Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 143 (Resto Italia)


__ADS_3

“Aduh…..Pasti Naufal tau nih aku bisikin dia, oh gassshhhh,”


gumamku dalam hati.


Ku geser diriku memojok ke sisi ayunan, aku terpaku


menatapnya.


“Engg…..bisikin apa emangnya?” tanyaku dengan gugup.


“Kan aku nanya kamu Sayang, kok kamu malah balik nanya ke


aku,” jawab Naufal.


“Aduuhh….Gia, dasar kamu gimana sih, jadi ketauan nanti,


huuufftt relaks Gi relaks,” kataku dalam hati.


Ku suguhkan senyumku agar tidak terlihat kaku di depan


Naufal.


“Nggak kok, aku nggak ngomong apa-apa ke kamu, maksudnya nggak bisikin kamu apa-apa, yah itu maksud aku,” jawabku yang tetap saja gugup.


Bibirku gemetar, dan Naufal mulai mendekat.


“Kamu ngapain deket-deket gini?” tanyaku sambil agak


menyangga tubuhnya agar tidak terlalu dekat padaku.


“Yang bener kamu nggak bisikin aku apa-apa?” goda Naufal.


“Iiiii….iya beneran kok,” kataku.


“Aku denger loh,” kata Naufal di depan mataku sambil


menyunggingkan bibirnya.


“Emangnya kamu denger apa?” tanyaku memberanikan diri,


karena aku juga takut ketauan.


“Denger kalo ada yang bisikin ke aku manggil-manggil sayang gitu,” jawab Naufal.


Aku hanya mampu melotot melihatnya, sesekali ku teguk


salivaku.


“Tau rasa kamu Gi, mati kamu Gi, ketauan kan,” gerutuku


dalam hati.


“Ah……masak iya kamu denger gitu,” tepisku.


“Iya beneran, aku dengerin bisikannya, aku rasain nafas


hangatnya dan sepertinya bibirnya sangat dekat pada telingaku,” goda Naufal terus-menerus.


“Ah, kamu mimpi mungkin,” ujarku.


“Tapi nggak mungkin Sayang, itu kayak nyata loh,” tepis


Naufal yang akhirnya menjauh di depan wajahku.


“Mungkin aja lah Mas, kamu kan tau sendiri dulu aku juga


pernah mimpi tapi kayak nyata gitu loh, inget nggak kamu, waktu aku mimpi kalo Abay meninggal waktu aku mau lahirin dia,” bujuk ku agar Naufal tidak membahasnya lagi.


“Mungkin juga ya Sayang? Kamu bener juga,” kata Naufal ambil menaikkan satu alisnya.


“Apalagi kamu tidurnya sore menjelang malam gini kan, pasti


hantu-hantu semua hadir dalam mimpi kamu,” ucapku.


“Hehehehm bisa aja kamu,” kata Naufal sambil memberantakkan rambutku.


“Ya udah aku mandi Sayang,” kata Naufal.


“Iya, tadi udah aku siapin air buat kamu, tapi mungkin


sekarang udah dingin deh Mas,” kataku sambil berjalan mengikuti Naufal dari belakang.


“Nggak papa Sayang, aku mandi air dingin aja, aku kan nggak


kayak kamu, mandinya pake air hangat, ya iya lah, gadis manjanya aku,” godanya di tengah-tengah pintu kamar mandi.


Aku menahan senyumku untuknya, seolah-olah aku terlihat


kesal padanya.


“Udah, kalo mau senyum ya senyum aja Sayang, nggak usah


merah gitu pipinya,” ejeknya.


Langsung ku rabah kedua pipiku atas pernyataan Naufal yang


membuatku tengsin.


“Kan merah kan, hehehem, Sayang…..Sayang,” ucap Naufal


sambil menutup pintu kamar mandi.


“Masak iya tadi pipi aku merah, iya gak sih?” tanyaku dalam


hati. Lalu aku berlari ke dalam Ruang ganti baju untuk berkaca.


Ku dekatkan wajahnya tepat di depan kaca.


“Ternyata beneran merah, hehehehem, aduh pipi jangan memerah dong kalo Naufal sedang menggodamu,” kataku dalam hati.


“Aku pake baju apa ya?? Habis ini keluar sama Naufal,” kataku sambil menggeser pintu almari kaca itu.


Gamis beraneka warna tergantung rapi di sana.


“Mana ya enaknya?” kataku sendiri.


“Apa aku pake gamis aku yang peach aja ya,” pikirku.


“Tapi……aku udah sering banget pake gamis warna ini, tapi kan


emang satu almari kebanyakan warna peach, huuumm,” gumamku.


Lalu ku ambil gamisku yang berwarna taro.


“Pas ini kayaknya,” kataku sambil menari-nari di depan kaca.


Beberapa menit kemudian, aku belum juga keluar dari ruang


ganti baju.


Naufal langsung menyelonong masuk tanpa sepengetahuanku.


Saat aku akan berjalan keluar dari ruangan itu, Naufal kaget


melihatku ada disana.


“Huuuwaaa, Gia,” panggilnya dengan panik.


Untung saja Naufal memakai handuk kimono putih miliknya.


“Mas Naufal, ngagetin aja, kapan kamu masuknya,” tanyaku.


“Ya kamu, sejak kapan ada disini?” tanya Naufal balik.


“Udah dari tadi waktu kamu mandi ,” jawabku sambil


mengernyitkan kedua alisku.


“Kamu kebiasaan pintunya nggak di tutup, nanti kalo


tiba-tiba Bi Sarah kesini gimana, masih untung aku yang masuk,” ucap Naufal.


“Kan nggak mungkin juga Bi Sarah masuk-masuk ke sini Mas,”


bantahku.


“Siapa tau kan, takdir tuh gak ada yang tau,” kata Naufal


sambil mengunci pintu.


“Loh ngapain kamu kunci?? Akum au keluar,” kataku.


“Oh kirain masih mau disini,” goda Naufal sambil tersenyum


genit padaku.


“Enak aja, weekkkk,” ejekku sambil menyenggol bahunya dan


berjalan keluar dari ruang ganti baju.


“Bisa-bisanya sih Naufal nyelonong masuk, untung aja tadi


aku belum………aaargghh nggak nggak nggak,” gerutuku dalam hati.


Aku masuk ke dalam kamar mandi untuk ganti baju.


Saat aku keluar dari kamar mandi, tampak NAufal sedang


sholat sendirian.


Aku berjalan agak jauh di belakangnya, aku duduk di depan


meja riasku sambil menunggu dia selesai sholat.


Tak lama kemudian, Naufal selesai sholat.


“Aku ke bawah dulu ya,” kata Naufal.


“Mau minum,” ucapnya lagi.


“Iya,” jawabku sambil memakai blush di pipiku.


Selesai aku berdandang simple ku ini, Naufal masuk ke kamar


dengan tertawa terbahak-bahak.


“Hahahahahaha, ya ampun, ada-ada aja,” kata Naufal sambil


tangannya memegangi perutnya.

__ADS_1


“Kamu kenapa ketawa kayak gitu??” tanyaku penasaran.


“Eemmm……enggak kok, ada kucing tadi di bawah,” jawabnya.


“Mana ada disini kucing, kamu kan tau aku takut sama kucing,”


kataku.


“Bukan itu maksud aku, ada kucing kan, di tetangga sebelah,


dia ngerjain Nona nya tapi malu-malu, terus Nona nya duduk kan tuh, atasnya ada se ember air, eh di senggol sama si kucing, terus ke guyur sama Nona nya, hahahaha,” jawab Naufal yang kembali tertawa.


“Ha?? Lucunya dimana sih?” tanyaku dengan polosnya.


“Udah Sayang, hahaha, aduh perutku sampe sakit, nanti aja


mau tidur aku ceritain yang lebih lengkapnya lagi, ya, akum au rapi in rambut aku bentar, habis ini kita berangkat,” tuturnya.


“Kamu ke Abay dulu, dia udah siap-siap belum,” kata Naufal.


“Iya Mas,” jawabku.


Aku berjalan menuju kamar Abay.


Pintu kamar Abay terbuka, aku melihatnya yang sedang memakai pomade di rambutnya.


“Abay, udah?” tanyaku yang berdiri di samping pintu


kamarnya.


“Udah Ma, Papa mana?” tanya Abay.


“Papa masih rapiin rambutnya katyak kamu,” jawabku.


“Ini Abay udah selesai kok Ma,” ucapnya ambil berjalan


menghampiriku.


“Kita tunggu Papa di bawah ya,” tuturku.


“Iya Ma,” jawab Abay.


Kami pun turun ke lantai dasar rumah ini.


Ada Bi Sarah yang rupanya melangkah keluar dari rumah.


“Mbak Gia mau kemana Mbak?” tanya Bi Sarah.


“Mau keluar Bi, makan ke puncak sama Mas Naufal sama


Abay,Bibi mau ikut?” tanyaku.


“Oh endak Mbak, hehe, Mbak Gia saja monggo,” kata Bi Sarah.


“Ini Bibi mau kemana?” tanyaku.


“Mau ambil paket di depan Mbak,” jawabnya.


“Paket apa?? Bibi belanja online?” tanyaku lagi.


“Hehehehm, iya Mbak,” jawab Bi Sarah malu-malu.


“Ini Mas Naufalnya dimana Mbak?” tanya Bi Sarah.


“Masih di atas Bi, Bibi mau di beliin apa nanti?” tawarku.


“Ndak usah Mbak, cemilan di rumah masih banyak,” jawab Bi


Sarah.


“Udah Bi nggak papa, buat nanti malam, nanti Gia sekalian


beliin buat yang lain,” kataku.


“Kalo itu, terserah Mbak Gia saja, hehehe, pasti mereka apa


saja mau Mbak,” ucap Bi Sarah.


“Oh ya udah kalo gitu, monggo Bi Sarah,” ucapku mempersilahkan Bi Sarah.


Bi Sarah berjalan meninggalkan kami.


“Ma, Papa lama banget,” kata Abay.


“Sabar, bentar lagi Nak,” jawabku.


Akhirnya yang kami tunggu pun menuruni anak tang.


“Itu Papa kamu,” kataku.


“Lama ya, maaf hehe,” kata Naufal.


Kami pun berjalan ke garasi.


“Kunci mobil aku udah kamu bawa kan?? Awas lupa,” kataku.


“Aduh Sayang, aku lupa,” kata Naufal sambil mengernyitkan


keningnya.


“Mas, kan tadi udah aku bilang pake mobil aku,” kataku.


Naufal sambil mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya.


“Huuumm. Ayo Abay masuk Nak,” tuturku.


Kami pun masuk ke dalam mobil, Naufal menancap gas mobilnya


keluar dari garasi.


Tin….Tin……sapa kami pada Bi Sarah dan Pak Joko yang berdiri


di sebelah gerbang.


“Monggo Pak,” kata Pak Joko.


Mobil melaju lumayan kencang menuju puncak.


“Abay nanti mau ke resto yang mana?” tanya Naufal.


“Yang itu loh Pa, yang kita pernah kesana sama Eyang Feni,”


jawab Abay.


“Kesitu aja?” tanya Abay.


“Iya Pa, disana enak, nggak rame, jadi cuman berapa meja aja yang disana,” jawab Abay.


Mobil melaju ke tempat Resto yang Abay inginkan.


.


.


.


.


Beberapa menit kemudian, kami pun sampai di Resto yang Abay inginkan.


***(Di Resto)


Yah, Resto dengan makanan khas negara Italia.


Mobil sudah terparkir disana, Kami masuk ke dalam lift untuk


menuju lantai paling atas yang sudah di pesan oleh Naufal.


“Abay suka masakan Italia?” tanyaku.


“Suka banget Ma, tapi Abay juga tetep suka kok Ma sama


gado-gado dan rawon,”jawab Abay.


“Gitu dong, mencintai makanan dalam negeri,” puji Naufal.


“Cuman kalo di Resto ini Abay suka karena kalo kesini kan


pasti denger music-musik klasik Pa,” ucap Abay.


“Iya kamu bener, sangat menenangkan buat siapapun yang lagi


stress banyak pikiran,” anggah Naufal.


Ting tong……..


Lift berhenti di lantai teratas gedung ini. Kami berjalan


keluar.


Saat aku berjalan keluar, aku sempat tertabrak oleh seorang


pria yang sepertinya sudah mabuk.


Buukk.


“Aaawww,” kataku.


“Mas hati-hati dong,” kata Naufal yang menyanggaku.


Pria itu hanya menoleh dan berjalan gentoyoran.


“Orang itu,” kata Abay.


“Kamu kenal?,” tanya Naufal.


“Enggak Pa, cuman kok nabrak-nabrak Mama,” kata Abay.


“Nggak sengaja Na,” jawab Naufal.


"Tapi kayaknya di sengaja Pa," bantah Abay.


“Udah ayo,” ajakku pada mereka.


Kami pun masuk ke salah satu ruangan disana.


Musik klasik sudah terdengar di telinga kami.


Seorang pelayan menghampiri kami.

__ADS_1


“A nome del quale? (Atas nama siapa Tuan?)” tanya seorang


pelayan yang rupanya asli orang italia.


“A nome di Naufal Herdiman (Atas nama Naufal Herdiman),”


jawab Naufal.


“Seguimi (Ikuti saya)” ucap pelayan itu.


Kami pun berjalan mengikuti mereka.


Dan kami pun di arahkan menuju meja yang ada di sisi kanan


sendiri.


“Per favore (silahkan)” kata pelayan itu mempersilahkan kami


duduk.


“Grazie (Terima kasih),” jawab Naufal.


Kami pun duduk, dan satu per satu makanan dan minuman pun


datang.


Tiba-tiba seorang Pria tinggi menepuk Naufal dari belakang.


“Hay Naufal, Assallamu’alaikum,” ucap pria itu.


“Oh God, Wa’allaikumsalam, Tuan Albert,” jawa Naufal yang


langsung berdiri memeluknya.


“This is your wife and son?” tanya Albert.


“Yes, this is my wife Gia, and Abay,” jawab Naufal


memperkenalkan kami pada pria bule itu.


“Oh Hay,” sapanya.


“Waduh lama Naufal kita tidak bertemu, how are your mom and dad? (Bagaimana kabar Papa dan Mama kamu?)” tanya Albert lagi.


“Alhamdulillah, they are happy,” jawab Naufal.


“Lama aku tidak bertemu Papa kamu,” Albert.


“Kemarin aku baru saja sampai Indonesia, terus aku dapat


callingan dari Resto kalo keluarga Herdiman kesini, jadi aku langsung kesini,” kata Albert yang sangat ramah dan sepertinya sudah kenal dengan keluarga Naufal.


“Hehehm, Mama sama Papa nggak ikut, kapan-kapan pasti mereka kesini lagi,” jawab Naufal.


“Oh yes, aku mau ke bawah dulu Naufal, divertisi a presto


(Selamat bersenang-senang, sampai jumpa lagi),” ucap Albert lalu meninggalkan kami.


Aku dan Abay hanya diam memperhatikan mereka.


Karena kami tak kenal itu siapa.


“Haduh lama banget Sayang aku nggak ketemu Albert,” kata


Naufal.


“Itu siapa sih Mas?” tanyaku.


“Itu yang punya Reto ini, asli orang Italia, teman karib


Papa,” jawab Naufal.


“Pantesan kenal sama Papa sama Mama,” kataku.


“Papa bisa Bahasa Italia?? Kemaren-kemaren kita kesini tapi


bukan Papa yang bilang, tapi Eyang,” kata Abay.


“Yah dikit-dikit Papa bisa Nak, kan Papa sering di ajak


kumpul sama temen-temen Eyang, jadi ya Papa harus adapatasi, memaksa diri Papa sendiri buat bisa,” kata Naufal sambil meneguk minuman khas Italia yang pastinya non alkohol.


“Enak ya Pa, jadi bisa semua bahasa, ajarin Abay dong Pa,”


kata Abay.


“Hehehem iya Papa ajarin,” ucap Naufal.


“Mama nggak bisa Bahasa Italia?” tanya Abay.


“Kalo Italia Mama nggak bisa, tapi kalo mandarin apa bahasa inggris Mama bisa,” jawabku yang tak ingin kalah dari Naufal.


“Udah ayo di makan,” tuturku.


“Mas, berarti disini pelayan sama karyawannya asli orang


Italia ya?” tanyaku.


“Iya Sayang tapi cuman sebagian, nggak semua,” jawab Naufal.


“Kan kalo kemaren kita kesini, ada yang pake Bahasa inggris


Mas,” ucapku.


“Iya kalo disini pake bahasa inggris juga bisa sebenarnya,


tapi aku tadi cuman melatih skill Bahasa Italia aku aja Sayang, masih inget apa udah lupa,” canda Naufal.


Ku injak halus kaki Naufal di bawah meja. Aku merasa kesal padanya.


“Ah, apa sih Sayang?” ucap Naufal sambil tersenyum


menyebalkan padaku.


“Mentang-mentang kamu bisa aja Mas,” ucapku.


Kami pun melanjutkan menikmati makanan khas Italia dengan musik klasik yang memenuhi ruangan ini.


“Jangan lupa kita beliin buat orang rumah Mas,” kataku.


“Iya Sayang, udah kok kamu tenang aja,” kata Naufal.


Naufal sepertinya sedang mencari-cari seorang pelayan


disana.


“Cameriere (pelayan)” panggil Naufal.


Pelayan itu menghampiri Naufal, dan Naufal berbicara Bahasa Italia dengan pelayan itu.


Setelah pelayan itu pergi, aku semakin penasaran apa yang di


bicarakan Naufal dengan pelayan tadi.


“Tadi ngomongin apa Mas?” tanyaku.


“Aku bilang, tadi pesenan aku udah, gitu Sayang intinya,”


jawab Naufal.


“Ooh ya maklum lah Mas, aku belum pernah pake Bahasa Italia,” tepisku.


Kami menunggu beberapa menit disana, dan seorang pelayan


kembali membawakan pesanan kami untuk orang di rumah.


Setelah kami selesai makan, kami pun berjalan masuk kembali


ke dalam lift, tapi kali ini kami di temani oleh Albert yang sedang ngobrol asik dengan Naufal yang sama sekali tidak ku mengerti.


.


.


.


Di perjalan pulang, Abay tertidur pulas di belakang.


“Ramah banget ya Mas teman Papa tadi,” ucapku.


“Iya Sayang, dia itu baik banget, ibadahnya apa lagi,” kata


Naufal.


“Berarti keluarganya di Italia semua dong Mas,” kataku.


“Iya, anak istrinya disana, tapi istrinya asli orang


Indonesia, orang jawa kek kamu, jarang banget dia kesini kalo bukan soal kerjaan, gigih banget loh Sayang dia tuh, umurnya tiga tahun lebih tua dari aku, tapi temenannya sama Papa, hehehem maka nya Papa suka sama dia Sayang, soalnya


ulet orangnya,” kata Naufal yang memuji Albert.


“Ooooww, istri nya kerja nya apa Mas?? Sama kayak dia,


pengusaha juga,” tebakku.


“Istrinya nggak kerja Sayang, nggak di bolehin sama dia


kerja disana, padahal lulusan S2 loh,” kata NAufal.


“Eemm…gitu ya,” ucapku.


“Takut kecapek an kalo kata Albert,” kata Naufal lagi.


“Siapa yang kecapek an Mas, istri nya tadi??” tanyaku.


“Iya lah Sayang, kalo aku takut kamu kecapek an, tapi aku


juga nggak boleh egois sama kamu,” kata Naufal sambil tersenyum padaku.


“Aaaaaaa….suamiku baik banget,” pujiku.


“Aku nikahin kamu bakalan buat kamu bahagia, jadi aku nggak mau lah ngelarang-ngelarang kamu, kecuali kalo kamu mau, tapi kalo kamu nggak mau ya udah, aku nggak bisa maksa,” ucap Naufal yang sangat dewasa.


Bersambung......


Jangan lupa like, komen, dan vote yaaaa.....🙏🖤


Eps selanjutnya bakalan up hari ini...😁😁

__ADS_1


ditunggu ya.....terima kasih untuk semuanya


__ADS_2