
Ternyata benar, baju Isamu basah kuyup.
Dan dia juga menggigil kedinginan. Aku mempersilahkan Isamu untuk duduk.
"Sini, duduk sini Mbak Isamu," kataku.
Isamu berjalan dengan pincang dan menahan rasa sakit sepertinya.
"Kaki kamu kenapa Mbak??" tanyaku.
"Tadi saya jatuh Buk," jawab Isamu sambil menahan rasa sakitnya.
Lalu Bi Sarah membantunya berjalan dan membantunya duduk. Tubuh Isamu berselimut dengan handuk ekstra tebal.
"Astagfirullah, kenapa kamu dari mana ini tadi Mbak??"
"Gimana ceritanya Mbak??" tanyaku lagi.
"Tadi saya keluar ke daerah sebelah kompleksnya Ibuk, tapi kam saya pake motor Buk, hujannya lebat, saya ngebut dan ban motor saya sudah halus jadi saya jatuh, kaki dan tangan saya tertimpa motor," cerita Isamu.
"Mana lihat kaki kamu Mbak," kataku yang sangat khawatir.
Isamu memperlihatkan kaki nya yang terluka.
Luka nya memutih belum mengeluarkan darah, kaki nya pucat.
"Subhanallah, sampe kayak gini Mbak," kataku.
"Ya sudah, kamu mandi dulu sama air hangat, saya ambilkan baju ya," tuturku.
"Nggak usah Buk, nggak usah, saya pakai ini saja," jawab Isamu.
"Masuk angin nanti kamu," sahut Mas Naufal.
"Iya Mbak, nanti kamu malah sakit, nggak papa pakai baju saya sementara, jarang saya pake kok, nggak papa ya Mbak," rayuku.
Isamu tetap kekeh tidak mau memakai baju uang ku pinjamkan, padahal aku selalu menyediakan baju khusus untuk tamu-tamu ku yang datang kesini.
Tapi, aku tetap memaksa Isamu agar mau mengganti bajunya. Akhirnya Isamu pun mau.
"Saya ambilkan baju saya dulu, terus kamu mandi," tuturku.
Aku meninggalkan Isamu dan Mas Naufal di bawah untuk mengambilkan baju Isamu.
.
.
.
.
.
Tak lama kemudian, aku kembali turun ke bawah, dan memberikan baju itu pada Isamu.
"Sekarang kamu mandi, ini bajunya,"
"Mau saya antar??" tawaranku.
"Endak Buk, saya bisa," jawab Isamu yang memang begitu.
"Silahkan mandi Mbak," tuturku.
Isamu pun bergegas mandi. Aku dan Mas Naufal menunggunya di bawah. Bi Sarah datang membawakan minuman hangat untuk Isamu.
"Makasih ya Bi," kataku.
"Enggeh Mbak," jawab Bi Sarah.
Bi Sarah meninggalkan kami berdua di Ruang Tamu.
"Itu karyawan kamu yang katanya pendiam itu kan??" tanya Mas Naufal.
"Iya Mas, kasihan ya Mas, dia tidak pernah mah merepotkan orang lain, kalo nggak saking sakitnya,"
"Pasti dia nggak kesini buat minta bantuan kita Mas," ucapku.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, Isamu keluar dari kamar mandi dan berjalan pincang serta memegang tangannya yang katanya juga tertimpa motor saat jatuh tadi.
"Diminum Mbak," ucapku.
Isamu masih sempat tersenyum padaku saat ku persilahkan untuk meminum secangkir teh hangat dari Thailand ini.
"Mbak, kaki kamu berdarah loh," ucapku saat melihat kaki nya yang terluka.
"Terus tangan kamu gimana Mbak?? Yang sakit yang mana??" tanyaku.
"Ini Buk," jawabnya sambil memberitahuku area sakit di tangannya.
"Mas, bentar,"
"Aku ambilin obat dulu," ucapku.
Aku bergegas mengambilkan sekotak obat beserta alat-alat yang akan kami gunakan untuk membersihkan luka Isamu.
Di Ruang Tamu, Mas Naufal dan Isamu hanya diam saja dan tidak saling berbicara, karena Isamu yang pendiam dan juga pemalu. Sedangkan Mas Naufal juga jarang bisa bicara dengan wanita. Apalagi yang belum lama Ia kenal.
Aku kembali di Ruang Tamu.
.
.
.
.
.
Aku duduk di samping Isamu.
"Kaki nya mana Mbak," ucapku.
"Loh Buk," kata Isamu.
"Udah nggak papa, kaki nya angkat aja kesini," tuturku.
"Jangan Buk," tepis Isamu.
"Nggak papa Mbak, saya mau ngobatin luka nya Mbak Isamu," ucapku.
"Tapi Buk, saya tidak enak jika harus mengangkat kaki saya ke pangkuan Ibuk," ucap Isamu.
"Nggak papa Isamu, santai aja,"
"Dulu Gia kan juga Dokter, jadi sudah terbiasa seperti itu," sahut Mas Naufal.
Akhirnya dengan bujukan Mas Naufal, Isamu mengangkat kakinya di pangkuanku.
Ku bersihkan luka di kaki Isamu yang lumayan lebar imi agar tidak terjadi infeksi. Lalu ku bungkus dengan kasa dan perban.
Tangan Isamu tidak terluka, tapi terasa nyeri kata Isamu. Akhirnya kami menyelimati tangan Isamu dengan cream yang biasa Mas Naufal gunakan untuk menghilangkan rasa nyeri karena benturan.
"Buk, makasih,"
"Maaf saya merepotkan Ibuk," kata Isamu.
"Sudahlah, kamu tidak merepotkan Mbak," ucapku.
"Hujan nya masih kayak gini, kamu menginap saja disini ya, besok ke Butik sama saya aja,"
"Motor kamu juga nanti biar dibawa ke bengkel sama satpam saya," sahut Mas Naufal.
"Maaf Pak Buk, apa tidak terlalu berlebihan bagi saya yang hanya karyawan nya Ibuk," tepis Isamu.
__ADS_1
"Tentu tidak Mbak, disini semuanya sama," kataku.
"Tapi Buk, saya merasa sungkan Buk diperlakukan seperti ini," kata Isamu.
"Nggak papa Isamu, disini biasa aja sama kita, karyawan dan bos kan hanya di tempat kerja, ini kan bukan lagi kerja, jadi ya santai aja," tutur Mas Naufal.
Isamu tersenyum pada kami.
"Kamu sudah ngasih tau Mbak Hilya sama Mbak Haru??" tanyaku.
"Ini mau saya kabari Buk, tapi Hp saya tadi sempat jatuh juga Buk," jawab Isamu.
"Ya Allah Mbak.....kasihan sekali kamu, sudah biar saya saja," kataku.
"Bi....Bibi," panggil Mas Naufal.
"Enggeh Mas??" jawab Bi Sarh yang keluar dari Dapur.
"Nanti kamarnya minta tolong Bibi antarkan ya," kataku.
"Tapi Buk, eeemmmm maaf sebelumnya.....saya tidak berani tidur sendiri,"
"Apalagi di Rumah besar seperti ini, saya tidak terbiasa tidur sendiri," sambung Isamu.
"Nanti sama Bibi saja gimana Mbak??" tanya Bi Sarah.
"Eeemmmm......apa boleh Buk??" tanya Isamu padaku.
"Boleh saja Isamu, silahkan," jawabku.
"Nggeh pun Bi (ya sudah Bi), mboten nopo-nopo (nggak papa)" jawab Isamu dengan logat Jawa nya.
"Looo Mbak Isamu dari desa juga yo (ya)?? Kayak Bibi??" tanya Bi Sarah yang mendengar Isamu memakai bahasa Jawa.
"Enggeh Bi, kulo saking deso (Saya dari Desa)" jawab Isamu.
"Waaah, berarti klop ini ya, hehehe," kataku.
"Mbak Isamu besok absen dulu aja ya, sampe luka nya sembuh, ini susah loh kalo buat jalan, apalagi naik turun tangga," tuturku.
"Nggak Buk, saya besok bisa kok Buk," tepis Isamu lagi.
"Sudah Mbak jangan dulu, nunggu sembuh aja ya," rayuku.
"Nggak papa Mbak Isamu, Mbak Gia memang seperti ini orangnya," sahut Bi Sarah.
"Tapi saya sudah sangat merepotkan loh Buk," kata Isamu.
"Tidakkk, tidak ada yang merepotkan,"
"Tidak ada yang mau dikasih musibah jatuh Mbak," ucapku.
Akhirnya, Isamu mau menginap disini dan cuti kerja sementara.
"Sudah makan Mbak??" tanyaku.
"Eee...sudah Buk," jawab Isamu.
"Makan lagi ya, sekalian sama kita," ajakku.
"Eee....eee....." Isamu bingung mau menjawab apa karena dia memang sangat pemalu.
"Sudah gabung saja nggak papa, tamu disini wajib ikut makan juga disini, ya kan Sayang," ucap Mas Naufal.
"Iya Mas," jawabku.
"Tuh kan Mbak, Mas Naufal sendiri loh yang bilang," kataku.
"Ya sudah Buk kalo begitu," kata Isamu.
Bi Sarah sudah mempersiapkan makan malam untuk kita semua. Seperti biasa, Pak Joko, Pak Rudi, dan dua satpam di Rumah Mas Naufal juga ikut join.
Karena memang disini sudah wajib makan bersama.
***(Di Ruang Makan)
Wajah Isamu kelihatan bingung.
Sebanyak ini orang yang ikut makan, tidak hanya dia. Apalagi saat dia melihat dua satpam Mas Naufal. Isamu malah kebingungan dan tambah malu karena jarang berkumpul dengan banyak laki-laki seperti ini.
Apalagi Isamu duduk di antara aku dan Bi Sarah.
Otomatis Isamu menghadap wajah dua satpam muda di Rumah Mas Naufal ini.
"Ayo Mbak, dimakan," kataku.
Ia terus menundukkan kepalanya sambil makan dengan pelan tanpa bersuara sedikit pun.
"Pak Joko,"
"Iya Pak??" jawab Pak Joko.
"Eemmm, Naufal minta tolong ya,"
"Motor yang ada di depan, besok suruh ambil montir ya Pak," ucap Mas Naufal.
Apalagi saat Isamu mendengar kata itu. Dia semakin merasa sungkan diperlakukan sebaik itu dengan Tuan Rumah atau pemilik Rumah ini.
"Oooh, iya Pak siap, motornya Mbak ini ya Pak??" tebak Pak Joko.
"Iya Pak," jawab Mas Naufal.
Berkali-kali aku menengok pada Isamu, agar dia tidak grogi dengan banyak nya laki-laki disini. Isamu tidak berkata sepatah kata apapun saat makan. Bahkan menengok saja dia malu. Sudah terbaca di raut wajahnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah selesai makan, dan semua sudah meningglkan meja, kecuali aku, Isamu dan Bi Sarah.
"Kenapa Mbak?? Sudah jangan malu-malu disini, hehehem, semuanya ramah-tamah Mbak disini," kataku.
Lagi-lagi Isamu hanya memberikan senyumnya padaku.
"Mbak Isamu pasti kaget yaaaaaa, banyak pekerja nya disini, hehehem," kata Bi Sarah yang sepertinya nyambung dengan Isamu.
Isamu menganggukkan kepalanya pada Bi Sarah.
"Ya begini Mbak di rumah nya Mas Naufal, enak rame, tapi sepi kalo sudah ditinggalkan Tuan Rumah dan Mbak Gia," kata Bi Sarah sambil membereskan piring kotor dari meja makan.
"Buk, makasih ya," kata Isamu yang berterima kasih lagi padaku.
"Hehehm, iyaa Mbak," jawabku.
"Habis ini kamu istirahat, di dalam nanti ada tv nya, kamu nyalain nggak papa Mbak, kalo misal belum bisa tidur," ucapku.
"Iya Buk," jawab Isamu.
"Bi, Gia tinggal ke atas dulu ya," pamitku.
"Enggeh Mbak, monggo-monggo (Iya Mbak, Silahkan-silahkan)" jawab Bi Sarah.
"Mbak saya ke atas ya, nanti kalo butuh apa-apa bisa bilang sama Bibi," tuturku sambil menepuk pundak Isamu.
"Ehehm, iya Buk," jawab Isamu.
Aku berjalan meninggalkan mereka menaiki anak tangga. Isamu yang sepertinya merasa satu frekuensi dan satu visi dengan Bi Sarah, dia pun tidak sungkan lagi mengajak Bi Sarah bicara. Apalagi setelah Isamu tau jika Bi Sarah juga dari orang desa.
Karena selama ini, Isamu belum menemukan orang yang berasal dari area yang sama dengannya. Mungkin itu sebabnya dia pemalu dan pendiam.
"Bi, memang sebaik itu ya Bi mereka??" tanya Isamu pada Bi Sarah dengan lirih.
"Maksud Mbak Isamu, Mbak Gia sama Mas Naufal??" tanya Bi Sarah balik.
Isamu menganggukkan kepalanya.
"Memang seperti itu Mbak, dan seramah itu," jawab Bi Sarah.
"Anaknya jarang pulang ya Bi??" tanya Isamu lagi.
__ADS_1
"Jarang Mbak, yang ada Mas Naufal sama Mbak Gia yang kesana," jawab Bi Sarah sambil membersihkan meja makan.
"Mbak Isamu kerjo kale Mbak Gia sampun dangu (Mbak Isamu kerja sama Mbak Gia sudah lama), memangnya belum tau sifat aslinya Mbak??" tanya Bi Sarah lagi.
"Sudah tau Bi, tapi kalo dir rumah seperti sikapnya berbeda Bi, suaminya juga, baik banget," puji Isamu.
"Mas Naufal dan Mbak Gia itu sangat peduli sama semua orang Mbak, tidak peduli dari kasta apa mereka, yaaaaa meskipun Mbak Isamu tau sendiri, Mas Naufal ini orang penting, dan sangat sibuk,"
"Siapa Mbak yang tidak mengenal Mas Naufal di tempat kerjanya disana," ceplos Bi Sarah.
"Uuuumm, pantas ya Bi, Mbak Gia sangat mencintai Mas Naufal," kata Isamu.
"Mas Naufal juga begitu Mbak, sangat mencintai Mbak Gia, selalu romantis itu Mbak Mas Naufal," sanggah Bi Sarah.
Isamu mulai membuka diri pada Bi Sarah.
Mereka terus berbincang-bincang asik berdua.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, saat aku akan tidur.
Aku kepikiran dengan Isamu, aku selalu mengutamakan kenyaman tamu disini, aku ingin siapapun yang bertamu disini merasa nyaman dan tidak kaku.
Aku kembali turun ke bawah untuk melihat Isamu.
***(Di Kamar Tamu)
Bi Sarah dan Isamu sedang membersihkan kamar itu, sepertinya mereka akan tidur.
"Bi, Gia minta tolong nanti kalo Mbak Isamu minta bantuan ke kamar mandi, tolong di bantu ya Bi,"
"Kasihan itu Bi luka nya," sambungku.
"Iya Mbak," jawab Bi Sarah.
"Sudah mulai nyambung ya sama Bibi Mbak, hehehem," tebakku.
"Begitulah Buk, hehem," jawab Isamu dengan senyumnya.
"Karena sama-sama orang desa jadi nyambung Mbak," sahut Bi Sarah.
Belum lama aku turun ke bawah, Mas Naufal sudah memanggilku.
"Sayang," panggil Mas Naufal yang sepertinya sedang berada di Ruang Tamu.
"Iya Mas, kenapa?? Aku disini," jawabku.
"Waktunya tidur Sayang, Mas ke ruang kerja dulu ya," kata Mas Naufal.
"Iya nanti aku nyusul," kataku.
"Ya sudah kalo gitu, Mbak Isamu santai aja pokoknya disini, ya," kataku.
"Tuh kan Mbak, santai aja disini," sahut Bi Sarah lagi.
Aku meninggalkan Kamar Tamu dan menyusul Mas Naufal di ruang kerjanya.
Pasti saat ku tinggalkan, mereka kembali berdiskusi tentang diri Isamu dan Isamu juga sempat menanyakan beberapa hal tentang keluarga ini pada Bi Sarah.
Karena memang, meskipun Isamu sudah lama bekerja denganku, tapi dia tidak pernah tau sedikitpun tentang kehidupanku. Begitu juga dengan Haru dan Hilya.
***(Di Ruang Kerja Mas Naufal)
"Mas bakalan lembur hari ini?? Buat ngerjain presentasi??" tanyaku.
"Iya Sayang, kalo kamu mau tidur, tidur aja dulu," tutur Mas Naufal.
"Nggak mau, seperti biasa, aku mau nemenin Mas aja," tepisku lalu duduk di sofa yang berjarak tak jauhd dari meja kerja Mas Naufal.
Aku memperhatikan Mas Naufal yang sedang sibuk menatap layar laptop. Aku selalu menemaninya seperti ini. Tidak ingin Mas Naufal kesepian itu memang yang aku inginkan.
Kasihan Mas Naufal, sudah bekerja banting tulang.
Rela jauh dari anak dan istri, rela waktunya tersita.
Aku sebagai istri, harus lebih pengertian.
Ku selonjorkan kaki ku ke sofa, kedua mataku memang sudah ingin dipejamkan, ingin segera istirahat. Menguap beberapa kali sudah menjadi kebiasaan saat aku menemani Mas Naufal seperti ini.
Lama kelamaan, ku rebahkan tubuhku di sofa itu, Mas Naufal langsung menengok padaku.
"Sayangggg, tidur sana loh di kamar, jangan disini,"
"Mas nggak papa sendiri, ini cuman bentaran kok," perintah Mas Naufal.
"Nggak mau Mas, lagian aku juga belum ngantuk kok," tepisku lagi.
Padahal di dalam hatiku, aku ingin segera tidur.
Kasur di kamar sudah memantraiku dan memanggilku agar segera dan padanya.
Sambil memandang Mas Naufal dari sofa, mataku sudah sangat berat.....rasanya tidak bisa untuk ku paksa terbuka lagi.
Beberapa kali ku kedipkan dan ku angkat kedua alisku untuk mengurangi rasa kantuk ku ini. Tapi tetap saja tidak bisa....apalagi dengan hawa dingin seperti ini, disertai hujan lebat.
Eehhmmmm segaarrrrr.
Aku sudah sangat menikmati suasana enak seperti ini. Mataku juga sudah tidak bisa bohong lagi.
Aku pun tertidur dan tak sadarkan diri.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tepat jam 00.29 Mas Naufal baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
"Hoooaammm, uuuggghhmmm, Alhamdulillah," ucap Mas Naufal sambil menarik jari jemarinya.
Mas Naufal melihatku yang sudah tertidur pulas di sofa dengan posisi tubuh seperti landak saat menggulingkan tubuhnya.
"Ya Allah Sayangggg......Sayangggg" gerutu Mas Naufal.
"Tadi katanya nggak ngantuk, eeehh sekarang ketiduran disini," sambung Mas Naufal lalu menutup laptop dan berjalan menghampiriku.
Mas Naufal tidak langsung membangunkanku atau menggendongku. Dengan seenaknya Mas Naufal makah tersenyum-senyum melihatku.
"Hehehehem, lucu banget sih Sayang kamu kalo lagi kayak gini," ucap Mas Naufal sendirian mentang-mentang aku sedang tertidur.
Mas Naufal duduk jongkok di depan wajahku, mengelus pipiku sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Kedinginan kamu Sayang," ucapnya.
"Mas nggak tega bangunin kamu," sambungnya dalam hati.
Dengan segera, Mas Naufal menggendongku dan membawaku ke Kamar.
Saat di Ruang Tamu, saat itu lampu di Ruang Tamu sengaja di matikan oleh Pak Rusdi. Karena setiap malam lampu utama di Ruang Tamu dimatikan, dan hanya lampu yang menempel di dinding saja yang menyala.
Mas Naufal melihat sosok wanita yang sedang berjalan menyeret ke arah Dapur.
"Siapa itu??" tanya Mas Naufal dalam hati yang berdiri sambil membopongku.
Bersambung........
__ADS_1