Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 235 (Marahnya Mama Feni)


__ADS_3

Saat Mas Naufal menyuapi ku sendok demi sendok.


Aku bahkan tidak menatap matanya atau meliriknya.


Aku akan tetap pertahanin pernikahanku sama Mas Naufal meskipun tanpa adanya cinta dari dua hati kita.


Kita berdua punya cinta, dia Abay.


Mungkin setelah aku sembuh ini. Aku menceritakan semuanya pada Mama Feni. Dan aku akan pergi jauuuuuhh sekali dari sini.


"Udah," kataku yang menghentikan suapan sendok dari Mas Naufal.


Kaki ku turunkan dari bed pasien untuk ke kamar mandi. Mas Naufal mencoba membantuku. Namun aku menepis tangannya.


"Bi, Gia minta tolong," ucapku.


Bi Sarah langsung menghampiriku.


"Gia mau ke kamar mandi Bi," ucapku.


Bi Sarah membantuku turun dari bed pasien.


Mama Feni yang melihatnya langsung menyuruh anaknya agar menggendongku.


"Fal, kok kamu diam saja, bantu istri kamu,"


"Gendong dia," perintah Mama Feni.


Aku dan Mas Naufal saling merasa canggung, padahal kita sudah sering melakukan hal-hal romantis dari berbagai level keromantisan. Tapi sekarang semuanya sudah mulai canggung.


Mas Naufal tidak seluwes biasanya. Dan aku juga, terlihat kaku seperti awal saat kita menjadi sepasang suami istri.


Mas Naufal membopongku, aku mengalihkan wajahku agar tidak melihatnya. Namun tatapan Mas Naufal terus berarah kedua bola mataku.


Dia menurunkanku tepat di depan kamar mandi, Bi Sarah yang membawakan tiang infusku terlihat kaku juga saat mengikuti kita berdua.


"Mas bisa balik, biar Bibi yang bantu aku," kataku.


"Ayo Bi," ucapku saat meminta tolong Bi Sarah untuk ikut masuk bersamaku.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Setelah ke kamar mandi.


Aku sengaja tidak memanggil Mas Naufal, aku sangat malas digendong Mas Naufal yang terus menatapku. Disini aku berusaha untuk tidak mencintai dia, berhenti mencintainya. Jika Mas Naufal terus seperti itu, bagaimana bisa aku menghentikan rasa cintaku ini??


Bi Sarah membantuku berjalan menuju bed pasien.


"Loh loh Fal, istri kamu itu," ucap Mama Feni yang melihatku dan Bi Sarah.


"Nggak papa Ma, nggak papa, eemmmm..sama latihan jalan," ucapku sambil tersenyum menyeringai pada Mama Feni.


Saat tanganku akan meraih bed pasien, namun jaraknya masih jauh, aku pun terjatuh di pelukan Mas Naufal.


Buuukkkk....


Deg deg.......deg deg.....deg deg......


Aku berusaha melepas pelukan itu dengan keras, tapi Mas Naufal terus menahannya.


"Mas cinta sama Gia," bisiknya di telingaku.


Deeggggggg.


Aku menahan air mataku agar tidak keluar dan membuat simpati Mama Feni dan Mas Naufal. Aku tetap memaksa melepas pelukan itu.


Dan akhirnya Mas Naufal membantuku untuk kembali ke bed pasien.


"Ma, Gia kapan pulang??" tanyaku.


"Mungkin nanti siang kamu juga pulang Nak, untung saja hanya luka seperti ini, tidak ada yang retak ataupun patah," jawab Mama Feni.


"Sebenarnya ada yang patah dan retak Ma, tapi bukan kaki ataupun tangan Gia, hati Gia Ma," ucapku dalam hati.


"Tanya sama suami kamu dong Nak," sambung Mas Naufal.


"Nanti pagi juga sudah boleh pulang kok, ini kan cuman kasih vitamin kamu," sahut Mas Naufal.


"Fal, nanti kamu kan kerja, biar Mama aja yang nganterin Gia pulang ya," ujar Mama Feni.


"Eemmm iya Ma," jawab Mas Naufal.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


Sekitar jam 10 pagi, Aku sudah diizinkan pulang oleh pihak Rumah Sakit, karena memang luka ku tidak terlalu parah, dan bisa diobati sendiri di Rumah.


Mama Feni yang mengantarkanku pulang ke Rumah.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***(Di Rumah)


Sampainya Di Rumah, Bi Sarah membantuku berjalan hingga lantai atas. Aku istirahat di dalam kamar dan ditemani oleh Mama Feni.


***(Di Kamar)


"Mbak, saya buatkan bubur sama minuman dulu ya," ucap Bi Sarah.


"Iya Bi," jawab Mama Feni.


Bi Sarah meninggalkan hanya kami berdua disini.


Apakah ini waktu yang tepat untuk aku bercerita tentang semuanya pada Mama Feni.


"Aaaaaa......mmmm Ma,"


"Maaf sebelumnya, jika kata-kata akan menyakiti hati Mama," ucapku.


"Loh, kenapa Nak?? Kenapa Gia ngomong gitu??" tanya Mama Feni sambil mengernyitkan kedua alisnya.


"Sebenarnya, kemaren......Gia kecelakaan, karena Giaa.....mau ke rumah Mama," jawabku..


"Ya Allah Giiiaaaa,"


Mataku mulai berkaca-kaca saat memulai cerita ini sama Mama Feni.


"Kenapa kamu harus bohong Nak?? Kok bisa berantem, ada apa lagi??" tanya Mama Feni lagi yang duduk di kursi sebelah ranjang yang ku tiduri ini.


"Aaaamm.....begini Ma ceritanya, Mas Naufal........eeemmmm.....Mas Naufal ketemu sama Vela....."


Aku menceritakan semuanya, mulai dari A sampai Z kenapa kita bertengkar sampai seperti ini pada Mama Feni.


Mama Feni juga ikut menangis seperti aku. Mama Feni kasihan sama aku.


"Ma, Gia mohon, Gia minta ijin sama Mama,"


"Gia pengen pergi dari Mas Naufal, huhuhuhu, Gia nggak kuat Ma, hati Gia semakin sakit jika terus berada di dekat Mas Naufal Ma,"


"Gia janji sama Mama, Gia nggak akan tinggalin Mas Naufal kok Ma, Gia kan tetap terus pertahanin pernikahan ini, ini janji yang diucapkan Gia untuk kedua kalinya, Gia juga sudah berjanji seperti ini pada Papa," ucapku terbata-bata karena menangis.


"Giaaaaaa.....maafkan anak Mama, tapi Mama minta tolong ya, jangan tinggalkan dia apapun yang terjadi, Gia cinta sama Naufal??" tanya Mama Feni padaku sambil menangis.


"He'em, Gia sangatttttt mencintai Mas Naufal, tapi Gia juga butuh waktu buat sembuh dari luka ini Ma, Gia mohon ijinkan Gia pergi, dan jangan kasih tau Mas Naufal, Gia pergi kemana ya Ma," kataku.


"Huhuhuhuhu, jika memang ini keputusan yang terbaik untuk kamu, Mama ijinkan kamu pergi Nak, tapi....dengan satu syarat, tidak untuk selamanya, Gia harus janji sama Mama, Gia akan kembali lagi, ya," kata Mama Feni.


"Gia janji Ma," jawabku.


Mama Feni langsung memelukku dan mengelus-elus rambutku.


"Ma, maafin Gia, Gia belum jadi menantu dan istri yang baik," kataku dipelukan Mama Feni.


"Jangan bilang seperti itu Nak, huhuhuhu, itu malah membuat Mama merasa bersalah atas kelakuan anak Mama," jawab Mama Feni.


"Benar kata Mama dulu, secinta-cintanya seseorang pasti akan tetap berbohong kan Ma," kataku.


"Iya Gia, maafin anak Mama ya, Mama tau dia juga begitu mencintai kamu, semoga nanti Allah memberikan jalan keluar dan memberikan jawaban yang sebenarnya untuk kalian," tutur Mama Feni.


"Besok Gia akan pergi ke rumah Mama, dan..."


"Mama ikut," sahut Mama Feni yang langsung memotong pembicaraanku.


"Mama mau ikut??" tanyaku dengan senang.


"Iya, Mama yang akan menemani kamu, kemanapun kamu pergi," kata Mama Feni.


"Tapi Mama nggak bisa nemenin kamu jika kamu pergi jauh," ucap Mama Feni.


"Iya Ma, Gia mengerti," jawabku.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Hari ini Mama Feni memutuskan untuk menginap di Rumah Mas Naufal.


Mama Feni begitu telaten menemaniku, membuatkanku makan. Tak henti-hentinya Mama Feni terus menasehatiku untuk tetap bertahan dengan Mas Naufal.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Malamnya, Mas Naufal baru saja pulang kerja.


***(Di Kamar)


"Assalamu'alaikum," ucap salam Mas Naufal.


"Wa'alaikumsalam," jawab Mama Feni dan aku.


Mama Feni yang melihat Mas Naufal langsung berdiri menghampirinya.


"Loh Mama disini?" ucap Mas Naufal.


Mama Feni langsung menampar pipi Mas Naufal sangat keras.


Paaakkkkkkk.....


"Keterlaluan kamu Nak," ucap Mama Feni sambil menangis di depan Mas Naufal.


Mas Naufal semakin bingung apa yang terjadi sebenarnya, dia tidak tahu apa-apa.


"Mama, Mama kenapa??" tanya Mas Naufal berusaha menanyakan semuanya pada Mamanya.


"Kamu telah menyakiti menantu Mama," jawab Mama Feni.


Aku kasihan melihat Mas Naufal ditampar oleh Mama kandungnya sendiri. Mungkin itu tamparan pertama kali yang pernah di dapatkan seumur hidupnya.


Dengan jawaban Mama Feni, Mas Naufal langsung tahu jika aku menceritakan semuanya sama Mama Feni.


"Naufal nggak seperti yang Mama kira, Naufal.."


"Cukup Nak!!!" kata Mama Feni.


"Mama ini, berusaha tidak membahas Vela saat Gia masuk di kehidupan kita, saat Gia menjadi calon menantu Mama sampai dia menjadi menantu Mama, Mama tidak ingin mneyebutkan nama Vela lagi,"


"Bagaimana sakitnya Mama, saat tahu Vela sudah menghancurkan hati kamu dulu, hati Mama sangat sakit Nak!!!"


"Mama bela-belain dulu ngehibur kamu, gimana caranya agar kamu nggak stress. Terus sekarang?? Mudahnya kamu kembalikan dia lagi ke kehidupan kita, apalagi kamu sudah beristri, dimana kamu yang sebenarnya Fal???!! Dimana??!! Huhuuhu," ucap tegas Mama Feni yang memarahi anaknya.


"Ma, tapi Naufal benar-benar nggak seperti yang Mama pikirkan, dia datang hanya sebagai pasien, udah itu aja," kata Mas Naufal.


"Naufal ini sangat mencintai menantu Mama, tidak ada yang lain," tegas Mas Naufal membela dirinya.


"Cinta?? Jangan bicarakan soal cinta jika sudah seperti ini??!! Mama kan sudah berpesan Nakkkk sama kamu, jangan sekali-kali kamu mencoba membuka gerbang hati kamu untuk wanita lain selain istri kamu," kata Mama Feni.


"Mama kecewa sama kamu Nak, kecewa Mama, huhuhuhu," sambung Mama Feni.


"Kalo Mama sama Gia nggak percaya sama Naufal, Naufal siap bawa Mama sama Gia buat menemui Vela Ma,"


"Jangan sebut nama dia!!!" teriak Mama Feni dengan lantang.


Pasti Bi Sarah dan Pak Rusdi mendengar suara Mama Feni. Aku baru tahu untuk pertama kalinya, Mama Feni semarah ini.


"Kamu tega sama Mama kayak gini Nak, tega kamu ya, menyakiti istri kamu, sama saja kamu juga menyakiti hati Mama, huhuhuhu,"


"Papanya Gia ngebesarin Gia penuh cinta, merawatnya penuh kasih, setelah menikah dengan kamu, apa luka yang terus kamu berikan sama dia??!! Gia mampu menyimpan semua keburukan kamu, bertahun-tahun Mama jadi mertua Gia, tidak sekalipun dia mengumbar keburukan kamu ke Mama,"


"Wanita yang seperti apa lagi yang mau kamu cariiii?? Ya Allah Naufal......Naufal...huhuhuh," kata Mama Feni.


"Ma, sudah Ma," sahutku.


Aku kasihan melihat Mas Naufal yang dimarahi dan dipojokkan begini.


"Mas, andai Mas tau, aku sangat mencintai Mas, aku tidak sanggup melihat Mas dimarahi Mama seperti ini, sekarang aku ingin memelukmu Mas,"


"Tapi jika mengingat kelakuanmu, rasanya kembali sakit jika aku harus tetap mencintaimu, huhuhu," gumamku dalam hati.


Mama Feni pun pergi keluar dari kamar kami.


Mas Naufal meletakkan jas dokternya di sofa. Aku kasihan melihatnya, pasti begitu sakit tamparan yang diberikan oleh Mama Feni padanya.


Aku mengambil ponselku untuk mengirim pesan WA pada Bi Sarah agar mengirimkan air hangat ke atas.


.


.


.


.


.


.


.


.


Tak lama kemudian, Bi Sarah datang dan meletakkan air hangat dalam waskom medium itu.


"Makasih Bi," kataku.


"Iya Mbak sama-sama," jawab Bi Sarah tidak seperti biasanya. Mungkin Bi Sarah tahu hawa di kamar sedang memanas.


Aku berdiri dan memberikan waskom itu pada Mas Naufal.


"Ini untuk Mas," kataku singkat sambil meletakkan waskom di meja tepat di depan Mas Naufal.

__ADS_1


Saat aku akan kembali ke tempatku semula, Mas Naufal menarik tanganku.


Bersambung...........


__ADS_2