
Di perjalanan, sekilas masih teringat tentang Papaku.
Tidak terasa sudah 7 hari Papa meninggalkan kami semua. Benar kata Mama, ikhlas adalah kunci utamanya.
"Sayang...." Panggil Naufal padaku yang sedang melamun saat menyusuri jalan tol.
"Hm??" jawabku.
"Mau makan dulu habis ini??" tanya Naufal.
"Terserah Mas, aku ngikut," jawabku pasrah.
"Mau makan apa??"
"Yang biasanya??" Sambung Naufal lagi.
"Boleh," jawabku sambil meliriknya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sampainya di Rumah.
***(Di Rumah)
Pak Rusdi menyambut kedatangan kami, Abay sudah tertidur pulas di gendongan Naufal.
Dibantu Pak Rusdi yang mengangkat dua koper kami, dan aku membawa 2 tas besar berisikan beberapa baju kotor kami.
Wajar, jika aku belum bisa sesumringah biasanya.
Ikhlas?? Pasti ku coba hingga detik ini.
Tidak ada yang baik-baik saja jika ditinggal oleh orang yang kita sayang.
***(Di Kamar)
Aku duduk termenung sambil menata baju-baju kami yang sudah bersih untuk ku simpan dalam almari.
"Mbak, biar saya yang bawa baju kotornya ya," ucap Bi Sarah.
"Nggak usah Bi, biar Gia aja, Bibi bisa langsung istirahat aja," jawabku.
Karena sekarang sudah jam sebelas malam.
"Baik Mbak, nanti kalo Mbak Gia masih butuh apa-apa, bisa panggil saya ya Mbak," ucap Bi Sarah.
Aku hanya menganggukkan kepalaku saja, lalu Bi Sarah pergi keluar dari kamarku.
Tak lama kemudian, ganti Naufal yang datang menemuiku. Dia duduk di sampingku, lalu meraih tanganku.
"Memang, luka itu tidak langsung sembuh Sayang, aku paham, yang sabar ya, nggak ada luka yang di ciptain tanpa ada obatnya," tutur Naufal.
"Aku juga tau, kamu sudah berusaha ikhlas, ikhlas itu tidak semudah saat mengatakan kata ikhlas," kata Naufal lalu menegecup keningku.
"Ini di beresin besok aja, sekarang kita tidur ya," ajak Naufal.
"Tapi Mas..." Naufal langsung memotongnya.
"Nurut apa kata suami," sahutnya sambil tersenyum padaku.
Aku pun menuruti kemauannya.
Ku rebahkan tubuhku di kasur empuk yang sudah 7 hari tak ku sapa ini. Sudah 7 hari aku susah tidur saat di rumah Mamaku karena masih terbayang wajah Papaku.
Yang aku sesali, aku belum sempat meminta maaf pada Papaku.
"Sayangg," ucap Naufal.
"Hm, apa Mas?" tanyaku sambil melihat langit-langit atap kamar ku.
"Tiduuuurrrr Sayang, lihatin apa sih kamu??" tanya Naufal.
"Belum bisa tidur Mas," jawabku.
"Lihat itu mata panda kamu Sayang, makin melebar, kayak oconggg....awas loh," ujar Naufal yang berusaha menghiburku.
Aku sangat takut dengan makhluk halus satu ini, yaaahh Ocong alias Pocong.
"Aaaaaaa Mas," kataku.
"Udah sini bobok sebelahnya Mas," kata Naufal.
Bulu mataku langsung berkedip beberapa kali, saat mendengar Naufal memanggil dirinya sendiri dengan sebutan "Mas".
"Mas Naufal, manggil dirinya sendiri Mas?? Sejak kapan dia seperti ini??" gumamku dalam hati.
"Ayo sini," kata Naufal.
"Iii....iya Ma....ssss," jawabku sedikit bergeser sedikit mendekat pada tubuh Naufal.
"Mas ini mau nenangin kamu," ujarnya.
"Kkk.....kok tumben kamu manggil diri kamu sendiri dengan sebutan Mas??" tanyaku.
"Nggak papa, biar lebih sopan lagi, kita buka halaman kertas baru lagi, kamu sekarang harus lebih hidup lagi, nggak boleh tertutup lagi sama Mas, lupain semua beban kamu di masa lalu," tuturnya dengan lembut.
"Jadi, gimana?? Mau kan buka halaman baru lagi??" tanya Naufal.
"Iya Mas," jawabku.
"Bobok ya, besok Mas kerja pagi-pagi, kalo kamu nggak tidur, Mas juga nggak tidur," ujarnya padaku.
"Mas tidur aja dulu nggak papa, aku nanti bakalan tidur kok," kataku.
"Sayangggg......Mas tidur, kamu juga tidur," bantahnya.
Akhirnya aku memaksa menutup kedua mataku demi Mas Naufal karena besok harus pergi bekerja pagi-pagi.
Aku berpura-pura sudah tertidur. Tidak lama Mas Naufal sudah tertidur pulas, rupanya dia sangat capek.
Aku terus memaksa untuk mengantuk, tapi tetap saja tidak bisa. Tenggorokan ku sangat kering.
Dengan pelan-pelan, ku pindahkan lengan berat suamiku ini yang mendekapku agar aku bisa pergi ke bawah mengambil segelas air.
Saat aku sedang duduk di pinggiran ranjang, Mas Naufal mengetahui gerakku, dengan cepat tangannya memegang tanganku, mencegahku untuk pergi.
"Kemana Sayangggg??" tanya Naufal dengan kedua matanya yang sudah tertutup rapat.
"Eemmmm.....aku.....aku mau ngambil air Mas," jawabku.
"Udah duduk lagi aja, biar Mas yang ambilin buat kamu," tepis Mas Naufal yang akan beranjak bangun.
Aku memegangi kedua kedua bahunya.
"Nggak nggak nggak, nggak usah Mas, biar aku aja yang ngambil, Mas tidur aja," kataku.
"Mas aja Sayang, kamu tidur lagi aja," tepisnya lagi.
"Sebaiknya Mas tidur lagi aja ya, aku.....aku juga belum tidur kok ini tadi," kataku.
Dengan cepat aku langsung berjalan dan membuka pintu kamarku.
Glleeekkkkk.....
Aku menuruni anak tangga sendirian di jam tengah malam ini. Sekilas aku teringat sih sama kata-kata Mas Naufal tentang Ocong tadi.
Tapi......udah lah, tenggorokan ini begitu kering. Ingin segera ku siram dengan nikmatnya air putih.
Hanya suara ketukan dari alas kaki di papan setiap anak tangga yang kulewati.
***(Di Dapur)
Ku ambil satu botol air dingin besar dari dalam kulkas, ku tuangkan ke gelas miniku, melihat embun esnya saja aku ingin segera menelannya.
Glek...glek...glek.....
Sambil memainkan ponselku, aku duduk di mini bar dengan beberapa deretan cemilan dalam toples.
Dengan berbagai cemilan ini, lama kelamaan membuatku mengantuk.
Dan akhirnya.....Buuukkkk......
Aku jatuh tertidur di meja mini bar. Ditemani dengan sebotol air putih dingin. Mas Naufal juga tertidur pulas hingga dia tidak tersadar bahwa dia sedang tidur sendiri tanpa aku di sampingnya.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
Adzan shubuh berkumandang.
Allahuakbar...... Allahuakbar.......
Aku belum terbangun juga dari tidur dengan posisi duduk ini. Bi Sarah yang datang ke Dapur, kaget melihatku tertidur disana.
"Subhanallah, Mbak Gia!!!" ucap Bi Sarah yang syock melihatku.
Bi Sarah tidak berani membangunkanku, Bi Sarah bingung terhadapku, apakah aku ini sedang pingsan??? Atau sengaja tertidur.
Bi Sarah hanya mondar-mandir saja mengelilingiku.
Sedangkan Mas Naufal yang berada di kamar, meraba tempat di sampingnya yang kosong tidak ada aku disana.
"Uuugghhhhh,"
"Sayang......"
"Sayanggggg........" ucapnya dengan kedua matanya yang masih mengatup.
"Kok nggak ada Gia???" gumamnya dalam hati.
Dia langsung terjingkat bangun dan membelalakkan kedua matanya.
Aku jatuh tertidur di meja mini bar. Ditemani dengan sebotol air putih dingin. Mas Naufal juga tertidur pulas hingga dia tidak tersadar bahwa dia sedang tidur sendiri tanpa aku di sampingnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Adzan shubuh berkumandang.
Allahuakbar...... Allahuakbar.......
Aku belum terbangun juga dari tidur dengan posisi duduk ini. Bi Sarah yang datang ke Dapur, kaget melihatku tertidur disana.
"Subhanallah, Mbak Gia!!!" ucap Bi Sarah yang syock melihatku.
Bi Sarah tidak berani membangunkanku, Bi Sarah bingung terhadapku, apakah aku ini sedang pingsan??? Atau sengaja tertidur.
Bi Sarah hanya mondar-mandir saja mengelilingiku.
Sedangkan Mas Naufal yang berada di kamar, meraba tempat di sampingnya yang kosong tidak ada aku disana.
"Uuugghhhhh,"
"Sayang......"
"Sayanggggg........" ucapnya dengan kedua matanya yang masih mengatup.
"Kok nggak ada Gia???" gumamnya dalam hati.
Dia langsung terjingkat bangun dan membelalakkan kedua matanya.
"Gia!!!!"
"Biasanya dia mandi,"
"Tapi kok, kamar mandi nya kebuka," ucap Naufal.
Dia langsung turun dari ranjang, dan mencariku di ruang ganti baju, namun dia tidak menemukan ku disana.
Gleekkkk.......
Mas Naufal ingat, jika semalam aku berpamitan padanya turun ke bawah mengambil air minum.
"Jangan jangan dia udah masak di bawah lagi," ucapnya.
Saat Mas Naufal menuruni anak tangga, saat itu juga Bi Sarah menaiki anak tangga untuk memanggil Mas Naufal.
"Mas...."
"Loh, kebetulan Mas Naufal disini, Mbak Gia Mas.......Mbak Gia dibawah," ucap Bi Sarah dengan terbata-bata.
"Giaaaa," ucap Naufal langsung berlari turun ke bawah.
***(Di Dapur)
Mas Naufal melihatku yang tengah tertidur bantalan dengan tangan.
"Astagfirullah Sayangggg....." Ucap Mas Naufal.
Mas Naufal dengan lembut membangunkanku, menggoyangkan bahuku.
"Sayanggg.....hey...."
"Sayangg bangun," ucap Naufal.
Ku buka pelan-pelan kedua mataku, aku kaget meliahat Bi Sarah dan Mas Naufal yang sedang tengah berada di depan tepat kedua mataku.
Aku langsung terbangun dari bantalan kepalaku.
"Mas Naufal,"
"Bi Sarah.......kok disini???" tanyaku yang masih linglung dan setengah sadar.
"Sayanggggg......kamu ketiduran disini semalaman kan??" tebak Mas Naufal sambil mengernyitkan kedua alisnya.
"Aku ketiduran ya Mas??" tanyaku dengan pandangan yang masih belum sepenuhnya jelas.
Mas Naufal dan Bi Sarah bingung, mereka saling pandang memandang.
"Kok kamu malah nanya sama Mas, Mas baru kesini, Mas pas bangun tadi kaget nggak ada kamu di sampingnya Mas, Mas cari-cari kamu ke kamar mandi juga nggak ada, eeehh ternyata disini kamu Sayang," ujar Mas Naufal.
Aku mengingat-ingat kembali kejadian semalam.
"Eeeghmmm, iii....iya Mas, kayaknya aku ketiduran disini, aku tiba-tiba tertidur aja Mas,"
"Maafin aku ya, udah buat Mas khawatir," sambungku merasa bersalah karena masih shubuh sudah membuat dua orang ini bingung.
"Aku ketiduran ya Mas??" tanyaku dengan pandangan yang masih belum sepenuhnya jelas.
Mas Naufal dan Bi Sarah bingung, mereka saling pandang memandang.
"Kok kamu malah nanya sama Mas, Mas baru kesini, Mas pas bangun tadi kaget nggak ada kamu di sampingnya Mas, Mas cari-cari kamu ke kamar mandi juga nggak ada, eeehh ternyata disini kamu Sayang," ujar Mas Naufal.
Aku mengingat-ingat kembali kejadian semalam.
"Eeeghmmm, iii....iya Mas, kayaknya aku ketiduran disini, aku tiba-tiba tertidur aja Mas,"
"Maafin aku ya, udah buat Mas khawatir," sambungku merasa bersalah karena masih shubuh sudah membuat dua orang ini bingung.
"Aku nggak tau Mas, tiba-tiba aku ketiduran aja, ya mungkin....mumpung aku bisa tidur, jadi ya mengalir aja Mas," ucapku.
"Huuuuffttt.....Sayang....Sayang...aku kira kamu hilang kemana, Mas bingung," ujar Mas Naufal.
"Ya udah, kita sholat dulu ya Sayang," kata Mas Naufal yang menggandeng tanganku.
"Sayanggg.....kok tangan kamu....." Ucap Mas Naufal sambil menyentuh keningku.
Sepertinya aku tengah demam, badanku begitu panas, nafasku juga.
"Sayang, kamu demam??" tanya Mas Naufal.
"Hm?? Enggak kok," jawabku ngelantur.
"Iya ini kamu demam Sayanggg," kata Mas Naufal.
Tanpa memberi aba-aba, dengan kebiasaannya yang secara tiba-tiba, Mas Naufal langsung menggendongku menuju kamar.
Di rebahkannya kembali aku di atas ranjang. Spontan tanganku menarik bedcover karena hawanya dingin menurutku.
"Sayang, kamu kedinginan??" tanya Mas Naufal.
Jawabanku hanya mengangguk saja.
"Gia sakit deh kayaknya," gumam dalam hati Mas Naufal.
"Sholat dulu gih Sayang," tuturnya.
__ADS_1
Aku beranjak dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.
Tak lama kemudian, dengan polosnya aku kembali merebahkan tubuhku, Mas Naufal hanya melihatnya saja.
"Loh loh loh, Sayang.......kok nggak jadi wudhu," ucapnya.
"Aku lagi datang bulan Mas," jawabku sambil menarik bedcovernya kembali.
"Oooww, ya udah kamu tidur aja ya, demam kamu ini Sayang," ujar Mas Naufal sambil mengelus keningku.
"Mas mau mandi dulu, kamu tidur aja," kata Mas Naufal lalu mencium keningku dan beranjak ke kamar mandi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, Bi Sarah datang dengan membawakan segelas teh hangat.
Tok...tok...tok....
"Masuk," jawab Naufal sambil memakai belt nya.
"Permisi Mas Naufal, ini teh pesanan Mas Naufal," ucap Bi Sarah.
"Bukan buat saya Bi, ini untuk Gia, Gia lagi demam Bi," jawab Mas Naufal.
"Mbak Gia demam Mas??"
"Apa gara-gara Mbak Gia ketiduran di Dapur ya Mas?? Terus minum air es juga," tebak Bi Sarah.
"Dia kelelahan juga Bi, nanti Naufal akan kirim obatnya ke sini ya Bi, Naufal juga minta tolong nanti kasihkan ke Gia Bi,"
"Nanti setelah minum teh ini, biarin dia tidur Bi, kasihan dia udah beberapa hari nggak bisa tidur," ucap Naufal.
"Siap Mas, baik," jawab Bi Sarah dengan lirih sambil mengacungkan jempolnya.
"Kalau begitu, Bibi permisi Mas, monggo," ucap Bi Sarah.
Mas Naufal membalas dengan senyum manisnya untuk Bi Sarah.
Sebelum Mas Naufal berangkat bekerja, Mas Naufal membangunkanku untuk meminum teh yangd dibuatkan Bi Sarah.
Lalu, aku kembali tertidur, mungkin ini bayaran karena beberapa hari selama di rumah Mama aku kurang tidur bahkan tidak bisa tidur.
Mas Naufal juga berpesan pada Abay, agar nanti menemaniku saja di kamar, dan jangan sampai membangunkanku.
"Abay, Papa pergi dulu ya, jagain Mama Nak," bisik Mas Naufal dengan jagoan nya itu.
"Iya Pa," jawab Abay.
"Daaaaa Abay," ucap Mas Naufal lalu pergi keluar dari kamar kami.
***(Di Ruang Tamu)
Mas Naufal juga berpesan pada Bi Sarah.
"Bi, Naufal titip Gia ya Bi, jangan lupa nanti untuk obat dan sarapan untuk Gia," ujar Mas Naufal sambil menenteng jas dokternya.
"Enggeh Mas (Iya Mas) siap," jawab Bi Sarah.
"Naufal berangkat dulu ya Bi, Assalamu'alaikum," pamit Mas Naufal.
"Iya Mas, Wa'alaikumsalam," jawab Bi Sarah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ternyata, tidak terasa aku tertidur hingga siang.
Begitu nyenyak tidurku kali ini, sama sekali tidak ada yang menggangguku.
"Uuuggghhhhh, huuuffttt," kataku sambil menggerakkan badanku di atas ranjang karena bangun tidur.
Aku melihat Abay yang sedang asik nontok televisi.
"Hooaamm, Abay disini,"
"Papa kamu kemana Nak?? Kok belum pamitan sama Mama," tanyaku pada Abay.
"Papa udah berangkat dari tadi Ma,"
"Ini udah siang Ma," jawab Abay.
Deeggggg .........
Mataku terbelalak melihat jam dinding di kamarku yang jarum panjangnya ke arah angka 7 dan jarum pendeknya di angka 10.
"Aaaghhhhhh...... astagfirullah," gumamku.
Kepalaku sedikit pusing, mataku masih panas, begitu juga dengan nafasku, badanku semuanya panas.
"Kok Papa nggak bangunin Mama Nak??" tanyaku lagi.
"Papa sengaja nggak bangunin Mama, kata Papa tadi Mama sakit, jadi Abay juga nggak berani sama sekali gangguin waktu istirahat Mama," jawab Abay lagi.
"Astagfirullah............" Ucapku.
Badanku memang terasa tak enak sama sekali.
Sakit semua, kepalaku juga agak pusing, meskipun siang hari seperti ini, tapi aku masih merasa kedinginan.
"Ma, itu obat untuk Mama, tadi Bibi bilang, kalo Mama bangun, Mama makan dulu, terus Mama disuruh minum obatnya langsung,"
"Itu obat dari Papa Ma," ujar Abay.
Abay memberikan satu mangkuk bubur yang sepertinya sudah dari tadi pagi menunggu untuk ku santap.
.
.
.
.
Setelah ku habiskan bubur yang rasanya berbeda di lidahku yang sedang eror ini, hingga masih banyak bubur bersisa di mangkuk putihku ini. Abay memberikan obat sekaligus segelas air padaku.
"Ini Ma," ucapnya.
"Makasih Sayang," jawabku.
Ku minum obat itu untuk memuaskan hati Abay dan memulihkan tubuhku.
"Abay sudah makan??" tanyaku.
"Sudah Ma," jawabnya.
"Jadi sejak tadi pagi, Abay nemenin Mama disini??" tanyaku lagi.
"Iya Ma," jawab Abay.
Ponselku bergetar di atas meja di sebelah ranjangku.
Panggilan dari siapa di siang seperti ini.
Bersambungggg.......
__ADS_1