Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 99 (Detik Susi's Engagement)


__ADS_3

"Huustt, udah stop Sayang, jangan bahas dia," ucap Naufal.


"Kamu yang duluan bahas tanya-tanya tentang Pak Kevin mas," kataku.


"Iya iya Sayang," ucapnya.


Akhirnya kami sampai di butik yang dimaksud oleh Naufal.


***(Di Butik)


"Nyampek kan Sayang," ucap Naufal.


"Ini jauh banget Mas," kataku.


"Udah ayuk turun, kita udah di tungguin," ajak Naufal.


"Di tunggu? Di tungguin siapa Mas?" tanyaku.


"Mbak Mbak nya yang di dalem," jawabnya.


"Bingung aku jadinya," gumamku dalam hati.


"Udah ayo Sayang, tadi Bastian yang ngubungi mereka," ucapnya.


"Kamu yang nyuruh?" tanyaku lagi.


Naufal tidak menjawabku.


"Kok nggak di jawab sih Mas," rengekku.


"Ayo coba tanya satu kali lagi Sayang, ulangi coba tadi kamu nanya apa?" ucap Naufal.


"Kamu yang nyur....," kataku terpotong karena Naufal mencium pipi kananku.


Krik krik krik.....


Hanya bulu mataku yang berkedip.


Deg....deg....deg


"Lagi lagi Naufal berulah, aduuuhd dia nggak ngerti banget apa ya kalo istrinya deg deg an tiap kali diperlakukan romantis kayak gini," gerutuku dalam hati sambil membulatkan kedua bola mataku untuk menatapnya.


Naufal malah asik tersenyum padaku dan menahan tawanya karena melihatku yang sedang duduk kaku bahkan terpaku.


"Kenapa? Kok jadi gitu Sayang, hahaha, lagi?" ucapnya.


Naufal mendekat padaku.


"Eeengg...nggak Mas, udah ayo kita turun," ajakku sambil membuka pintu mobil.


"Huufftt, syukurlah," kataku dalam hati.


Kami turun dari mobil dan memasuki butik yang lumayan besar itu.


Semua mata tertuju pada kami.


"Sebenarnya apa yang mereka lihat? Dan apa yang membuat mereka sampai semelongo itu?" dalam hatiku bertanya-tanya.


Seorang Pegawai berjalan menghampiri kami.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Pegawai disana.


"Tadi dapat callingan dari Pak Bastian?" tanya Naufal.


"Oh iya, Pak Naufal ya? Anaknya Bu Feni?" tanya Pegawai itu.


"Iya Mbak," jawab Naufal.


"Mari Pak," ajak Pegawai itu.


Naufal menggandeng tanganku untuk berjalan mengikuti Pegawai butik itu.


"Ini pilihan baju dan gamisnya yang tersedia di butik kami Pak, dan barang baru saja datang," ucap Pegawai itu.


"Sayang, kamu pilih mana?" tanya Naufal.


"Mas, malu jangan Sayang-Sayang gitu," bisikku.


Pegawai itu menahan tawanya.


"Aagheemm, pilih yang mana Gia?" tanya Naufal semakin diperjelas.


Aku berjalan mendekati puluhan gamis yang tergantung rapi disana. Sedangkan Naufal duduk menungguku sambil memainkan ponselnya.


Mataku tertarik pada gamis berwarna navy.


"Mas, ini bagus nggak?" tanyaku.


Naufal melihat ke arahku.


"Navy lagi ya? Eemmm....bagus kok Sayang," ceplos Naufal lagi.


"Ini aja Mbak," kataku.


"Sekalian sama kemeja cowoknya ya Mbak, yang senada dengan itu," tuturku.


"Baik Mbak, emmm Bu," ucap Pegawai itu gugup lalu berjalan untuk mencarikan kemeja yang akan dipakai Naufal.


Aku duduk di samping Naufal.


"Katanya kamu suka warna navy," ucapku.


"Maka nya aku pilih warna navy," kataku.


"Iya, suka kok, suka banget Sayang," jawabnya.


"Tapi kalo kamu mau pilih warna lain, atau bagi kamu warna yang lebih bagus kesukaan kamu, gak papa kok Sayang," ucap Naufal.


"Enggak, bagusan navy kok Mas," kataku.


"Mas tadi Mbaknya bingung, manggil aku Bu sama Mbak, hehehe, kelihatan masih anak kuliahan ya Mas aku ini," kataku.


"Iisssh apaan, mereka syok karena aku bawa kamu kesini, biasanya kan sama Mama jadi mereka bingung mau manggilnya gimana," ujar Naufal.


"Iya iya Mas," kataku.


Tak lama kemudian Pegawai itu kembali dengan membawakan kemeja ukuran Naufal.


"Ini Pak," ucap Pegawai itu.


Naufal melihat dan mengecek kemeja itu.


"Ambil ini aja Mbak," kata Naufal.


"Baik Pak, mari silahkan di tunggu di depan," tuturnya.


Kami berjalan kembali ke depan.


.


.


.


.


.


Setelah Naufal membayarnya, kami kembali ke mobil untuk pulang, tapi kami harus menyempatkan sholat terlebih dahulu karena hari sudah petang.


.


.


.


.


Jalanan begitu sepi, karena malam ini hujan di sertai petir.


Aku duduk terdiam di dalam mobil.


Naufal meraih tanganku lalu menggenggamnya.


"Sayang, kamu takut?" tanyanya.


"Eemmm....enggak kok, enggak," jawabku terpaksa berbohong, padahal sebenarnya aku sangat takut dengan cahaya petir dan juga gelegar suaranya.


Naufal sepertinya merasakan genggaman erat tanganku.


"Kasihan kamu Sayang pasti kamu takut, mana jalannya juga masih jauh," ucap dalam hati Naufal.


Tak lama kemudian, Naufal membelokkan mobilnya ke Hotel miliknya.


"Loh loh loh, kok kita belok kesini Mas?" tanyaku panik.


"Perjalanan masih jauh Sayang, meskipun nggak jauh-jauh banget, tapi aku kasihan sama kamu, nggak tega lihat kamu ketakutan gini, jadi untuk semalam ini kita nginap di Hotel ya," tuturnya.


"Gak papa Mas kita pulang aja," kataku yang tak ingin membuatnya susah.

__ADS_1


"Gak Papa Sayang, udah kamu tenang aja," ucapnya.


***(Di Hotel)


Setelah mobil terparkir, Naufal menbawaku masuk ke dalam hotel.


Naufal menyuruhku untuk duduk menunggunya yang sedang booking hotel semalam pada resepsionis.


Setelah selesai, Naufal membawaku dan kami berjalan masuk ke dalam lift untuk mengikuti staf yang akan mengantarkan kami.


Akhirnya di lantai 7 letak kamar kita, sampai di depan kamar, Naufal berbicara lirih dengan stafnya, lali staf meninggalkan kami dan Naufal segera membuka pintu kamar dengan cardlock yang dibawanya.


Pintu terbuka Naufal mempersilahkanku untuk masuk terlebih dahulu.


"Mas, hujannya bener-bener deras banget, bisa-bisa banjir nanti," kataku sambil melepas kerudungku.


"Eits, jangan dong Sayang, kamu ngaco, nggak bakal banjir," tepisnya.


Aku yang sedari tadi merangkul tangan Naufal, dan tidak berani untuk bergerak kemana-mana karena suara petir yang sangat keras berdenging di telingaku.


"Bentar Sayang aku lepas dulu kemejanya," ucapnya.


Aku hanya menggelengkan kepalaku.


"Terus gimana aku lepasinnya Sayang, tangan kamu disini," ucapnya.


"Nggak mau, nanti aja, nggak usah di lepas juga nggak papa," kataku.


"Sayang.....Bentar doang ya," rayunya.


"Huuummm nggak mau Mas," bantahku.


Akhirnya Naufal hanya duduk kaku di sampingku karena tak mampu melepas kemejanya.


Ting....tong


"Siapa Mas?" tanyaku.


"Bentar kamu disini dulu, aku keluar bentar dulu Sayang," tuturnya.


"Nggak mau, aku ikut," kataku yang masih merangkul tangan kirinya.


"Huuufttt, kamu nggak pake kerudung loh," ucapnya.


"Ya udah iya aku disini aja, tapi kamu cepetan ya, nggak usah ngobrol lama," rayuku.


"Iya Sayang, gak lama kok, sini dulu ya," tuturnya dan langsung meninggalkanku.


.


.


.


.


.


Tak lama kemudian Naufal kembali dengan membawa dua tas kardus tipis yang tertera nama sebuah brand.


"Apa itu?" tanyaku yang berjalan mendekatinya kembali.


"Baju buat kita tidur," jawab Naufal.


"Loh kok, kamu belinya kapan? Perasaan dari tadi kamu disini sama aku," tanyaku yang heran.


"Tadi aku nyuruh stafnya Sayang, kan kita gak ada baju buat tidur hayo, besok shubuh kita pulang, ya," tuturnya.


"Ganti baju dulu gih," tuturnya sambil memberikan satu baju tidur untukku.


Aku berjalan sambil menutup kedua telingaku di kamar mandi.


.


.


.


.


Setelah selesai ganti baju, aku keluar kembali menemui Naufal dengan dua tangan yang masih menutupi telingaku.


"Kamu ganti baju disini?" tanyaku yang melihat Naufal sudah berganti baju.


"Iya Sayang, udah ayuk tidur, udah malem ini," tuturnya sambil berjalan dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Aku dengan cekatan mengikutinya.


"Aaaaaaaa," teriakku spontan.


Naufal langsung memelukku.


Nafasku tersengal-sengal.


"Mas, aku takut," rengekku.


"Udah kamu merem aja ya, ada aku disini," tuturnya.


"Gak bisa Mas, kebayang cahaya nya tadi waktu di mobil," kataku lagi.


Naufal memelukku semakin rapat, menyinggahkan bibirnya t tepat dikeningku.


Sepertinya aku agak tenang.


"Bobok ya Sayang," tuturnya.


Deg....deg....deg


"Ya Allah, masih sempatnya aku deg deg an di situasi yang kayak gini," gumamku dalam hati.


Naufal mengelus-elus rambutku.


"Mas," panggilku.


"Hm?" jawabnya.


"Kamu juga harus tidur ya, jangan sampe kayak kemaren kamu nggak tidur," tuturku.


"Iya Insya'Allah," jawabnya.


"Nggak boleh gitu jawabnya, harus iya pokoknya," paksaku.


"Iya iya Sayang," ucapnya.


"Aku khawatir sama kesehatan kamu," kataku.


"Huummm iya iya, yang penting sekarang kamu bobok ya, nggak usah takut Sayang, aku disini bakal sama kamu," tuturnya.


Hari semakin malam. Aku terlarut dalam mimpi di pelukan Naufal.


.


.


.


.


.


Jam 3 pagi aku terbangun.


"Uughhmm....,"


Ku raih ponselku di dalam tas.


"Jam 3, hooaam," kataku.


Segera aku membangunkan Naufal.


"Mas, kita pulang sekarang aja ya," ajakku.


"Uuughhh, jam berapa ini Sayang?" tanyanya.


"Jam 3 Mas," jawabku.


"Ya udah kamu mandi dulu aja, kita sholat di rumah," ucapnya.


Aku segera beranjak dari ranjang dan berjalan masuk ke kamar mandi.


.


.


.


Aku tidak bisa berlama-lama untuk mandi, karena waktu yang sangat mepet.


Setelah kami selesai mandi, kami meninggalkan kamar hotel dan turun ke lantai dasar.

__ADS_1


Segera Naufal melakukan check out sepagi ini.


Setelah berhasil check out, kami berjalan ke parkiran dan Naufal melajukan mobilnya untuk pulang.


.


.


.


.


.


Jalanan masih sepi, jadi mobil Naufal melaju dengan kecepatan tinggi tanpa terjebak macet.


Dan Akhirnya kami sampai di Rumah.


***(Di Rumah)


Naufal memarkirkan mobilnya di halaman depan.


Kami segera turun dari mobil.


"Iiisshh dingin banget," kataku.


"Semalem habis hujan kan Sayang, jadinya sedingin ini," kata Naufal.


Gleekkk....


Kami masuk ke dalam Rumah.


Bi Sarah yang ada di Dapur langsung menghampiri kami.


"Masya'Allah Mbak Gia sama Mas Naufal semalam tidak pulang?" tanya Bi Sarah.


"Enggak Bi, semalam kami tidur di hotel, soalnya Gia takut hujan deras sama petir," jawab Naufal.


"Syukurlah Mas, Bibi kira kemana kok semalaman nggak pulang, Bibi mau menghubungi Mas Naufal atau Mbak Gia nggak berani," kata Bi Sarah.


"Kenapa? Nggak papa Bi, biasa aja sama Saya sama Gia juga," kata Naufal.


"Ya sudah Bi, saya ke atas dulu ya," kata Naufal.


"Monggo Mas," ucap Bi Sarah.


Kami berjalan menaiki anak tangga.


***(Di Kamar)


Aku segera masuk ke kamar mandi, tapi Naufal menarik tanganku, dan aku jatuh di peluknya.


Naufal manatapku.


Deg....deg....deg


Jantungku kembali berdegup dengan kecepatan sangat cepat.


"Mas, aku mau wudhu, lepasin," kataku.


"Nggak, aku nggak mau lepasin kamu," ucapnya sambil terus menatapku.


"Kamu diem bentar dulu, kamu merem Sayang," tuturnya.


"Kamu mau ngapain? Jangan ngaco loh," kataku.


"Enggak, hayo sama suami harus nurut loh," ucapnya.


Aku menurutinya, ku pejamkan mataku.


Naufal mencium dari keningku hingga daguku.


Ku buka kembali kedua mataku, nafasku sesak setiap kali Naufal memepersilahkanku seperti ini.


"Udah sekarang aku lepasin kamu," ucapnya.


"Udah Mas?" tanyaku dengan polos.


Naufal kembali menarikku lagi.


"Kamu jangan nanya gitu Gi," ucapnya.


"Ya udah iya enggak, aku wudhu dulu, daaaa," kataku sambil menarik tanganku darinya lalu masuk ke kamar mandi.


"Sikap Gia semakin membuatku gemas," kata Naufal dalam hati.


Setelah selesai berwudhu, kami melaksanakan sholat shubuh bersama.


Setelah sholat seperti biasan rutinitas yang kami jalani setiap harinya, bersiap-siap untuk pergi bekerja dalam satu lokasi yang sama.


.


.


.


.


Tak lama kami bersiap-siap, segera kami turun ke bawah untuk sarapan.


***(Di Ruang Makan)


Rupanya semua sedang menunggu kami.


"Monggo Mbak Mas, ayo segera sarapan," tutur Bi Sarah sambil membawakan segelas susu untuk ku dan segelas lagi untuk Naufal.


Kami langsung menyantap sarapan pagi ini.


"Bi nanti Gia sama Mas Naufal pulang kerja langsung ke Rumah Susi," ucapku pada Bi Sarah.


"Ke luar kota dong Mbak?" tanya Bi Sarah.


"Iya Bi, soalnya Susi mau tunangan," jawabku.


"Alhamdulillah, Mbak Gia beneran? Dapat orang mana Mbak?" tanya Bi Sarah sangat bahagia.


"Temen Naufal Bi, yang biasanya kesini," sahut Naufal.


"Yang mana ya Mas?" tanya Bi Sarah.


"Yang dulu kesini sama Susi juga Bi, Bibi inget nggak, anaknya biasanya jemput Naufal, namanya Bastian," ucap Naufal sambil meneguk segelas susu nya.


"Oowwh yang itu Mas, itu Bibi tau, Ya Allah, akhirnya Alhamdulillah, nanti sampaikan ke Susi ya Mbak, Bibi ikut seneng ngerasain bahagia juga," ucap Bi Sarah.


"Pasti Bi, Gia pasti bilang nanti," kataku.


"Nanti apa nggak mepet ya Mas ke sananya kalo pulang kerja," kata Bi Sarah.


"Enggak Bi, nanti Naufal kebetulan sama Gia cuman sampe jam 11 kayaknya, terus pulang langsung siap-siap berangkat, acaranya juga malem kok Bi," kata Naufal.


"Oooww gitu ya Mas, tapi langsung pulang tau nginap di Rumah Ibu Mas?" tanya Bi Sarah lagi.


"Langsung pulang Bi," sahutku.


"Biar Bibi nggak khawatir Mbak, semalam Bibi nggak bisa tidur mikirin Mbak Gia sama Mas Naufal," kata Bi Sarah.


"Maaf ya Bi, kami nggak bilang sama Bibi," kataku.


"Ndak papa Mbak, ndak papa," kata Bi Sarah dengan senyum nya.


Setelah selesai sarapan, kami berpamitan untuk berangkat bekerja.


"Bi saya sama Mas Naufal berangkat dulu ya," pamitku.


"Iya Mbak," ucap Bi Sarah.


"Assalamu'alaikum Bi," salam kami.


"Wa'alaikumsalam," jawab Bi Sarah.


Kami berjalan keluar dari Rumah.


Pip....pip.


Kami masuk ke dalam mobil dari sisi pintu yang berbeda.


Naufal mengenakan seatbelt untukku.


"Romantis banget Naufal," gumamku dalam hati dengan malu-malu.


Setelah mengenakan seatbelt, Naufal melajukan mobilnya dan keluar dari halaman rumah.


"Aku nggak sabar nanti ekspresi Susi gimana ya Mas," kataku.


"Pasti senyam senyum sendiri Sayang," kata Naufal.


"Gimana ya perasaannya? Kan dulu kita gak pake gituan Mas," kataku.


"Iya Gi, soalnya keluarga kita pengen segera kita nikah, kita mintanya diam-diam pula," ucapnya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2