Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 139 (Bukan Pak Kevin)


__ADS_3

***(Di Rumah Sakit)


Mobil Naufal langsung di sambut oleh para petugas medis.


Mobil berhenti di depan lobi, Naufal turun, wanita itu


langsung di pindahkan ke bed pasien, lalu di gelinding ke suatu ruangan.


Aku mengikutinya dari belakang.


Pikiranku fokus pada nama Kevin, Naufal terus menoleh


padaku, dia tau wajah kekhawatiranku.


Namun, yang sekarang bisa ku lakukan, hanya bisa mencari


pasien bernama Kevin itu.


“Kamu cari nama Kevin dulu,” tutur Naufal.


“Tapi Mas,” kataku yang tak enak padanya.


“Udah nggak papa, aku mau nanganin wanita ini,” ucap Naufal.


“Enggak Mas,” bantahku.


“Ini perintah suami, carilah, aku tau kamu khawatir,” kata


Naufal.


Aku menuruti Naufal untuk mencari pasien atas nama Kevin.


Aku berjalan ke bagian Admin.


Disana, aku menanyakan korban kecelakaan yang baru saja


terjadi.


“Mbak, korban kecelakaan yang baru pagi ini, di jalan


teratai, korbannya laki-laki, dibawa kemana ya ?” kataku.


“Oh pasien itu Dok, sekarang masih ada di kamar jenazah


Dok,” jawabnya.


“Apa??!!! Kamar jenazah??” tanyaku sangat kaget mendengar


hal itu.


“Iya Dok, memangnya ada apa ya Dok?” tanya dia.


Aku tidak menjawab pertanyaan darinya, aku langsung berlari


ke kamar jenazah.


.


.


.


Di depan Kamar Jenazah, aku mencari penjaga disana, untung


saja aku menemukannya.


“Pak saya minta tolong, temani saya masuk untuk melihat


korban kecelakaan yang baru pagi tadi katanya di bawa kesini,” kataku dengan nafas terengah-engah.


“Iya Dok, mari,” jawabnya.


Kami masuk ke Kamar Jenazah, mayat berjejer dengan


berselimutkan kain putih di sekujur tubuhnya. Pak Udin (Penjaga Kamar Jenazah) langsung menggiringku pada salah satu mayat yang ada disana.


Aku semakin gemetar saat mendekati mayat itu, air mataku


langsung menetes di kedua pipiku, pikiranku kacau.


“Ya Allah, apakah ini benar-benar Pak Kevin?? Aku mohon


jangan Ya Allah, jangan,” kataku dalam hati.


Tanganku gemetar saat akan mengambil kain putih yang


menutupi wajah mayat itu.


Rasanya aku ingin berlari menangis jika memang ini


benar-benar Pak Kevin, meskipun aku tidak pernah mencintainya, tapi beliau pernah membuatku kagum akan sikapnya.


Saat tangannku sudah berhasil menyentuh kain putih itu, aku


tidak yakin akan membukanya.


Air mataku semakin mengucur deras.


“Ya Allah jangan, aku mohon,” kataku dalam hati sambil


membuka pelan-pelan kain itu.


Deg deg……Deg deg……..


Langsung ku buka kain putih itu dengan cepat.


Ternyata ini bukan Pak Kevin, ini orang lain.


Aku menatap terus wajah mayat itu untuk meyakinkan kembali


bahwa itu memang benar-benar bukan mayat Pak Kevin.


“Pak apa benar ini mayat yang saya maksud?” tanyaku pada Pak Udin.


“Iya Dok,” jawab Pak Udin.


“Atas nama Kevin?” tanyaku lagi.


“Iya Dok benar,” jawabnya lagi.


Aku lega mendengar jawaban Pak Udin barusan.


“Alhamdulillah Ya Allah,” kataku dalam hati.


Ku hapus air mataku di kedua pipi.


“Ya udah Pak, makasih ya,” kataku.


“Iya Dok sama-sama,” jawabnya.


Aku berjalan keluar dari Kamar Jenazah.


Aku sampai lupa belum memakai jas dokterku yang sedari tadi


hanya ku tenteng.


Aku berjalan melamun menyusuri koridor Rumah Sakit.


Dokter Irene memanggilku dari belakang.


“Dokter Gia,” panggilnya.


Aku menoleh ke belakang, aku melihat Dokter Irene yang


sedang berdiri dan tersenyum padaku.


Dia berjalan menghampiriku dengan heels warna coklat muda


miliknya.


“Kamu kenapa keluar dari kamar jenazah?? Ada masalah?” tanya Dokter Irene.


“Eemmm….enggak Dok, tadi cuman cek aja,” jawabku berbohong pada Dokter Irene.


“Terus kenapa mata kamu berarir gitu?” tanyanya lagi yang


semakin membuatku sulit untuk mencari-cari alasan.


“Oh ini, ini memang agak sakit Dok,” jawabku.


“Oww kirain kamu habis nangis, gak mungkin kan kamu sedih,


Naufal kan sangat mencintai kamu, dia lebih memilih kamu daripada teman-teman Dokternya disini yang dulu pernah mencoba mendekati Naufal, lagian kalo aku jadi Naufal, pasti aku juga akan melakukan hal sama seperti dia,” kata Dokter


Irene yang membuatku ingat pada Naufal.


“Hehemm, Dokter Irene sendiri bagaimana?” tanyaku.


“Ya begitulah Gi, sampai saat ini aku belum bisa percaya


sama suamiku, jadi harus nunggu bayi nya lahir  dulu,” jawab Dokter Irene.


“Sabar ya Dok,” kataku sambil mengelus lengan Dokter Irene.


“Tapi untungnya nggak menikah Gi, jadi suamiku hanya ditahan


oleh pihak keluarga perempuannya saja, sebenarnya sangat berat Gi, otakku terus menyuruhku untuk pergi darinya, tapi hatiku ingin aku tetap bersamanya,” kata Dokter Irene yang tiba-tiba menangis.


“Jangan Dok, jangan salah mengambil keputusan, jangan


tergesa-gesa, Dokter kan belum tau yang dikandung itu benar-benar anaknya atau bukan,” tuturku.


“Iya Gi, maka nya sampai saat ini aku masih ada untuknya,


waktu tapi ya gitu Gi, kita nggak saling ngobrol, aku pengennya simple aja Gi, pengen seperti pasangan lainnya, jalan berdua kemana, movie time berdua, yah hal simple itu Gi yang aku inginkan,’ kata Dokter Irene.


“Sabar Dok ya, pasti bahagia itu akan segera berpihak di keluarga Dokter,” kataku.


“Aku ingin seperti kamu dan Naufal Gi, saling mencintai,


sangat harmonis, perhatian,” kata Dokter Irene lagi.


Aku hanya tersenyum padanya.


“Padahal Dokter Irene nggak tau, apa yang pernah aku rasain


sama Naufal, aku juga pernah merasakan pedihnya dalam suatu rumah tangga,” gumamku dalam hati.


“Huuumm, ya udah, aku duluan ya Gi, pagi-pagi udah curhat


aja aku ini,” canda Dokter Irene sambil mengusap ingunsya.


“Hehem, nggak papa Dok,” kataku.


Dokter Irene melangkah meninggalkanku.


Aku juga berjalan menujuke ruanganku.


Sampai di ruang kerjaku, aku mengambil sebuah arsip yang


akan ku berikan pada seorang perawat.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Siang harinya, setelah separuh tugasku selesai, aku


menghampiri Naufal di ruangannya.


***(Di Ruanagn Naufal)


Tok…..tok….tok


“Masuk,” ucap Naufal dari dalam.


Gleekkk, ku buka pintu ruangannya, ada Pak Bastian disana


yang berdiri di samping Naufal.


“Eeeh Gia,” sapa Pak Bastian, dan aku tersenyum padanya.


“Gue keluar dulu Fal,” pamit Pak Bastian yang sepertinya


sudah sangat peka dengan keadaan.


“Ya,” jawab Naufal.


Pak Bastian keluar dari ruangan Naufal.


“Gimana tadi? Mayatnya Kevin nya kamu atau bukan,”  tanya Naufal.


“Bukan Mas,” jawabku.


“Ooow, Alhamdulilllah kalo gitu,” kata Naufal


“Tadi pasiennya gimana Mas?” tanyaku pada Naufal untuk


mendinginkan suasana hati Naufal.


“Cuman retak aja tulang keringmya, selebihnya baik-baik


aja,” jawabnya.


“Ya udah aku tinggal kamu sholat dulu ya, kamu nggak sholat


kan,” kata Naufal.


“Iya,” jawabku.


Naufal langsung meninggalkanku untuk ke Mushola.


Aku menunggu di ruangannya.


“Naufal tadi kayak marah nggak ya?” tanyaku dalam hari.


“Tapi kan Naufal sendiri yang nyuruh aku, aku kan tadi udah


nolak,” gerutukudalam hati.


Lumayan lama aku menunggu Naufal di ruangannya.


Beberapa menit kemudian, Naufal datang kembali.


“Loh kamu masih disini?” tanyanya saat baru saja masuk.


“Iya, memangnya nggak boleh,” kataku.


“Kan aku nggak bilang nggak boleh, ya boleh-boleh aja, boleh


banget malah,” kata Naufal.


“Kamu marah kan sama aku??” tanyaku to the point.


“Marah kenapa?? Soal apa?” tanyanya.


“Udah kamu ngaku aja, kamu sinis gitu,” jawabku.


“Marah kenapa?? Aku nggak ngerti maksud kamu,” ucap Naufal.


“Tadi kan aku udah bilang sama kamu, aku nggak mau lihat


mayat itu, tapi kamu nyuruh aku, sekarang kamu dingin sama aku,” ceplosku terus terang.


“OOo soal itu, apa nya yang di permasalahin sih?? Hm?"


ucapnya dengan enteng.


“Kamu pikir dengan sikap kamu tadi aku nggak tau,” kataku.


“Sikapku yang apa lagi sih Sayang, Hm?? Aku bingung loh


beneran, perasaan aku dari tadi baik-baik aja sama kamu,” ujar Naufal.


“Tuh kan, udah ah nggak usah dibahas, nggak penting juga


buat kamu,” kataku langsung pergi meninggalkan ruangannya.


Naufal sempat memanggil-manggil namaku, namun aku sama


sekali tidak menggubrisnya, karena jam istirahat kami juga sudah hampir habis.


“Naufal apa-apaan sih, dia yang nyuruh, sekarang malah


ngambek sama aku, pake acara nggak ngaku segala lagi,” gerutuku di sepanjang koridor.


Di ruangannku, ternyata Naufal dari tadi menyusulku.


“Sayang, kamu apa-apaan sih ngambek kayak gini,” ucapnya.


Aku hanya diam mendengarkannya.


“Aku nggak marah loh sama kamu, tapi kamu malah yang kayak gini, aku salah apalagi sih Sayang???” rayunya.


“Udah lah Mas, aku mau ke ruangan Anggrek, ada pasien aku


“Loh loh loh, ngambek kan kamu,” kata Naufak.


Aku berjalan meninggalkan Naufal.


.


.


.


.


.


Sore harinya, pekerjaan kami akhirnya selesai.


Dari ruanganku aku langsung bergegas berjalan ke parkiran,


karena Naufal juga sudah mengerti bahwa aku senang tak enak hati padanya.


***(Di Parkiran)


Aku melihat Naufal yang berjalan semakin mendekat padaku.


“Waduh, enak banget di tungguin istri pulang kerja,” canda


Pak Bastian.


Aku hanya tersenyum pada beliau, tapi tetap mengacuhkan


Naufal.


“Aku duluan ya Fal, Gi,” kata Pak Bastian.


“Iya Pak, hati-hati,” kataku.


“Siap Nyonya Naufal,” canda Pak Bastian sambil menoleh pada


Naufal.


Pak Bastian melangkah menjauh dari kami.


Tanpa mengatakan apapun pada Naufal, aku langsung masuk


dalam mobil.


Mobil Naufal melaju keluar dari Parkiran.


Di perjalanan, Naufal berkali-kali menolehku.


“Sayang, jangan marahan gini, nggak enak nanti kalo ada


Abay,” tuturnya.


“Kan aku udah bilang sama kamu, aku nggak marah Sayang,”


kata Naufal diperjelas.


“Ayolah kamu jangan kayak gini,” kata Naufal.


“Nggak baik Sayang diem-dieman kayak gini, apalagi anti ada


Abay, kamu bisa seolah-olah asik sama aku di depan Abay, gak mungkin kan,” ujar Naufal.


Air mataku memenuhi pelupuk mata.


“Nangis kan kamu,” kata Naufal.


“Ya abisnya kamu gitu sama aku, huhuhu,” ucapku sambil merengek menangis.


Naufal menarik tengkuk ku dan disandarkan di pundaknya.


“Aku nggak marah Sayang, beneran, kan aku sendiri tadi yang


nyuruh kamu buat mastiin itu mayat Kevin nya kamu apa bukan,” kata Naufal.


“Tuh kan kamu bilangnya Kevin nya aku,” rengekku.


“Ya kan aku nggak tau nama panjang nya Kevin Sayang, aku


spontan bilang kayak gitu,” kjawabnya sambil mengelus kepalaku.


“Tadi sikap kamu nggak enak banget sama aku, maka nya aku


tungguin kamu di ruangan kamu, eh kamu malah ganti bilang gak enak sama aku, huhuhu,” kataku.


“Aduh Sayang, kamu kan sekarang lagi haid ya, ya wajar sih


kalo kamu sensitive banget hari ini, aku ngerti, maka nya aku coba buat kasih penjelasan pelan-pelan sama kamu, kalo orang haid kan emang gitu, bawaannya pengen marah terus, ya kamu ini, tapi aku maklumin banget Sayang,” ucap naufal


yang sangat pengertian.


“Ya bukan gitu, ya emang kamu nya aja tadi gitu sama aku,”


rengekku lagi.


“Tuh kan, iya deh hiya,” ucap Naufal yang memilih mengalah


dariku.


“Dasar Gia kalo lagi haid, hehem, kasihan kamu Sayang, maka


nya dari tadi aku bujuk kamu biar samperin mayat yang namanya Kevin, karena orang haid itu gitu, jadi aku harus pelan ngomongnya sama kamu,” gerutu dalam hati Naufal.


“Kamu beneran nggak marah ya?” tanyaku lagi untuk


memastikan.


“Enggak Sayang, aku memang sengaja nyuruh kamu kayak gitu, aku tau wajah cemas kamu, kamu hanya ingin memastikan saja kan, ya fair-fair aja sih, yang penting kan setelah kamu tau, kamu lega, dari pada kamu belum tau

__ADS_1


tapi kamu nggak berani lihat karena aku, aku nggak mau kamu gitu, bagaimana pun juga Kevin itu pernah menorehkan sesuatu di hati kamu, jadi ya aku nggak maulah keterlaluan buat kamu takut,” ucapnya.


“Iya aku juga tau, kalo emang sifat kamu kayak gitu,”


balasku.


“Nah itu kamu ngerti, udah hapus air matanya, nanti ada


Abay, kamu nggak malu,” tuturnya.


“Mana aku hapusin sini,” ucap Naufal menghapus air mataku


dengan jarinya.


“Udah mau sampe nih di sekolah Abay, masak Mamanya masih mau manja-manjaan sama Papanya,” ejek Naufal yang membuat kedua pipiku memerah.


“Gak jelas kamu,” tepisku sambil malu-malu.


Akhirnya kami pun sampai di depan sekolah Abay.


Abay sudah menunggu kami disana, saat dia sudah melihat


mobil kami berhenti, Abay langsung berlari menuju mobil.


“Assakamu’alaikum,” ucap sakam Abay yang memang sudah kami ajarkan sejak dia masih TK.


“Wa’alaikumsallam,” jawabku dan Naufal.


Aku melihat wajah sumringah Abay dari raut wajahnya.


“Abay,” panggilku.


"Ya Ma?"jawabnya.


“Kok kayaknya Abay seneng banget, kenapa?” tanyaku.


“Kelihatan ya Ma,” jawabnya lagi.


“Abay terpilih Ma ikut lomba baca al-Qur’an,” ucap Abay.


“Wah beneran Nak?? Kapan??” tanyaku.


“Masih dua minggu lagi sih Ma,” jawabnya.


“Berarti Abay harus lebih giat lagi ini belajar baca


Al-Qur’an nya,” sahut Naufal.


“Tapi, Papa sama Mama nanti bisa hadir nggak ya,” kata Abay.


“Kenapa nggak bisa Nak?” tanya Naufal.


“Soalnya lombanya katanya Bu Guru siang Pa,” jawab Abay.


“Ya nanti pasti Papa sama Mama bakalan usahain untuk Abay,


yang penting sekarang kan Abay sudah terpilih mewakili sekolah Abay, jadi Abay dikasih amanah sama tanggung jawab, jadi Abay harus semaksimal mungkin berusaha


melakukan yang terbaik dan jangan sampai mengecewakan guru-guru Abay, Ustad dan Ustadzah Abay, terus Papa sama Mama,” tutur Naufal.


“Iya Pa, pasti Abay akan berusaha,” kata  Abay.


.


.


.


.


.


Sesampainya di Rumah


***(Di Rumah)


Pak Joko membuka kan gerbang untuk kami, aku melihat mobil


Mama Noni terparkir disana.


“Itu mobil Kak Noni ya Ma?” tanya Abay.


“Iya Nak,” jawabku.


Setelah mobil berhenti dan terparkir dalam bagasi, kami turun


dan berjalan masuk ke Rumah.


***(Di Ruang Tamu)


“Assalamu’alaikum,” salam kami.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Noni yang duduk sendirian di Ruang


Tamu.


“Uncle,” sapa Noni.


“Kamu sendirian kesini?” tanya Naufal.


“Iya Uncle diantar sama sopir,” jawabnya.


“Noni kesini mau kasih ini buat Dek Abay,” kata Noni.


Noni memberikan sebuah kado besar untuk Abay.


“Selamat ulang tahun Dek Abay, maaf ya aku kemarin nggak kesini sama Mama dan baru bisa kasih kadonya sekarang,” kata Noni.


“Nggak papa Kak,” jawab Abay.


“Terima kasih ya Kak,” jawab Abay sambil tersenyum pada


Noni.


“Iya sama-sama, Dek habis ini ikut aku ke rumah ya,” ajak


Noni.


“Maaf Noni, Dek Abay nggak bisa, habis ini Dek Abay harus ngaji, terus malamnya dia harus les,” sahut Naufal.


“Yah, gitu ya Uncel, huum,” kata Noni.


“Lain kali aja Noni, kalo Dek Abay libur pas hari minggu,”


kataku.


Aku sebenarnya sangat berat mengatakan ini, karena aku tau sikap Noni yang sebenarnya pada Abay bagaimana.


“Ya udah Aunty lain kali aja,” jawab Noni.


“Tadi Noni udah makan?” tanyaku.


“Hehehm, belum Aunty,” jawabnya.


“Mau di buatkan Aunty Spaghetti?” tawaranku.


“Emmm boleh Aunty,” jawabnya.


“Ya udah kalo gitu Uncleke atas dulu,” kata Naufal.


Naufal berjalan menapaki anak tangga dengan Abay, Noni terus memandang mereka dari jauhan sampaiNaufal dan Abay sudah tak terlihat.


Aku berjalan ke Dapur untuk membuatkan Noni spaghetti


seperti yang ku tawarkan padanya.


***(Di Dapur)


Saat aku merebus mie, Noni mengagetkanku dari belakang.


“Aunty, enak ya disini, rame,” kata Noni.


“Kalo di rumah Noni, pasti ada Mama sama Bibi aja,” kata


Noni.


“Maka nya Noni nggak tahan di rumah, apalagi Mama sibuk


dengan pekerjaannya,” keluhnya.


“Mama Noni melakukan semua itu demi Noni bukan tanpa alas


an, jadi kalo Noni merasa sepi atau suntuk bisa kesini, main kesini,” tuturku sambil tersenyum padanya.


“Tapi kalo disini, Uncle Naufal udah berubah, nggak kayak


dulu suka manjain Noni,” ujar Noni.


“Huuumm, Uncle Naufal tidak berubah Noni, Uncle Naufal tetep sayang kok sama Noni, mungkin Uncle pengen Noni lebih mandiri lagi,” kataku.


“Enggak Aunty, Uncle itu beda sekarang, kan Noni juga pengen di perlakukan seperti Abay,” ceplos Noni.


“Ya kan Cuma bedanya Abay anaknya Uncle, tapi aku hanya


keponakan,” kata Noni.


“Bukan begitu Noni, Uncle memberikan porsi yang sama,”


tepisku sambil menuangkan mi eke dalam mangkok.


“Andai saja Noni punya Papa seperti Uncle Naufal, huuum


pasti Noni sangat bahagia seperti Dek Abay,” ucapnya.


“Noni aja jadi keponakannya tapi kayak anak sendiri, tapi


itu dulu, apalagi Dek Abay ya Aunty,” ucap Noni.


“Enggak Noni, Uncle selalu mengajarkan sikap mandiri pada


Dek Abay, hehem,” kataku.


“Apalagi Dek Abay anak pertama, jadi pasti nanti memegang


tanggung jawab besar pada adik-adiknya,” kataku.


Selesai aku membuatkan spaghetti untuk Noni, aku berjalan


meninggalkan Noni untuk ke Kamar.


***(Di Kamar)


“Mas, kamu ganti temenin Noni gih,” tuturku.


“Kasihn dia sendirian di bawah,” kataku.


“Aku kasihan sama Abay Sayang, dia merasa terancam kalo ada Noni disini,” Kata Naufal.


“Udah Mas nggak papa, kamu ajak ngobrol Noni gih, kasihan,


dia kangen sama kamu,” tuturku.


“Tadi curhat tentang kamu terus ke aku,” ucapku.


“Iya Sayang,” jawab Naufal.


Bersambung………


Terima kasih semuanya, jangabn lupa tinggalkan like, komen


dan vote ya….See you🖤🙏😁

__ADS_1


__ADS_2