
"Kaannn jadi batal Mas, padahal udah wudhu tadi," kataku sambil melepas tangannya yang melingkar di pinggangku.
"Yaelah Sayang, wudhu lagi kan bisa," ucapnya.
"Udah sana mandi," perintahku.
"Heeeemm, ya ya ya," kata Naufal sambil menggaruk-garuk rambutnya dan masuk ke kamar mandi.
Saat Naufal sudah masuk dalam kamar mandi, aku tersenyum-senyum kesenangan karena sikap Naufal.
"Dasar Naufal jago banget kalo ngebuat aku deg deg an," gumamku dalam hati sambil menyiapkan sajadah.
"Besok ke acara tunangan Susi, pake baju apa ya sama Naufal," gumamku dalam hati.
Aku berjalan masuk ke ruang ganti baju, melihat seisi almari Naufal dan almariku.
Tak lama kemudian Naufal selesai mandi, aku bergegas mengambil air wudhu kembali.
Naufal melihat aku baru saja keluar dari ruang ganti baju.
"Ngapain kamu Gi barusan?" tanyanya.
"Eeemmm nggak, nggak ngapa-ngapain," jawabku.
Segera aku masuk dalam kamar mandi dan berwudhu.
Setelah berwudhu, aku melihat Naufal yang hilang dari kamar.
"Kemana Naufal?" tanyaku dalam hati.
Ku buka pintu kamar.
"Astagfirullah," ucapku kaget melihat Naufal yang juga akan membuka pintu kamar.
"Habis dari mana sih Mas?" tanyaku.
"Eeeemmmm......ini...habis......habis ngecek Bibi masak apa, yah," jawab Naufal dengan gugup.
"Huumm yuk sholat," ajakku.
Kami segera melaksanakan sholat berdua.
Selesai sholat, aku menyiapkan kemeja untuk Naufal, tiba-tiba kepalaku sangat pusing.
"Iisshh," keluhku.
"Kenapa Sayang?" tanya Naufal menghampiriku.
"Pusing Mas," jawabku sambil sedikit memijat keningku.
"Sini sini Sayang," ucapnya sambil menuntunku ke sofa untuk duduk.
"Kamu nggak usah kerja aja ya," tuturnya.
"Nggak Mas, cuman ginian doang kok," bantahku.
"Kamu ini nggak-nggak apanya, udah di rumah aja Sayang," rayunya.
"Aku nggak papa beneran Mas," kataku yang tetep kekeh ingin masuk kerja.
"Ya udah tapi nanti kalo kamu ngerasa gimana-gimana langsung bilang aku," tuturnya yang sangat khawatir padaku.
"Iya iya Mas," jawabku.
Setelah selesai bersiap-siap, kami turun ke bawah untuk sarapan.
***(Di Ruang Makan)
Ada sandwich yang tergeletak di meja makan.
"Oo ow," ceplos Naufal.
Aku hanya memandang sebelah sandwich itu.
"Pasti tadi Naufal turun minta di buatin sandwich sama Bibi," gumamku dalam hati.
"Monggo dimakan," ucap Bi Sarah mempersilahkan kami untuk sarapan.
Kami segera menyantap menu sarapan pagi yang dibuatkan oleh Bi Sarah.
"Tapi jika Naufal meminta sandwich kenapa dia sama sekali tidak mengambil sandwich itu? Apa jangan-jangan dia takut melukai hatiku," kataku dalam hati.
Naufa terus melirik ke arahku.
Bi Sarah mengambil satu sandwich dari piringnya.
"Monggo Mas Naufal sandwichnya," sahut Bi Sarah yang membuat Naufal terpaku memandang sepiring sandwich.
"Tuh kan bener," gerutuku dalam hati.
"Eeemmm.....nggak Bi, Naufal udah kenyang," tolaknya dengan halus.
"Tapi kasihan juga Naufal, harus kayak gini," kataku.
Setelah selesia sarapan, Naufal segera mengajakku untuk pergi berangkat kerja.
"Bi, Naufal sama Gia pamit ya," ucapnya sambil menggandeng tanganku.
"Iya Mas," jawab Bi Sarah sambil membersihkan meja makan.
"Assalamu'alaikum Bi," salam kami.
"Wa'alaikumsalam," jawabnya.
Aku dan Mas Naufal berjalan ke halaman depan, dan masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir disana.
Di dalam mobil, Naufal mengenakan seatbelt untukku. Dans segera melajukan mobilnya.
Tin...tin. Suara klakson mobil Naufal untuk menyapa satpamnya.
Dalam perjalanan aku memberanikand diri untuk bertanya pada Naufal agar tidak terjadi sebuah kesalah pahaman.
"Mas, tadi kamu minta di buatin Bibi sandwich ya?" tanyaku sambil menatapnya.
"Enggak kok Sayang, enggak," jawabnya.
"Kok tadi Bibi buat sandwich terus yang di tawari sandwich cuman kamu," ujarku.
"Enggak Gi, sumpah aku minta buatin Bibi, mungkin Bibi tau kalo aku suka sandwich," ucapnya.
"Oooww," jawabku singkat.
"Sumpah Sayang, aku nggak minta di buatin beneran, kan aku udah janji gak akan makan sandwich di depan kamu," ucapnya.
"Hehem, iya Mas," kataku pasrah.
"Sudahlah aku percaya saja, dari pada panjang masalahnya," kataku dalam hati.
"Kamu tanya Bibi nanti kalo nggak percaya," ucapnya.
"Enggak, aku percaya kok," kataku sambil tersenyum padanya.
"Gia pasti masih nggak percaya sama aku," gumam dalam hati Naufal sambil melirik lirik padaku.
"Kenapa lirik-lirik?" tanyaku.
__ADS_1
"Enggak, gak papa mastiin aja," jawab Naufal malu-malu karena ketauan.
"Mastiin apa? Mastiin aku percaya atau nggak sama kamu?" tanyaku lagi.
"Kok kamu gitu?" tanya Naufal.
"Aku percaya Mas, udahlah ya," kataku.
Tak terasa akhirnya kami sampai di Rumah Sakit.
***(Di Rumah Sakit)
Setelah mobil terparkir, Naufal menarik pinggangku.
Dia menatapku.
"Mas, apa-apa sih kamu, di lihatin orang," kataku sambil menepuk halus pundaknya.
"Lagian kamu masih gak percaya aja sama aku, aku taus sebenarnya kamu nggak percaya," bisik Naufal.
"Aku percaya, tapi kamu lepasin aku dulu," kataku lirih.
Naufal melepas pelukannya.
"Huufftt," segera aku merapikan jas dokterku.
"Aku percaya Mas, percaya," kataku.
"Yakin kamu percaya? Beneran tadi aku nggak minta Sayang," ucapnya memohon mohon.
"Iya iya Ya Allah," ucapku.
"Nanti pulang kita nggak langsung pulang," kata Naufal.
"Loh terus kita ngapain? Kemana?" tanyaku yang sedang berjalan beriringan dengan Naufal.
"Adadeh kepo ya," goda Naufal sambil mendekat di wajahku.
"Awas ya kamu, aku nggak jadi percaya sama kamu," ancamku sambil berjalan meninggalkan Naufal untuk masuk ke ruanganku.
"Yaelah Sayang, gitu doang udah ngambek," kata Naufal.
Di dalam ruanganku, aku mengunci pintunya, agar Naufal tidak menyusulku.
"Huuufttt, slow Gi slow," kataku sendiri sambil menarik nafas panjang.
"Aduuuh, udah berapa kali Naufal membuat jantungku berdetak cepat di pagi ini, bisa-bisa sehari 3 kali, seperti pasien yang sedang minum obat, xixixi, memang hobi sekali dia membuat nafasku menjadi sesak," kataku dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri.
Tok.....tok....tok
"Aduh siapa itu?? Jangan-jangan Naufal lagi," tebakku dalam hati.
Aku berjalan mengendap-endap, lalu kubuka pintunya.
Gleekkkk....
"Huuufftt syukurlah bukan Naufal," kataku dalam hati.
"Dokter kenapa?" tanya seorang perawat padaku.
"Eeeemmm.......nggak, saya nggak papa, aghem ada apa ya Sus?" tanyaku.
"Ini berkas berkas pasien kemaren Dok, sudah saya gabungkan, nanti Dokter tinggal melihat saja," ucapnya.
"Oooww iya, udah semua kan?" tanyaku.
"Sudah Dok," jawabnya.
"Ya udah, nanti kalau sudah selesai, saya kembalikan ke anda," kataku.
"Mari," kataku sambil tersenyum padanya.
Ku tutup kembali pintunya, dan ku letakkan berkas itu di mejaku.
Tok...tok..tok.
"Siapa lagi?? Pasti Suster tadi lagi?" tebakku dalam hati.
Dengan segera ku buka pintunya.
Gleekkkk
"Ooo oww, dugaan ku salah, aduuuh kenapa Naufal kesini sih?" gumamku dalam hati.
"Eeemmm ada.....ada apa Mas?" tanyaku gugup sambil tersenyum dengan terpaksa.
Tanpa menjawabnya Naufal langsung menyerobot masuk ke ruanganku.
"Kamu tadi ngambek beneran, gara-gara sandwich tadi Sayang," ucapnya bersender di meja sambil menyimpan kedua tangannya di saku celananya.
"Enggak, aku nggak ngambek," jawabku.
"Tadi kamu nyelonong pergi ninggalin aku gitu aja," ujar Naufal sambil mengangkat kedua alisnya.
"Enggak kok, itu tadi nggak ngambek, beneran," kataku.
"Aaaarrgghh Giii...jangan gitu dong, ya?? Pliissss, jangan ngambek-ngambek gini, aku jadi kepikiran kamu, jadi gak konsentrasi," keluhnya.
"Siapa yang ngambek? Aku nggak ngambek, tadi itu aku cuman......cuman ini," ucapku ragu dan malu-malu.
"Cuman apa hayo? Hm? Cuman apa?" tanya Naufal mendekat padaku.
"Cuman, cuman deg deg aja kalo deket kamu," kataku sambil mengambil stetoskop di meja dan berlari ke luar ruangan.
"Bye Mas, pasienku nunggu," kataku meninggalkan Naufal.
Sedangkan Naufal tersenyum-senyum sendiri disana.
"Hehheemm, Gia Gia, kamu pikir aku juga tidak merasakan hal yang sama denganmu, sama aja lah Gi," gumam Naufal sambil meletakkan tangannya di dadanya.
"Awas aja kamu Gi," kata Naufal dalam hati.
Aku berjalan cepat menuju ruang periksa.
"Syukurlah aku bisa kabur dari Naufal, bisa-bisa aku pingsan di buatnya, sejak aku hamil, setiap kali aku dekat dengan Naufal, jantungku mau copot, huuumm," gumamku dalam hati.
Saat ku periksa satu per satu pasien disana dengan di dampingi oleh satu perawat.
Aku masih teringat dengan Naufal yang memelukku tadi shubuh.
"Dokter kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya pasien anak kecil itu.
"Oowwhh eeehmm, enggak, Dokter seneng, kondisi kamu semakin membaik," kataku sambil mengelus kepalanya.
"Pasti Ibuku senang jika melihatku semakin membaik," ucap pasien kecil itu.
"Eemm...memangnya Ibu kamu kemana?" tanyaku.
Seorang pria yang sepertinya sebaya denganku berjalan menghampiriku.
"Eehmm maaf Dok, Ibunya menitipkan dia pada saya, semenjak dia sakit-sakitan untuk menjadi TKW," ucap pria itu.
"Oowwhh iya maaf Pak, eemmm Mas maksuds saya," kataku yang bingung untuk memanggilnya apa.
"Segera sembuh ya Sayang, pasti Ibumu akan senang," kataku.
__ADS_1
"Iya Dokter," jawabnya.
Kami beralih ke ruangan lainnya.
"Kasihan ya Dok anak itu," kata Suster yang mendampingiku.
"Iya Sus, enak ya dengan pekerjaan kita ini, kita bisa menemui beribu cerita dari mereka, dari yang sedih sampai bahagia," kataku.
"Iya Dok, disini juga mengajarkan bagaimana cara kita mensyukuri hidup Dok, karena kan disini kita melihat orang yang terbaring lemas dengan penyakit yang telah mereka derita Dok, terkadang saya merasa sangat kasihan sekali, apa lagi pasien yang masih balita," ucapnya.
"Huuumm Iya Sus, kita bisa lebih bersyukur," ucapku sambil menghela nafas dalam-dalam.
.
.
.
.
Suara adzan berkumandang, tak lupa aku menyempatkan untuk sholat terlebih dahulu.
.
.
.
.
.
Matahari sudah mulai tenggelam di ufuk barat, pertanda tugasku sudah selesai dan dilanjutkan keesokan harinya.
Saat ku buka pintu ruanganku, Naufal berhasil mengagetkanku kembali.
"Masya'Allah," ucapku kaget melihat Naufal berdiri menatapku.
"Mas Naufal," rengekku.
"Hahaha, kaget ya," ucapnya.
"Hobi banget ngagetin istrinya," kataku.
"Hobi ngagetin istrinya apa hobi buat deg deg an istrinya," goda Naufal setengah membungkuk dan berbisik di telingaku.
"Apa sih," kataku lalu berjalan mendahuluinya untuk menuju parkiran.
.
.
.
.
Mobil Naufal melaju membawaku ke arah jalan yang tak biasanya ku lewati.
"Mas, kita mau kemana?" tanyaku.
"Mau beli baju Sayang," jawabnya.
"Buat?" tanyaku lagi.
"Buat besok ke acara tunangan Susi sama Bastian," jawabnya dengan sangat enteng.
"Kok Naufal tiba-tiba mau beli baju, gak ada obrolan sama sekali tadi sama aku," gumamku dalam hati.
"Tadi aku kan tanya kamu, waktu kamu keluar dari ruang ganti, kamu jawabnya nggak yakinin banget, ya udah pas kamu wudhu aku lihat ke cctv kamu ngapain tadi, terus kamu bingung kan mondar mandir disana, pasti kamu bingung kan mau pake baju apa buat besok Sayang," kata Naufal.
"Kok dia selalu tau sih apa yangs sebenarnya aku cari atau aku mau," gumamku dalam hati.
"Maka nya tadi aku ke bawah buat lihat ke komputer di bawah, jadi kamu nggak usah curiga kalo aku ke bawah tadi minta buatin Bibi sandwich," ucapnya.
"Bentar, sejak kapan ada cctv di area kamar kamu, kan kamu dulu bilang kalo untuk kamar kamu gak ada cctv," kataku mulai curiga pada Naufal.
"Ya aku sengaja pasang karena dulu waktu Vela kecelakaan kamu sendirian di rumah, jadi kamu semoet bohong sama aku, aku kan pengen tau kamu ngapain aja di rumah, maka nya aku juga tau kamu nangis-nangis waktu aku ngejagain Vela," ucapnya.
"Iiiih Mas Naufal, kamu curang gak bilang-bilang sama aku," kataku sambil memukul halus lengannya.
"Ya abis gimana lagi Sayang, cuman itu yang bisa aku lakuin, apalagi dulu kamu kalo ada apa-apa, diem sendiri, di pendam sendiri, maka nya Sayang, jangan gitu ya," tuturnya.
"Iya iya, tapi kamu masangnya cuman di situ aja kan, di kamar kita sama balkon enggak?" tanyaku.
"Aku nggak mungkin ngasih tau Gia, nanti kalo aku kasih tau ke Gia pasti dia akan menghindar dari sana jika dia sedang sedih atau menangis jika tidak ada aku," kata Naufal dalam hati.
"Ya....Ya cuman di situ doang Sayang," jawab Naufal terpaksa berbohong.
"Beneran loh Mas?" tanyanya lagi.
"Iya Sayang," ucapnya.
Setengah jam kami dalam perjalanan.
"Mas, kok jauh banget, ini ke butik yang dulu kita fitting baju ya," tebakku.
"Bukan Sayang, ini yang cabangnya jadi beda tempat," jawabnya.
"Huuufftt, jauh ya Mas?" tanyaku lagi.
"Deket Sayang, bentar lagi nyampek, perasaan kamu aja yang jauh, hati kamu deket disini, tepat di samping kamu," ucap gombalan Naufal.
"Apa sih," kataku tersipu malu di samping Naufal.
"Nggak usah merah gitu pipinya Sayang," ejek Naufal.
"Apaan? Enggak kok ini nggak merah," kataku sambil mengambil kaca di dalam tas.
"Hehehe, seneng ya kalo di gombalin gitu," godanya.
"Kata siapa? Enggak, biasa aja Mas," tepisku.
"Hala kamu ngaku aja Sayang," ucap Naufal.
"Aku doang kan yang pernah gombalin kamu gini," kata Naufal.
"Enggak, ada kok," kataku.
"Siapa?? Si Kevin?" tebaknya.
"Udah Mas, fokus nyetir aja," tuturku.
"Seharusnya dulu kamu nggak pake kenal sama Kevin Sayang, langsung sama aku," ucapnya.
"Semua yang terjadi itu takdir Mas," kataku.
"Iya sih Sayang," keluh Naufal.
"Aku juga gak bakalan nyangka kalo takdir aku jadi istri kamu, kamu juga kan, gak bakalan nyangka punya istri aku," kataku.
"Iya sih," kata Naufal.
"Apalagi dulu yang kamu harapin Vela," kataku.
Bersambung....
__ADS_1