Cinta dari GIA

Cinta dari GIA
Episode 230 (Romantisme Di Pagi Hari)


__ADS_3

Mas Naufal mengikuti sosok perempuan itu ke Dapur.


***(Di Dapur)


Berhubung lampu di Dapur menyala, jadi sosok itu sudah dikenali oleh Mas Naufal.


"Isamu," panggil Mas Naufal.


Isamu kaget mendengar panggilan dini hari dari suara pria yang berasal dari belakangnya. Isamu menjingkat sambil mengibaskan rambutnya.


Isamu langsung membulatkan kedua matanya saat melihat Mas Naufal telah membopongku.


"Ppp.....Bapak," ucapnya kaget.


"Sss....saya...mau ambil minum Pak,"


"Saya haus," ujar Isamu terbata-bata.


"Ya Allah, kamu loh lagi sakit kaki nya, kenapa nggak minta tolong Bi Sarah??" tanya Mas Naufal.


"Saya nggak enak mau bangunin Bi Sarah Pak," jawab Isamu.


"Itu kaki kamu sebenarnya nggak boleh buat jalan dulu, kalo di buat jalan nanti bakalan bengkak soalnya dapat tekanan," ucap Mas Naufal.


"Iya Pak, tapi saya sangat haus," kata Isamu lagi.


"Ya sudah nanti kalo butuh apa-apa bilang Bibi," tutur Mas Naufal.


"Iya Pak," jawab Isamu sambil menundukkan kepalanya.


"Ya sudah kalo gitu saya tinggal ke atas," kata Mas Naufal.


Mas Naufal langsung meninggalkan Isamu di Dapur sendiri.


Setelah solat shubuh. Aku turun ke bawah seperti biasa, aku bergelut di Dapur dengan Bi Sarah.


***(Di Dapur)


Aku hanya berdua dengan Bi Sarah.


"Mbak, tadi Mbak Isamu mau ikut kita masak, tapi nggak di bolehin sama Bibi, soalnya kan Mbak Isamu masih sakit," ujar Bi Sarah.


"Iya Bi, tadi malam Mbak Isamu bisa tidur kan Bi??" tanyaku.


"Bisa Mbak, pulas banget Mbak, tapi saya kasihan Mbak,"


"Mbak Isamu juga merasakan sakit di kaki nya saat tidur, jadi suka kebangun," kata Bi Sarah.


"Eeehhmm gitu ya Bi, semoga aja nggak infeksi,"


"Nanti biar dibelikan obat sama Mas Naufal di tempat kerjanya," jawabku.


"Mbak Isamu asik ya Mbak anaknya," ucap Bi Sarah.


Isamu asik kata Bi Sarah, mungkin karena Bi Sarah dan Isamu itu sudah nyambung. Padahal anaknya sangat pendiam.


"Ehehem, itu karena Bibi sudah nyambung sama Mbak Isamu," jawabku sambi memotong buncis.


"Nyambung bagaimana Mbak??" tanya Bi Sarah yang berdiri di sebelahku.


"Ya nyambung ngobrolnya, nyaman di ajak ngobrolnya, gitu Bi,"


"Gia kan punya 3 karyawan kan Bi, diantara mereka bertiga yang paling pendiam itu Mbak Isamu loh Bi, pemalu juga," kataku.


"Masak Mbak?? Tadi malam ketawa-ketawa sama Bibi, sempat ceritain tentang Mbak Gia sama Mas Naufal juga, hehehem," ucap Bi Sarah.


"Maaf ya Mbak jadi ghibah," sambung Bi Sarah lagi.


"Soalnya kan kaloa ada tamu kesini selalu begitu Mbak, selalu heran dengan romantisme yang Mbak Gia dan Mas Naufal ciptakan, heheheh," kata Bi Sarah bisa saja.


"Masak Bi?? Padahal kan Gia sama Mas Naufal tidak menceritakan sama Isamu Bi," kataku heran sambil mengernyitkan kedua alisku.


"Begini Mbak, tadi malam, Mbak Isamu ke Dapur mau minum,"


"Mbak Isamu nggak berani bangunin Bibi, jadi dia ke Dapur sendiri, terus ketemu sama Mas Naufal yang lagi gendong Mbak Gia, begitu katanya Mbak," ujar Bi Sarah.


"Gendong Giam??" ucapku sambil berfikir kuat.


"Oooo yang tadi malem Bi, iya iya Gia inget,"


"Gia ketiduran Bi, jadi digendong sama Mas Naufal, Bibi kayak nggak tau Mas Naufal aja, hehehe," kataku malu-malu.


"Tapi seneng loh Mbak kalo lihat pemandangan seperti itu," canda Bi Sarah sambil menyenggolku.


Tiba-tiba Isamu.


"Mbak Isamu,"


"Pagi Buk," ucapnya.


"Loh kaki kamu masih sakit Mbak, istirahat aja sudah," tuturku yang langsung menghampiri Isamu.


"Saya bisa Buk, ini juga agak mendingan kok Buk," tepis Isamu yang sepertinya merasa sungkan jika tidak membantu kita.


"Beneran nggak papa??" tanyaku.


"Iya Buk," jawabku.


Ku bantu Isamu untuk duduk. Dan dia membantu kami untuk memotong sayur mayur. Ternyata......keahlian memasak Isamu sudah tidak diragukan lagi.


Dia tau tentang bumbu-bumbu apa yang akan kita masak.


"Heehhehe, wah Mbak Isamu tau banget," puji Bi Sarah pada Mbak Isamu.


"Iya loh Mbak," sanggahku.


"Sudah biasa jika di rumah bantu-bantu Mbak," jawab Isamu.


"Ayo Mbak Isamu segera menyusul Mbak Gia, hehhem," canda Bi Sarah.


"Sepertinya tidak mungkin terjadi Bi," jawab Mbak Isamu.


"Loh kenapa begitu?? Bukannya Mbak Isamu tadi malam bercerita sama Bi Sarah, jika Mbak Isamu sangat mencintainya Mbak," ujar Bi Sarah.


"Hehem, kita berbeda Bi, jadi tidak mungkin menjadi satu," tepis Isamu.


"Perbedaan bukan halangan Mbak, tapi itu tantangan,"


"Berusaha dan berdo'a sama Allah agar di dekatkan," sahutku.


"Iya Mbak Isamu, semangat...."


"Betul kata Mbak Gia Mbak, perbedaan bukan halangan," ucap Bi Sarah dengan riang.


"Tapi nggak akan mungkin," tepis Mbak Isamu lagi.


"Tidak ada yang tidak mungkin Mbak di dunia ini, selagi mau berusaha, Insya'Allah pasti di ijabah," tutur Bi Sarah.


"Tuh Mbak Isamu, pencerahan di pagi hari," ejekku.


Ternyata benar kata Bi Sarah, Isamu juga bisa seasik ini. Padahal kan Isamu sangat garing jika berada di Butik. Mungkin karena ada orang yang satu frekuensi aja sama dia. Maka nya dia jadi begini.


Beberapa menit kemudian.


Mas Naufal menemui kami di Dapur dengan kemaja yang sudah licin dan rapi.


"Mas Naufal,"


"Tumben pagi begini ke Dapur,"


"Udah rapi pula," ejekku.

__ADS_1


"Mas mau nanya Sayang, flashdisk kamu yang warna putih kemaren dimana?? Mas nyari-nyari di laci kamu nggak ada, di lacinya Mas juga nggak ada," tanya Mas Naufal.


"Ada Mas di laci aku," tepisku.


"Nggak ada Sayang, tadi Mas udah nyariin," kata Mas Naufal.


"Orang aku bener-bener inget banget kok Mas, kalo flashdisk nya aku simpen disitu," tepisku lagi.


"Coba deh, kamu cari deh Sayang," perintah Mas Naufal.


"Masak sih nggak adam??" gumamku lalu mencuci tangan dan berjalan pergi.


Mas Naufal pun mengikutiku berjalan di belakangku.


***(Di Kamar)


Aku mencari-cari flashdisk warna putih itu yang benar-benar tidak ada di laci. Padahal aku sudah mengingatnya berkali-kali, aku benar menyimpannya disini. Tidak salah lagi.


"Dimana sih?? Aku udah simpan disini kok Mas," kataku.


Aku mencari-cari tetap saja tidak ada.


"Mas butuh banget Sayang, tadi malam mau nanya ke kamu, tapi kan kamu udah ketiduran," ujar Mas Naufal.


"Kemana yaaa? Beneran kok Mas aku taruh disini,"


"Masak iya di umpetin sama hantu, kan nggak mungkin," gerutuku sendirian.


Mas Naufal malah menertawakanku dengan sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan olehku.


"Bentar Mas, aku mandi dulu, habis ini aku cariin ya,"


"Atau kalo nggak nanti Mas Naufal berangkat dulu, terus nanti aku cari,"


"Kalo udah ketemu, aku antar kesana aja, gitu aja ya Mas," ucapku.


"Ya udah kalo gitu ya nggak papa Sayang," kata Mas Naufal.


Aku pun langsung mandi, padahal tadi aku sudah mandi tapi sekarang sudah gerah kembali.


Setelah mandi, aku bersiap-siap karena aku ingin datang lebih awal ke Butik.


Selesai berpakaian rapi dan juga bermake up natural.


Aku lupa jika aku belum mencarikan flashdisk untuk Mas Naufal.


"Astagfirullah, aku lupa nggak nyariin Mas Naufal flashdisk," ucapku.


Aku kembali mencarikan untuk Mas Naufal, sedangkan Mas Naufal sibuk di ruang ganti baju nggak tau kenapa.


Sampai aku menjatuhkan miniatur bianglala kecil di atas meja karena tersenggol siku kus saat aku mencari flashdisk.


Braaakkkk.....


"Astagfirullah," kataku kaget.


"Sayanggg,"


"Kamu kenapa?? Ngapain??" teriak Mas Naufal di dalam ruang ganti baju.


"Bianglala nya Mas aku jatuhin, nggak sengaja Mas, maaf ya, aku sibuk nyariin flashdisk yang Mas minta," jawabku sambil tetap mencari.


Mas Naufal pun menghampiriku, dia berdiri di belakangku. Lalu mengetuk pundakku.


"Sayang," panggil Mas Naufal.


"Bentar Mas, belum ketemu flashdisk nya," kataku tanpa menengok ke arah Mas Naufal.


"Lihat Mas dulu," ucap Mas Naufal.


"Hhmm apa lag......" Saat aku membalikkan badanku untuk menghadapnya, dengan seenaknya Mas Naufal mengacungkan flashdisk putih itu tepat di depan ku. Sama sekali Mas Naufal merasa seperti orang yang tidak bersalah.


"Hehehem, ini apa," ucap Mas Naufal yang ngeselin.


"Aaaarrrghhhh, Mas Naufalllllllllll,"


"Mas ngerjain aku ya," kataku.


"Hehehem, ngerjain apa nggak ya......."


"Enaknya gimana Sayang?? Sebenarnya nggak ngerjain sih, tapi udah terlanjur,"


"Ya gimana lagi ya.." jawab Mas Naufal yang makin membuatku kesal.


"Hiiiiih Mas Naufal," ucapku.


"Udaha ah aku turun, istrinya nyari-nyari juga," kataku yang cemberut.


Tak terima jika Mas Naufal berhasil mengerjai kembali. Sudah bukan hal yang tidak biasa lagi bagiku menjadi korban dari kejahilan Mas Naufal.


"Hahahahahah,"


Mas Naufal langsung menarik pinggangku dan memelukku. Aku masih kesal dengannya.


"Hahahahaha, jangan marah dong Sayang, ngambek an sih," kata Mas Naufal di pundakku.


Aku tidak mau membalas pelukannya kali ini.


Aku begitu kesal padanya.


"Udah jangan marah," tuturnya.


"Peluk Mas dong," perintahnya.


Aku masih saja tidak mau membalas pelukan Mas Naufal itu. Karena aku sudah terlanjur marah padanya.


"Nggak mau," jawabku jutek.


"Mas rindu," ujar Mas Naufal sambil mengendus pundakku.


"Mas sengaja ngerjain kamu, Mas mau alasan apalagi di depan Bi Sarah dan Isamu tadi kalo bukan ini," ucapnya dengan manja agar aku luluh padanya.


"Belum cukup semalam Mas meluk kamu,"


"Kan tadi malam Mas sibuk kerja, sekarang gantinya,"


"Ya??" ucapnya.


Aku sedikit luluh saat mendengar kata manja Mas Naufal itu.


"Ayo lah, Mas ini dipeluk, tadi malam kan kamu nyuekin Mas karena kamu udah ketiduran Sayang,"


"Mumpung Mas belum berangkat kerja loh," ujarnya.


Akhirnya, kedua tanganku mendekap di atas kedua pundaknya.


"Huuummm,"


"Kalo Mas nggak bilang rindu sama aku, aku nggak mau meluk Mas," ucapku.


"Uuumm gitu sama Mas, pelit niiih," ucap Mas Naufal.


"Salahnya sendiri, hobin ngerjain istrinya nggak ilang-ilang," jawabku dengan manja.


"Ini juga wujud keromantisan Sayang, jadi ya harus dilestarikan, bukan malah dihilangkan, hehehe," jawab Mas Naufal yang membuatku tertawa terpingkal-pingkal dalam hati.


"Nggak lucu tau nggak," kataku menahan tawa.


"Mas udah seminggu loh di luar negeri, jadi ini gantinya,"


"Nggak tau kenapa Mas Naufal pengeeeennnnnn banget meluk istrinya ini,"

__ADS_1


"Biarin kata kamu manja, biarin kata kamu Mas ini ngeselin, suka ngerjain, biarin.....semua itu nggak ngaruh buat Mas, Mas nggak berhenti rindu sama kamu," kata Mas Naufal.


Aku melepas pelukan dari Mas Naufal, Mas Naufal sedih karena masih mengira aku masih marah padanya karena telah melepas pelukan sehangat mentari di pagi ini.


"Uuuhhhmm ya sudahlah, Mas salah," kata Mas Naufal.


"Bilang kalo Mas rindu sama aku," perintahku.


"Udah tadi," jawabnya yang lemas tanpa semangat.


"Ya lagi," perintahku sok marah.


"Mas rinduuuuuuuuuuuuuuuu....." Ucap Mas Naufal sambil memejamkan matanya dan memanjangkan kata rindu itu.


Aku pun mencium pipi Mas Naufal untuk mengobati rasa rindunya padaku yang sudah satu minggu tidak memelukku.


Mas Naufal langsung menghentikan ucapan rindunya yang begitu panjang tadi, dan langsung membuka kedua matanya.


"Nggak marah sama Mas??" tanya Mas Naufal.


Aku menggelengkan kepalaku dan tersenyum padanya.


"Sini di peyuk istrinya," kataku.


Buuukkk.....


Mas Naufal langsung memelukku erat-erat.


Mas Naufal akhirnya melepas dengan ikhlas pelukan kami.


"Nanti lagi Sayang, kalo Mas pulang kerja,"


"Beneran Mas rasanya pengen peluk kamu terus," kata Mas Naufal.


"Pasti Mas Naufal banyak kerjaan dan banyak yang lagi dipikirin, sudah ketebak,"


"Mas Naufal selalu begini jika pikirannya sangat rumit dan penuh," gumamku dalam hati.


"Emmmm gimana yaaa?? Mau nggak ya," kataku.


"Aaaah Sayang," ucap Mas Naufal sambil mengernyitkan kedua alisnya.


"Tau ah, pikir-pikir dulu nanti, weekk," ucapku.


"Udah ah aku turun, heheh," kataku langsung mengambil tas dan berlari turun ke bawah.


"Sayanggggg," kata Mas Naufal yang juga berlari mengejarku.


Saat di pertengahan anak tangg, karena aku memakai heels, aku pun hampir terjatuh.


"Wwaa," kataku saat akan terjatuh.


Untung saja.......


Mas Naufal langsung menangkapku. Semua orang di bawah yang berada di ruang makan langsung menatap kami berdua.


Deg deg.....deg deg.......


Jantungku berdegup kencang, apalagi saat menatap kedua mata Mas Naufal.


"Hati-hati dong Sayang, nggak usah lari-lari dari Mas," goda Mas Naufal sambil senyum-senyum.


"Apa sih Mas, lepasin," katakud dengan lirih.


"Nggak mau, weekk," jawab Mas Naufal.


"Di lihatin orang-orang di bawah Mas," ucapku lagi dengan lirih.


Mas Naufal langsung menengok ke bawah dan melihat semua pasang mata tengah menatap kemesraan kami berdua.


Dan Mas Naufal melepaskan pelukannya di pinggangku.


"Aaghheemm," Mas Naufal salah tingkah saat langkah kaki kita semakin turun mendekati Ruang Tamu.


***(Di Ruang Tamu)


"Ciyeeee Mas Naufal dan Mbak Gia," ucap Bi Sarah.


Dua satpam muda Mas Naufal jadi senyum-senyum sendiri dan saling senggol-menyenggol teman di sampingnya.


"Gia ni Bi, sukanya lari-larian dari Naufal," kata Mas Naufal.


"Hehehe, uuuuummmm gemasnya Bibi melihat Mas Naufal sama Mbak Gia, pasangan yang masih romantis bertahun-tahun itu ya ini Pak," ucap Bi Sarah menyindir Pak Rusdi.


"Iya iya, awak e iki wes tuwo Buk (kita ini sudah tua Buk)" jawab Pak Rusdi.


Aku agak kurang mengerti dengan apa yang dibicarakan Pak Rusdi pada Bi Sarah itu.


"Ngomong apa Bi Pak Rusdi??" tanyaku.


"Begini lo Mbak, saya sama Bibi ini kan sudah tua, jadi yaa tidak bisa seperti Mbak Gia sama Mas Naufal," kata pak Rusdi.


"Kata siapa Pak?? Pasti bisa dong, heheh," sahut Mas Naufal.


"Badannya seberat karung beras gitu Mas," ejek Pak Rusdi.


"Sembarangan aja Bapak ini loh," ucap Bi Sarah yang tidak terima.


"Hahahaa, tuh kan Pak, itu juga wujud dari keromantisan, yang kayak gini nih yang harus dilestarikan," ucap Mas Naufal yang membuat semua orang di satu ruangan ini tertawa.


Tapi tidak dengan Isamu, Isamu hanya diam dan memeprhatikan kami semua.


"Sudah....sudah, ayo sarapan...sarapan," perintah Mas Naufal.


Di pertengahan saat kami semua tengah asik menikmati hidangan, tiba-tiba Isamu merasakan sakit di kaki nya.


"Aawwhh," ucap Isamu sampai kaki nya terbentur dengan kaki kursi yang di duduki.


"Mbak Isamu, kenapa??" tanyaku.


"Nggak tau Buk, tiba-tiba kaki saya sakitttt banget, aawwhhh eeesshhhh," ucap Isamu sambil menahan rasa sakitnya.


"Sakitnya udah dari tadi atau baru sekarang ini Mbak??" tanyaku yang panik.


"Sebenarnya dari tadi pagi Buk tapi tidak sesakit sekarang ini," jawab Isamu.


"Ya udah bentar, habis ini saya lihat luka kamu ya," kataku.


Isamu terus saja merasakan sakit hebat di kaki nya, aku semakin kasihan dan membawanya duduk di sofa.


"Pelan-pelan Mbak jalannya," kataku.


Ku buka luka di kaki Isamu, dan dari luka itu mengalir darah. Isamu merasakan sakit yang luar biasa di kakinya. Isamu terus saja mengeluh kesakitan.


"Aaawwhhhh, sakit Buk," keluhnya.


"Di bawa ke Rumah Sakit aja Sayang, biar Mas nanti yang menangani," kata Mas Naufal sambil mengernyitkan kedua alisnya setelah tau luka di kaki Isamu.


"Ya udah iya Mas,"


"Ke rumah sakit ya Mbak," rayuku pada Isamu.


"Jangan Buk, saya takut Buk kalo nanti di apa-apain," jawab Isamu.


"Saya sendiri nanti yang menangani kamu," sahut Mas Naufal.


"Ya Mbak ya?? Biar tidak infeksi," rayuku lagi.


Dengan bujukanku dan Mas Naufal, akhirnya Isamu mau di bawa ke Rumah Sakit.


Bersambung............

__ADS_1


__ADS_2