
Ku letakkan ponsel dan alat tadi di sampingku.
“Siapa yang manggil-manggil namaku, kalo Suster kenapa
suaranya cowok,” gerutuku dalam hati dengan posisi yang sama.
“Apa Naufal??? Tapi Naufal kan nggak tau kalo akua ada disini,” kataku dalam hati.
“Tapi bisa aja Naufal, karena Naufal selalu ada buat aku, selalu tau dimana pun aku berada, iya pasti Naufal,” kataku dalam hati semakin yakin bahwa yang memanggilku tadi adalah Naufal.
“Siapa??” tanyaku sambil aku beranjak berdiri.
Pria itu melangkah pelan dan semakin mendekat padaku, aku
tambah yakin bahwa dia adalah Naufal, bukan orang lain.
“Iya, ini pasti Naufal, Naufal pasti ngerjain aku,” gumamku dalam hati sambil ku hapus air mataku lagi dan membalikkan badanku lalu melangkah memeluknya.
Namun………saat tanganku sudah akan memeluk pria itu,
ternyata………dia bukan Naufal.
Dia orang lain, yang pernah ku lihat untuk beberapa kalinya
di lokasi ini.
Yah……wajahnya sama sekali tak asing, aku berdiri kaku di
depannya. Aku malu padanya, karena aku salah orang, ternyata dia bukan suamiku.
Aku benar-benar menatap kedua matanya.
“Ya Allah, siapa pria ini??” tanya ku dalam hati.
“Untung saja aku tidak jadi memeluknya, dia orang lain, bukan Naufal suamiku,” kataku dalam hati yang terus bengong menatapnya.
Dia juga menatapku, menatap benar kedua mataku dengan
berdiri tegak dan menyimpan kedua tangannya di saku celananya.
Langkah kaki, ku mundurkan sedikit, agar berada jauh dari
nya.
“Siapa kamu??!!” tanyaku.
“Jangan macem-macem sama saya, saya akan teriak disini,”
ancamku dengan wajah ketus.
Meskipun wajah ini tak asing untukku, tapi aku harus tetap
waspada padanya.
“Siapa kamu??!!” teriakku lagi sambil ku hapus air mataku.
“Hapus air mata kamu, jangan bersedih Putri, jika kamu
menangis Penyihir……..,” kata Pria itu terpotong oelhku.
“Stoppp!!!” teriakku.
“Kata itu……kata itu kan sering banget dulu di ucapin sama Papa, setiap kali aku bermain dongeng dengannya, dan……dan kenapa pria ini tau,” ucapku dalam hati.
“Jika kamu menangis Penyihir akan??” ucapku memberi
pertanyaan pada pria itu, apakah kata pria itu benar sama persis seperti yang sering di ucapkan oleh Papaku ketika beranjak tidur.
Aku terus mengamati gerak bibir pria itu, aku sangat
berharap jika pria ini tidak tau apa kelanjutan kata yang ku ucap tadi.
“Jika kamu menangis, Penyihir………..” ucap pria itu.
Aku semakin deg-deg an dengan jawaban dia, aku takut jika
ucapan dia sama persis seperti Papa.
“Jika kamu menangis, Penyihir akan datang mengutukmu,” jawab Pria itu.
Deeeggggg……………….
"Ternyata dia benar, apa yang dia katakan sama persis seperti kata Papa," kataku dalam hati.
“Siapa dia??!!! Kenapa dia tau kata-kata itu, padahal hanya
aku dan Papa yang tau, dan satu temanku yang sangat jahat itu,” ucapku dalam hati.
“Ka….Kamu siapa??!!” tanyaku.
“Kamu tau kata itu dari siapa dan dari mana?” tanyaku terus terang.
Aku terus melangkah mundur, hingga aku hampir saja terjatuh dari bukit, untung saja pria itu langsung dengan sigap menarik tanganku, namun langsung aku menariknya kembali.
“Bukan mukhrim,” kataku dengan judes dan raut wajah yang
marah.
“Aku cuman nolongin kamu, aku nggak ada maksud apa-apa,”
ucapnya.
“Minggir kamu,” kataku.
“Minggir,” ucapku yang ingin berlari darinya.
“Aku nggak kenal sama kamu!!!” ucapku.
Dia semakin mendekat padaku, aku bingung mencari pertolongan.
“Gila ya kamu!!!” ucapku sambil menjoroknya dan aku berlari
turun.
Dia terus mengikuti dan terus memanggil-manggil namaku.
“Gi…..” panggilnya.
“Gia berhenti….” Panggilnya lagi.
Aku tidak memperdulikan dia, aku terus berlari turun, sampai aku terjatuh karena kaki ku tergelincir oleh batu.
Buukk…..
“Aaawwwww,” keluhku.
Ku kibaskan tanganku dan aku berusaha untuk segera bangun,
agar pria itu tidak bisa lagi bertemu denganku.
Namun, karena sakit di kakiku, pria itu duduk jongkok dan
ingin menolongku berdiri, namun aku menolaknya.
“Nggak usah,” tolakku dengan judes.
“Aku bisa sendiri,” sambungku.
Ku lanjutkan jalanku namun pelan karena sakit nya kakiku.
“Gi….” Panggilnya lagi dan lagi yang terus mengikutiku.
Karena rasa kesal dan muak dengan pria ini, aku tidak perduli
jalan sendirian dan meninggalkan Suster di atas.
“Gia…mau kemana??” ucapnya.
“Ada apa lagi sih?? Aku nggak kenal sama kamu,” kataku.
“HP kamu,” jawab pria itu.
Langkahku langsung terhenti saat mendengar jawaban pria itu.
“HP aku??? Astaga, tadi lari kan aku tinggalin HP ku, Iiiih
Gia,” gumamku dalam hati.
Aku membalikkan badanku dan melihatnya yang sudah berdiri
tepat di belakangku.
“Ini, dari tadi aku mau kasih ini,” ucapnya.
“Makasih,” jawabku dengan judes dan langsung menyahut
ponsel dan alat tadi yang ada di tangannya.
Aku langsung kembali melangkah meninggalkan pria itu.
“Gi, aku mau ngomong sama kamu,” teriakan pria itu.
“Aku nggak kenal sama kamu!!!” kataku sambil terus berjalan.
“Aku mau ngomong tentang harapan kamu, doa kamu dulu buat
aku,” teriak pria itu lagi.
Deeeggg……..
Langkah kaki ku kembali berhenti.
“Doa??? Harapan???” tanyaku dalam hati.
Deeegggg…….
“Kamu ngomong apa sih?? Gak jelas tau nggak!!! Jelas-jelas
aku sama sekali nggak kenal sama kamu!!! Maaf ya, kamu salah orang,” kataku.
“Nggak, aku nggak mungkin salah, aku kenal Gia ku yang dulu,”
sahut pria itu yang membuatku kaku dan kaki ku sangat berat untuk ku ajak berlari jauh dan pergi.
Deg deg…..deg deg…….
“Kamu salah orang, aku nggak kenal siapa kamu!!! Dan satu
lagi jangan pernah ngomong ataupun ketemu lagi sama aku,” tegasku.
Aku terus berjalan berusaha tidak mendengarnkannya.
“Aku Alvi,” ucapnya.
“Aku Majnun, dan kamu Layla nya kan??” tanyanya.
Deegggg......
Seperti petir yang sedang menyambar telingaku, seketika telingaku panas dan ingin mengeluarkan semua marahku padanya.
“Majnun…….Layla…..” ucapku dalam hati.
Aku langsung berhenti, dan berjalan mendekat padanya.
“Omong kosong apa sih??? Majnun??? Layla??? Siapa mereka??!! Aku nggak kenal sama mereka, aku Gia, dan kamu???...” kataku sambil menunjuk-nunjuk pria itu.
“Aku nggak tau kamu siapa!! Aku nggak kenal siapa kamu!!! Dari mana kamu!! Intinya aku minta sama kamu, jangan pernah menemui aku lagi!!! Dan jangan pernah sekali-kali berani ngomong sama aku, jangan ikuti aku lagi!!” kataku dengan semua amarahku.
Aku langsung berjalan meninggalkannya, untung saja dia tidak
__ADS_1
mengikutiku lagi.
Aku memberanikan diri untuk berjalan sendirian meskipun ada
sedikit rasa takut.
.
.
.
.
.
Sampainya di bawah, aku bertemu dengan Naufal.
“Sayangggg….dari mana aja sih kamu???” tanya nya yang
sepertinya habis mencariku dan mengkhawatirkanku.
“Aku…….aku dari atas Mas cari signal,” jawabku.
“Cari signal??? Bua tapa?? Kan tadi sore udah,” ucap Naufal.
“Iya Mas, yang ini buat nelfon Mama, Papa sakit,” ujarku.
“Papa sakit??? Terus gimana?? Kamu udah bisa telfon Mama??” tanya Naufal.
“Udah Mas,tapi nggak bisa ngobtol lama, karena meskipun ada
signal tapi tetep aja buffering, hehem,” ucapku.
“Tadi akum au bilang sama kamu, tapi kamu katanya ada
ngobrol penting sama Dokter Anton,” ujarku.
“Iya sih Sayang, maafin aku ya,” terus kamu ke atasnya sama
siapa??” tanya Naufal lagi.
“Nggak papa Mas, aku sama Suster tadi,” jawabku dengan nafas terengah-engah.
“Nah terus Suster nya mana?? Kok kamu sendirian???” tanya
Naufal lagi.
“Heheh, aku tinggalin di atas Mas,” jawabku.
“Kok kamu tinggalin Sayang, kenapa???” tanya Naufal yang terus menerus.
“Tadi ada orang nggak waras Mas di atas, ya udah aku
langsung lari ke bawah, hehehe, tadi sempet jatug tapi aku bisa jalan agi kok,” kataku.
“Kamu jauh??? Mana kaki kamu aku lihat,” uajranya.
“Mas…..nggak papa, nggak begitu sakit kok, lagian aku juga
bisa jalan kesini kan,” kataku.
“Kita tunggu disini aja ya Mas Susternya,” sambungku.
“Iya, duduk sini Sayang,” kata Naufal mengajakku duduk di
bangku kayu yang di sediakan disana.
“Terus ini yang kamu bawa apa?? Punya nya Suster??” tanya
Naufal.
“Hehehe,m, ini itu alat penguat signal Mas, punya pak RT,
tadi keburu aku bawa lari, hihihih,” jawabku.
“Ya ampun Sayanggg….uuhh kamu nih dasar,” kata Naufal.
“Tadi si pinjemin sama Si Suster Mas, hihihi,” ucapku.
Tak lama kemudian, Si Suster terlihat sedang turun sambil
menikmati sebuah makanan yang di makannya sepanjang jalan.
“Sus,” ku panggil Si Suster dan ku lambaikan tanganku.
Si Suster berjalan menemui kami.
“Dokter Giaaa……….astaga Dok, saya kira Dokter ngilang
kemana,” ucapnya yang hsiteris.
“Hehehe, maaf ya Sus tadi nggak sempat bilang, soalnya
buru-buru, terus alatnya ke bawa deh, hihihi,” ucapku sambil tersenyum menyeringai padanya.
“Huuuh nggak papa Dok, besok aja saya kembaliin, saya
nyariin Dokter kemana-mana loh, saya kira jatuh dari bukit, eeehhh ternyata disini, huuufftt, khawatir saya Dok,” keluh Si Suster.
“Hihihi maaf ya udah buat khawatir, maaf,” eayuku.
“Hehehe iya Dok, nggak papa,ya udah alatnya saya simpan dulu ya Dok,” kata Si Suster.
“Iya Sus, hehehm,” jawabku.
Akhirnya Si Suster menyimpan alat itu, dan aku lanjut
ngobrol berdua dengan Naufal.
“Tadi kata Mama gimana kondisi Papa??” tanya Naufal.
“Kata Mama, eheemm…Papa kecapek an aja,” jawabku.
ucapku yang sama sekali tidak bersemangat.
“Padahal Papa makan nya udah teratur, udah aku suruh minum vitamin, kerja nya nggak boleh lembur-lembur kayak dulu, tapi jawaban Mama masih aja Papa kecapek an,” kataku sambil mengusap air mataku.
Naufal menarik tanganku dan menidurkan kepalaku di pundaknya lalu mengelus-elus kepalaku.
“Sabar……Do’a in Papa aja,” tutur Naufal.
“Kenapa Papa selalu kecapek an sih Mas, kalo kecapek an kan
bisa cuman di kasih infus sama vitamin yang ekstra aja, nggak perlu di rawat berhari-hari,” kataku dengan isak tangisku.
“Husstt huusstt iya aku ngerti, do’a in Papa aja, semoga
cepet sembuh, udah lah Sayang positif thingking aja,” ujarnya.
“Aku khawatir sama Papa Mas,” keluhku.
Naufal mencoba menenangkanku.
.
.
.
.
.
.
“Sekarang kamu tidur gih, udah malam,” tutur Naufal.
“Sebenarnya mau tetap disini Mas sama kamu, huumm,” keluhku.
“Udah malam Sayang, besok kan kita juga ketemu, sholat
shubuh, sarapan, kan pasti ketemu, ya,” rayu Naufal.
“He’em,” jawabku dengan anggukan kepalaku.
“Kamu juga langsung tidur ya, jangan lupa sholat dulu,”
tuturku.
“Iya Sayang, udah gih sana masuk,” kata Naufal.
“Bye Mas,” ucapku dengan manja dan berjalan masuk ke tenda.
.
.
.
Di dalam tenda, aku duduk di atas matras dan ngobrol dengan
Suster.
“Gimana Dok tadi?? Bisa kan telfon Mamanya??” tanya Suster.
“Bisa Sus, makasih banyak ya Sus,” ucpaku.
“Aaahh udah lah Dok, nggak papa sama saya, berkali-kali
Dokter ucapin makasihnya hehehe,” goda Si Suster.
“Hehehm, kan Suster bantuin saya, sampe di pinjemin ke Pak
RT, kalo saya mana berani Sus,” ucapku.
“Hehehe, maka nya Dok, Dokter kan pemalu orangnya, jadi saya yang pinjamin,” kata Si Suter.
Ku ambil mukenahku dari dalam koper.
“Mau sholat Dok??” tanya Suster.
“Iya Sus,” jawabku.
“Ya udah sekalin, saya juga mau sholat, kita wudhu berdua,
hehem, pasti Dokter takut kan,” tebak Suster.
“Ya gitu deh Sus, hihihi,” ucapku dengan lirih.
Aku pun bergegas mengambil air wudhu dengan Suster.
.
.
.
.
.
.
Setelahnya kami sholat, aku langsung merebahkan tubuhku dan menarik selimutku.
Aku ingin melupakan semua kejadian hari ini.
“Huuummm…….lupakan semuanya Gi, sambut esok,” kataku dalam hati.
__ADS_1
“Bismillah……….,” do’aku sebelum tidur.
.
.
.
.
.
.
Adzan shubuh berkumandang, semalaman aku sudah berada di
tempat ini, tidur beralaskan matras dan di selimuti oleh tenda yang bukan lagi dinding besar dan tebal seperti di rumah Naufal, meskipun punggungku agak sakit sih sebenarnya, tapi nggak papa, memang ini pekerjaanku.
Kami semua bersiap-siap untuk wudhu.
Dan sekalian mandi, kami semua mengantri panjang disana, karena hanya ada 5 kamar mandi disana.
Aku berada di antrian ke 9 sepertinya, dan diikuti di
belakangku adalah Si Suster.
“Hoooamm, sabar ya Dok, kalo disini nggak kayak di rumah
sendiri, hehehe,” kata Si Suster.
“Hehehem,”aku hanya tersenyum pada Si Suster.
Kami sempat menunggu agak lama disana untuk bisa mandi.
.
.
.
.
.
Setelahnya semua mandi, kami melaksanakan sholat shubuh
berjama’ah di depan tenda, aku mencari-cari Naufal yang tidak tampak batang hidungnya.
Sajadahku bersebelahan dengan Si Suster.
“Mana ya Naufal??? Apa dia belum bangun???” tanyaku dalam
hati.
Aku emnoleh ke kanana, ke kiri, ke belakang.
“Nyariin siapa sih Dok?? Suami ya,” ceplos Si Suster dengan
lirih.
“Hehem, apa sih Sus,” kataku sambil menyenggol legannya.
“Udah ngaku aja Dok, udah ketahuan kok heheehe,” kata Si
Suster.
“Ada di depan Dok, barian paling depan malah,” kata Si
Suster sambil merapikan sajadahnya.
Aku melihat kea rah depan, mataku terus meminta mencari
Naufal, dan ternyata….yes….aku nemuin dia, yah…..dia yang memakai baju koko putih dan berkopyah dengan sarung hitam nya.
“Udah ketemu??” tanay Suster.
“Hehehem, udah Sus,” jawabku.
“Huuummm, ini nih pasangan romantis, dimana-mana selalu aja
nyariin,” ejek Si Suster yang membuatku tersenyum.
Kami pun memulai melaksanakan sholat shubuh.
.
.
.
.
.
.
Selesainya kami semua sholat, dalam tenda aku bersiap-siap
untuk menuju lokasi lagi.
Ku oleskan lip tint di bibir bawahku dan ku goreskan mascara
di bulu mataku.
Maklum tenda wanita pasti banyak para perempuan dan ibu-ibu yang sedang memoles wajah mereka.
Padahal yang laki-laki sudah menunggu dan berkumpul di depan
untuk sarapan.
“Ayo Dok, udah??” ajak Si Suster.
“Udah,” jawabku.
Semua keluar dari tendanya masing-masing, dan berkumpul di
meja dan kursi yang sangattt….panjang.
“Waw, banyak banget,” kata Si Suster yang melihat manusia di sana.
“Hehehem, nama nya juga banyak relawannya Sus,” sahutku.
Kali ini sarapan ku duduk di sebelah Suster dan di depan
Dokter Irene, karena Naufal bersama kaum laki-laki.
Disana banyak menu makanan yang tersedia, namun minumnya
hanya air putih, tidak ada susu disini.
.
.
.
.
.
Semua sudah mengisi kenyang perutnya, kami semua di giting
kembali untuk menuju puncak dan melewati jalanan yang memuncak dan medan yang agak sulit itu.
.
.
.
Sampainya di puncak, kami semua berpisah seperti yang sudah
terbagi menjadi beberapa team, dan dari awal aku tidak satu team dengan Naufal.
Melainkan aku bersama Dokter Anton, Suster, dan 2 tenaga
medis lain.
Kami bergerak cepat untuk menolong mereka, menginjeksi
mereka, memberikan vitamin untuk menjaga kesehatan tubuh mereka, dan memeberikan sedikit arahan untuk mereka, terutama pada usia yang masih sangat kecil, dan pastinya banyak duka disini.
Berkali-kali aku menangis mendengar cerita mereka aat
kejadian berlangsung, apalagi aku menemui pasienku yang merindukan anak dan suaminya kembali.
Aku terus menenangkannya.
Ada yang tertolong dan ada juga yang tidak tertolong,
meskipun jumlah kematian sedikit,namun kami smeua tetap melakukan yang terbaik untuk mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tal terasa kami bekerja hingga sore hari.
“Huuufftt akhirnya,” kataku.
“Sus, saya ke Mas Naufal dulu ya,” pamitku.
“Iya Dok silahkan,” kata Si Suster.
Aku mencari-cari Naufal, dan aku melihatnya sedikit ngobrol
dengan pria yang menghadapnya dan membelakangiku.
Dengan senang aku menghampiri Naufal.
“Mas,” panggilku.
Naufal langsung melihatku yang tengah memanggilnya, dan pria
itu juga melihatku yang tengah berdiri di samping Naufal.
Deegggg……
Dan ternyata, dia pria tidak waras itu. Kami saling menatap
kaku. Canggung dan bingung.
“Eh kamu,” kata Naufal.
“Eh iya, kenalin, dia istriku, Gia namanya” ucap NAufal
__ADS_1
memperkenalkanku pada pria yang tadi ngobrol asik dengannya.
Bersambung...........