
***(Di Rumah Sakit)
Setelah memarkirkan mobil, kami berjalan beriringan.
"Pasti Bastian cuti nih Sayang, tadi di parkiran nggak ada mobilnya," ucap Naufal.
"Iya lah Mas, pasti nyiapin buat nanti," kataku.
"Hehehem, aku masih belum percaya Gi, kalo Bastian tunangan loh," kata Naufal sambil mengangkat satu alisnya.
"Ternyata jodohnya sahabat kamu," kata Naufal.
Di tengah-tengah lorong, kami berjalan berpisah, Naufal ke ruangannya dan aku ke ruanganku sendiri.
Gleeekkk, ku buka ruanganku.
Ku letakkan tas di mejaku.
Saat aku sedang memeriksa satu per satu berkas, ku lihat nama Pak Kevin tertera disana.
Saat aku hendak mengambil berkas itu, tiba-tiba ponselku berdering, aku mendapat pesan dari pihak Rumah Sakit untuk mengikuti meeting hari ini.
Ku biarkan berkas itu, lalu ku berjalan menuju Ruang Meeting.
Sepanjang perjalanan menuju Ruang Meeting aku memikirkan berkas atas nama Pak Kevin tadi.
"Pak Kevin kenapa ya?" tanyaku dalam hati.
"Sakit apa beliau?" tanyaku lagi dalam hati.
"Aaah sudahlah, fokus meeting Gi, fokus," kataku.
Sampai di depan Ruang Meeting.
Gleeekk, ku buka pintu itu.
"Assalamu'alaikum," salamku.
"Wa'alaikumsalam," jawab semua rekan yang ada di Ruang Meeting.
Ku lihat Naufal duduk dekat dengan Dokter Irene.
Aku duduk di depan Dokter Irene, kali ini Naufal yang memimpin Meeting.
Dokter Irene terus memandang ke arah Naufal.
Setelah semua hadir, Naufal memulai meeting pagi ini.
"Oke, bisa saya mulai meeting hari ini," ucapnya.
"Bisa Dok," jawab kami serentak.
Naufal memulai menerangkan materinya pada kita, saat Naufal tengah menjelaskan suatu materi pada Dokter yang tengah duduk di sampingku, padangannnya tidak memandang ke arah Dokter yang dijelaskan melainkan memandang ke arahku.
Sedangkan aku masih memikirkan berkas atas nama Pak Kevin tadi.
"Kenapa ya beliau?" kataku dalam hati.
.
.
.
.
.
Meeting pagi ini berlangsung hanya setengah jam saja.
Setelah meeting selesai, aku segera kleuar dari ruangan itu.
Saat aku keluar dari Ruang Meeting, seorang suster menungguku di depan pintu.
"Dokter Gia," sapanya sambil tersenyum ramah padaku.
"Saya mau mengambil berkas yang kemaren saya berikan pada Dokter," ucapnya.
"Ooww data itu ya, iya iya, Suster bisa ambil di meja saya," jawabku.
"Baik Dok, terima kasih," ucapnya.
"Ya sama-sama," kataku.
Saat kaki ku akan melangkah, Naufal memanggilku dari belakang.
"Gi," panggilnya.
Aku menoleh ke belakang, dan Naufal menghampiriku.
"Kamu tadi kenapa nggak fokus banget waktu meeting," ucapnya.
"Nggak fokus?? Aku fokus kok Mas," kataku.
"Beneran?? Mikirin apa sih kamu?" tanyanya.
"Gak ada mikirin apa-apa Mas, tadi aku fokus kok fokus," kataku.
"Ya udah, kirain kamu mikir apa-apa, aku kan khawatir sama kamu sama baby kita juga," ucapnya sambil mengelus perutku.
"Inget di Rumah Sakit ini Mas," bisikku lirih.
"Heheheh, iya iya Gi," ucapnya.
"Ya udah aku mau ke ruangan Dokter Anton dulu Sayang," kata Naufal.
"Iya Mas," jawabku.
Saat Naufal berjalan meninggalkan aku, rupanya Dokter Irene sedang ada di belakangku.
Segera aku berjalan agar tidak sampai di introgasi oleh Dokter itu.
***(Di Ruang Periksa)
"Pagi," sapaku pada mereka yang telah menungguku.
"Pagi Dok," jawab mereka serentak.
Ku periksa satu per satu dia antara mereka, ku jalankan tugas demi tugas.
Setiap hari aku bertemu dengan manusia yang terkadang merintih kesakitan, bahagia atas kesembuhan.
.
.
.
.
Matahari sudah bergeser agak menengah.
Naufal menjemput ke ruanganku.
Sedangkan aku mencari berkas atas nama Pak Kevin.
"Dimana ya berkas tadi?" ucapku dalam hati.
Ku cari-cari di bawah laci dan di rak meja.
"Astagfirullah, tadi kan berkas sudah di ambil sama Si Suster," kataku sambil menepuk keningku.
Gleekkk.
Naufal membuka pintu ruanganku.
"Udah siap Sayang?" tanyanya sambil melingkarkan jas di pergelangan tangannya.
"Eehmm udah, udah kok," jawabku.
Kami berjalan menuju parkiran, kami berjalan terburu-buru karena akan pergi ke Rumah Susi.
Tiba-tiba ponselku dan ponsel Naufal berdering bersamaan.
"Kok barengan ya Gi," ucap Naufal sambil menatapku.
Aku hanya mengangakat kedua bahuku.
Ku buka isi pesan dari Susi.
"Jangan telat Gi," Susi.
__ADS_1
"Iya Si, pasti kok," Gia.
Ku tutup kembali ponselku.
"Dari Susi?" tanya Naufal.
"Iya Mas, kok tau? Kamu dari Pak Bastian ya?" tebakku.
"Iya, pasti isinya..," ucapan Naufal terpotong olehku.
"Jangan telat kan?" kataku.
"Iya loh Gi, ini Bastian juga WA aku kayak gitu," ucap Naufal.
Kami segera masuk ke dalam mobil, dan Naufal melajukan mobilnya dengan sangat cepat.
.
.
.
.
.
***(Di Rumah)
Sampainya di Rumah, kami langsung turun dari mobil dan masuk ke Rumah.
"Assalamu'alaikum," salamku dan Naufal.
Tidak ada balasan salam dari kami.
Kami berjalan menaiki anak tangga.
***(Di Kamar)
"Mas, aku mandi duluan ya," kataku.
"Iya Sayang," jawabnya.
Aku segera masuk ke kamar mandi, kami benar-benar ekstra cepat karena tidak ingin terlambat di acara tunangan Susi dan Pak Bastian.
.
.
.
.
.
Setelah aku dan Naufal selesai mandi, kami melaksanakan sholat terlebih dahulu.
"Sayang kamu dandan nya di mobil aja ya," tuturnya.
"Iya Mas, nanti juga kita bakalan sholat lagi kan," kataku.
Kami memakai baju dengan nuansa yang sama.
Ku bereskan kotak yang berisi alat make upku untuk ku bawa nanti dalam mobil.
Hanya butuh waktu satu jam setengah untuk kami bersiap-siap.
"Udah Gi?" tanya Naufal.
"Udah Mas, pake mobil aku aja ya Mas," kataku.
"Ya udah iya, nanti mobilnya biar di masukin sama Pak Joko," ucap Naufal.
Naufal mengambil kunci mobilku di dalam laci, setelah kami bersiap dengan Naufal yang memakai kemeja navy dan celana serta deck shoes, dengan aku yang memakai gamis satu set serta mules shoes.
Kami turun ke bawa untuk segera berangkat.
Tak lupa aku berpamitan pada Bi Sarah agar tidak khawatir dengan kami.
"Bi....Bibi," panggilku.
Aku mencarinya ke halaman belakang.
Rupanya Bibi sedang membersihkan kolam renang bersama dengan Pak Rusdi.
"Sekarang Mbak?" tanya Bi Sarah.
"Iya Bi, pulangnya nanti belum tau jam berapa sampe sini," kataku.
"Ya udah Mbak, monggo, hati-hati Mbak," ucapnya.
"Iya Bi, Gia berangkat ya, Assalamu'alaikum," pamitku pada mereka.
"Wa'alaikumsalam," jawab mereka.
Aku segera menyusul Naufal yang sedang menungguku di halaman depan rumah.
Aku berjalan menghampirinya.
"Mas, udah bilang Pak Joko," tanyaku.
"Udah Sayang, ya udah ayo berangkat, keburu macet ini Gi," ucapnya sambil melihat jam tangan yang melingkar di tangan nya.
Segera kami masuk ke dalam mobil, Naufal menancap gas mobilku.
Tin.....tin, suara klakson untuk menyapa Pak Joko yang sedang duduk di pos.
"Mas pelan-pelan asal nyampe, aku takut," ucapku.
"Enggak enggak Sayang tenang aja, mumpung jalannya lumayan sepi, nggak macet," ucapnya.
.
.
.
.
.
Dua jam setengah sudah kami dalam mobil.
Kami mendengar suara adzan yang otomatis di dalam mobilku.
"Mas, mampir dulu cari mushola," tuturku.
"Iya Sayang, bentar aku cari di maps," ucapnya.
Mobil melaju dengan pelan.
Akhirnya kami menemukan sebuah mushola.
Seusai turun dari mobil, kami langsung masuk ke dalam mushola, dan segera mengambil air wudhu.
.
.
.
.
Setelah selesai sholat, kami kembali masuk ke dalam mobil, Naufal kembali melajukan mobilnya.
Ku sisiri rambut Naufal yang berantakan dan masih basah.
"Mama nggak di undang Sayang?" tanya Naufal.
"Nggak tau Mas, Mama gak ada bilang sama aku," kataku.
"Pasti di undang lah Sayang, nggak mungkin enggak," ucap Naufal.
"Mama sengaja mungkin Mas nggak bilang sama aku," kataku.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Satu jam kemudian, akhirnya kami sampai di depan Rumah Susi.
Banyak Mobil yang berjejer terparkir disana.
"Mas, itu kayaknya mobil Mama," kataku.
"Mana Sayang?" tanyanya.
"Itu yang merah Mas," ucap ku lagi.
"Mama kesini kali Sayang," kata Naufal.
"Bentar Mas jangan keluar dulu, aku mau dandan bentar aja," kataku.
Naufal menungguku sambil memainkan ponselnya.
"WA sama siapa Mas?" tanyaku.
"Sama Bastian, katanya dia udah hampir sampe sini, deg deg an katanya Sayang, hehehm," kata Naufal.
"Hehem, Susi juga kali ya Mas," kataku.
Setelah aku selesai memakai maskara, lipt tint dan eyeliner, ku rapikan rambut Naufal.
"Udah Mas," kataku.
"Ayo turun Sayang," ajaknya.
"Iya ini Susi nunggu aku di kamarnya," kataku.
Kami turun dari mobil, disana terpasang tenda yang sangat tertutup.
Kami masuk ke area halaman rumah Susi.
Mama Susi dan Papa Susi menyambutku dan Naufal.
"Aduuuh, Giaa," ucap Mama Susi.
"Tante," sapaku lalu memeluknya.
Aku dan Naufal segera bersalaman dengan mereka.
"Ini suaminya ya Gi?" tanya Papa Susi.
"Iya Om," jawabku malu-malu.
"Om sampe pangling, padahal dulu waktu nikahan kamu, Om sempat ketemu tapi cuman sekelebat aja," kata Papa Susi sambil menepuk lengan Naufal.
Naufal hanya tersenyum pada mereka.
"Mama kamu juga udah di dalem Gi," kata Mama Susi.
"Masuk gih, Susi nungguin," ucap Papa Susi dengan senyumnya.
"Iya Om," kataku.
Mereka membawa masuk kami, di dalam sudah banyak kerabat Susi yang berdatangan dari berbagai kota, semua menyapaku.
"Gia.....," sapa mereka.
Aku salami mereka satu per satu. Naufal mengikutiku dari belakang.
Akhirnya Naufal bertemu dengan Mama yang baru saja keluar dari Dapur Susi.
"Mama," ucap Naufal.
Aku menoleh ke arah Mama, lalu menghampirinya.
Aku langsung memeluk Mama.
"Mama nggak bilang kalo dateng ke acara Susi," kataku.
"Hehhee, Mama sengaja Gi, biar kamu kaget ketemu disini," ucap Mama sambil mengelus-elus lengan Naufal.
"Papa nggak ikut Ma?" tanyaku.
"Enggak Gi, Papa nggak pulang," jawab Mamaku.
"Mama kesini sendiri tadi?" tanyaku lagi.
"Iya Gi, udah dari tadi sore Mama disini," jawab Mamaku.
Mama Susi kembali menghampiriku dan membawaku ke dalam kamar Susi.
"Mas, aku ke Susi dulu ya," ucapku.
"Iya," jawabnya yang berdiri di samping Mama.
***(Di Kamar Susi)
"Susiiiiiiii, aaaaaaaa," ucapku langsung memeluk Susi dengan kedua mataku yang berkaca-kaca.
"Gia, aku kira kamu telat, aku nggak mau kamu telat," ucap Susi sambil air mata memenuhi pelupuk matanya.
"Enggak lah Si, gak bakalan aku telat, gimana? Kamu deg deg an nggak?" tanyaku.
"Huufftt iya lah Gi, aku deg deg an banget, keringat dingin," jawabnya.
"Hehem Bismillah aja Si, ini belum akad loh, kamu cantik banget Si, ciyeee," pujiku.
"Hehem, bisa aja Gi," ucapnya.
"Ini acara nya mulai jam berapa Si?" tanyaku.
"Setengah jam lagi Gi," jawabnya.
"Pantesan udah rapi banget tadi kursi-kursinya," kataku.
"Naufal kemana Gi?" tanyanya.
"Di depan sama Mama tadi Si, dia udah tau kok kalo aku nemenin kamu kesini," ucapku.
Aku melihat Susi, air mataku menetes dengan sendirinya.
"Jangan nangis Gi," ucap Susi sambil menghapus air mataku.
"Bahagia banget aku Si, senegggg banget," kataku.
"Kamu jangan nangis gini, aku jadi pengen nangis Gi," ucapnya.
"Nanti kalo kamu udah nikah, gak bisa aku ajak jalan-jalan lagi," rengekku.
"Enggak Gi, masih bisa lah," ucapnya.
Aku kembali memeluk Susi, aku merasa sangat bahagia.
"Kalo kayak gini aku keinget masa-masa kita SMA, masa-masa kita kuliah, eh tiba-tiba sekarang kita udah seperti ini, aku udah nikah, kamu sebentar lagi nikah," kataku di pundak Susi.
"Udah Gi, cup cup cup," candaan Susi.
.
.
.
.
.
Detik-detik acara akan di mulai, tamu dari keluarga Naufal sudah hadir di depan, aku menemani Susi di dalam kamarnya.
Naufal terus mengirim pesan padaku.
"Ini aku udah sama Bastian Sayang," Naufal.
"Si, Mas Naufal udah sama Pak Bastian katanya," ucapku pada Susi.
"Aduh Gi, aku semakin deg deg an," kata Susi.
Ku genggam tangan Susi untuk sedikit menenangkannya.
"Kamu di mana Mas sekarang?" Gia.
"Ini di samping Bastian Sayang, aku nemenin dia yang katanya deg deg an," Naufal.
Aku tersenyum membaca WA dari Naufal.
Saat acara dimulai, aku dan Mama Susi membawa Susi ke tenda depan Rumah.
__ADS_1
Deg.....deg...deg.
Bersambung.....