Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 136 (Family and Friends Time)


__ADS_3

Akhirnya aku dan Naufal berjalan terpisah.


Aku melanjutkan pekerjaanku, kebetulan setelah aku selalu umur aku langsung pergi ke ruang operasi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Tak terasa aku berada lama di dalam rumah operasi sampai hari sudah sore.


Aku menunggu Naufal di parkiran tepat di samping mobil.


Naufal berjalan dengan Pak Bastian menghampiriku.


"Lah kamu disini, aku jemput kamu tadi di ruangan kamu," kata Naufal.


"Enggak enggak kalau istri Lo ilang Fal," ejek Pak Bastian.


"Kali aja, Gue kan sayang istri," sahut Naufal.


"Udah yuk Sayang pulang," ajak Naufal.


Aku dan Naufal bergegas masuk dalam mobil, dan masih sempat-sempatnya Pak Bastian berteriak padaku.


"Gi, jangan lupa siapin makanan yang banyak, yang enak ya, hahahah," canda Pak Bastian.


"Hehehm, iya Pak," jawabku dalam mobil yang kubuka jendelanya.


Mobil Naufal melaju meninggalkan Pak Bastian.


"Tadi Sayang Bastian tuh ngeselin banget, bilang gini sama aku, Gue mau ke rumah Lo, tapi Lo harus nyiapin banyak makanan, gitu katanya, terus aku bilang, Aku nggak mau lah makanya dia tadi teriak-teriak ke kamu kalau sama kamu kan pasti jawabnya iya iya aja," ucap Naufal dalam mobil.


"Habis gimana lagi Mas??? Aku paling enggak bisa bilang enggak," kataku.


"Hehehe iya Sayang Aku kan tadi kayak gitu cuman bercanda doang ke Bastian," kata Naufal.


"Bastian itu anaknya asik banget, nggak pernah dia tuh sakit hati ya gitu aku sama Bastian," ucap Naufal.


"Kalau kamu sama Susi gimana??" tanya Naufal.


"Kalau aku sama Susi beda sama kamu sama Pak Bastian, kalau aku sama Susi, Susi itu lebih dewasa dari aku, dan dia itu kayak bisa mengatasi semua masalah gitu loh. Jadi, kadang aku tanya-tanya sama dia, kan kamu tau sendiri aku anaknya gimana," jawabku.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Beberapa menit kemudian, akhirnya kami sampai di depan sekolah Abay.


"Tumben kita jemputnya pas banget Sayang," kata Naufal.


"Iya Mas, itu rame banget pada keluar semua," sahutku.


Kami menunggunya hampir 10 menit.


Saat semua murid yang keluar dari sekolah sudah sepi, aku dan Naufal melihat Abay bersama seorang gadis kecil yang memberikannya sekotak kado untuk Abay.


"Sayang, lihat Abay, siapa itu??" tanya Naufal.


"Iya Mas, siapa gadis itu??? Abay nggak pernah cerita sama kita," jawab ku.


"Kasih kado segala lho Sayang," kata Naufal.


"Mungkin itu temannya yang kemarin ditungguin waktu dia sakit Mas," tebak ku.


"Ah masak iya Sayang, kenapa kamu bisa bilangnya kayak gitu??" tanya Naufal.


"Udah jangan dibahas dulu Mas anaknya datang ke sini loh," tuturku.


Abay berjalan masuk ke dalam mobil.


"Assalamu'alaikum Ma, Pa," ucap salam Abay.


"Wa'alaikumsalam," jawab kami.


Naufal langsung melajukan mobilnya kembali untuk menuju Supermarket.


Saat mobil sudah melaju di jalan raya, Naufal mencoba berbicara pada Abay.


"Abay, ini kita ke Supermarket dulu ya," ucap Naufal.


"Iya Pa," jawab Abay.


"Papa boleh nanya nggak Nak?" kata Naufal.


"Boleh Pa, memangnya Papa pengen nanya apa sama Abay?" tanya Abay balik.


"Itu Kado Nak," tanya Naufal.


"Oh ini, iya Pa tadi dikasih teman Abay," jawab Abay.


"Teman Abay yang mana?? Kok Abay nggak pernah cerita sama Mama sama Papa," tepis Naufal.


"Itu teman Abay sekelas Pa, yang waktu dia sakit Abay nungguin orang tuanya datang," jawab Abay.


"Oh di kasih kado apa??" tanya Naufal lagi untuk mengintrogasi Abay.


"Belum tau Pa, Abay belum buka," jawab Abay dengan polos.


"Namanya siapa Nak?" tanya Naufal lagi dan lagi.


"Namanya Ravina Pa," jawabnya.


"Ini Abay mau buka kado nya Pa," ucap Abay sambil membuka kado yang diberi dari temannya.


Abay membuka kado dari teman perempuan sekelasnya itu.


Dan ternyata isinya adalah sebuah Sweater abu.


"Kata teman abay ini yang milihin Mamanya Pa," kata Abay.


"Tadi kadonya mau Abay masukin tas, tapi di tas udah penuh soalnya kado dari Guru Abay dan teman-teman Abay kelas Pa," kata Abay.


Ucap Abay sambil membuka isi tasnya yang dipenuhi banyak kado.


"Kok banyak banget Nak," sahutku.


"Iya Ma tadi dari Guru dari Ustadzah juga," jawab Abay.


.


.


.


.


.


.


Tak lama kemudian, kami sampi di Supermarket.


Mobil melaju ke parkiran.


Setelah berhasil Naufal memarkirkan mobilnya, kami turun dan berjalan masuk ke Supermarket.

__ADS_1


Naufal mengambil troli untuk kami.


Kami memilih-milih beef yang segar sesuai permintaan Naufal.


"Pa, kenapa kita belanja banyak banget?" tanya Abay.


"Memangnya mau ada acara apa di rumah?" tanya Abay lagi.


"Nggak ada acara apa-apa Nak, soalnya nanti temen Papa ke rumah Om Bastian sama tante Susi," jawab Naufal.


"Pantesan Papa beli beef banyak, mau bakar-bakaran ya Pa," kata Abay.


"Iya Nak," jawabnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Lumayan lama kami ada dalam Supermarket. Setelah mendapatkan semua belanjaan, kami pun pulang.


.


.


.


.


.


.


.


.


***(Di Rumah)


"Abay langsung mandi loh, bentar lagi Guru les kamu datang," tuturku sambil mengeluarkan kantong belanjaan.


"Iya Ma, Abay ke atas duluan ya Ma," ucap Abay.


"Iya," jawabku.


Ku bawa belanjaan langsung ke Dapur bersama Naufal.


***(Di Dapur)


"Waduh belanja banyak banget Mbak," kata Bi Sarah.


"Iya Bi, soalnya nanti Mama mau kesini, terus temennya Mas Naufal juga mau kesini," jawabku.


"Ibuk mau kesini Mbak??" tanya Bi Sarah dengan girang.


"Iya Bi, kenapa memangnya?" tanyaku balik.


"Waaah, Bibi seneng Mbak, lama nggak ketemu Ibuk," jawab Bi Sarah.


"Bibi kangen ya sama Mama?" sahut Naufal.


"Ehehehm, bisa di bilang seperti itu Mas," jawab Bi Sarah malu-malu.


"Tenang Bi, nanti malem juga datang spesial untuk Bibi," goda Naufal.


"Ya udah Gia ke atas ya Bi, belum mandi soalnya, nanti Gia bantu siapin dibelakang, eh tapi kolamnya udah di bersihkan kan Bi?" tanyaku.


"Udah Mbak, tadi siang sudah dibersihkan sesuai permintaan Mas Naufal," jawab Bi Sarah.


Aku berjalan menapaki anak tangga untuk ke kamar.


***(Di Kamar)


Ku lepas heelsku dan ku letakkan tasku.


"Aduh capek banget," keluhku sambil memijat tumit kakiku.


"Eeeehmmm istriku capek nih," goda Naufal.


"Iya Mas, tadi di Ruang Operasi lama banget," kataku.


"Ya udah besok ke salon nya Mama," ajak Naufal.


"Nggak ah Mas nggak usah," bantahku.


"Sayang......gak baik kayak gitu," tutur Naufal.


"Lagian kamu juga udah lama nggak kesana," kata Naufal.


"Mas, ya nggak enak lah aku, mentang-mentang salonnya milik mertua sendiri, nanti dikira seenaknya sendiri," tepisku.


"Ya nggak gitu lah Sayang, Mama kan malah yang nyuruh kamu setiap minggu kesana, tapi kamu nggak kesana-kesana," ucap Naufal yang berdiri di depanku.


"Ya iya Mas, kamu sama Mama boleh-boleh aja, tapi aku nggak enak sama karyawan Mama disana," tepisku lagi.


Naufal duduk di sampingku.


"Sayangku Gia, karyawan Mama itu, orang terpilih semua, mereka nggak mungkin gitu, mereka baik-baik semua Gi, aku loh yang kenal mereka dari dulu, disana gak ada orang yang suka bisik-bisik gituan tuh," ucap Naufal.


"Bener gitu?? Kamu berani jamin?" ucapku.


"Iya, 100% aku bisa jamin Sayang," jawabnya dengan enteng.


"Ya udah deh aku mau," jawabku.


"Aku mandi dulu ya, mau bantu Bibi juga soalnya," kataku.


"Oh ya Mas, pan grill nya udah kamu turunin tadi di atas almari?" tanyaku.


"Belum Sayang aku lupa, nanti aja aku turunin, tapi kalo nggak sabar, kamu bisa minta tolong sama Pak Rusdi," jawab Naufal.


"Nggak udah Mas, biar aku sendiri yang nurunin nanti," ucapku lalu melangkahkan kaki masuk ke kamar mandi.


"Jangan Sayang, udah biar Pak Rusdi," cegah Naufal.


"Aku bisa Mas," bantahku.


"Sayanggggg, nggak boleh ngeyel," kata Naufal.


"Hummmm, iya iya," jawabku pasrah.


.


.


.


.


.


Beberapa menit kemudian, aku selesai mandi, untung saja aku sudah sempat sholat Ashar di Rumah Sakit tadi, jadi aku bisa langsung bantuin Bi Sarah.


Aku berjalan menuju Dapur, namun aku melihat Bi Sarah sudah menyiapkan kursi-kursi di halaman belakang Rumah.


"Bibi ngapain angkat-angkat bnagkunya?" tanyaku.


"Nggak papa Mbak biar cepet hehee," jawab Bi Sarah.


"Sini Bi, biar Gia bantu Bibi," ucapku sambil menghampiri Bi Sarah dan Pak Rusdi.


"Nggak usah Mbak, biar Bibi sama Pak Rusdi aja," tolak Bi Sarah.


"Nggak papa Bi, Gia bantu," kataku tetap kekeh ingin membantu mereka.


Aku mengangkat barang-barang yang ada di Dapur yang ku pindahkan ke halaman belakang.


"Oh iya Pak Rusdi tadi kata Mas Naufal minta tolong untuk ambilin pan grill nya di atas almari dapur," kataku.

__ADS_1


"Iya Mbak, saya ambilkan," jawab Pak Rusdi.


Saat aku mengangkat sebuah meja kayu bersama Bi Sarah, tiba-tiba kaki terpleset lalu aku terjatuh.


Bukkkkkkk.


"Aaaaaaa....awww," keluhku yang tidak begitu keras.


"Astagfirullah, Mbak Gia!!! Ya Allah Mbak," ucap Bi Sarah panik dan langsung membantuku untuk berdiri.


"Sini Mbak, Bibi bantu berdiri," kata Bi Sarah.


Bi Sarah mencoba mengangkat badanku, tapi sepertinya kakiku keseleo, jadi berat untuk aku mengangkat badanku sendiri.


"Bentar Bi, kaki Gia kayaknya keseleo Bi, sumpah sakit banget Bi," keluhku sambil menahan rasa sakit.


"Aduh gimana ini Mbak?? Bibi panggilin Mas Naufal ya," kata Bi Sarah.


"Jangan Bi, nggak usah, bentar Gia coba paksa berdiri pelan-pelan Bi," bantahku.


"Tapi Mbak, biar nanti Mbak Gia di gendong ke atas," tutur Bi Sarah.


"Nggak Bi, nggak papa," tepisku.


Aku mencoba berusaha berdiri sambil dibantu oleh Bi Sarah, akhirnya aku bisa duduk di tepian kolam, tapi sedihnya, aku hanya duduk dan tidak bisa membantu Bi Sarah.


"Bi maaf ya Gia nggak bisa bantu," kataku.


"Nggak papa Mbak, memang ini sudah tugas Bibi," kata Bi Sarah.


Tiba-tiba Naufal memanggilku.


"Gi.......Gia," panggilnya.


Aku mendengar suara nyaring suamiku.


"Bi tolong bilang sama Mas Naufal kalo saya ada disini ya Bi," kataku meminta tolong.


"Iya Mbak," jawab Bi Sarah.


Naufal langsung menghampiriku di halaman belakang rumah.


"Yaahhh ternyata kamu disini," kata Naufal sambil berjalan menghampiriku.


"Pan grillnya udah tadi Sayang?" tanya Naufal.


"Udah kok, tadi yang ambil Pak Rusdi, sesuai permintaan Tuan Naufal," kataku.


"Ehehem, iya dong, gak mungkin aku ijinin kamu ngambil dari atas loh Sayang, kalo pan grillnya waktu kamu ambil jatuh kena kamu gimana?? Kalo Pak Rusdi kan udah terbiasa," kata Naufal.


.


.


.


.


.


.


.


Adzan Magrib berkumandang.


"Udah Magrib Sayang, masuk dulu," ajak Naufal.


"Iya kamu masuk aja dulu," tuturku.


"Udah ayo," paksa Naufal.


Naufal berjalan di depanku, dia melihatku tengah berjalan agak pincang karena nyeri hebat di kakiku.


"Loh loh loh, kaki kamu kenapa Sayang??!!" tanya Naufal dengan panik dan langsung berlutut memegang kakiku.


"Awww sakit jangan di pegang yang itu," kataku sambil berdesis kesakitan.


"Kamu kenapa lagi sih??? Ya Allah," kata Naufal.


"Aku tadi jatuh terpeleset disana," jawabku sambil menunjukkan lantai dimana aku terjatuh.


"Kamu ngapain kok bisa jatuh?? Jalan nya nggak hati-hati sih kamu Sayang," ucap Naufal sambil mengernyitkan kedua alisnya.


"Enggak gitu kronologinya Sayang, aku tadi kan bantuin Bibi buat angkat-angkat kan, eeeh waktu angkat meja kayu kamu berat banget, terus aku nggak lihat bawah, ya udah aku jatuh," jawabku.


"Ya udah aku jatuh kata kamu Sayang??? Kamu kenapa angkat-angkat segala Sayang Ya Allah," gumam Naufal.


"Yaaaaa......aku cuman pengen bantuin aja Mas," jawabku.


"Harus di urut ini kamu, udah besok nggak jadi ke salon Mama dulu, di urut dulu aja," tutur Naufal yang sangat khawatir padaku.


"Mas, sakit loh kalo di urut, bisa-bisa nangis aku," rengekku.


"Ini demi kebaikan kaki kamu Sayang," ucapnya dengan pelan.


"Ya udah iya, tapi kamu temenin aku ya," kataku.


"Iya, ya udah aku gendong kamu aja, nanti kalo kamu paksa buat jalan makin parah," kata Naufal.


"Nggak nggak nggak, malu ah Mas, nanti ada Abay, belum lagi ada Bi Sarah, ada Pak Rusdi, hayo," candaku.


Naufal tidak menggubrisku, dia langsung menggendongku.


Aku terpaku sambil melihatnya, dia membawaku ke dalam kamar dan langsung dia masukkan dalam kamar mandi.


"Sekarang kamu wudhu dulu, terus nanti jalannya pelan-pelan aja," tutunrya.


"Kamu kok gitu?? Kamu marah ya sama aku," tanyaku.


"Enggak, udah gih wudhu," tuturnya.


"Iya kan kamu marah sama aku, kamu gitu Mas, gak mau ngaku kalo beneran marah sama aku," ucapku agak sedikit mewek.


"Loh loh, siapa yang marah sih Sayang??? Aku kan nyuruh kamu wudhu, diamana marahnya?" tanya Naufal.


"Aku khawatir sama kamu, maka nya kalo kamu sedikit saja terluka, aku merasa bersalah, meskipun hanya keseleo, sekarang kamu ngerti kan, kenapa aku larang-larang kamu ini itu, udah sepuluh tahun lebih loh Sayang, kamu boleh bantu Bi Sarah, tapi jangan yang berat-berat, ya Sayang?" kata Naufal.


"Ya udah iya iya, maafin aku," kataku pasrah.


"Tuh kan matanya mulai berair, huuummm, aku nggak marah Sayang, udah ya sekarang nggak usah nangis dulu, disimpen dulu baik-baik air mata nya, ya Sayang ya, ayolah," rayu Naufal.


"Cup cup cup cup," goda Naufal.


"Kalo udah di simpen lagi, yok wudhu yok sekarang," ucap Naufal seperti menuntun seorang anak balita.


.


.


.


.


.


Selesai kami sholat dan mengaji.


Ada seorang tamu yang tak di undang datang, namanya Raka, dia teman kampus Naufal dulu, dia datang bersama istrinya.


***(Di Ruang Tamu)


"Waduh Ka, Lo kemana aja selama ini??" tanya Naufal.


"Gue nggak kemana-mana Fal, cuman Gue jarang aja ngehubungin Lo, abisnya Lo sibuk banget Pak Direktur, hahahha," canda Raka.


"Apa sih Lo, biasa aja kali, hahaha, Lo sekarang kerja dimana?" tanya Naufal.


"Di Rumah Sakit Mutiara Fal, sekarang Gue udah pindah disini, ya karena ada sedikit masalah, hehehm," kata Raka.


"Sering-sering Lo main kesini," ucap Naufal.


"Hahaha, gampang," jawab Raka.


"Kapan-kapan Lo juga main ke rumah Gue, harus itu, Gue baru pindahan dua minggu ini loh," kata Raka.


"Tenang aja, pasti kesana kok, Lo jangan pulang dulu ya, bentar lagi pasti Bastian sama istrinya datang, terus mertua Gue sama Adik ipar Gue juga dateng, rame rumah Gue," kata Naufal.


"Bahahaha, Si Bastian, oke oke, mau ada acara apaan sih di rumah Lo?" tanya Raka.


"Ya nggak, cuman kumpul-kumpul aja," kata Naufal.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2