
***(Di Ruanganku)
Di dalam ruangan ku aku segera meletakkan tas lalu berjalan ke ruang periksa.
Jejeran pasien sudah menungguku di sana.
"Pagi semua," sapaku sambil tersenyum pada mereka.
"Pagi Dok" jawab mereka.
Mataku tertuju pada salah satu pasien yang sepertinya berbeda untuk hari ini karena biasanya dia memasang raut wajah yang sangat ceria sedangkan hari ini dia memasang wajah yang murung.
Aku mau aku langsung menghampiri pasien itu.
Seorang pasien perempuan yang sepertinya seumuran denganku.
Saat aku tengah menghampirinya tiba-tiba air mata menetes dari matanya.
"Pagi Mbak, sedih ya?" tanyaku karena sudah akrab dengan mereka karena selama ini aku yang memeriksa dan mengetahui perkembangan penyakit mereka tiap jam pagi.
"Sebentar lagi rahimn saya di angkat Dok, jadi saya tidak pernah bisa punya anak," jawab pasien itu dengan lirih.
Aku tahu sebenarnya perempuan ini sedang menderita penyakit Adenomiosis, sebenarnya aku tahu jika suatu saat rahimnya akan diangkat tapi aku lebih memilih untuk tidak mmeberitahunya terlebih dahulu, dan biar Dokter lain yang melakukan Histerektomi (Operasi pengangkatan rahim) karena aku tak tega mengatakan itu.
Aku sangat kasihan ketika pasien itu mengatakan hal yang selama ini tidak ku katakan padanya.
"Saya takut Dok, saya takut jika suami saya nanti meninggalkan saya karena ini, kami baru saja menikah Dok, dan setelah nikah malah jadi seperti ini sedangkan keluarga saya dan keluarga Dia sangat menginginkan seorang cucu," ucapnya sambil menangis.
Jika sudah seperti ini Aku hanya bisa sa-rang kesedihannya padaku karena aku tahu tidak ada wanita yang kuat yang bisa melakukan operasi pengangkatan rahim.
"Sabar ya Mbak, mending bilang yang sejujurnya pada suami Mbak dan jika memang suami Mbak mencintai Mbak dengan tulus pasti tidak akan meninggalkan Mbak, sedangkan untuk keluarganya pasti sih ada pro dan kontranya tetapi kita harus mikir ini hidup yang jalanin kita apapun yang dikatakan mereka udah Mbak gak usah mikirin, serahin semuanya sama Allah," tuturku yang sangat kasihan dengannya.
"Saya tau Dok, dia laki-laki yang sangat mencintai saya, menerima kekurangan saya, dan kemarin saya sempat bilang padanya sampai-sampai saya menyuruhnya untuk mencari istri kedua agar bisa memberikan dia keturunan, karena saya kasihan Dok, dia anak satu-satunya dari keluarganya, saya juga nggak boleh egois, saya juga harus lebih memikirkan kebahagiaan dia, saya ikhlas jika saya di madu," ucapnya.
Mataku mulai berkaca-kaca mendengar sebuah keikhlasan dari perempuan ini.
"Iisshh, huuftt, semua pasti ada jalannya, jadi Mbak enggak usah merasa bahwa Mbak ini egois, semua manusia sebenarnya itu egois Mbak, jadi kita kembali lagi sama takdir yang sudah dikasih Allah sama kita, semakin seorang hamba diberi sebuah cobaan, apalagi cobaan itu sangat berat seperti ini semakin hamba itu disayang oleh Allah, jadi Mbak enggak usah ngerasa diri Mbak nggak guna disini," tuturnya.
"Terima kasih Dok, saya sempat kemarin merasa frustasi, merasa depresi apalagi setelah saya merasa bahwa diri saya ini tidak berguna Saya sangat ingin mengakhiri hidup saya dan meninggalkan semuanya," kata Pasien itu.
Astaghfirullahaladzim Mbak, jangan ngerasa sendiri, kalau Mbak ingin curhat silakan ke saya, kapan pun atau pas lagi pagi-pagi seperti ini selagi saya masih pagi seperti ini saya masih bisa," ucapku.
Tidak lama kami berbincang dan aku juga harus memeriksa pasien lain.
Hatiku sangat terketuk ketika mendengar cerita pasien itu seorang wanita diambil salah satu kebahagiaan berharganya untuk selama-lamanya.
Saat aku tengah berjalan keluar dari ruang periksa aku bersisipan dengan pak Kevin.
Aku menatapnya tetapi beliau membawa sebuah berkas dan sibuk menata berkas itu.
"Pak Kevin, jangan-jangan Pak Kevin kesini mau cek atau nggak mau cuci darah?" gumamku dalam hati.
Saat jarak kita semakin dekat Pak Kevin mulai melihatku, beliau menatapku tetapi aku menundukkan pandanganku.
"Gi," panggilnya.
Sebagai seorang dokter aku melayaninya sebagai seorang pasien bukan sebagai Gia dan Pak Kevin.
"Eemm ma...maaf, Dok...maksudnya," kata Pak Kevin.
"Gi aku mau nanya, ini atas nama Dokter Naufal, Naufal suami kamu?" tanya Pak Kevin.
"Coba saya lihat berkasnya," ucapku.
"Nggak usah, nggak usah ini cuma atas nama Dokter Naufal gitu aja kok Gi, eh Dok," bantah Pak Kevin.
"Kenapa Pak Kevin nggak mau nyerahin berkas itu sama aku," tanyaku dalam hati.
"Baiklah Pak, di sini cuman ada satu nama Naufal yaitu suami saya," jawab ku.
Dengan mendengar jawananku pak Kevin langsung menghela nafas panjangnya.
"Kenapa Pak?? Apa ada yang bisa saya bantu," tawaranku sebagai seorang Dokter.
"Eemmm, nggak kok Dok, gak ada," jawab Pak Kevin.
"Ya sudah aku kesana dulu ya," pamit Pak Kevin.
Aku hanya menganggukkan kepalaku padanya.
Aku kembali berjalan ke ruangan ku.
"Pak Kevin kenapa ya?? Apa itu tadi berkas tentang penyakitnya? Lantas kenapa beliau nggak mau ngasih tau sama aku," gumamku dalam hati.
///////
Sedangkan Naufal yang saat ini berada di ruangannya bersama Pak Bastian.
"Lo tadi kenapa Fal gugup gitu waktu Gue ketuk mobil Lo?" tanya Pak Bastian.
"Iiihh kepo banget ya," jawab Naufal dengan senang hati.
"Yaelah Fal, biasanya kan Lo langsung turun mobil, lagi romantis-romantisan ya sama Gia," tebak Pak Bastian.
"Ya iyalah namanya juga suam istri," jawab Naufal.
"Emang udah baikan?" tanya Pak Bastian.
"Udah lah, Gia aja sampe nangis-nangis tadi, maka nya tadi tuh Gue nutupin wajahnya dia Bas, malu kalo ketauan Lo," jawab Naufal.
"Wahahaha kenapa malu?" ucap Pak Bastian.
__ADS_1
"Kayak nggak tau Gia aja Bas," jawab Naufal.
"Wah enak nih udah baikan," ejek Pak Bastian.
"Apa sih Bas, nikah sana Lo," ejek Naufal ganti.
"Bentar lagi ya, tungguin," jawab Pak Bastian sambil menyunggingkan sebelah pipinya dan keluar dari ruangan Naufal.
.
.
.
.
.
Jarum jam terus berjalan, waktu juga semakin sore,matahari sudah mulai tenggelam di ufuk barat, hampir setengah hari ku habiskan waktuku untuk mengabdi pada pasien ku.
Di ruanganku, aku berberes sambil memikirkan Pak Kevin yang bertingkah aneh padaku.
"Aku tau pasti itu tadi berkas tentang penyakit Pak Kevin, apa tadi beliau menemui Naufal ya," gumamku dalam hati.
"Apa aku tanya sama Naufal ya???.......Aaarrgghh nggak, aku nggak mau ada masalah lagi sama pria itu," kataku dalam hati.
.
.
Naufal menjemputku di ruanganku.
Tok...tok...tok.
"Masuk," kataku sambil menutup laptopku.
Naufal masuk dan berjalan menghampiriku, dan aku melihatnya.
"Tumben pria ini ketuk pintu dulu," gumamku dalam hati.
"Gi nanti malam kita keluar ya," ajak Naufal.
"Kemana?" tanyaku.
"Adadeh, kan hari ini kita baikan, jadi malam nanti kita keluar berdua," ucap Naufal.
"Pasti makan ya?" tebakku.
"Enggak, bukan, udah Sayang nanti pasti kamu tau," kata Naufal.
Sekarang yang penting kita pulang dulu," ajak Naufal.
***(Di Parkiran)
Di parkiran, kami langsung berjalan menuju tempat parkiran kami.
Segera kami masuk dalam mobil, dan Naufal langsung melajukan mobilnya.
Sesekali Naufal menyalakan klakson untuk menyapa satpam disana.
Di perjalanan, Naufal terus mengajakku berbicara, menciumi tangannku yang ada pada genggamannya.
"Tadi Bastian kepo sama kita Gi," ucapnya.
"Kepo?? Kenapa?" tanyaku.
"Tadi kan aku temenin kamu, terus ada Bastian, eh dia nnaya, Lo ngapain tadi lama-lama di mobil, gitu katanya, hahahah, mau tau aja kalo kita romantis-romantisan," kata Naufal.
Aku menggigit tangannya yang menggenggamku.
"Aaw," keluhnya.
"Sakit Sayang," ucapnya.
"Siapa yang romantis-romantisan tadi, ngelantur kamu kalo ngomong," kataku.
"Hehehe, kamu kok gitu sih Gi, dikit-dikit gigit, coba aku yang gitu ya," kata Naufal.
"Eh eh eh, gak mau lah," bantahku.
Naufal mendekatkan mulutnya pada pundaknya.
"Mas Naufal....nyetir sana," rengekku.
"Wahahahah, tuh kan gak mau, giliran kamu aja gigit-gigit aku," ucap Naufal.
"Sakit ya....mana mana yang sakit?" ucapku dengan manja.
"Ini ni," kata Naufal nunjuk pipinya.
"Apaan, orang yang aku gigit tangan kamu, malah yang sakit pipi kamu," kataku.
"Hehehe," Naufal tersenyum sambil melirikku.
Tanpa berkata apapun pada Naufal, aku langsung mengecup tangannya beberapa kali.
"Udah kan nggak sakit," kataku.
"Ini masih sakit Sayang, beneran," ucap Naufal sambil menunjukkan pipinya.
Aku mencium pipi Naufal sambil tersenyum padanya.
__ADS_1
"Ini lagi Sayang kayaknya juga sakit," kata Naufal menunjukkan pipi satunya.
Aku menuruti setiap apa yang dia katakan padaku.
"Fal Fal, masih sempat-sempatnya manja di tengah-tengah jalan seperti ini," ucapku dalam hati sambil memandangnya.
.
.
.
.
Tak lama kemudian, akhirnya kami sampai di Rumah.
***(Di Rumah)
Gerbang di buka kan oleh Pak Joko, aku dan Naufal membuka kaca jendela untuknya.
"Makasih Pak," ucap Naufal.
"Ya Pak, mari mari," jawab Pak Joko.
Mobil melaju langsung masuk ke dalam garasi.
Setelah mobil terparkir, kami langsung turun dari mobil, dan masuk ke dalam Rumah lewat pintu samping garasi.
"Assalamu'alaikum," salam kami.
"Wa'alaikumsalam," jawab Pak Rusdi.
Kami langsung menaiki anak tangga untuk menuju kamar.
***(Di Kamar)
Setelah ku letakkan tasku di meja.
Aku langsung berjalan masuk ke kamar mandi.
Aku tersenyum-senyum sendiri di dalam kamar mandi.
"Naufal mau ajakin aku kemana ya, hehehem, dia romantis banget, tapi kadang juga bikin kesel," gumamku dalam hati.
.
.
.
.
.
Beberapa menit selesai aku mandi, ganti giliran Naufal untuk mandi.
"Air nya udah aku siapin Mas," kataku.
Naufal langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Hari semakin petang, adzan magrib pun berkumandang.
Naufal keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang basah.
Aku terpaku melihatnya sambil berdiri di pinggiran sofa.
Deg deg......deg deg....
"Subhanallah Naufal," kataku dalam hati sambil menelan salivaku pelan-pelan.
Naufal melihatku yang tengah melongo menatapnya, dia menghampiriku.
Aku langsung memalingkan pandanganku.
"Kenapa Gi lihatin aku kayak gitu," ucapnya.
"Aghhemm....emmm.....enggak kok," kataku sambil menggaruk-garuk tengkuk ku.
"Pasti kamu terpesona ya sama aku," goda Naufal sambil membungkukkan tubuhnya untuk lebih dekat menatapku.
"Apa sih?? Enggak kok, udah sana pake baju, habis ini sholat," tepisku lalu berjalan meninggalkannya.
"Xixiixxixiixixixi," aku mendengarkan suara Naufal yang sedang menertawakanku.
Setelah aku menyiapkan sajadah untuk kami, segera kami melaksanakan sholat magrib bersama.
.
.
.
.
Setelah selesais sholat, aku meyalami tangan Naufal, dan dia mengecup keningku lama sambil mengelus kepala dan perutku.
"Habis iki kita keluar berdua, cepetan gih siap-siap," tuturnya.
Bersambung........
Tunggu episode selanjutnya, kemana Naufal akan membawa Gia pergi.
__ADS_1