Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 130 (Sosok Perempuan)


__ADS_3

Aku melihat seorang perempuan yang lama sekali tidak bertemu denganku.


Dia sekarang berbeda, sangat santun dengan gamis dan kerudung yang melekat di tubuhnya.


Naufal pun tercengang melihatnya, sedangkan Abay bingung melihat Mama dan Papanya.


"Vela," panggilku.


Vela berdiri terpaku menatapku, menatap Naufal dan juga Abay.


"Oh emm hai Gi...Gia," ucapnya terbata-bata.


Mata Vela mulai berkaca-kaca dan lagi-lagi menghindar dariku.


"Mas sebentar ya, kamu ambil Pokcoy nya," ucapku.


Aku berjalan mengikuti Vela dari belakang.


Aku menepuk lengannya, lalu dia berbalik melihatku.


"Eehhmm kamu beneran Vela kan?" tanyaku.


Vela hanya tersenyum dan menundukkan pandangannya.


Aku memegang kedua lengannya.


"Vel, kita udah lama banget nggak ketemu, gimana kabar kamu?" tanyaku.


"Eehmmm...aku....aku sehat Gi," jawabnya dengan gugup.


"Gimana kabar anak kamu?" tanyaku lagi dengan ramah.


"Dia juga sehat Gi," jawabnya.


"Itu tadi.........anak....anak kamu?" tanya Vela.


Aku hanya menganggukkan kepalaku dan tersenyum padanya.


"Owh pantas saja sangat mirip dengan Papanya," ucapnya dengan penuh malu-malu padaku.


"Vel, kamu kenapa setiap bertemu aku atau pun Mas Naufal, kamu selalu ngindar dari kami, maaf ya kalo kami banyak salah sama kamu," ucapku.


"Aku...aku hanya tidak ingin mengingat semuanya kembali Gi," jawabnya yang benar-benar sudah berubah, Vela sangat lembut saat berbicara padaku.


"Bertahun-tahun aku sudah berhasil melupakan Naufal, jadi aku tidak ingin rasa itu tumbuh kembali," ucapnya.


"Aku sekarang sudah hidup bahagia bersama anakku, tapi satu yang sangat di sayangkan dariku, aku belum bisa buka hati kembali Gi untuk orang lain, yaah biarlah aku hidup bahagia dengan anakku saja," kata Vela yang sepertinya mulai nyaman kepadaku.


Aku merasa kasihan dengan pengakuan Vela.


"Oh iya Gi, aku punya usaha baru di rumah, aku jual bunga-bunga Gi, kamu bisa mampir kesana kalo kamu mau," tawaran Vela.


"Vela benar-benar sudah berubah, sepertinya dia sudah ikhlas melepas Naufal, Ya Allah Alhamdulillah, Vela sekarang telah menjadi yang lebih baik," kataku dalam hati.


"Oh ii....iya Vel, kapan kapan pasti aku akan kesana, yah, aku akan kesana," ucapku.


Sepertinya Vela melihat ke arah belakangku.


"Ya udah Gi, aku duluan ya," pamitnya langsung berjalan meninggalkan ku.


Belum sempat aku melempar senyum padanya, dia sudah lebih dulu meninggalkanku.


Aku berbalik untuk kembali menemui Naufal dan Abay.


Ternyata mereka sudah berjalan menghampiriku.


"Pantesan Vela pergi, ada Naufal disini, hummm," gumamku dalam hati.


"Sayang, kamu cari apa?" tanya Naufal.


"Ooowh enggak, aku tadi mau cari mayo tapi lupa tempatnya dimana," alasanku.


"Mayo kan disana Sayang, bukan disini," kata Naufal.


"Oh iya iya Mas, ya udah kita kesana aja," ajakku pada mereka.


Aku terpaksa berbohong pada Naufal karena ada Abay disana, aku tidak ingin Abay tau jika pernah terjadi sesuatu diantara Naufal, aku, dan Vela.


Saat kita sedang berjalan-jalan dan melihat-lihat rak yang berjejer disana, Abay mengatakan pertanyaan yang sangat mengejutkan untukku.


"Ma, Tante tadi siapa?" tanya Abay dengan polos.


Deeegggg......


"Hm? Apa?" ucapku.


"Tante tadi teman Mama?" tanya Abay lagi.


"Owwh Tante tadi, Tante tadi itu sahabat Papa kamu dulu," jawabku.


"Oh sahabatnya Papa, tapi kok tadi Tante nya nggak ngobrol sama Papa," kata Abay.


"Oh itu tadi, soalnya.....soalnya Tante tadi lama nggak ketemu sama Papa, jadi mungkin pangling Nak," tuturku.


Untung saja Abay tidak bertanya-tanya lagi padaku.


Setelah kami selesai membeli semua belanjaan kami, dan sudah mengantri lama di kasir, kami pun pulang.


***(Di Rumah)


Belanjaan dibawa oleh Naufal karena begitu banyak dan berat.


Di ruang tamu, aku dan Abay menaiki anak tangga untuk ke kamar kami masing-masing.


"Bay, nanti Mama sama Papa ke rumah Tante Susi, Abay ikut?" tanyaku.


"Eemmm enggak Ma, Abay kan ada les," jawabnya.


"Ya udah nanti Mama sama Papa tinggal dulu ya," kataku.


"Sekarang kamu mandi," tuturku.


Abay berjalan masuk ke kamarnya.


***(di Kamar)


Ku nyalakan AC dan ku letakkan tasku.


Glekkk...


Naufal membuka pintu kamar dan berjalan mendekatiku.


"Mas," panggilku.


"Tadi aku sebenarnya nggak nyari mayo, tapi aku ngikutin Vela," kataku terus terang, karena aku tidak ingin berbohong padanya.


"Tadi aku alasan sama kamu karena ada Abay Mas," ucapku.


"Kamu kenapa ngikutin Vela Sayang?" tanyanya.


"Aku cuman nanyain kabarnya dia sama anaknya Mas, terus aku juga nanya sama dia kenapa kalo ketemu aku sama Naufal dia pergi, terus dia jawab katanya dia gak mau inget kamu, dia juga udah bisa lupain kamu Mas," jawabku.


"Bahkan dia sekarang punya toko bunga di rumahnya," ucapku.

__ADS_1


Naufal semakin mendekat padaku, dan dia memelukku.


"Kamu ini Sayang, masih peduli aja sama orang yang pernah nyakitin kamu," kata Naufal di pundakku.


"Dia benar-benar sudah berubah Mas, lisannya sangat santun," kataku.


"Huuuummm setelah dulu kita sering banget ada masalah karena dia ataupun Kevin, aku bahagia banget, beberapa tahun ini kita sangat harmonis," kata Naufal sambil mengangkat daguku.


"Aku mencintaimu," ucapnya lirih.


Naufal semakin mendekatkan wajahnya padaku.


"Emmm....Mas, aku...aku mau mandi dulu," kataku.


"Aku mandi ya sekarang," ucapku sambil langsung berlari menjauhinya.


Malam harinya, setelah sholat magrib, guru les Abay datang.


***(Di Ruang Tamu)


"Assalamu'alaikum," ucap Guru Les.


"Wa'alaikumsalam," jawabku.


"Masuk Bu," kataku.


"Sebentar ya saya panggilkan Abay," ucapku lalu berjalan menaiki anak tangga untuk memanggil Abay.


"Abay, Guru Lesnya udah di bawah," kataku yang berdiri di depan pintu kamar Abay.


"Iya Ma," jawab Abay sambil menenteng tasnya dan turun ke bawah.


Aku berjalan menuju kamarku untuk memanggil Naufal yang tengah bersiap-siap.


"Mas, udah?? Keburu kemaleman," tanyaku.


Tampak Naufal sedang menelepon seseorang.


Tak lama kemudian, Naufal menutup teleponnya dan menghampiriku.


"Telfon siapa Mas tadi?" tanyaku.


"Noni Sayang," jawabnya sambil menutup pintu kamar.


"Dia kan malah gede sekarang, dia masih manja banget sama Mamanya, ini aja dia habis tengkar sama Mamanya katanya, dia bilang, pengen Papa, terus aku tanya ke Mamanya, ya kamu gimana??? Kalo iya, aku nanti bisa kenalin kamu," kata Naufal.


"Oowhh gitu," ucapku.


Kami berjalan beriringan menuruni anak tangga.


Di ruang tamu kami berpamitan pada Abay dan Guru Les Abay.


"Bu, saya tinggal dulu ya," kataku.


"Oh iya iya," jawabnya.


"Abay habis les langsung tidur," tutur Naufal.


"Iya Pa," jawabnya sambil tersenyum menyeringai pada Naufal.


Beberapa menit kemudian, di perjalanan aku sempat menanyakan tentang Mama Vela lagi pada Naufal untuk mengisi waktu macet dalam mobil ini.


"Mas, terus gimana tadi Mamanya Noni mau nggak?" tanyaku.


"Nggak tau Sayang, dia tadi diem aja, kasihan juga, Noni butuh seorang Papa, tapi di sisi lain Mamanya gak mau buka hati untuk pria lain," jawab Naufal.


"Dia sempat bilang loh Sayang kemaren, dia bilang gini, Uncle sekarang kok beda sama Noni, udah nggak sedekat dulu sama Noni, dia bilang gitu Sayang, aku kaget banget, apalagi dia udah SMP kan sekarang, udah remaja juga kan, terus aku jawabnya gini, Noni kan sekarang udah gede, pasti udah punya dunia sendiri, dan nggak harus libatin Uncle disana, dia diem Sayang, aku heran, apa motif dia pengen Mamanya nikah lagi," kata Naufal sambil menaikkan satu alisnya.


"Mungkin, karena dia kesepian dan sangat membutuhkan seorang Papa di hidupnya Mas, dulu kan bisa kamu, tapi kan kamu ngasih jarak ke mereka," ucapku.


"Iya juga sih Sayang, mungkin dia ngerasanya gitu," kata Naufal.


Cukup lama kami terjebak macet, akhirnya kami pun tiba di Rumah Pak Bastian.


***(Di Rumah Pak Bastian)


Mobil Naufal melaju lalu menepi.


Aku menoleh ke arah belakang mobil.


"Mas, serem banget Rumah Pak Bastian," ucapku yang ketakutan.


"Ya gini Sayang, rumahnya mistis," bisik Naufal yang semakin membuatku takut.


"Aaaaaaa Mas Naufal jangan gitu," rengekku.


"Hehehe, kamu sih, orang gak ada apa-apa kok serem, serem apanya," ejek Naufal padaku.


"Tau ah, serem kamu tuh serem," ejekku balik lalu membuka mobil dan berjalan meninggalkannya.


Naufal keluar dari mobil dan menakutiku.


"Awas loh, ada sosok perempuan disana," teriak Naufal.


Deeeegggg.


Aku langsung berlari ketakutan memeluk Naufal.


Ku sembunyikan wajahku dalam dekapan dadanya.


"Masss....ayo pulang, aku beneran takut," rengekku.


Naufal menertawakanku.


"Mas, kok malah ketawa, ayo pulang," ucapku sambil gemetar.


"Agheemm," aku mendengar suara deheman dari belakangku.


"Ooo oww siapa itu?" tanyaku dalam hati.


Aku menoleh ke arah belakangku, ternyata Pak Bastian memergoki ku berpelukan dengan Naufal.


Aku langsung melepas pelukan pada Naufal.


"Ehemmm Pak Bastian," sapaku.


Beliau tersenyum padaku.


"Romantis banget," ejek Pak Bastian.


Aku sangat malu mendengar kata-kata Pak Bastian.


"Aduh, aku malu banget ketahuan Pak Bastian," gerutuku daalm hati.


"Eemmm Bapak sejak kapan ada di belakang saya?" tanyaku pada Pak Bastian.


"Sejak kamu pelukan sama Naufal," jawabnya sangat enteng.


"Hahaha, udah Bas udah, jangan gitu, dia malu," kata Naufal.


Akhirnya Pak Bastian membawaku masuk ke rumahnya yang seram itu.


"Assalamu'alaikum," ucapk salamku dan Naufal.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam," jawab Susi yang tengah bersama anaknya.


"Eh ada Tante Gia sama Om Naufal, salim duu Nak," kata Susi pada Barik anak laki-lakinya.


Barik langsung menyalami tangan kami.


"Tadi kok lama banget Mas di luar?" tanya Naufal.


"Ada pemandangan indaahhhh.........banget tadi, jadi aku nikmatin dulu," jawab Pak Bastian.


"Pemandangan indah?? Mana??" tanya Susi lagi.


Pak Bastian menggerakkan bola matanya padaku dan Naufal.


"Gia?? Sama suaminya??" tanya Susi lagi yang semakin tidak mengerti dengan isyarat yang diberikan suaminya itu.


"Iya, tadi dia romantis-romantisan tau di depan," ejek Pak Bastian.


"Huhuhum, udah sini duduk duduk," tutur Susi yangs sangat mengerti sifat pemaluku.


Pak Bastian membawa kami ke Ruang Tamu untuk makan malam bersama mereka.


"Om kenapa Mas Abay nggak ikut kesini?" tanya Barik.


"Tadi Mas Abay nya masih les, jadi nggak bisa ikut," jawab Naufal.


"Dia dari kemaren pengen main ke rumah kamu Gi, tapi Papanya masih sibuk," kata Susi yang tepat duduk di depanku.


"Oh iya?? Kenapa nggak kamu antar aja kesana," kataku.


"Nanti takut ganggu Abay Gi, kan dia kalo sore ngaji, malamnya les, jadi malah nggak istirahat kalo ada Barik," kata Susi.


"Ah nggak papa Si," tepisku.


"Oh iya, selamat ya Si," kataku sambil tersenyum padanya.


"Selamat untuk??" tanyanya padaku.


"Kata Pak Bastian kamu hamil lagi," jawabku.


Susi menoleh ke arah Pak Bastian.


"Aaaaah Mas Bastian, padahal mau aku buat surprise ke Gia," kata Susi.


"Suami kamu gitu Si, waduh gimana sih Lo Bas," sahut Naufal.


"Hehehe, aku keceplosan Sayang, maaf ya," kata Pak Bastian.


"Kamu kapan Gi??" tanya Susi padaku.


Krik.....krik.....krik...


"Aku ya??? Akuuuu....," kataku terpotong oleh Naufal.


"Gia se-dikasihnya aja Si," jawab Naufal.


"Nah iya Si," jawabku.


"Cepetan nyusul biar rumah jadi rame," kata Pak Bastian.


"Rumah Gue udah rame kali, rumah kamu nih sampe istri Gue takut," ucap Naufal.


"Iya Pak, tadi kata Mas Naufal ada sosok perempuan disini? Bener ya Pak?" tanyaku yang bersungguh-sungguh.


"Enggak, disini emang sepi terus kelihatan seram Gi, tapi udah di bersihin semua, jadi udah bersih," jawab Pak Bastian.


"Kamu bohong ya sama aku??" kataku pada Naufal dan menatapnya tajam.


"Kok bohong sih Sayang, aku nggak bohong," jawabnya.


"Emang bener kan Bas, di rumah Lo ini ada sosok perempuan?" tanya Naufal.


"Ngaco Lo," jawab Pak Bastian.


"Kan aku bilangnya tadi awas ada sosok perempuan, kan emang ada disini, itu Susi, bukan salah aku dong," kata Naufal yang membuat kami semua geram disana.


Susi dan Pak Bastian malah menertawakan kepolosan ku.


"Jahat banget kamu," ucapku lirih pada Naufal.


"Udah udah ayo dimakan," kata Pak Bastian.


Kami menyantap jamuan makan malam di Rumah Pak Bastian.


"Enak nggak Fal??" tanya Pak Bastian pada Naufal.


"Enak, enak kok," jawab Naufal.


"Masak sendiri?" tanya Naufal.


"Iya, Susi yang masak," jawab Pak Bastian.


"Enak banget beneran," puji Naufal.


"Tapi nggak kalah enaknya sama buatan istri aku donggg," kata Naufal.


Susi tersenyum padaku.


"Iya lah, kalo Gia makin jago masaknya," puji Susi.


"Itu aja berkat Bi Sarah Si, awalnya aku nggak tau apa-apa," jawabku.


"Nggak papa lah Gi, istri itu bukan dilihat dari skill masak nya saja, kalo cari skill masak yang enak kenapa nggak cari istri koki aja jangan dokter, kalo dokter tau nya diagnosa penyakit," canda Pak Bastian.


"Hahahah, bener tuh Sayang kata Bastian, istri pasti ada kurang lebihnya lah," kata Naufal.


Malam itu kami saling melempar canda satu sama lain, dari mengingat jaman koas sama Riana dan jaman kuliah Naufal dan Pak Bastian.


"Dulu Sayang, kamu kok nggak satu tempat koas sama Gia?" tanya Pak Bastian.


"Ya nggak tau Sayang, kan di acak," jawab Susi.


"Dulu Gia sama temennya yang namanya siapa tuh lupa aku," kata Pak Bastian.


"Riana Pak," sahutku.


"Nah itu, tapi ada satu lagi yang cowok," ucap Pak Bastian mengingat-ingat.


"Rama Pak," jawabku.


"Naaah iya, dulu mereka kemana-mana selalu sama-sama Sayang, aku nggak tau kalo ada kamu sahabat Gia, tau gitu udah aku ini dari dulu," ucap Pak Bastian.


"Bisa aja Lo Bas, huuuu," ejek Naufal.


"Gimana Gi itu kabar mereka?" tanya Pak Bastian.


"Mereka udah nikah Pak," jawabku.


"Riana sama Rama?" tanyanya lagi.


"Oh ya??? Itu kan sahabatan dulu Gi, sekarang jadi jodoh?" tanya Pak Bastian lagi yang masih heran.


"Iya Pak," jawabku.

__ADS_1


"Aaasshhh ada ada aja, sahabat jadi cinta," kata Pak Bastian.


Bersambung.......


__ADS_2