
***(di Rumah)
Sesampainya di Rumah, aku langsung memasukkan mobil ke garasi dan berjalan masuk ke dalam Rumah.
Rumah sepertinya sepi.
Aku mengecek halaman belakang Rumah, dan ternyata ada Bi Sarah dan Pak Rusdi yang sepertinya sedang bercengkrama.
"Mbak Gia baru pulang?" tanya Bi Sarah.
"Iya Bi," jawabku.
"Sini ikutan nimbrung sama Bibi, hehehe lagi ceritain anak-anak di kampung Mbak," ucap Bi Sarah.
"Hehem, lain kali aja Bi, Gia hari sangat sibuk, dan masih ada tugas yang harus Gia selesaikan dulu, jadi Gia ke atas dulu ya Bi," kataku.
"Enggeh Mbak, monggo monggo," ucap Bi Sarah.
Aku berjalan menapaki anak tangga.
Glekkk...
Ku buka pintu kamarku.
***(di Kamar)
"Huuuuuffftttt, cukup melelahkan hari ini," gumamku dalam hati.
Aku segera langsung bergegas menuju kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, setelah aku selesai mandi, ku tutup pintu kaca dan gorden di kamarku.
Ku buka laptop dan berkas-berkas yang aku bawa dari Rumah Sakit.
Aku fokus mengerjakan hasil presentasi tadi.
Tiba-tiba ponselku berdering.
"Sayang," panggil Naufal di layar ponselku.
"Hm?" jawabku.
"Kamu ngapain? Sibuk banget ya," tanya Naufal.
"Enggak juga, ini cuman nyelesain hasil presentasi tadi," kataku.
"Tadi kamu meeting?" tanyanya.
"Iya, kamus seharusnya tadi juga meeting kan, tapi di gantiin sama Dokter Anton," ucapku sesekali melihatnya.
"Kok kamu tau, Dokter Anton bilang sama kamu?" ucapnya.
"Enggak, tadi tuh satu ruangan nyariin kamu semua, soalnya tadi Dokter Irene nanya kamu dimana kok tumben nggak hadir, gitu," ucapku.
"Ngapain Si Irene nanyain Lo Fal," sahut Bastian.
"Tau tuh," ucap Naufal.
"Terus tadi aku ditanyai sama beliau, soalnya gara-gara tadi Dokter Anton sepertinya sengaja keceplosan bilang sama semuanya, kalo aku istri kamu," kataku.
"Ya bagus dong Sayang, biar semua pada tau," kata Naufal.
"Eehm, kena tuh, pada sakit hati tuh satu Rumah Sakit, wahahah," sahut Pak Bastian lagi.
"Terus gimana? Dia nggak nanya-nanya ke kamu lagi, soalnya biasanya dia tuh kepoan Sayang," kata Naufal.
"Sempet nanya, waktu aku keluar ruangan meeting dia manggil aku, terus nanya beneran gak kalo aku menikah sama kamu, gitu, pokoknya nanya-nanya," ucapku.
"Kalo udah ketahuan Si Irene pasti kesebar tuh Fal," kata Pak Bastian.
"Bagus dong, Gue malah seneng kali," kata Naufal.
"Kamu capek ya Sayang?" tanya Naufal.
"Enggak, biasa aja," jawabku.
"Sabar ya Sayang, sehari lagi aku pulang kok, aku rindu banget Gi sama kamu," ucap Naufal.
"Eheemm," Pak Bastian berdehem.
"Ya memang kok, aku itu perindu nomor satu buat istriku, jauh dekat, rindu itu gak akan memudar," kata Naufal.
"Mass....., selalu tengkar," kataku.
"Dia duluan tuh Sayang, sebenarnya dia tuh pengen kayak kita," ejek Naufal.
"Fal kenalin sama temennya Gia yang Susi Susi itu loh Fal," kata Pak Bastian.
"Sayang kamu denger nggak? Ngebet banget tuh dia," ucap Naufal.
"Ya kapan-kapan, aku ajak Susi buat ketemu," kataku.
"Awas Lo macem-macem kalo udah kenal sahabat istri Gue," ancam Naufal.
Aku hanya mendengar tawa dari Pak Bastian.
"Sayang kalo kamu capek ngantuk tidur gih gak papa," tutur Naufal.
"Aku harus selesaiin ini dulu Mas, baru aku bisa tidur nanti," kataku.
"Ya udah aku temenin kamu, kayak kemaren Sayang, biar kamu nggak sendirian," tuturnya.
"Mas......, kamu udah capek, tidur gih," perintahku.
"Gak papa Sayang, aku kan suamimu," ucapnya.
"Ya udah deh, nanti sekalian kalo aku ada yang kurang ngerti, aku minta bantuan kamu ya, pliiisss," ucapku sambil merayunya.
"Iya Sayang," jawabnya.
Meskipun rasa rindu menggebu, dan aku tau kau tak ada di sampingku, tapi entah mengapa? Rasa ini terus ada.
Rasa yang sejak lama menghuni dalam lubuk hatiku.
Dia selalu menemaniku, meskipun dalam jarak sejauh ini.
Sampai malam itu, aku terlelap masuk dalam mimpi tidurku.
Keesokan harinya, ku raih ponselku, ternyata video call dari Naufal masih aktif.
"Pagi Sayang," ucap Naufal.
"Kamu udah rapi banget," kataku sambil mengucek sebelah mataku.
"Iya Sayang, jam meetingnya di majuin, kamu baru bangun, tumben," kata Naufal sambil memakai dasi.
"Kan aku nggak sholat, jadi aku bangun jam segini," kataku sambil beranjak dari ranjang untuk membuka seluruh gorden.
"Mandi gih,abis ini aku juga mau berangkat," ucap Naufal.
"Ya udah aku mandi dulu, bye Assalamu'alaikum," salamku.
"Wa'alaikumsalam," jawabnya langsung menutup video call kami.
Aku bergegas langsung mandi, karena aku tidak ingin telat seperti kemaren.
Beberapa menit selesai mandi, aku berjalan ke ruang ganti baju, dan memilih gamis mana yang akan ku pakai hari ini.
Saat aku mengambil sebuah gamis, mataku terpanah melihat jas dokter milik Naufal yang tampak di sebelah almariku.
Ku ambil jas itu. Ku peluk dan sesekali aku mengendus jas dokter milik Naufal dengan bau khas parfumnya.
"Jadi kangen banget sama Naufal, huuumm, baru aja cuman 3 hari di tinggal sama dia, tapi......rasanya sepi banget," gumamku dalam hati.
"Apa memang seperti ini rasanya?? Huuumm belum pernah aku ngrasa seperti ini, baru kali pertama sama Naufal, aku bisa tau, jatuh cinta itu apa? Sakit hati bagaimana? Dan cemburu kenapa?? hehehem, Fal Fal, aku rindu," kataku dalam hati sambil terus melihat jas Dokter yang ada di tanganku sekarang.
Tiba-tiba ponselku berdering, segera ku ambil gamis dan kembali mengambil ponsel yang tergeletak di ranjang.
Dan ternyata telepon dari Susi. Saat aku menerima telepon darinya malah di matikan sama Susi.
"Gi, nanti aku ke rumahmu ya, bantu aku selesain tugas hehehe, sambil jadi tamu di rumahmu," isi pesan Susi padaku.
"Okey, nanti sore ya," balasku.
Aku segera bersiap-siap untuk berangkat bekerja, setelah selesai bersiap-siap, ku bawa berkas-berkas yang ku kerjakan tadi malam, dan aku segera turun ke Ruang Makan.
***(di Ruang Makan)
"Pagi Mbak," sapa Bi Sarah, Pak Rusdi dan Pak Joko.
"Pagi semua," jawabku sambil tersenyum pada mereka.
__ADS_1
"Menu nya apa Bi pagi ini?" tanyaku.
"Ayam kecap kesukaan Mbak Gia," jawab Bi Sarah yang duduk di sampingku.
"Waaah, Gia pasti suka banget ini Bi," kataku.
"Mari makan semua ya," kataku.
"Bapak pulang kapan Buk?" tanya Pak Joko.
"Besok pagi kayaknya Pak," jawabku.
Kami segera menyantap dengan lahap masakan lezat Bi Sarah.
Setelah aku merasa kenyang, aku berpamitan pada mereka.
"Gia berangkat dulu ya, Assalamu'alaikum," pamitku.
"Iya Mbak, hati-hati, Wa'alaikumsalam," jawab mereka.
Aku berjalan menuju garasi dan memanaskan sebentar mesin mobilku.
Setelah selesai, langsung ku tancap gas mobilku.
Beberapa menit kemudian, aku langsung memarkirkan mobilku.
***(di Rumah Sakit)
Lagi-lagi sepertinya ini akan menjadi hari kedua tersibukku.
Baru saja aku meletakkan tas di ruanganku, Dokter Anton memanggilku untuk mengambil berkas dan mengajakku meeting pagi ini.
Aku agak lega, karena meeting kali ini tanpa Dokter Irene.
Setelah selesai meeting, segera aku menangani pasien yang sejak shubuh menungguku.
Dengan di dampingi satu perawat yang selalu mengikuti dari belakang.
Saat aku sedang berjalan di lorong bersama dia, masih sempat dia menanyakan tentang hubungan ku dan Naufal.
"Dok?" panggilnya.
"Iya Sus?" kataku sambil mengalungkan stetoskop di leherku.
"Dokter istrinya Dokter Naufal?" tanyanya.
Langkah kaki ku terhenti mendengar pertanyaan itu.
"Eehmm...Iya Sus," jawabku sambil sedikit berhembus nafas.
Aku melanjutkan langkah kakiku.
"Sejak kapan Dok?" tanyanya lagi yang membuat langkah kakiku terhenti kembali.
"Lumayan lama Sus," jawabku sambil tersenyum padanya.
"Oh hehehe, maaf Dok jika saya kepo," kata perawat itu agak sedikit malu-malu.
"Hehem, nggak papa Sus," kataku.
"Tapi kok jarang terlihat Dokter bersama Dokter Naufal ya, apalagi di sosial media beliau, cuman ada foto tangan cewek yang ada cincin di jari manisnya," ucapnya.
"Itu tangan Dokter Gia?" tanyanya.
"Iya Sus," jawabku.
"Kirain itu hanya foto iseng-iseng Dok, hehe makanya semua petugas disini mengira kalo Dokter Naufal masih single," ucapnya.
Aku hanya tersenyum padanya.
Kami berjalan kembali untuk menuju Ruang ICU.
Hari sudah berganti menjadi sore, waktu ku bekerja telah habis disini.
Segera ku bersihkan meja kerjaku, dan melipat jas dokterku, lalu aku berjalan menuju ke parkiran.
***(di Parkiran)
Ternyata mobilku bersebelahan dengan Dokter Irene.
Aku tersenyum padanya, dan dia juga membalas senyumanku.
Aku masuk dalam mobil dan ku lajukan mobilku untuk pulang.
***(di Rumah)
Sesampainya di Rumah, aku segera masuk kamar dan mandi karena Susi akan datang kesini.
Setelah mandi, ku keringkan rambutku terlebih dahulu. Tak lupa aku melaksanakan sholat ashar.
Ku raih kerudungku lalu aku turun ke dapur untuk memasak makanan kesukaan Susi.
***(di Dapur)
Kali ini aku akan membuat gado-gado.
Dan rupanya disana juga ada Bi Sarah.
"Kebetulan ada Bibi, minta tolong bantuin Gia ya Bi, Gia pengen masak gado-gado," kataku.
"Siap Mbak," jawabnya.
"Mas Naufal mau pulang ya Mbak?" tanya Bi Sarah.
"Belum Bi," jawabku.
"Mbak Gia masak buat siapa?" tanyanya lagi.
"Ini buat Susi Bi, dia mau kesini, hehem," kataku sangat senang.
"Mbak Susi, Bini juga kangen sama Mbak Susi Mbak, terakhir ketemu waktu ulang tahun Mbak Gia, hehehe, Mbak Susi belum menikah ya Mbak?" tanyanya lagi dan lagi sambil mencuci sayurnya.
"Belum Bi, segera mungkin," candaku.
Sambil memasak sambil bercerita sedikit-sedikit sama Bi Sarah.
Ting tong....ting tong...
"Itu Susi mungkin Bi," ucapku.
"Biar Bibi yang bukain Mbak," kata Bi Sarah.
Bibi berjalan menuju pintu lalu membukanya, benar dugaanku ternyata Susi yang datang.
"Assalamu'alaikum," ucap Susi.
"Wa'alaikumsalam,"
"Sini Mbak, duduk dulu, monggo," kata Bi Sarah.
"Gia kemana Bi?" tanyanya.
"Di dapur Mbak, mau ke dapur??" tanya Bi Sarah.
"Boleh Bi," jawab Susi.
"Mari Mbak saya antar," kata Bi Sarah.
***(di Dapur)
"Eh eh eh masak apa nih?" kata Susi.
"Susiii," kataku sambil langsung memeluknya.
"Masak gado-gado kesukaan kamu," kataku.
"Repot-repot segala sih Gi, kayak kedatangan tamu spesial aja," ejek Susi sambil mencolekku.
"Hehehe, emang spesial kok," kataku.
Setelah selesai aku memasak, ku bawah 2 piring gado-gado ke Ruang Tamu.
***(di Ruang Tamu)
Kami duduk bersebelahan.
"Tugas apa lagi Si?" tanyaku.
"Sebenarnya aku bisa sih, tapi aku pengen aja ke rumah kamu," ucap Susi sambil mengeluarkan laptopnya.
"Aku juga ada yang mau aku omongin sih sama kamu," kataku sambil melahap kentang di campuran gado-gado.
__ADS_1
Bi Sarah datang dengan membawa beberapa toples berisi cemilan.
"Bi, nanti kalo Bibi mau, ambil aja gak papa, kan tadi buatnya banyak, sekalian semuanya juga Bi, Pak Rusdi Pak Joko," kataku.
"Iya Mbak, ya sudah Bibi ke belakang dulu ya Mbak," pamit Bi Sarah.
"Makasih ya Bi," ucap Susi.
"Itu loh Si, Bi Sarah katanya kangen sama kamu," kataku.
"Aaaaaaa Bibi," ucap Susi sambil memeluk Bi Sarah.
"Di makan Si, ini cemilannya juga," ucapku.
"Iya Gi, tadi kamu mau ngomong apaan?" tanyanya sambil mengangkat satu alisnya.
"Udah selesaiin dulu tugasnya, nanti aku cerita sama kamu," kataku.
Susi fokus dengan tugasnya dan sesekali melahap gado-gado buatanku.
"Enak Gi, asli buatan kamu?" tanyanya.
"Iya lah, iih kamu gitu banget nanyanya," ucapku sambi mengangkat kedua alisku.
"Sejak kapan bisa masak seenak ini?" ucapnya sambil menyenggol lenganku.
"Sejak nikah sama Mas Naufal," kataku sambil meliriknya manja.
"Aagheemm, gitu ya kalo punya suami," ejeknya dengan dehemannya.
Susi kembali menyelesaikan tugasnya.
Adzan magrib berkumandang.
"Si sholat dulu yuk," ajakku.
Kami sholat berjamaah dengan di imami oleh Pak Joko.
Setelah selesai sholat kami kembali ke ruang tamu.
"Kok di tutup," ucapku melihat Susi menutup laptopnya.
"Udah kok Gi," jawabnya.
"Udah gitu doang," ucapku lagi sambil merangkul satu toples nastar.
"Iya, dikit kok tugasnya," kata Susi.
Susi mengambil satu toples kue kacang.
"Tadi kamu mau ngomong apaan?" tanya Susi.
"Gini, kamu lagi sendiri?" tanyaku.
"Ya sendiri lah Gi, mau sama siapa lagi, maksud kamu sendiri gimana?" tanyanya.
"Maksud aku nggak lagi deket sama cowok kan?" tanyaku.
"Kok tiba-tiba kamu nanya gitu," ucap Susi malu-malu.
"Ya soalnya kemaren temennya Mas Naufal mau dikenalin sama kamu," kataku.
"Ooowww," jawabnya cuek.
Memang Susi selalu tertutup dengan kisah asmaranya.
"Udah, ow doang? Ayolah Si, coba buka ruang buat seseorang," kataku.
"Siapa sih?" tanyanya malu-malu.
"Ada, sahabatnya Mas Naufal, kali aja kamu cocok sama dia, baik kok orangnya, humoris," kataku.
"Emmmm.....gimana ya?" ucap Susi sambil berfikir-fikir.
"Ya kamu nggak harus jawab sekarang sih, kapan-kapan aku ajak kamu ketemu sama beliau," ucapku.
"Dokter juga?" tanyanya.
"He'em," jawabku sambil menganggukkan kepalaku dan menaikkan dua alisku.
"Oowww, berarti kayak kamu sama Naufal dong," ucapnya.
"Ceiileehh, ngomong gini tandanya mau yaaa," ejekku.
"Iiihh apaan sih Gi," ucapnya sambil pipinya agak memerah.
"Kan aku juga pengen Si, sahabat aku dapetin pria yang baik gak neko-neko, kan itu kamu banget, kamu juga nggak neko-neko anaknya, baik banget malah," pujiku.
Susi tersenyum dan tersipu malu.
"Gimana?? Kan kita gak tau Si, siapa tau ini jalannya lewat aku sama Mas Naufal, hayo lo," kataku.
"Ya nanti kalo ada waktu nganggur," ucapnya.
"Mau nih berarti?" tanyaku untuk meyakinkan.
"Giaaaaaa," kata Susi sambil melotot padaku.
"Hehehehe, iya deh iya," kataku yang sebenarnya sudah tau apa maksud isi dari hati Susi.
Kami bercerita tak terasa sampai hampir larut malam.
"Eh Gi pulang ya, udah malem ini," ucapnya sambil melihat jam di ponselnya.
"Buru-buru banget sih," rengekku.
"Buru-buru gimana??? Dasar kamu, orang tadi aku lama disini, belum sholat isya' juga loh Gi," kata Susi.
"Berani pulang sendiri? Kalo enggak nanti aku minta tolong Pak Joko buat ngikutin kamu dari belakang," ucapku.
"Enggak usah Gi, aku berani kok," ucap Susi.
"Ya udah, mau pamitan sama Bibi nggak, tapi kayaknya orangnya udah tidur Si," kataku.
"Jangan-jangan kasihan nanti orangnya, salam aja sama Bibi ya Gi," kata Susi sambil memasukkan laptop di dalam tasnya.
"Aku antar ke depan," ucapku.
Kami berjalan menuju halaman depan Rumah.
***(di Halaman Depan)
Susi masuk dalam mobilnya, dia membuka jendela kaca mobilnya.
Tin....tin..
"Pulang ya Gi, Assalamu'alaikum," pamitnya.
"Iya, Wa'alaikumsalam, gak usah ngebut," tuturku sambil melambaikan tanganku.
Mobil Susi melaju dan keluar dari lingkup rumah.
Aku masuk ke dalam Rumah, dan mengunci pintunya.
Ku bereskan meja Ruang Tamu, setelah itu aku berjalan menaiki anak tangga untuk ke kamarku.
***(di Kamar)
Segera aku mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat isya' tanpa Naufal.
Setelah sholat, aku sudah tidak kuat lagi menahan kantuk yang menghampiri mataku malam ini.
Setelah mengganti baju tidur, Ku rebahkan tubuhku di atas ranjang. Ku matikan lampu kamar dan hanya lampu tidur saja yang menyala agak terang dan hampir tidak gelap gulita.
Sesekali aku mengecek ponselku barangkali Naufal menghubungiku, tapi???? Kali ini Naufal sama sekali tidak memberiku kabar.
"Kok tumben, biasanya dia video call aku, nemenin aku sampek pagi," gumamku dalam hati sambil melihat layar ponsel.
"Aaarrghhh mungkin Mas Naufal saking sibuknya jadi capek terus ketiduran, kasihan dia," kataku.
Aku langsung memejamkan mataku.
Tak lama kemudian setelah aku tertidur, tiba-tiba tengah malam aku merasa tak nyaman.
Tidurku juga merasa berbeda, aku mencoba untuk membuka mata.
Pelan-pelan aku memberanikan diri untuk membuka mata, saat mata telah kubuka, aku syok melihat pria yang sedang tidur di sampingku dengan rasa tidak bersalahnya.
"Haaaaaaaaa," teriakku sambil menendangnya.
Bersambung.....
__ADS_1