Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 247 (KAMU BERUBAH)


__ADS_3

Aku khawatir dengan Mas Naufal, akhirnya aku memutuskan untuk meneloponnya.


Tut.....tut....tut....


Mas Naufal tak kunjung mengangkat teleponku, padahal aku sudah menghubunginya berkali-kali.


"Ya Allah lindungilah suamiku, huhuhu,"


Air mataku sudah tak bisa ku bendung lagi, aku cemas sendirian di Ruang Makan.


"Mas.....angkat telepon aku,"


"Aku khawatir sama Mas, huhuhuhu," kataku sambil mondar mandir.


Bi Sarah pun datang, mungkin karena lampu di Ruang Makan masih menyala.


"Loh....Mbak Gia masih disini,"


"Mas Naufal belum pulang??" tanya Bi Sarah.


"Ya Allah kenapa menangis Mbakk??"


"Mas Naufal belum pulang Bi, Gia khawatir banget......Gia telfon nggak diangkat, terus Gia chat nggak dibalas, gimana ini Bi, huhuhu," jawabku sambil terbata-bata karena menangis.


"Ya Allah Mas Naufal kemana ini, sudah jam segini belum pulang," Bi Sarah ikut cemas karena melihatku.


"Mbak....ini kan sudah malam, mending Mbak Gia tidur saja bagaimana?? Biar Bibi saja Mbak yang tungguin Mas Naufal, ini sudah malam loh Mbak," tutur Bi Sarah.


"Enggak Bi, Gia mau nungguin Mas Naufal," kataku.


"Gia takut Bi terjadi apa-apa sama Mas Naufal," sambungku lagi.


"Semoga saja tidak terjadi apa-apa Mbak," ucap Bi Sarah sambil mengelus lenganku.


Ditemani Bi Sarah, aku masih tetap menunggu Mas Naufal yang sama sekali tidak ada kabar.


.


.


.


.


.


.


Hingga sampai tengah malam, Mas Naufal masih saja tidak ada kabar dan tak kunjung pulang ke Rumah.


"Apa Mas Naufal masih marah ya sama aku??"


"Enggak, Mas Naufal nggak mungkin kayak gitu," gumamku dalam hati.


"Mbak, lebih baik Mbak Gia tidur saja, ini sudah tengah malam Mbak, biar Bibi saja ya yang nunggu,"


"Mbak Gia dikamar aja," tutur Bi Sarah yang terus merayuku.


Aku pun tidak ingin memenangkan egoku. Jadi, aku memutuskan untuk menunggu Mas Naufal di kamar saja. Aku juga kasihan sama Bi Sarah yang memaksakan dirinya untuk menemaniku, padahal besok Bi Sarah harus bekerja lagi.


"Ya sudah Bi, Gia menunggu Mas Naufal di kamar aja ya,"


"Bibi juga tidur ya," tuturku.


"Mbak Gia jangan nangis terus ya, pasti Mas Naufal pulang Mbak, Bibi yakin Mas Naufal baik-baik aja, ya Mbak," rayu Bi Sarah.


Aku hanya menganggukkan kepalaku saja dan menghapus air mataku.


***(Di Kamar)


Aku duduk di sofa dengan pikiranku yang sangat kacau.


"Mas.....Mas kenapa sih???"


"Mas dimana?? Udah jam segini, nggak biasanya Mas kayak gini, kemana-mana nggak pamit sama aku,"


"Huhuhuhuhu, Ya Allah....."


Aku menangis hingga kedua mataku sangat berat dan sulit untuk ku buka lagi. Dan aku tertidur di sofa.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Keesokan harinya....


Aku bangun kesiangan lagi, Sebelum kedua mata ku buka, parfum harum Mas Naufal sudah tercium di rongga hidungku.


Aku pun langsung terbangun dan melihat jam di ponselku, tepat pukul 6 pagi aku baru bangun.


"Astagfirullah, aku baru bangun," ucapku setelah bangun dan gelagapan.


Aku melihat Mas Naufal baru saja keluar dari ruang ganti baju sudah rapi dan sangat harum.


"Mas Naufal,"


"Mas sudah pulang," ucapku dengan senang.


Aku langsung berdiri dan memeluknya.


"Ya Allah Massss......akhirnya Mas udah pulang dan baik-baik, aku khawatir tauu sama Mas," ucapku di pundaknya.


Tapi kenapa???? Disini berbeda......Mas Naufal tidak membalas pelukanku padanya. Apa dia masih marah padaku??


Mas Naufal menjadi kaku dan tidak seceria biasanya. Aku pun melepas pelukan yang membuat Mas Naufal tidak nyaman itu.


"Mas, maaf ya......aku bangun kesiangan, dari tadi malam aku nungguin Mas, aku buatin steak sama sweet lemon buat Mas, aku panasin ya, biar buat Mas sarapan?? Ya...ya..ya," kataku.


"Mas sarapan di luar, Mas buru-buru," ucapnya lalu menyahut laptop di tempat tidurnya.


"Mas....tunggu-tunggu,"


"Aku mau tanya sama Mas, Mas kenapa semalam nggak balas chat aku?? Kenapa Mas nggak terima telfon dari aku??" tanyaku.


"Mas sibuk," jawabnya singkat dan tanpa menoleh padaku.


"Mas, sesibuk-sibuknya Mas, pasti Mas menghubungi aku, ya kan Mas??"


"Tapi kenapa Mas semalam menghilang," kataku.


"Gi,"


"Mas sibuk, Mas nggak menghilang,"


"Udah, Mas mau kerja," ucapnya lalu melangkah meninggalkanku.


"Ya Allah, kenapa Mas Naufal berubah seperti ini?? Apa dia masih sangat marah padaku??" Ucapku sambil menahan tangisku.


"Mas, masih marah sama aku??" Langkah Mas Naufal pun terhenti saat mendengar pertanyaan itu dari mulutku.


Deg...deg.....deg...deg...


Dan Mas Naufal pun tidak menjawabnya hanya menoleh padaku lalu melanjutkan langkahnya untuk pergi.


"Huhuhuhuhuhu, kenapa Mas??"


"Kenapa Mas kayak gini?? Kalo aku salah, bilang Mas, bilang,"


"Kenapa Mas berubah seperti ini hanya karena kesalahanku yang sepele, huhuhu," aku pun menangis di kamar.


"Aku kira, Mas sudah memaafkan aku, tapi ternyata.......aku salah Mas,"


Aku berjalan ke Balkon kamar sambil menangis.


***


Hai....Mentari....


Aku kembali bercerita padamu.


Tapu pagi ini ceritanya berbeda, tidak seperti yang aku janjikan kemarin.


Masih tentang suamiku.


Yah, perihal kebahagiaanku........


Sekarang sudah berubah.


Aku urungkan saja untuk tidak menceritakan padamu.


Aku tidak sanggup.


Sejak kepergiannya saat itu, sekarang dia berubah.


Atas kesalahanku.


Aku sedih,


***


"Huhuhuhuhuhuhu," aku menangis di pinggiran balkon. Menangis terisak-isak.


"Ya Allah, harus dengan cara apa lagi aku ini??"


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


Setelah mandi, aku berpakaian rapi dan segera turun ke bawah untuk sarapan.


***(Di Ruang Makan)


"Pagi Buk," ucap mereka di Ruang Makan.


"Pagi semua,"


"Bi, steaknya sudah Bibi panasin?? Biar buat Gia sarapan Bi," ucapku.


"Loh, steaknya di bawa Mas Naufal Mbak, katanya buat sarapan disana," jawab Bi Sarah.


Aku terkejut mendengar hal itu, padahal tadi Mas Naufal sendiri yang bilang jika dia buru-buru, tapi dia masih sempat membawa steak buatanku semalam.


"Apa Bi? Dibawa Mas Naufal?" tanyaku lalu duduk di kursi depan Pak Rusdi.


"Iya Mbak, akhirnya Bibi bawakan, kenapa Mbak memangnya?" tanya Bi Sarah.


"Oooh, nggak papa Bi, nggak papa kok, ya udah Gia sarapan ini aja," jawabku.


"Aneh Mbak Gia sama Mas Naufal, apa Mbak Gia sama Mas Naufal ada masalah ya?? Apalagi semalam Mas Naufal pulang jam setengah 3 pagi,"


"Terus, paginya udah berangkat kerja aja, hhhmmm, semoga saja mereka baik-baik saja," gerutu Bi Sarah.


"Bi, kenapa ngelamun?? Ayo makan," kataku.


"Eehhmm....ii..iya Mbak," jawabnya.


"Maaf ya Bi, tadi Gia nggak bantu Bibi masak lagi, Gia tuh nggak tau Bi, dua hari ini susah bangun, padahal kan udah pasang alarm, maaf ya Bi," kataku.


"Nggak perlu minta maaf Mbak, sudah kewajiban Bibi yang bekerja disini," ucap Bi Sarah.


"Ya sudah, ayo mari makan," kataku.


"Ya Allah, maksudnya Mas Naufal apa sebenarnya?"


"Dia masih marah sama aku? Tapi Mas Naufal juga mau bawa steak buatan aku, apa Mas Naufal udah nggak marah sama aku??" Gerutuku dalam hati.


Bi Sarah diam-diam mencuri pandangan padaku.


"Tuh kan?? Kayak ada yang dipikirin gitu sama Mbak Gia, ada apaa ya sebenarnya?" Gerutu dalam hati Bi Sarah.


Setelah selesai makan, aku langsung bergegas berangkat ke Butik agar aku juga tidak terlalu kepikiran, jadi ku sibukkan diriku di Butik.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sedangkan saat Mas Naufal tiba di Rumah Sakit, Pak Bastian langsung datang mengahadangnya.


"Eiitss, kemana Lo semalam?" tanya Pak Bastian.


"Apaan sih Bas?? Baru dateng juga," jawab Mas Naufal.


"Kemana Lo semaleman?? Dicariin Gia tau," ucap Pak Bastian.


"Ada kerjaan Bas," jawab Mas Naufal lagi.


"Oooo, Gue kira Lo kenapa-napa, kan Gue juga ikut kepikiran, hahahaha," canda Pak Bastian.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***(Di Butik)


Aku duduk termenung di depan meja kerjaku, pandanganku kosong memandang ke bawah jalan raya.


Aku mencoba mengirimkan pesan ke Mas Naufal.


"Mas, jangan lupa dimakan ya steaknya," Gia (8.45)


"Iya," (11.38)


Walaupun balasan pesan dari Mas Naufal sangat lama, namun aku tetap menunggu balasan itu.


"Mas Naufal cuek banget,"


"Beneran loh dia masih marah sama aku," kataku dalam hati.


"Ya Allah, harus gimana lagi aku? Mas Naufal semarah ini sama aku," gumamku dalam hati.


Aku melamun dan meneteskan air mata, Haru datang menepuk pundakku.


"Bu," panggil Haru.


Langsung ku hapus air mataku dan menoleh pada Haru.


"Iya Mbak, kenapa?" Tanyaku.


"Stock Floosa hijab udah habis Bu, dan ini ada yang mau order, apakah bisa nanti langsung saya kerjakan Bu?" tanyanya.


"Oh, boleh Mbak, boleh," jawabku.


"Kainnya masih ada semua kok Mbak," sambungku lagi.


"Oooh iya Bu," jawab Haru yang tak kunjung pergi dari tempatnya berdiri.


"Bbbb.....Bu, Ibu habis menangis?" Tanya Haru memberanikan dirinya.


"Menangis? Hehehem, enggak Mbak,"


"Sudah, ada yang perlu kita rundingkan lagi Mbak Haru??" tanyaku lagi.


"Oh sudah Bu, sudah, kalo gitu saya kembali turun ya Bu," ucap Haru.


Ku jawab dengan senyuman tipisku.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sorenya, aku berpamitan untuk pulang.


"Mbak, jangan lupa ya tadi PR nya, hehe," kataku untuk Haru, Isamu dan Hilya.


"Siap Buk, nanti segera kami laksanakan," jawab Hilya.


"Semangat ya kalian, hehe, kalo capek berhenti Mbak, jangan dipaksa ya," tuturku lagi.


"Siap banget Buk," jawab Haru.

__ADS_1


"Saya pamit pulang ya, jaga Butiknya, Assalamu'alaikum," pamitku.


"Wa'alaikumsalam Buk, hati-hati Buk," teriak mereka saat aku sudah di dalam mobil.


Bippp...bippp....(suara klakson mobilku)


"Jam segini Mas Naufal pasti udah pulang,"


"Apa Mas Naufal kayak gini sama aku gara-gara banyak kerjaan ya, terus Mas Naufal kecapek an,"


"Mungkin yaaaa? Bisa jadi.....positif aja lah," pikirku selama di perjalanan.


.


.


.


.


.


.


.


.


***(Di Rumah)


Saat aku turun dari mobil, benar tebakanku. Mobil Mas Naufal sudah terparkir di sebelah mobilku.


"Assalamualaikum," salamku.


Namun tidak ada yang menjawabnya.


Di kamar, aku melihat Mas Naufal yang sedang duduk-duduk santai di Balkon.


Aku berjalan pelan menghampirinya. Dan aku duduk di sebelahnya.


"Mas, sudah dari tadi pulangnya?" tanyaku.


Mas Naufal menjawab dengan anggukan kepalanya.


"Mmm....Mas aku mau ngomong sama Mas,"


"Aku ngerti Mas, pasti Mas kayak gini sama aku, karena Mas kecapek an kan,"


"Maafin aku ya Mas, kalo banyak salahku sama Mas," ucapku.


Mas Naufal hanya diam memandang awan orange yang telah disaksikan kami berdua.


"Sebenarnya ada apa Mas? Jika ada yang salah dari aku, Mas bilang,"


"Jika Mas ada masalah, Mas cerita ke aku, seperti biasanya Mas, layaknya seorang suami dan istri, jangan di pendam sendiri Mas," sambungku lagi.


Ku telan ludahku pelan-pelan dan ku tahan tangisanku, rasanya disini aku tidak dianggap oleh Mas Naufal.


Entah kenapa?? Semenjak Mas Naufal pulang dari luar negeri Mas Naufal berubah total. Jadi dingin sama aku, wajahnya selalu murung, jarang senyum, jarang ngomong terkesan sangat cuek.


"Mas, aku salah apa sama Mas?"


"Sampai Mas menghukumku seperti ini? Salah apa aku sama Mas?" Dengan semua nyali akhirnya aku mencetuskan kalimat ini meskipun dengan bibirku yang gemetar.


"Sampai Mas nggak mau ngomong sama aku, aku tau......aku salah,"


"Waktu Mas pulang, aku nggak di rumah, aku tau aku salah karena aku bangun kesiangan, maaf ya, maafin aku," ucapku yang akhirnya dibarengi dengan tetesan air mata dikedua pipiku.


Mas Naufal hanya menoleh padaku dan menatap kedua mataku. Pandangan itu membuat bungkam kedua bibirku.


Aku pun tertunduk di depannya, karena tidak kuat lagi, lebih baik aku meninggalkan Mas Naufal sendirian terlebih dahulu.


.


.


.


.


.


.


.


.


Setelah selesai aku mandi, Mas Naufal hilang dari tempat dimana semula dia duduk.


"Kemana lagi Mas Naufal? Hilang lagi?" gumamku dalam hati.


Kali ini, aku tidak ingin mengganggunya terlebih dahulu.


Aku ingin dia berfikir terlebih dahulu, apalagi di tengah kesibukannya yang ekstra ini.


"Huuuuuffftttt, Mas.....Mas....."


"Apa aku ada salah kata ya sama Mas?? Sampe Mas nggak mau ngomong sama aku,"


"Sabarkan aku Ya Allah," ucapku dalam hati.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Malamnya, aku ingin berkunjung ke Rumah Susi.


Aku mencoba untuk tidak mengajak bicara Mas Naufal terlebih dahulu. Aku ingin Mas Naufal menenangkan pikirannya yang kalut dan berimbas padaku itu.


Selesai Mas Naufal sholat magrib, aku sudah bergamis rapi sambil membawa dompet kecil putihku.


"Aku yakin, pasti kali ini Mas Naufal akan ikut padaku, jika Mas Naufal tau aku mau ke rumah Susi,"


"Dan dia pasti tanya sama aku, hehehem, mungkin dengan cara ini, Mas Naufal mau mengajakku berbicara terlebih dulu," gumamku dalam hati.


Saat aku sedang akan membuka gagang pintu, Benar tebakanku. Mas Naufal mengajakku berbicara.


"Mau kemana?" tanyanya cuek.


"Ke rumah Susi Mas," jawabku.


"Pasti setelah ini, Mas Naufal bilang kalo dia mau ikut, hehehehm," ucapku dalam hati kegirangan.


Dan ternyata, Mas Naufal hanya diam saja, dan tidak menanyaiku lagi. Ini semakin membuat hatiku sakit.


Biasanya Mas Naufal tak tega membiarkanku pergi sendiri, dan Biasanya dia selalu bertanya mau pergi sama siapa dan pulang jam berapa?????


Ya Allah........Mas Naufal benar-benar berubah.


Aku tak kuat membendung air mataku.


"Yasudah, Assalamu'alaikum," ucapku langsung pergi meninggalkan Mas Naufal di kamar.


"Huhuhuhuhu, MAS TEGA,"


"Menyiksaku seperti ini, huhuhuhuhu, Mas berubah semenjak kamu pulang?? Aku yakin ini bukan Mas," gumamku dalam hati.


Dengan bercucuran air mata, langkahku percepat menuruni anak tangga. Semakin hari sikap Mas Naufal semakin membuatku tidak nyaman.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2