Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 28 (Tamu Malam)


__ADS_3

Keesokan harinya, setelah sholat shubuh, Naufal heran karena sudah pukul 06.00 pagi Gia belum juga bangun.


“Gi, Gia bangun,” ucap Naufal di samping Gia.


Gia hanya diam dan semakin menarik kuat selimutnya. Naufal


semakin khawatir pada istrinya.


Naufal menyentuh kening Gia yang lumayan panas itu.


“Kamu sakit Gi, kening kamu panas,” ucap Naufal panik.


“Enggak, aku gak papa,” jawab Gia yang masih memejamkan


matanya.


Naufal panik dengan keadaan Gia dan langsung menelfon Bi


Sarah.


“Bi, tolong belikan bubur ayam depan rumah ya,” ucap Naufal.


“Iya Mas,” jawab Bi Sarah.


“Nanti Bibi langsung ke atas aja ya Bi, masuk aja gak papa,” kata Naufal.


“Baik Mas,” jawab Bi Sarah yang curiga dengan suara panik


Naufal.


Bi Sarah langsung pergi membelikan bubur ayam pesanan


Naufal.


“Kamu gak usah kerja dulu ya hari ini,” tutur Naufal.


“Enggak, aku kerja aja gak papa, lagian cuman demam aja,”


jawab Gia.


“Gi kamu gak boleh keras kepala gini dong, kamu harus


nurutin apa kata aku,” tutur Naufal lagi.


“Iya deh kalo itu mau kamu, aku siapin baju kamu dulu,” ucap


Gia sambil membangunkan tubuhnya.


“Enggak, kamu istirahat aja, biar aku sendiri yang ngambil


bajunya,” perintah Naufal.


“Fal, ini kewajiban aku, udah ya aku gak pap…..,” Kata Gia


terpotong oleh Naufal.


Lagi-lagi Naufal membungkam bibir Gia dengan jari


telunjuknya.


“Hei hei husssstt, kamu kan sakit sayang, udah ya sini aja,”


tutur Naufal yang membuat Gia menuruti apa katanya.


“Ya udah iya, maafin aku ya,” rengek Gia.


Naufal hanya menganggukkan kepalanya. Naufal beranjak dari


kasurnya lalu mandi dan bersiap-siap untuk berangkat kerja.


Beberapa menit Bi Sarah mengetuk pintu kamar Naufal.


Tok…tok…tok


“Masuk,” jawab Naufal.


Bi Sarah kaget melihat Gia yang wajahnya pucat dan tubuhnya terlentang lemah di Kasur.


“Mbak Gia kenapa Mas?” tanya Bi Sarah.


“Nggak papa kok Bi, Gia hanya demam,” sahut Gia.


“Pasti ini gara-gara tadi malam,” gerutu dalam hati Bi


Sarah.


“Ini bubur ayamnya Mas,” kata Bi Sarah sambil menyodorkan


bubur ayam pada Naufal.


“Makasih ya Bi,” ucap Naufal sambil tersenyum.


“Iya Mas, kalo gitu saya ke dapur dulu,” pamit Bi Sarah.


“Iya Bi,” jawab Gia dengan senyumnya.


Naufal meniupi bubur ayam di mangkok yang akan di berikan


pada Gia.


Naufal terdiam dan memandangi wajah Gia.


Deg…deg….deg.

__ADS_1


“Kok tiba-tiba jadi gini sih rasanya kalo deket Gia,” gumam


Naufal dalam hatinya.


“Hei, Fal jadi nyuapin aku nggak?” sontak Gia.


“Eehmmm iya iya,” jawab Naufal malu-malu karena mereka saling menatap.


“Nglamunin apa sih?” tanya Gia.


“Enggak, gak papa, khawatir aja sama kamu,” jawab Naufal.


Setelah Naufal selesai menyuapi Gia, Naufal pamit untuk berangkat kerja.


“Aku berangkat dulu ya,” pamit Naufal.


“Iya hati-hati,” ucap Gia sambil menyalami dan mencium


tangan Naufal.


Naufal menghampiri Bi Sarah yang ada di dapur terlebih


dahulu.


***(di Dapur)


“Bi,nanti tolong belikan obat buat Gia di apotek sebelah


pertigaan ya,” ucap Naufal.


“Yang diamana ya Mas?” tanya Bi Sarah.


“Bibi nggak usah khawatir nanti di anterin Pak Joko,” tutur


Naufal.


“Baik Mas, obatnya apa ya Mas?” tanya Bi Sarah lagi.


“Obatnya **** Bi,” jawab Naufal.


“Ooww iya Mas, nanti saya belikan,” ucap Bi Sarah dengan


senang hati.


“Ya udah Bi, saya berangkat kerja dulu, Assalamu’alaikum,”


salam Naufal.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Bi Sarah.


Naufal berjalan di garasi mobil, dan menancap gas mobilnya


untuk pergi ke rumah sakit.


Di dalam ruangan Naufal, tiba-tiba Bastian menghampirinya.


“Widih, pengantin baru nih,” ejek Bastian.


“Apaan sih, orang nikahnya udah beberapa hari yang lalu,”


kata Naufal.


“Eh gimana Lo Fal, seneng gak? Gue lihat kemaren waktu Lo


resepsi Lo jalan sama Gia kayaknya Lo bahagia banget deh, wahahaaha, Lo mulai


suka ya sama Gia?” ejek Bastian lagi.


“Ngaco Lo Bas,” ucap Naufal yang wajahnya mulai memerah.


“Tuh kan, wahahaha, udah ngaku aja sama Gue, andaikan nih


Fal Gue yang nikah sama Gia, uuhhh udah Gue sayang-sayang Fal,” ucap Bastian.


“Mau nikung Gue Lo,” ucap Naufal.


“Tuh kan, jiahahahaa, fix Lo jatuh cinta nih Fal sama Gia,”


tutur Bastian.


“Udah sana kerja Bas, ganggu ketenangan orang aja deh Lo,” kata Naufal sambil mendorong tubuh Bastian keluar ruangannya karena sudah menertawakannya.


Setelah Bastian menyingkir dari ruangan Naufal, Naufal


kembali duduk lalu membuka ponsel miliknya, dan membuka galeri untuk mencari foto Gia waktu akad.


Naufal memandangi Foto Gia sambil tersenyum-senyum sendiri.


“Gia Gia, kenapa nggak dari dulu aja aku kayak gini ke kamu,”


gumam Naufal sendiri.


Sepertinya Naufal mulai jatuh hati pada Gia.


Tiba-tiba Dokter Anton mengetuk pintu ruangan Naufal.


Tok…..tok….tok.


“Masuk,” jawab Naufal.


Dokter Anton berdiri di depan Naufal.


“Dok, pasien kamar nomor 69 sedang kritis Dok,” ucap Dokter Anton.

__ADS_1


Naufal langsung berdiri dan mengambil jas dokternya lalu


pergi bersama Dokter Anton untuk menuju kamar nomor 69.


Kali ini Naufal pulang agak sore, karena harus menyelesaikan


pekerjaannya. Tak lupa Naufal memberitahukan pada Gia bahwa dia akan pulang telat hari ini.


 Hari sudah semakin petang. Setelah Naufal menyelesaikan semua pekerjaannya, ia memutuskan langsung pulang dan menancap gas mobilnya dengan sangat kencang karena ingin segera bertemu istrinya.


***(di Rumah)


Sampai di rumah, Naufal langsung menuju ke kamarnya karena sangat rindu pada istrinya.


Tampak di dalam kamar Gia sedang merebahkan tubuhnya di


ayunan milik Naufal yang ada di balkon kamarnya. Naufal tersenyum dan menghampiri Gia.


Rupanya Gia tertidur disana, Naufal mengusap kening dan pipi


Gia, Gia merasakan ada sentuhan dari pipi dan keningnya sehingga Gia terbangun.


Gia membuka matanya, dan meraih pipi kanan Naufal.


“Kamu udah pulang?” tanya Gia.


“Udah, kamu udah enakan?” tanya Naufal sambil mengarahkan


tangannya pada leher Gia untuk mengetahui suhu tubuh Gia.


“Udah, tadi aku minum obat yang dibelikan Bi Sarah,” ucap


Gia.


“Ya udah masuk gih, disini dingin nanti kamu masuk angin, aku mau mandi, habis ini kita sholat,” tutur Naufal.


Naufal menggiring Gia untuk masuk kamar dan menutup pintu


kaca kamanya.


Setelah Naufal selesai mandi dan mereka melaksanakan sholat


bersama seperti biasanya.


“Gi, ini nanti aku mau kerjain data buat presentasi besok,” ucap Naufal.


“Presentasi apa?” tanya Gia sambil melipat mukenahnya.


“Jadi gini, akan ada operasi besar Gi, jadi besok aku yang


disuruh presentasi,” kata Naufal.


“Owwhh ya udah, gak papa, tapi jangan tidur malem-malem,”


rengek Gia.


“Iya-iya,” jawab Naufal sambil mengelus kepala Gia.


Gia heran dengan sikap Naufal yang agak perhatian  dengan dia.


“Kamu lagi gak kenap-napa kan?” tanya Gia heran.


“Emangnya aku kenapa?” tanya Naufal baik.


“Ya beda aja, gak kayak biasanya,” jawab Gia sambil


mengernyitkan kedua alisnya.


“Beda gimana maksud kamu?” tanya Naufal lagi.


“Masak iya kamu gak ngrasain sih,” ucap Gia.


Naufal meraih kedua tangan Gia, dan menatap dalam mata Gia.


“Gi, aku pengen buktiin ke kamu kalo aku bisa mencintai


kamu, aku gak pengen jadi pengecut buat kamu, akan aku usahain itu Gi,” tutur Naufal yang membuat hati Gia semakin girang.


Mata Gia berkaca-kaca dan langsung memeluk Naufal.


“Makasih ya,” ucap Gia di pundak Naufal.


Naufal hanya menganggukkan kepalnya.


“Ya udah aku kerjain presentasiku dulu ya,” tutur Naufal.


“Iya,” jawab Gia sambil melepas pelukan mereka.


Naufal berjalan meninggalkan Gia, sedangkan Gia ingin


menemui Bi Sarah karena dia merasa kesepian.


Tepat di ruang tamu. Langkah Gia terhenti karena mendengar ketukan pintu rumahnya.


Gia berjalan untuk membuka pintunya.


Saat Gia membuka pintu, Gia kaget melihat tamu malamnya itu.


Bersambung.....


Terima kasih banyak untuk respon kalian readers.🙏


jangan capek dibuat baper, authornya juga pasti ikut baper di setiap menulis per episodenya hehehe😁

__ADS_1


Insya'Allah author akan selalu beri respon balik untuk kakak semua 🖤😊


__ADS_2