
"Iiih enggak, apaan keceplosan, kamu kali yang salah denger," kataku malu-malu.
"Enggak, tadi jelas banget kok beneran jelassss banget," ucap Naufal.
"Emang tadi aku ngomong apaan?" tanyaku.
"Kamu tadi manggil aku Sayang loh," jawab Naufal.
"Oh itu tadi alam bawah sadar Mas," bantahku.
Naufal mencubit pipi kananku.
"Awww," jeritku.
"Tuh sakit kan, ngeles aja kamu Sayang, kenapa sih harus malu?" tanya Naufal ganti.
"Siapa yang malu? Orang aku biasa aja," kataku.
"Coba ulangi lagi kalo emang kamu biasa aja," tantang Naufal.
"Gak mau lah, tiba-tiba gak mood ngomong," kataku langsung ku pejamkan mataku.
Naufal semakin gemas padaku.
"Dasar Gia, bisa-bisanya buat jantungku berdetak sekencang ini," gumam dalam hati Naufal.
"Ya udah kalo gak mau," kata Naufal singkat sambil ikut memejamkan matanya.
Beberapa menit kemudian, ku buka mata kananku pelan-pelan.
"Sepertinya dia sudah tertidur," gumamku dalam hati.
Ku bergerak pelan mendekati telinganya, Ku condongkan badanku yang ku sangga dengan satu lenganku saja.
"Selamat malam Sayang," bisik ku di telinga Naufal lirih.
Tiba-tiba, Naufal langsung membelalakkan matanya.
"Oo ow," ucapku seperti maling yang tengah tertangkap basah oleh pemiliknya.
Aku benar-benar malu se-malu malunya, rasanya sekarang aku tidak ingin menatapnya.
Aku tersenyum penuh keraguan padanya, dan kembali menyelinap dalam pelukan Naufal.
"Hehehehem, aduh Gia lucu banget sih kamu," ucap Naufal sambil menertawakan ku.
"Gak usah ketawa, gak ada yang lucu," ujarkus singkat sambil menutup wajahku dengan satu tanganku saja.
Naufal membuka bungkaman tangan yang menutupi wajahku.
"Kenapa di tutupin kayak gitu? Wkwkwk kayak Noni aja kamu nih Sayang," ejek Naufal.
"Hehe, malu Mas," kataku pelan.
"Ooo jadi gini kalo malu, Hm? Malu kenapa sih? Hm? kenapa? Gak perlu malu Sayang, wajarlah, hahaha," kata Naufal yang terus menertawakan ku.
"Udah kamu manggilnya gitu aja terus, gak keberatan sama sekali Gi," kata Naufal.
Aku menatapnya sambil mengernyitkan kedua alisku dan menenggelamkan bibirku seperti perahu terbalik.
"Kenapa? Kok gitu mukanya? Nggak terima kamu aku ketawain," ucap Naufal.
Ku cubit pinggang Naufal.
"Aaww sadisnya kambuh kan, wkwkwk," ucapnya lagi.
"Jangan di gituin, malunya malah nambah," rengek ku.
"Eemmm nambah ya Sayang? Makanya biasa in aja manggil gitu biar gak malu," goda Naufal.
"Gak mau lah aku, malu tau aku," kataku.
"Wkwkwkw, kan aku suami kamu," goda Naufal lagi.
"Ya tetep aja malu, udah ah jangan di bahas," perintahku.
"Wkwkwkwkwk, haduh sampek sakit Gi perutku ngetawain kamu," keluh Naufal.
"Hhhmm enak ya kalo tiap hari kita ketawa lepas kayak gini," ceplosku yang sengaja.
"Kamu mintanya gitu?" tanya Naufal.
"Kok Naufal malah jawabnya gitu sih," gerutuku dalam hati.
"Emang kenapa? Gak mau?" tanyaku.
"Oke, aku oke banget malah Sayang, ayo ayo aja sih aku kalo pengen ketawa lepas tiap hari kayak gini," jawab Naufal.
"Bisa?" tanyaku singkat.
"Bisa kok, bisa banget malah Sayang," jawab Naufal lagi.
"Enak kali ya, nggak ngrasa kesepian, nggak ngrasa suntuk, bosen, Hhmm," kataku sambil membayangkan.
"Sayang, sebenarnya kita bisa tiap hari kayak gini, tapi kamu harus ingat, hidup itu nggak selalu monoton gitu terus, bahagia terus, enggak, pasti bakalan ada cobaan, entah apapun itu, jadi tinggal kita nya aja kuat apa nggak ngadepin nya, ya kayak yang sedang terjadi sama kita ini, ini cobaan Sayang, kita harus sama-sama kuat mertahanin, kalo aku saja yang kuat, tapi kamu pasrah ya sama aja Sayang, aku berat bawa nya, ya kita lihat lah seperti kebanyakan orang, kalo gak kompak, saling egois, mau menang terus, ujung-ujungnya apa? Cerai kan," tutur Naufal.
"Gitu ya Mas?" tanyaku.
"Iyalah Gi, jadi kalo keadaan lagi kayak gini, kamu yang malah harus nguatin aku, aku nguatin kamu, jadi biar balance Sayang, presentase buat bertengkar sama adegan ngambek itu sangatlah kecil," ucap Naufal.
"Kok, kok pake presentase sama adegan juga sih, emang presentasi kamu, becanda ah kamu," kataku.
"Hehehe, enggak Sayang, kan aku cuman mengumpamakan, jadi kita nggak sampe sering bertengkar," tutur Naufal lagi.
"Emang kita sering bertengkar?" tanyaku sambil menaikkan satu alisku.
"Tuh kan, pertama kita bertengkar gara-gara aku belum bisa cinta sama kamu, terus gara-gara Vela apa Kevin kita juga bertengkar lagi, padahal itu ujian loh Sayang, Allah ngasih ujian ke kita, jadi kamu jangan pasrah-pasrah aja, kita harus ngadepin sama-sama," tuturnya lagi lagi dan lagi.
"Ya maaf Mas, jika selama ini pemikiranku seenaknya sendiri," kataku.
"Gak papa, gak ada yang salah disini," kata Naufal yang selalu mengalah.
"Kamu kok bisa sih mikir sampe sejauh ini?" tanyaku yang sangat heran dengan sikap penyabar Naufal.
"Emang kenapa gak bisa? Semua orang ya pasti bisa lah," jawab Naufal.
__ADS_1
"Koka aku gak bisa?" tanyaku lagi.
"Bukan gak bisa Sayang, tapi belum bisa," ucap Naufal.
Aku tersenyum kembali pada Naufal.
"Kamu kenapa sih selalu gini sama aku?" kataku.
"Gini gimana?" tanya Naufal.
"Hhmm, asal kamu tau, aku selalu bersyukur telah di pertemukan denganmu di jalan yang baik, aku tidak pernah bosan untuk mencintaimu, ya meskipun aku tau akan ada cobaan yang datang dari mana saja dan kapan saja, dan pasti akan ada air mata yang selalu terbuang dengan sia-sia, tetapi, aku sama sekali tidak bisa berlari darimu bahkan untuk meninggalkanmu, karena aku sudah siap akan hal itu," kataku sambil meneteskan air mata.
Naufal mengusap air mataku.
"Makasih ya, selama ini kamu sudah menuntunku, sabar denganku, dengan sikapku, Hmm dulu, aku selalu berdoa agar dipertemukan dengan sosok pria yang sangat mirip kepribadiannya dengan Papa ku, lalu sekarang Allah sudah menjawabnya, itu kamu," kataku lagi.
"Maaf ya, aku belum bisa sebaik Papa kamu, tapi aku akan berusaha, berusaha menjadi tempatmu bersandar ketika kamu menangis, berusaha menjadi tempat cerita keluh kesahmu, berusaha menjadi tempat ternyaman mu, aku akan berusaha menjadi laki-laki yang tidak pernah ingin menyakitimu lagi, mencintaimu dengan tulus, aku mohon maafkan segala salahku," ucap Naufal.
Ku peluk tubuh Naufal dengan erat begitu juga dengannya.
"Aku sangat bahagia sekali Ya Allah, terima kasih, hanya Engkau yang Maha Menjaga, Engkau Maha Baik Ya Allah," kataku dalam hati.
"Asal kamu tau Gi, aku sama sekali tidak pernah punya niat untuk menyakitimu, sebenarnya aku tidak ingin meninggalkanmu dan membagi waktu ku bersama orang lain, sama sekali aku tidak ingin Gi," ucap dalam hati Naufal.
"Tapi sangat sulit untuk aku mengutarakan itu semua, sebenarnya aku sangat tak tega melihatmu sendirian di rumah, aku selalu memikirkanmu, aku selalu ingin ada di sampingmu dimana pun dan kapan pun," kata Naufal dalam hati.
"Sayang, kamu tidur yang nyenyak ya," tutur Naufal.
Aku hanya menganggukkan kepalaku saja.
Naufal mengecup keningku lagi.
Aku tertidur di pelukan Naufal.
.
.
.
.
Beberapa jam kemudian, kringg......kringg....kring.
Kali ini jam weker ku berdering, karena ponselku yang sepertinya lowbatt dan lupa untuk aku mengisi baterainya.
Aku sangat terganggu dengan suara itu, ku raih jam wekernya lalu ku matikan.
"Cepet banget udah jam 3," gerutuku dalam hati.
Aku bangun lalu mengambil kerudungku.
Aku berjalan turun ke dapur.
***(di Dapur)
"Mana Bi Sarah? Biasanya udah duluan?" gumamku dalam hati.
Aku berjalan menuju kamar Bi Sarah, tampak disana Bi Sarah yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Bibi tumben baru bangun?" tanyaku.
"Bibi mikirin apa?" tanyaku.
"Bibi gak ada mikir apa-apa Mbak," jawab Bi Sarah.
"Apa Bibi sakit? Kalo sakit biar Gia aja Bi yang masak, Bibi balik tidur aja," tuturku yang khawatir dengan Bi Sarah.
"Enggak Mbak, Bibi sehat Mbak,"jawabnya lagi.
"Beneran Bibi gak papa?" tanyaku sekali lagi untuk memastikan keadaan Bibi.
"Beneran Mbak Gia," kata Bibi sambil tersenyum padaku.
Kami berjalan kembali menuju dapur.
"Mbak Gia mau masakin Mas Naufal apa?" tanya Bi Sarah.
"Rendang Bi," jawabku.
"Tapi Bibi ajarin ya, soalnya agak lupa Bi," kataku.
"Siap Mbak Gia," kata Bi Sarah.
Aku mulai mencuci daging yang akan ku buat rendang dengan dibantu oleh Bibi.
Setelah dirasa aku sudah lihai untuk memasaknya dan agak sedikit ingat kembali, aku melakukannya sendiri.
"Mbak Bibi ke belakang dulu ya, mau ambil tissue dapurnya habis," ucap Bi Sarah.
"Oh iya Bi," jawabku.
Tiba-tiba dari belakang Naufal menghapiriku. Dan langsung menyenderkan dagunya di pundak ku dari arah belakang.
Aku menoleh ke arahnya yang masih dalam keadaan matanya terpejam.
Ku gerakan pundak ku agar dia bangun.
"Hm? apa Gi?" tanyanya.
"Ngapain kamu kesini?" tanyaku.
Naufal hanya diam tidak menjawabku.
"Mas, kamu ngapain kesini? Balik tidur sana," tuturku sambil menggerakkan pundak ku lagi.
Lagi-lagi Naufal tak meresponku.
"Maaaass, kamu ngapain? Nanti ada Bi Sarah, malu di lihatin," tanyaku lagi.
Naufal membuka matanya, menatapku, lalu mencium pipiku.
Aku heran dengan sikapnya ini.
"Udah ya aku ke atas lagi," pamitnya yang langsung berjalan meninggalkan ku.
__ADS_1
Wajahku mulai memerah.
Aku tersenyum-senyum sendiri. Aku mulai salah tingkah.
"Ada-ada aja sih Naufal, bisa-bisanya kesini hanya untuk itu, aarrghhh," kataku dalam hati sambil tersenyum-senyum.
Tak disangka sedari tadi rupanya Bi Sarah sudah ada di dapur.
"Mbak, Mbak Gia kenapa senyum-senyum?" tanya Bi Sarah.
"Eemm ooowww ini Bi, Gia tadi," kataku terpotong oleh Bi Sarah.
"Mbak Gia bayangin Mas Naufal ya tadi," ejek Bi Sarah.
Aku tersipu sambil sambil mengernyitkan kedua alisku.
"Ah enggak lah Bi, Bibi bisa aja," bantahku.
"Biasa gitu Mbak, apalagi kalo bukan Mas Naufal Mbak?" tanya Bi Sarah yang kepo hehehe.
"Aku tidak mungkin berkata jujur sama Bibi bahwa Naufal habis kesini untuk menciumku," gumamku dalam hati.
"Eeemmm, ini Bi, iya hehe iya tadi Gia bayangin Mas Naufal," jawabku dengan gugup dan polos.
"Bi coba icip ini, gimana?" kataku.
Bi Sarah mengambil sendok dan mencoba rendang buatanku.
"Hhmmm, udah pas ini Mbak Gia," puji Bi Sarah.
"Enak nggak Bi?" tanyaku lagi.
"Enak Mbak, enak, gak nyangka Mbak Gia bisa masak seenak ini, padahal dari dulu Mbak Gia belum tau mana aja bumbu memasak, dan sekarang sudah mahir sepertinya," kata Bibi yang terus memujiku.
"Bibi bisa aja, ini kan berkat Bibi ngajarin Gia," kataku.
Ku tuangkan rendang ke mangkuk besar untuk di sajikan nanti.
Beberapa menit kemudian adzan shubuh berkumandang.
"Bi udah adzan, Gia ke atas dulu ya mau sholat," pamitku.
"Iya Mbak Gia, monggo," kata Bi Sarah.
Sambil berjalan menuju anak tangga, tak henti-hentinya aku tersenyum-senyum sendiri karena ulah Naufal.
"Naufal Naufal," kataku dalam hati sambil memegangi pipiku.
***(di Kamar)
Ku lihat Naufal yang tertidur di sofa, ku hampiri dia lalu aku duduk jongkok di sampingnya.
Ku usap rambut yang menutupi keningnya dan menghalangi ku untuk terus memandangnya.
Naufal membuka pelan kedua matanya.
"Sayang," ucapnya.
"Udah selesai masaknya?" tanya Naufal yang masih sipit matanya.
"Udah, ini aku mau mandi," kataku.
"Ya udah sana kamu mandi dulu gih," perintah Naufal.
Aku berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.
Ku tutup pintu kamar mandi.
"deg deg, deg deg," suara degup jantungku.
"Aaduuuuh, kenapa kenceng banget sih, Huuuff huuuff, santai Gi santai," kataku dalam hati sambil merileks kan nafasku kembali.
"Kenapa sih kalo deket Naufal serasa oksigen tuh minim banget, sesak banget, haduuuh," ucapku sendiri dalam kamar mandi.
"Padahal kan aku sudah lama mencintainya, tapi kenapa masih deg-degan kayak gini," gumamku dalam hati.
"Naufal dengerin gak ya tadi? Sumpah suaranya kenceng banget, tengsin aku," kataku sambil menggaruk-garuk rambutku.
"Udah ah, biarin aja," ucapku.
.
.
.
Setelah beberapa menit aku selesai mandi, Naufal menungguku tepat di depan pintu kamar mandi sambil matanya masih menciut.
"Kamu kenapa kayak gitu?" tanyaku.
"Ngantuk banget Gi," jawabnya.
"Buat mandi nanti udah nggak ngantuk," kataku sambil berjalan menghindarinya.
Naufal berjalan masuk ke kamar mandi, sedangkan aku menjalankan kewajibanku untuk menyiapkan baju dan kebutuhan lain yang akan di pakainya.
"Tumben banget matanya sipit kayak gitu," gumamku dalam hati sambil memilihkan kemeja untuk Naufal.
Beberapa menit kemudian, Naufal selesai mandi.
Kami melaksanakan sholat shubuh bersama.
Ku panjatkan do'a dengan saksama.
"Ya Rabb, sampai detik ini Hamba masih tetap bersyukur kepada-Mu, setiap kali cobaan yang selalu Kau berikan, kami selalu tetap bersama dalam satu ikatan cinta di jalan baikMu, di sajadah ini, Ku pertemukan keningku pada bumiMu, Ku ucapkan setiap bait do'a padaMu, Hamba sangat mencintaimu pria ini Ya Allah,"
Ku meneteskan air mata.
Setelah selesai berdo'a, Naufal berbalik untuk menyalamiku.
Ku cium tangan Naufal dalam jabatan tangan ini, ku tumpahkan semua air mataku.
Naufal meraih pundak ku dan segera mengusap air mataku.
"Kamu kenapa Sayang?" tanyanya.
__ADS_1
"Nggak papa, terharu aja setiap kali cobaan datang pada kita, tapi kita tetap selalu bersama," kataku.
Bersambung.