya.
"Kamu jangan menyentuhku," perintah Gia dengan tegas.
Naufal merasa sangat bersalah.
Gia berlari ke kamarnya dan Naufal mengikutinya.
Langkah Naufal terhenti karena Bastian memanggilnya dari arah belakang.
"Fal tunggu, makasih ya Bro," kata Bastian sambil memegang lengan Naufal.
Naufal tidak menjawab sepatah kata apapun kepada Bastian Naufal lebih memilih mengejar Gia istrinya.
Bastian bingung dengan sikap Naufal saat itu.
"Naufal kenapa sih beda banget," gumam Bastian dalam hati.
Dengan pelan Bastian mengikuti Naufal.
Bastian dengan sengaja mencoba mendengarkan pembicaraan antara Gia dan Naufal di dalam kamarnya.
Tetapi dengan kamar Naufal yang sangat kedap suara rencana Bastian untuk mendengarkan pembicaraan mereka akhirnya gagal.
***(di Kamar)
Di dalam kamar, Gia langsung membereskan semua barang-barangnya lalu dimasukkan ke dalam koper.
Naufal yang mencoba menghentikan aksi Gia dan mencoba memeluknya, ditolak olehnya.
"Aku udah bilang sama kamu, jangan menyentuhku," ucap Gia tegas.
Naufal langsung melepas tangannya dari lengan Gia.
"Gi tadi aku cuman nolongin Vela, beneran Gi, tadi aku disuruh Bastian kamu percaya sama aku," rayu Naufal yang sangat takut jika kita pergi tengah malam ini.
Sebagai seorang wanita, jelas Gia masih sulit untuk percaya dengan hal tersebut, apalagi dulu Vela pernah di cintainya, dan hal ini kemungkinan besar pasti bisa terjadi.
"Tolong Mas, kali ini kamu ngertiin aku," kata Gia.
"Beneran aku gak bohong sama kamu lagi, jangan salah paham untuk kesekian kalinya lagi dong Gi," kata Naufal.
"Mas, plisss tolong!! satu kali ini aja, pliss kamu kabulin permintaan aku. Aku ingin pergi, aku sangat ingin bertemu dengan Papaku, pliiss satu kali ini aja, ya? Aku mohon izinkan aku pergi, aku sangat rindu dengan beliau," ucap permohonan Gia dengan tangisannya.
Naufal yang saat ini bingung dengan perasaan Gia karena dengan kata-kata Gia yang sangat merindukan Papanya akhirnya Naufal merasa kasihan dengan Gia, dan kali ini Naufal mengabulkan permintaan Gia.
__ADS_1
"Baik kamu boleh pergi, tapi besok ya," ucap Naufal mencoba merayu Gia.
"Tidak, aku ingin sekarang, AKU SANGAT MERINDUKAN PAPAKU," sontak Gia menegaskan pada Naufal lagi.
"Tidak Gi, Aku tidak akan mengizinkan kamu pergi tengah malam seperti ini, apalagi kamu dalam keadaan emosi seperti ini Gi, gak akan," tutur Naufal.
"Lantas mau kamu apa Mas?" tanya Gia sambil terbata-bata.
"Aku hanya ingin kamu menemaniku di sini, kamu jangan pergi Gi," tutur Naufal lagi.
"Baiklah! Jika itu mau kamu, aku akan turuti permintaan kamu sebagai seorang istri, aku tidak ingin durhaka kepadamu," kata Gia.
Gia langsung kembali tidur menarik selimutnya dan membelakangi Naufal sambil terus menangis.
Naufal yang mencoba menyentuh pundak Gia, tetapi Gia malah menepisnya.
"Gi," panggil Naufal.
Gia tidak menjawab panggilan dari Naufal, Naufal sangat sangat mengerti bagaimana posisi Gia sekarang, sehingga Naufal memutuskan agar tidak menjelaskan pada Gia sekarang, karena Gia masih dalam keadaan emosi dan tidak ingin diajak berbicara.
Semalam Naufal dan Gia tidak tidur sama sekali, apalagi Gia yang terus menangis dan Naufal yang terus memikirkan keadaan istrinya serta khawatir dengannya.
Keesokan harinya Bastian mencoba berbicara kepada Naufal.
Bastian mengetuk pintu kamar Naufal
Tok tok tok.
Gia yang masih murung dan merebahkan tubuhnya di atas kasur seperti tepat di malam hari, menghiraukan ketukan pintu kamarnya, lalu Naufal mengalah untuk membukanya.
"Apalagi Bas?" tanya Naufal yang berpura-pura tetap tenang karena Naufal begitu juga Gia dari dulu sudah sepakat tidak ingin mengumbar masalah rumah tangganya kepada temannya.
"Lo berantem sama Gia?" tanya Bastian dengan tegas.
"Ya wajarlah suami istri kan pasti kayak gitu," jawab Naufal.
"Fal, ini gara-gara gue kemarin ya," tanya Bastian lagi.
"Fal, Gue bener-bener minta maaf Fal sama Lo, Gue ngrasa bersalah banget sama Lo sahabat Gue, gue bakalan jelasin sama Gia Fal, emang Gue berniat minta tolong sama Lo, nggak lebih. Masa iya sih Gue mau minta tolong sama Gia kan nggak mungkin, Gia kan istri Lo dan Gue juga nggak punya kontak dia," ucap Bastian panjang lebar.
"Udah ya, Gue ngerti Bas ini cuman salah paham antara aku sama dia, nanti biar aku jelasin sendiri sama dia, sekarang dia lagi gak mood buat bicara sama siapa-siapa. Jadi kalo di depan dia kamu jangan ngebahas masalah ini takutnya dia malah sedih Bas," tutur Naufal.
"Beneran Fal sumpah Gue niatnya cuma minta tolong sama Lo, Gue janji, Gue pasti balikin keadaan semua ini Fal," kata Bastian.
"Habis kemarin Gue parno banget Fal lihat Vela jatuh di kamar mandi, masa iya Gia bisa semarah ini sama kamu cuman gara-gara kamu nolongin seorang wanita bisa dibilang itu pasien kamu," ucap Bastian lagi.
"Udah nanti kalau sampai rumah kita selesaiin bareng-bareng, kita bicarain semua dari awal sampai akhir. Sekarang mending kita siap-siap dulu langsung ke bandara buat pulang," tutur Naufal lagi.
"Gue bener-bener minta maaf banget Bro sama Lo," kata Bastian yang masih belum puas.
"Udah udah cepetan siap-siap," perintah Bastian.
Bastian langsung meninggalkan kamar Naufal dan Naufal tampaknya tidak melihat Gia di dalam kamar rupanya dia di dalam kamar mandi.
__ADS_1
Setelah Gia selesai mandi, Naufal langsung bergegas menuju kamar mandi.
Setelah beberapa menit Naufal selesai mandi dan semuanya rupanya sudah disiapkan oleh Gia, sudah dibereskan oleh Gia. Meskipun semarah-marahnya Gia kepada Naufal tak lupa Gia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.
Di dalam kamar, Naufal selalu ingin membuka obrolan dengan Gia, tapi Gia hanya menjawab satu atau dua kata saja.
Saat Gia menarik kopernya dan menggendong boneka minion besarnya. Naufal mencoba ingin membantu membawakan boneka Gia.
"Sini biar aku yang bawa boneka kamu," tawar Naufal.
"Nggak usah nggak papa, aku bisa sendiri," jawab Gia dengan mata sembabnya dan suara yang sangat lemah.
Gia menolak tawaran Naufal.
Pada saat di parkiran, Gia bersikap seolah semuanya baik-baik saja, dia tetap ramah kepada Bastian dan Vela.
Bastian semakin dibuat bingung dengan sikap Gia terhadapnya.
Mereka langsung memasuki mobilnya dan langsung menancap gas mobil. kali ini Vela pulang bersama mereka.
***(di Bandara)
Beberapa menit akhirnya mereka sampai di bandara.
Saat tiba di bandara tepat pesawat mereka akan berangkat dan mereka sangat terburu-buru saat memasuki pesawat.
Di dalam pesawat Bastian selalu memandang ke arah Naufal dan Gia.
Lagi-lagi mereka mampu menyembunyikan masalah dari Bastian.
Meskipun Bastian mengetahui mata sembab dan merah Gia.
Beberapa jam akhirnya mereka sampai.
Bastian mengantarkan Naufal dan Gia. Sebenarnya Bastian ingin segera menyelesaikan masalah ini tetapi Bastian sudah diberi aba-aba oleh Naufal, jika lebih baik besok saja, jika ingin menyelesaikan masalah ini karena Naufal ingin mencoba menjelaskan kepada Gia, dan apabila dia tidak tetap tidak percaya maka Bastian yang akan menjelaskan pada Gia.
***(di Rumah)
Sampai di rumah, Gia tetap hanya diam pada Naufal.
Naufal hanya berdiri dan mengikuti langkah Gia dari belakang.
Saat Gia membuka pintu.
"Kejutan........," ucap Mama dan Papa Gia, beserta Mama dan Papa Naufal, Bi Sarah, Johan dan Susi bersamaan.
Gia kaget mereka bisa berkumpul di rumah ini.
Bersambung......
Terima kasih semuanya...
jangan lupa like, komen dan vote yaa🙏😁
__ADS_1
Tunggu episode selanjutnya.