
“Astagfirullah Noni,” ucap Naufal.
“Rambut kamu, kamu apain itu?? Pake di cat gitu,” ucap
Naufal.
“Noni cuman pengen aja Uncle,” jawab Noni dengan sangat
enteng.
“Gara-gara ini Mama kamu marah?” tanya Naufal lagi.
“Iya Uncle, tapi kan ini bisa di potong bawahnya, lagian
nggak semua kan Uncle,” kata Noni yang ngeyel.
“Noni, kamu cat rambut itu bilang dulu nggak sama Mama
kamu??” tanya Naufal.
“Udah bilang Uncle, tapi Mama nggak setuju, tapi Noni pengen,” ucap Noni.
“Noni, dengerin Uncle ya,” tutur Naufal.
“Kamu nggak boleh kayak gitu, kamu harus nurut sama Mama
kamu, kamu nggak kasihan sama Mama kamu, kerja, ngebesarin kamu, tapi kamu balasnya kayak gini, jangan kayak gini ya,” sambung Naufal.
“Noni nggak boleh gini lagi ya, kalo Mama kamu nggak
ngijinin ya jangan lakuin, turutin apa kata Mama kamu,” ucap Naufal yang membuat Noi nmenangis.
“Noni jangan aneh-aneh,” sahutku.
“Tapi kan Noni cuman ginian doang Uncle,” kata Noni.
“Noni minta maaf saama Mama ya, terus nanti rambutnya di
potong ya,” ucap Naufal.
‘Iya Uncle,” ucap Noni.
“Ya sudah sekarang kamu minta maaf sama Mama kamu,
Noni….jangan pernah buat Mama kamu menangis lagi, Uncle nggak marah, tapi Uncle cuman kasih nasehat ke kamu, ya…jangan di ambil hati, ini demi kebaikan kamu,” kata Naufal.
“Iya Uncele, Assalamu’alaikum,” kata Noni.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Nuagfal dan langsung menutup
teleponnya.
”Ya Allah Noni, kok bisa jadi gitu ya Mas anaknya,” ucapku.
“Nggak tau Sayang, kena pergaulan dikit aja udah kayak
gitu, gampang terpengaruh soalnya dia,” gumam Naufal.
“Kamu bilangin baik-baik Mas, dia kalo sama kamu kan nurut,
kasihan juga Mama nya kan nggak di dengerin sama Noni,” tuturku.
.
.
.
.
.
Sorenya setelah kami sholat, aku membereskan baju-baju kami dari koper untuk ku bawa ke bawah.
Ku gendong keranjang di pinggulku sambil menuruni anak tangga menuju halaman belakang, tempat biasanya aku mencuci pakaian Naufal dengan mesin.
Ku masukkan semua baju kotor kami langsung ku guling-guling
dengan alat itu.
Aku sebenarnya sudah tidak sabar lagi, dan ingin bertemu
dengan Susi, menceritakan semua kejadian disana.
“Mas, nanti malam, aku ke Rumah Susi ya,” kataku.
“Mau ngapain?" tanya Naufal.
“Mau main aja Mas,” jawabku.
“Aku antar ya,” kata Naufal.
“Nggak papa Mas, nggak usah, aku sama Abay kok, kan nanti Abay nggak les," ucapku.
“Sayang, malem loh,” ucap Naufal.
“Iya deh Mas, kamu anterin,” ucapku.
“Bilang aja kalo kamu mau ketemu sama Pak Bastian, kamu
kangen yaa, hehehem,” godaku.
“IIiih Sayang apaan sih kamu ini sama aja sama Bastian, geli
aku jadinya,” kata Naufal.
“Hehehem, canda canda Mas,” ucapku.
.
.
.
.
.
Adzan magrib berkumandang.
Aku bergegas mengambil air wudhu dan sholat berjama'ah dengan Naufal dan Abay.
Setelah sholat, aku menghampiri Abay di kamarnya.
“Nak, jadi ikut ke Tante Susi nggak?” tanyaku.
“Jadi Ma,” jawabnya.
“”Mama tunggu di bawah ya,” ucapku.
“Iya Ma,” jawabnya.
Aku menunggu Abay di depan Rumah kami, tak lama kemudian,
Abay berlari menyusul kami dan langsung masuk ke dalam mobil. Mobil pun melaju menuju rumah Pak Bastian.
.
.
.
.
**(Di Rumah Pak Bastian)
Kami semua turun dari mobil, aku menggandeng tangan Abay
sambil berjalan beriringan.
“Assalamu’alaikum,” salam kami.
Susi yang sedang bersama anaknya di depan TV langsung
menengok dan menghampiri kami.
“Wa’alaikumsalam, masuk masuk,” kata Susi.
“Mas…..Mas Bastian, ada Pak Naufal sama Gia,” teriak Susi
memanggil suaminya.
“Pak Bastian datang dari belakng rumahnya.
“Ngapain Fal??? Lo kangen sama Gue, Hahaha, udah kangen aja Lo,” ejek Pak Bastian.
“Apaan sih Lo, Gue nganter Gia mau ke Susi,” ucap Naufal.
“Hahaha, Fal….Fal,” kata Pak Bastian.
Kami dipersilahkan duduk di sofa ruang tamunya.
Dan Susi ke dapur membuatkan kami jamuan.
Kami mengobrol dengan Pak Bastian, anak Susi langsung mengajak main dengan Abay.
Susi sudah kembali, dan membawakan kami beberapa gelas minuman dan juga cemilan dalam toples.
“Sayang, aku ke belakang dulu ya sama Bastian,” ucap Naufal.
“Iya Mas,” kataku.
“Kalian kan mau ngobrol kan, jadi ya aku tinggal dulu ke
__ADS_1
belakang, mau main catur,” kata Pak Bastian.
“Iya Mas, udah sana,” kata Susi.
Susi langsung menggeser tempat duduknya untuk lebih dekat
denganku.
“Ada apa Gi?? Darurat ya??" tanya Susi.
“Aku udah nahan banget Si, aku mau cerita ke kamu, udah
lama, tapi disana sinyal susah banget,” ucapku.
“Emang cerita apaan sih,” tanya Susi lagi.
“Tapi kamu jangan kaget ya, nanti mereka denger,” kataku.
“Iya iya Gi, gimana gimana??" ucap Susi agak lirih.
“Kamu inget nggak?? Temen kita SD??" tanyaku.
“Temen kita SD?? Satu kompleks nggak?” tanya Susi lagi.
“Satu kompleks sama aku, bahkan tetangga an sama aku,”
kataku.
Susi langsung kaget dan membulatkan matanya menatapku.
"Haaa???!!! Alvi maksud kamu??” tanya Susi.
“Iya Si, huusst jangan kaget,” kataku.
“Iya iya kenapa Gi?” tanya Susi.
“Bentar, kamu yakin mau bicara tentang Alvi lagi, kan kamu udah lupain, nggak takut inget lagi??" tanya Susi.
“Ini kamu yang bahas Alvi sendiri loh ya Gi, bukan aku,” sambung Susi.
“Iya iya Si, udah tenang aja,” kataku.
“Jadi gini Si, ternyata Alvi juga jadi Dokter, dia juga jadi
relawan disana, terus aku ketemu sama dia Si, ……….” Aku meceritakan semuanya pada Susi.
“Nah saat di tengah hutan Si, kita ketemu gara-gara dia
minta pertolongan mesin motornya mogok, aku masih pura-pura kalo aku lupa sama dia, ya sudah aku bantuin dia kan, tapi ternyata kita di dalam mobil berdua, dia terus saja nyeritain semua yang pernah terjadi sama kita dulu, udah dong aku nangis Si, aku marah kan sama dia, aku turun dari mobil, terus dia ngikutin aku, dia bujuk aku bahwa dia gak akan gangguin aku lagi, akhirnya akuau masuk mobil lagi,” sambungku.
“Ya ampun Gia, serius kayak gitu, drama bangetttt,” ucap
Susi.
“Memang gitu Si yang terjadi, kamu tau sendiri kan, begitu
susahnya aku lupain dia, bahkan kamu aja nggak berani bahas dia di depan aku,” ucapku.
“Iya sih, aku tau banget usaha kamu buat lupain Alvi, terus-terus gimana?? Naufal tau nggak??” tanya Susi.
“Mas Naufal nggak tau Si, aku nggak mau cerita tentang Alvi
sama Mas Naufal,” jawabku.
“Loh kenapa??” tanya Susi lagi.
“Aku nggak mau nanti Mas Naufal sedih Si, aku nggak mau libatin Alvi lagi di kehidupan aku, yang penting sekarang aku udah nggak mikirin dia lagi, aku nggak mau ingat dia lagi, ini untuk terakhir kalinya aku bahas tentang Alvi ya cukup ini,” ucapku.
“Hhmmmm, Aku nggak nyangka loh Gi, kalo Alvi jadi mualaf,
sumpah aku juga nggak nyangka kalo kejadiannya bakalan sedrama ini, pake kamu nangis-nangis segala, apalagi dia masih ingat soal Layla Majnun julukan kalian dari Papa kamu,” ucapnya.
“Gimana lagi Si?? Orangnya aku cengeng, kalo aku nggak kayak gitu, Pasti masalahnya bakalan runyam Si, aku nggak mau, sekarang kamu pikir, coba deh kamu yang kejadian kayak aku gini, memangnya kamu nggak nangis apa?? Apa lagi kamu dulu tau sendiri, sedeket apa aku sama Alvi, ” kataku.
“Iya juga sih Gi, udah tua, masih aja kayak drama korea kamu
Gi, Hihihihi,” ejek Susi.
“Maafin aku ya Gi, aku jadi nggak enak sama kamu, dulu aku
kasih tau Alvi,” ucap Susi.
“Nggak papa dong Si, malahan bagus,” kataku.
“Ya……aku pikir kamu bakalan marah Gi sama aku, tapi aku udah mikirin dari awal sih, lagian aku pikit kamu juga gak bakal ketemu lagi sama Alvi, eh malah satu lokasi ini,” ujar Susi.
“Terus nanti kalo ALvi nikah, memangnya kamu datang??” tanya Susi sambil menaikkan satu alisnya.
“Ya nggak lah Si, aku udah bahagia sama Mas Naufal, udah
nggak usah aneh-aneh, masa lalu itu bahaya Si, aku nggak mau ada apa-apa di rumah tangga aku,” kataku.
“Yakin kamu nggak datang??” tanya nya lagi.
papa, aku nggak mau aja nanti Mas Naufal sakit hati,” ucapku.
“Gia…..Gia…..ngejaga perasaan banget sih kamu, sampe bisa
sembunyiin ini,” puji Susi.
“Mas Naufal udah segalanya setelah Mama sama Papa aku Si,” kataku.
Sangat lama kami mengobrol disana, hingga larut malam,
selesai sholat dan mereka mengajak kami makan malam.
***(Di Ruang Makan)
Susi sudah menyiapkan big pizza di meja makan, semuanya serba order online.
“Tadi kalian bicara in soal apa sih??” tanya Pak Bastian.
“Eeee….eemmm…soal cewek lah Mas,” jawab Susi sambil
menyenggol kaki ku dari bawah meja.
“Cowok nggak boleh tau??” goda Pak Bastian.
“Nggak boleh,” jawab Susi.
“Kok kelihatannya kalian serius banget tadi sampe nempel-nempel gitu,” canda Pak Bastian.
“Udah sebulan nggak ketemu, yeee jadinya yak kek gitu Mas,”
tepis Susi.
Ku berikan satu suapan pizza buat Naufal.
“Lo nggak dimana-mana, terus aja gitu Fal,” kata Pak
Bastian.
“Mereka Sayang, disana tuh enak-enak an romantis-romantisan, lah aku??? Sama siapa??” ucap Pak Bastian.
“Kamu sih nggak mau ajak aku,” kata Susi.
“Bukan nggak mau ngajak Sayang, nggak tega aja nanti kamu
disana, Gia aja nggak betah, ya Gi,” ujar Pak Bastian.
Aku hanya tersenyum padanya.
.
.
.
.
.
Selesai makan malam, kami pun berpamitan untuk pulang.
“Pulang dulu Gue,” pamit Naufal.
“Yoooiii, nggak usah ngebut Lo,” kata Pak Bastian.
“Assalamu’alikum Si, aku pulang,” ucapku.
“Wa’alaikumsalam, hati-hati ya,” jawab Susi.
Tin tin….. Naufal menyalakan klakson mobilnya dan melajukan
mobilnya untuk pulang.
.
.
.
.
.
.
.
.
Karena jalanan yang macet, akhirnya kami pulang terlambat.
__ADS_1
Tepat saat kami akan belok ke dalam kompleks, di depan jalan
kompleks terjadi kecelakaan.
“Mas, kecelakaan Mas,” ucapku.
Naufal langsung menghentikan mobilnya, dan dia dengan cepat
melepas seatbelt lalu turun menolong Bapak korban kecelakaan.
Tidak banyak yang tau ada tragedi kecelakaan kecil ini karena sudah malam, aku pun ikut Naufal turun.
“Pak Pak bawa saja ke mobil saya,” kata Naufal.
“Nggak usah Pak, ini hanya lecet begini,” ucap Bapak tua korban itu.
“Nanti saya obatin di rumah saya Pak,” paksa Naufal.
Bapak tua itu masih ragu pada kami.
“Saya bakalan bersihin luka Bapak, ya, saya nggak akan bawa
Bapak ke rumah sakit,” bujuk Naufal.
Akhirnya Bapak tua itu pun mau, dan beberapa orang memboyongnya untuk masuk ke dalam mobil Mas Naufal.
“Bentar Mas, Abay aku pangku aja di depan nggak papa,”
ucapku.
Dengan kuat-kuat, aku menggendong Abay meskipun dia
sangatlah berat untukku, lalu ku pangku dia bersamaku.
“Pak, bawa motor Bapak ini ke rumah saya ya,” ucap Naufal
dengan Bapak-Bapak yang menggendong korban kecelakan yang tidak terlalu parah tadi.
“Iya Mas,” jawab Bapak itu.
“Ikuti mobil saya aja Pak,” kata Naufal.
Untung saja Bapak itu jatuh sendiri, tidak menabrak, ataupun
di tabrak. Dan lukanya tidak parah.
Bapak itu merasakan kesakitan karena kaki nya yang berdarah.
Naufal melajukan mobilnya untuk ke rumah yang sudah sangat
dekat.
“Bapak tadi kok bisa jatuh?” tanyaku.
“Saya ngantuk Mbak,” jawabnya.
“Malam-malam gini Bapak mau kemana?” tanyaku lagi.
“Saya mau jemput istri saya Mbak,” jawab Bapak itu.
“Memangnya istri Bapak kemana??” tanyaku lagi.
“ISstri saya kerja Mbak jadi buruh cuci, jam segini baru pulang,” jawabnya.
***(Di Rumah)
Naufal mengajak masuk Bapak itu ke ruang tamu, namun Bapak tua itu terus saja menolaknya.
“Nggak papa Pak, masuk aja ya Pak,” ajak Naufal.
“Nggak Mas, saya disini saja,” ucap Bapak tua itu yang duduk-duduk di kursi halaman depan rumah.
Mungkin saking sopan nya Bapak itu sampai tidak enak masuk ke daalm rumah Naufal.
“Ya sudah Bapak disini dulu ya, saya panggilkan Bibi saya,”
kata Naufal sambil menggendong Abay.
Naufal memanggil-manggil Bi Sarah, dengan cepat Bi Sarah
menghampiri Bapak tua yang duduk sendirian.
Naufal berjalan masuk ke kamar Abay, sedangkan aku mengambil alat kesehatan untuk membersihkan dan mengobati luka Bapak itu.
Tak lama kemudian, kami kembali menemui Bapak itu.
“Bapak lurusin aja kaki nya nggak papa,” ucap Naufal.
“Bapak percaya aja Pak, Mas sama Mbak ini adalah Dokter,”
tutur Bi Sarah.
Akhirnya Bapak itu meuruti apa kata Naufal, Naufal mencuci
bersih kaki bapak itu lalu membungkusnya dengan kasa dan perban.
“Bapak, saya antar pulang ya, sekalian jemput istri Bapak,”
ucap Naufal.
“Nggak usah Mas, nggak usah,” jawabnya.
“Nggak papa Pak, besok sopir saya antar motor Bapak ke rumah Bapak,” rayu Naufal.
“Nggak usah Mas, saya begini sudah sangat berterima kasih,
saya bisa sendiri Mas,” tolak Bapak itu.
“Yakin Bapak bisa? Ini udah malam Pak,” tanya Naufal lagi.
“Iya Mas, saya bisa Mas,” kata Bapak itu yang berdiridari kursi dan berjalan pincang menuju motornya.
“Pak, jalannya aja kesakitan loh Pak, nggak papa diantar
suami saya aja ya,” rayuku.
“Nggak usah Mbak, nggak usah saya bisa,” tolaknya lagi
Kami sudah tidak bisa memaksa Bapak tua itu, akhirnya Naufal melepaskan Bapak tua itu untuk menjemput sendiri istrinya.
.
.
.
.
.
***(Di Kamar)
Ku rebahkan terlebih dahulu tubuhku dan menonton TV, Naufal
masih berada di dalam kamar mandi.
Tak lama kemudian, Naufal keluar dari kamar mandi dan
mematikan lampu kamar.
Tidak biasanya dia seperti ini, dia tidak segera tidur di sebelahku. Malahan dia duduk di dekatku di tepian ranjang.
“Sayang, matiin TV nya,” ucap Naufal.
“Apa sih Mas?? Kamu keganggu??” tanyaku.
“Enggak, bukan gitu,” jawab Naufal.
“Bentar lagi selesai ini Mas,” ucapku.
“Sayang……matiin,” paksa Naufal.
Naufal meraih remote yang ada di tanganku lalu dai mematikan
TV nya.
Dia tidak segera tidur, malah menatap wajahku.
“Kamu ngapain kayak gitu??” tanyaku.
Naufal malah senyum-senyum padaku dan mendekatkan wajahku di depan wajahku.
Deg deg….deg deg…..
“Mas udah malem, tidur ya,” tuturku.
Naufal malah menggelengkan kepalanya dan tangannya meraih
tombol lampu duduk yang setiap harinya jadi penerang tidur untuk kami.
Dan sekarang sangat gelap, hanya lampu duduk punya Naufal
saja yang menyala, aku semakin takut karena gelap, Naufal juga semakin mendekat dan mendekat.
Hingga tak ada jarak lagi diantara kita, Naufal memberikan malam nya lagi padaku yang sepertinya sudah agak sedikit lama tidak ia berikan padaku sebagai istrinya.
Rasanya sangat tenang dan bahagia saat Naufal mendaratkan bibirnya pada keningku.
Bersambung.........
Terima kasih buat komen nya, like nya, vote nya🖤😁
Terima kasih banyak yaaaa
__ADS_1
selalu support Author ya hehehe🙏