
Esok harinya, fajar muncul dari timur, aku bangun telat dan
tidak membantu Bi Sarah memasak.
“Astagfirullah, bangunku kesiangan,” kataku yang baru saja
bangun dan menepuk keningku.
Aku melihat Abay yang masih tertidur pulas di
sampingku.
”Abay…..Nak,” kataku untuk membangunkan Abay.
Akhirnya Abay pun bangun.
“Kamu udah sholat shubuh, Mama bangun kesiangan Nak, Ya
Allah,” kataku.
“Uugghhmmm, udah Ma, Abay udah sholat shubuh tadi, kan Mama nggak sholat jadi Abay nggak bangunin Mama, Abay tau Mama capek kan abis nganterin Papa,” ucap Abay yang sangat pengertian padaku.
“Ya ampun Abay, huuuffttt,” kataku sambil mengelusnya.
“Sekarang udah jam 5 loh, cepet gih kamu mandi,” tuturku.
Abay bergegas turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.
Ku buka gorden kamar Abay yang mengelilingi separuh kamar
Abay ini. Ku geser pintu kacanya lalu ku nikmati udara segar disertai embun di balkon kamar Abay.
“Huuummmmm……enaknya, Mas Naufal lagi ngapain ya?” gumamku.
“Pasti pagi-pagi gini disana udah meeting aja,” jawabku sendiri.
“Mandi ah,” ucapku.
Aku pun kembali ke kamarku sendiri untuk mandi.
.
.
.
.
.
Setengah jam lebih, aku dan Abay selesai bersiap-siap. Kami
pun turun ke bawah untuk sarapan.
***(Di Ruang Makan)
“Bi….Gia bangun kesiangan, maaf,” kataku sambil berdiri di sebelah Bibi.
“Ah nggak papa Mbak, monggo duduk sini,” tutur Bi Sarah.
“Nggak ada Mas Naufal jadi bangunku kesiangan Bi, hehe,”
candaku mumpung belum ada yang lainnya disana.
“Abay sengaja nggak bangunin Mama Bi, karena Mama kecapek an abis nganterin Papa,” sahut Abay yang duduk di sebelahku.
“Iya Dek Abay, hehem, Bibi nggak papa,” jawab Bi Sarah.
Tak lama kemudian satu persatu mulai dari Pak Joko, Pak
Rusdi dan dua satpam di rumah ini datang dan duduk memenuhi kursi di ruang makan.
“Udah lengkap kan ini?” kataku.
“Bentar Buk, masih kurang,” kata Pak Joko.
“Siapa Pak?” tanyaku.
“Bapak Naufal Buk,” jawab Pak Joko yang sedang bercanda
padaku.
“Hehehem, Mas Naufal kan lagi ke luar negeri Pak,” kataku.
“Hehehe iya Buk,” sanggah Pak Joko.
“Udah ayo di makan, Bismillah….” Kataku.
.
.
.
.
.
Selesai sarapan, seperti biasa aku berpamitan pada Bi Sarah
untuk pergi bekerja.
“Bi, Gia berangkat, Assalamu’alaikum,” kataku.
“Nggeh Mbak, Wa’alaikumsalam,” jawab Bi Sarah.
“Ayo Nak,” ajakku pada Abay untuk segera masuk ke mobil.
Di dakam mobil, sesekali aku mengecek ponselku kembali,
namun jawabannya sama, belum ada notif pesan ataupun panggilan dari Naufal.
“Papa belum kasih kabar Mama ya?” tanya Abay yang duduk di
depan bersamaku.
“Eehmm…. Belum, Papa sibuk banget kayaknya Bay disana,
soalnya biasanya kalo pagi-pagi Papa kesana pasti udah meeting,” jawabku.
“Sabar ya Ma, pasti nanti Papa kasih kabar ke Mama kok,”
ucap Abay.
Aku hanya tersenyum padanya.
Mobil ku lajukan dengan kecepatan yang tidak kencang dan
juga tidak pelan, alias sedang, hehehe.
“Bay, nanti Mama pulangnya kayaknya nggak sore an banget," ucapku.
“Jadi Mama nanti nungguin Abay dong,” kata Abay.
“Nggak papa Nak, nanti kamu nggak pengen makan berdua sama Mama di luar,” tawarku.
“Boleh Ma,” jawab Abay.
“Ya udah nanti kita makan berdua sama Mama ya,”ucapku.
“Yeeaaay asiik,” kata Abay yang kegirangan.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, sampailah kami di depan gerbang
sekolah Abay.
Abay langsung turun dan berpamitan padaku.
Ku tancap kembali gas mobilku agak lumayan kencang dari yang tadi saat membawa Abay.
Tiba-tiba ponsel dari dalam tasku bergetar.
Segera ku ambil dan ku buka, ternyata pesan dari Naufal.
“Hari aku sibuk banget Sayang, maaf kalo aku jarang kasih
kabar ke kamu,” Naufal.
Badanku langsung tak bersemangat saat Naufal mengirim pesan itu padaku.
“Huuummm, ya elah,” keluhku.
“Sudahlah Gi, ini kan memang pekerjaan suami mu,” gerutuku
sendiri dalam mobil.
.
.
.
.
***(Di Rumah Sakit)
Ku parkirkan mobilku tepat di tengah-tengah.
Lalu aku turun dan berjalan menysuuri koridor Rumah Sakit
sendirian.
Moodku sudah tak lagi baik bahkan saat ini moodku sedang
tidak baik, rasanya sedih saat mendengar Naufal tengah sibuk, karena aku tau jika dia sibuk, mengirim pesan atau miscall saja tak sempat bagi Naufal, karena dia sangat mencintai pekerjaannya.
__ADS_1
Di ruanganku, ku letakkan tasku dan ku pakai jas dokterku.
“Huuuftt….Semangat Gia, semangat, jangan lemes loyo gini,”
kataku sambil menggerak-gerakkan badanku agar bangun dari mood tidak baikku.
“Ayo Gia, semangat,” gerutuku.
Aku tak tau jika di luar ada yang sedang mengupingku, saat
ku buka pintu ruanganku. Seorang Suster sudah berdiri dan tersenyum kecut padaku.
“Ha!!! Suster!! Dari kapan disini?” tanyaku yang kaget melihat Si Suster.
“Eeemmm….dari Dokter semangatin diri sendiri tadi, hehehe, maaf ya Dok,” jawab Si Suster.
“Aassshh, silahkan masuk Sus,” ucapku.
“Hehe, lagian Dokter ngapain pagi-pagi udah lemes aja nggak
semangat,” kata Si Suster.
“Tadi cuman pemanasan aja Sus, hehem, ini semangat kok,
semangat banget,” bantahku.
“Apa karena Dokter Naufal Dok, kenapa Dokter nggak samperin ke ruangannya aja,” ucap Si Suster.
“Dokternya lagi meeting ke luar negeri Sus,” tepisku sambil
duduk di kursi putarku.
“Yaaahh….pantesan pagi-pagi Dokter udah nggak semangat,”
tebak Suster.
“Heeemmm…enggak sih Sus, tadi beneran cuman pemanasan aja, biar nggak kaku otot-otot nya saat senyum sama pasiennya nanti, gitu,” alasanku.
“Heemm…mana ada Dok,” kata Suster.
“Dok, ini data perkembangan dan uji lab nya yang kemarin,”
ucap Si Suster ambil memberikan beberapa kertas padaku.
Ku lihat satu per satu anma pasien dan hasil uji
laboratoriumnya di kertas itu.
“Ini pasien yang kemaren minta pulang terus itu ya Sus,”
kataku sambil menunjuk salah satu nama pasien.
“Iya Sus,” jawab Si Suster.
“Okey, kita ke ruang periksa saja dulu,” ajakku pada Si Suster.
“Baik Sus,” jawabnya.
Kami pun berjalan ke ruang periksa untuk menemui dan
memeriksa salah satu pasien yang terus meminta pulang.
“Pagi,” sapa ku pada mereka.
Semua menjawab dengan senang, kecuali pasien laki-laki yang
berleha-leha di pojok sisi ruangan.
Aku langsung berjalan menghampirinya, dia langsung
berpura-pura sedang tidur.
“Pagi Pak,” sapaku pada pasien yang seumuranku.
Dia sama sekali tidak menjawabku.
“Pak, Bapak kenapa terus meminta pulang, jika ada sesuatu
apapun yang Bapak ingin utarakan bisa bicara dengan saya,” tuturku yang sangat kasihan melihatnya.
“Pak, ada Dokternya loh kasihan,” tutur Si Suster dengan
sangat lembut.
“Kita semua disini berusaha Pak, Bapak nggak boleh pesimis
ya, Bapak pasti sembuh, Bapak nggak kasihan nanti melihat keluarga Bapak yang sedang berjuang ngobatin Bapak sampe Bapak sembuh,” kataku.
“Aku pengen pulang,” jawabnya.
“Bapak cerita sama saya, kenapa Bapak pengen pulang?? Ayo nggak papa, Bapak nggak usah malu,” rayuku dengan lirih.
“Pokoknya aku pengen pulang,” ucapnya.
Akhirnya aku tidak ingin memaksanya untuk cerita padaku,
karena dengan kondisinya yang menyanggah penyakit yang cukup berat.
Aku pun memeriksa satu per satu dari pasienku.
.
.
.
.
.
.
Siang hari nya, aku duduk sendirian di ruanganku, berharap
jika Naufal mengirim pesan padaku.
Tapi harapanku sirna, karena aku tau itu tidak akan terjadi.
Padahal aku menolah pergi dengan Suster di kantin, jadi ya ku buat tidur saja meskipun hanya satu jam.
.
.
.
Satu jam bagiku adalah waktu yang sangat lama untuk saat ini
aku sendiri tanpa Naufal.
Satu jam pun telah hangus, ku bangun sambil melihat kembali
ponselku.
“Udahlah Gi, jangan berharap ada pesan Naufal nongol di
handphone kamu,” kataku dalam hati.
Aku bergegas cuci muka dan merapikan bajuku, aku harus
kembali bekerja, meskipun hanya beberapa jam lagi.
Saat aku melewati ruangan pasien laki-laki tadi, aku sempat
melihatnya, sebenarnya aku tau, dia bohong bahwa jika dia tak ingin sembuh, keinginan ingin sembuh dari pasien itu sangat kuat, namun sengaja ia tidak ingin menampakkan dan berlagak menyerah.
“Kenapa ya dia aneh gitu?” tanyaku dalam hati.
“Apa yang sebenarnya ia sembunyikan, ada masalah apa ya?”
dalam hatiku terus bertanya-tanya saat berjalan ke ruangan lain.
Sekelebat di depan mataku, seperti ada sosok Pak Kevin yang
tengah berjalan kea rah selatan.
Langkahku terhenti, dan berfikir apakah itu benar-benar Pak
Kevin.
Aku langsung berlari mengikutinya, sampai aku menemukanya
memakai kemeja navy yang biasa beliau kenakan saat dulu mengajarku.
Ku beranikan diri untuk memanggilnya.
“Pak Kevin,” panggilku.
Beliau pun menoleh dan berbalik padaku.
“Maaf Dok, Dokter manggil siapa?” tanya pria itu yang ternyata bukan Pak Kevin.
“Oo…ow maaf Pak, saya salah orang,” kataku sambil tersenyum kecut padanya.
Aku langsung berbalik dan melangkah meninggalkan pria itu
sebelum banyak orang yang tau.
“Aduuuh Gia, malu banget,” gerutuku mempermalukan diriku
sendiri.
“Pak Kevin kemana ya?? Pasti beliau udah sembuh, atau kalo
nggak, jagan-jangan Pak Kevin minta rujuk an ke rumah sakit lain,” ucapku dalam hati.
“Kok Pak Kevin udah nggak pernah kesini lagi,” pikirku.
“Aduuh Gia, udah stop jangan mikirin yang lain apalagi Pak Kevin, kerja Gi kerja,” gertakku dalam hati untuk membangkitkan semangatku kembali.
.
__ADS_1
.
.
.
Tepat pukul setengah 3 sore,waktuku untuk pulang, aku sedang membereskan dan membersihkan meja dan ruanganku.
Setelah selesai, aku langsung berjalan menuju parkiran, tak
lupa aku selalu cek ponselku untuk menunggu kabar dari Naufal.
.
.
.
Mobilku melaju keluar dari parkiran, aku melihat Si Suster
yang tengah berdiri sendirian sambil melihat jam tangannya, mobil ku tepikan untuk mendekatinya.
Aku turun dan menghampirinya.
“Sus, nunggu siapa?” tanyaku.
“Ojek online Dok, tapi kata nya mobilnya mogok dok,”
jawabnya.
“Saya anterin aja ya,” tawaranku pada Suster baik itu.
“Nggak usah Sus, nggak usah, nanti saya cancel aja, jadi
saya pesan lagi,” tolak si Suster.
“Nggak papa Sus, udah ayo saya naterin,” paksaku.
“Tapi Dok, saya takut merepotkan,” ucapnya.
“Tidak Sus, tidak sama sekali,” kataku.
“Ya udah Dok, saya sekali ini ngrepotin Dokter ya,” kata Si
Suster.
“Hehem, enggak ah Sus, udah silahkan masuk,” ucapku.
Si Suster masuk ke dalam mobil, begitu juga aku.
Mobil melaju untuk menjemput Abay.
“Sus saya jemput anak saya dulu ya,” kataku.
“Iya Dok,” jawabnya.
“Rencana habis ini mau kemana Sus?” tanyaku.
“Nggak kemana-mana Dok, paling cuman baca buku, nonton film, gitu aja sih,” jawabnya.
“Hari ini kan sebenarnya saya sama anak saya janjian untuk
makan di luar, nah Suster mau ikut sekalian makan?” tanyaku.
“Eeemmm….aduh, saya jadi grogi tiba-tiba, hehehem, suatu
kehormatan loh Dok, seorang istri dokter Naufal pimpinan Rumah Sakit mengajak saya makan di luar,” kata Si Suster.
“Memangnya kenapa Sus? kan wajar aja kan Sus,” ucapku.
“Tapi jarang loh Dok, kalo seperti Dokter ini pasti hang out
makannya sama yang sesama Dokter,” ujar Si Suster.
“Hehehehem, enggak lah Sus sama aja, Suster ikut ya,”
rayuku.
“Jadi nggak enak Dok, tapi sebenarnya saya mau hehe,” ucap
Si Suster yang sedikit melawak.
“Hehehe, Suster bisa aja, kenapa harus nggak enak sih Sus?
Udah Suster biasa aja, kan kalo di kantin biasanya makan nya juga sama saya,” tepisku.
“Iya Dok, tapi untuk kali ini kan pasti berbeda Dok,” kata
Suster.
“Anggap saja biasa aja Sus, kan kita sama,” kataku.
.
.
.
.
.
Sampai di depan gerbang sekolah Abay.
“Sus nunggu bentar nggak papa ya,”kataku.
“Iya Dok, santai aja kalo sama saya, saya malah seneng bisa
keluargini dok, soalnya jarang banget saya keluar Rumah,” kata Si Suster.
“Sama Sus, dulu saya juga gitu, tapi semenjak punya suami,
kemana-mana sama suami,” sanggahku.
Hampir 20 menit aku menunggu Abay.
Gerbang pun di buka, dan semua murid keluar berebutan dari
sana.
“Sebenarnya kalo dari sini sangat dekat Dok dengan rumah
saya,” ucap Suster.
“Oh ya?? Memangnya Rumah Suster dimana?” tanyaku.
“Itu Dok, jalan ujung, nanti belok kanan aja terus lurus dan
udah mentokke sana aja,” jawabnya.
Abay pun nongol bersama temannya.
Abay langsung masuk ke dalam mobl bersama temannya.
“Assalamu’alaikum,” ucap Abay.
“Wa’alaikumsalam,” jawabku dan Si Suster.
“Nak,saliman dulu sama Tante, Tante ini teman kerja Mama,”
tuturku.
Abay pun bersalaman dengan Si Suster.
“Ma, teman Abay ini katanya nggak ada yang jemput karena
Papanya kerja, sopirnya libur, jadi boleh ya Ma, kita antar pulang,” ucap Abay.
“Boleh lah Nak, boleh banget, tapi temen Abay udah bilang
sama orang tuanya?” tanyaku pada Abay.
“Belum Tante,” jawab Revina teman Abay.
“Tapi dia punya nomor telepon orang tuanya kok Ma,” kata
Abay.
“Kasih lihat Mama aku biar nanti Mamaku aku telfon orang tua
kamu,” tutur Abay.
Revina memberikan sehelai kertas padaku.
Lalu aku mengirim pesan WA pada orang tua Revina.
“Gimana kalo sekalian Revina kita ajak makan aja?” tanyaku.
“Boleh Ma, boleh,” jawab Abay.
“Revina mau?” tanyaku.
Revina hanya menganggukan kepalanya saja padaku.
“Nanti Tante minta izin sama orang tua kamu, ya,” ucapku.
“Iya Tante,” jawabnya.
Mobil kembali ku lajukan menuju sebuah Resto.
“Kita ke rResto mana ini Dok?’ tanya Si Suster.
“Ini nih Resto yang biasanya saya datengin sama Mas Naufal,
makanan nya enak semuanya Sus, nanti Suster pasti ketagihan, hehehe,” jawabku.
Bersambung......
Jangan lupa tinggalin like, komen, dan vote nya ya .
Terima kasih...
__ADS_1